DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
Oh begitu


__ADS_3

Askar tahu jika saat ini suasana hati Setsu tidak dalam keadaan baik-baik saja, sejak kematian Zifa, Askar menyadari bahwa Setsu menjadi sosok berbeda dari yang dia kenal.


Di sisi lain Sea memperhatikan kemarahan Askar kepada Setsu, dia tidak menyadari apa pun di dalam pertarungan, sedangkan semua berjalan lancar meski beberapa kali Sea hampir celaka.


"Apa kalian berdua sedang bertengkar ?." Sea bertanya karena penasaran.


Menggeleng kepala Askar..."Ini tidak bisa di katakan bertengkar, aku hanya kesal karena kesalahannya membuatmu dalam bahaya."


Sea ingat ketika satu predator hampir melepaskan satu pukulan telak dari belakang, saat itu gerakannya terhenti oleh Askar dan Setsu barulah datang untuk mengunci predator dengan element batu.


"Hmmm jadi kau mengkhawatirkan ku ?."


"Tentu saja." Jawab Askar tanpa ragu.


Wajah Sea tiba-tiba saja merah, dia menunduk malu ketika mendengar ucapan dari Askar. Meski bukan pertama kali Sea mendengar sesuatu yang istimewa dari Askar, tapi itu sudah membuat suasana hatinya menjadi senang.


"Karena jika kau sampai terluka, ayahmu akan memarahiku." Lanjut Askar bicara.


Sikap Sea berubah drastis, menunjukkan tatapan datar dan menjawab..."Oh begitu."


Dari sisa-sisa tubuh predator yang telah hancur, kini menyisakan sebongkah batu kristal, itu adalah inti kehidupan milik semua makhluk dari dimensi Noir.


Berbeda dengan manusia yang dimana mereka hidup menggunakan jantung sebagai inti. Tapi Inti kehidupan makhluk dimensi Noir adalah batu kristal yang memiliki sumber kekuatan di dalamnya.


Tidak lama pak Agus pun terlihat dengan lima murid bersenjata lengkap. Dia benar-benar terlambat untuk menyelesaikan makan siangnya, atau mungkin secara sengaja makan dengan perlahan-lahan, menikmati sepenuh hati masakan dari istri tercinta dan tidak lupa pula doa setelah makan yang panjangnya sampai lima belas menit. Sehingga setelah semua selesai, barulah dia menampakkan diri.


"Maafkan aku, aku membawa para kelas elite untuk membantu." Teriak pak Agus datang dengan banyak orang.


Hanya saja Askar menunjuk ke arah wanita di sebelahnya..."Semua sudah di selesaikan oleh Sea."


"Benarkah itu ?." Terkejut Pak Agus karena pernyataan Askar.


Sea menggeleng..."Tidak, Askar lah yang...."


"Ketika aku datang semua predator ini sudah tewas." Cepat tanggapan Askar memotong ucapan Sea.

__ADS_1


Pak Agus dan semua murid yang datang terkagum akan kemampuan Sea, jelas mengalahkan lima predator bukan hal mudah, terlebih lagi dia masihlah seorang murid sekolah yang belum menerima sertifikat khusus pengguna Elemenstator.


"Kau benar-benar murid yang hebat Sea."


"Tapi tanpa bantuan senior Setsu, aku pun tidak mungkin mengalahkan lima predator sendirian."


"Tetap saja, kau menunjukan diri sebagai murid luar biasa, bapak bangga kepada mu Sea."


"Terimakasih pak." Sea pun menerima pujian yang harusnya diberikan kepada Askar.


Sea sendiri tahu kenapa Askar menyembunyikan kekuatan dari publik, tapi tetap saja, ada yang membuat Sea kesal, dimana dia ingin orang lain melihat Askar sebagai sosok pahlawan seperti kekagumannya.


Sedangkan pak Agus melirik ke arah lima batu kristal yang tergeletak, bagaimana pun batu kristal itu adalah benda berharga bagi mereka, nilai jual tinggi bisa menjadikan orang lain bernaf*su. Tapi semua orang melirik ke arah Sea, karena dialah yang mengalahkan para predator sehingga, Sea lebih berhak menerima kelima batu kristal.


"Apa yang akan kita lakukan dengan batu kristal ini Sea ?." Ucap Askar yang membaca niat semua orang.


"Aku serahkan semua kepadamu Askar, aku tidak berminat membawanya pulang."


Satu suara batuk dengan dahak yang ada di tenggorokan terdengar dari pak Agus, Askar bisa membaca ekspresi wajah itu sama ketika melihat batu Elemenstator milik Sea.


"Harganya ?." Bertanya Askar.


Berbisik pak Agus ke telinga Askar..."Sepuluh juta untuk satu batu."


"Lima belas, karena ini batu dari predator tingkat tinggi." Jawab Askar berbisik pula.


"Kalau begitu bapak tidak mendapatkan untung, bagaimana jika dua belas." Balas pak Agus masih berbisik.


"Dua belas setengah, atau aku sendiri yang menjualnya ke guild." Askar pun tidak mau rugi.


"Ok deal." Pak Agus pun setuju.


Askar tidak mengerti tentang cara berpikir pak Agus, dia yang sebelumnya menyibukkan diri untuk makan siang, tapi dalam hal diluar pekerjaan tampak jelas wajah penuh semangat.


Kristal itu memang menjadi benda berharga, karena bisa digunakan sebagai sumber energi alternatif, sehingga cukup banyak orang mencari keuntungan untuk memburu mereka.

__ADS_1


Meski harga yang terbilang mahal, resiko mendapatkan kristal inti kehidupan predator sangatlah berbahaya, tapi orang-orang membentuk sebuah kelompok berstatus Guild pemburu sebagai pekerjaan.


"Anda benar-benar serius untuk urusan bisnis pak." Rumit Askar memikirkan guru satu ini.


Tapi dengan senyum bangga dia menjawab..."Kau tahu, motto hidup ku adalah dimana ada keuntungan disitulah aku datang."


"Bagaimana dengan pengabdian guru tanpa tanda jasa ?." Balas Askar.


"Apa kau pikir guru sekarang itu mengabdi ?."


"Aku pikir tidak banyak guru yang benar-benar mengabdi untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa, tentu di jaman sekarang." Askar pun menganggapnya begitu.


Pak Agus pun menepuk pundak Askar...."Itu kau tahu, jika memang benar guru mengabdi tanpa tanda jasa, tidak akan ada guru yang demo menuntut kenaikan gaji di depan gedung presiden, Askar."


Askar pun mengangguk setuju, meski begitu dia tidak bisa menyalahkan jasa para guru, karena tuntutan ekonomi keluarga membuat mereka ingin gaji yang lebih baik, terlebih dengan harga sembako semakin naik setiap tahunnya.


Dengan sigap pak Agus menyelamatkan semua batu kristal ke tempat aman, bisnis adalah bisnis, dan keuntungan adalah nomer satu, jadi tidak ada salahnya menjalin simbiosis mutualisme agar saling menguntungkan.


Askar pun pergi bersama Sea setelah sisa predator diambil alih oleh pak Agus, tapi melihat wajah Sea cemberut, atau memang suasana hati Sea sedang buruk membuatnya bingung.


Berhati-hati untuk Askar bicara..."Nona Sea apa ada yang salah ?."


"Tidak ada." Singkat saja jawabnya.


"Lantas kenapa kau terlihat seperti orang ingin membunuh."


"Mungkin kau memang benar, saat ini jika ada yang mengajukan diri untuk mati tidak akan ragu sedikit pun memberikan bantuan." Ucap Sea dengan melirik ke arah Askar.


Cepat kepala menggeleng...."Aku tidak akan mengajukan diri."


Terhembus nafas berat seakan beban pikiran menumpuk di hidup Sea dan keras suaranya berteriak... "Kenapa kau tidak pernah mengerti apa pun, Askar."


Semua orang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan terkejut, sedangkan Sea segera pergi meninggalkan Askar yang masih bingung memahami kemarahannya itu.


"Apa ini salahku ?." Bertanya Askar kepada orang sekitar saat memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Tidak ada bantahan, semua orang mengayunkan kepala dengan anggukan setuju. Bagaimana pun mereka berdua seperti dalam pertengkaran sepasang kekasih, hanya saja untuk si lelaki begitu bodoh dan tidak bisa memahami perasaan si wanita.


__ADS_2