
Di ruang kantor Kepala badan pertanahan Nasional...
Zam selaku komandan pasukan militer Elementor khusus terduduk di atas kursi meja kerjanya, meski pun dia coba bersikap tenang dan santai, isi pikiran tidak lepas dari rasa khawatir akan satu orang yang ada di tempat lain.
"Semoga Askar itu tidak membuat masalah di sana." Gumamnya sendirian.
Askar, nama dari mulut Zam bukan suatu hal sederhana, terlihat raut wajah khawatir untuk sekedar membayangkan sosok perwira dibawah komando pasukan yang dia pimpin sebelumnya.
Banyak hal terjadi antara Zam dan Askar, termasuk awal pertama kali bagi dia menemukan seorang bocah di dalam hutan sebatang kara tanpa sanak saudara yang menjaga.
Itu terjadi belasan tahun silam, ketika dia mendapat laporan mengenai retakan dimensi skala besar terbuka di tengah hutan. Membawa Ratusan prajurit untuk menyelesaikan masalah tentang para mahluk dari dimensi Noir.
Tapi apa yang dia dapati ketika sampai di lokasi kejadian adalah bertumpuk ratusan mayat para 'Predator' dengan kelas bencana level 10 terbujur kaku tidak bernyawa. Sedangkan hanya satu sosok berdiri di atasnya, dia seorang anak kecil kurus, kusam, dekil, kotor, tidak terawat dan berlumuran darah sedang menikmati makan siang dari sisa daging Predator yang dia bunuh.
Tentu Zam tidak akan percaya begitu saja, jika ada seorang anak kecil yang belum berusia sepuluh tahun mampu membantai sekumpulan predator Level 10 dari retakan dimensi skala besar seorang diri.
Ingat dengan jelas ketika dia melihat tatapan mata kosong dari wajah anak kecil itu, tidak perduli siapa yang mendekat hanya mengunyah daging mentah dan menelannya begitu saja.
"Nak apa yang kau lakukan disini." Bertanya Zam.
Sedangkan anak kecil tidak menjawab, entah karena mulutnya penuh ketika mengunyah, atau memang dia tidak menganggap kehadiran Zam sama sekali.
"Apa kau tahu, memakan daging mentah makhluk dari dunia lain itu akan membuat perutmu sakit." Ucap Zam dengan tatapan aneh menyaksikan Askar tidak berhenti mengunyah.
"Aku lebih memilih perutku sakit, daripada harus kelaparan." Sebuah jawaban singkat yang menggambarkan kondisinya.
"Apa itu enak ?."
"Tidak juga, ada rasa pahit dan amis di tenggorokan saat menelannya." Balasnya dengan santai.
Apa yang anak kecil itu lakukan jelas tidak biasa, Zam tahu bahwa daging para predator bukan sesuatu untuk dikonsumsi manusia, darah merah gelap dari tubuh mereka mengandung racun, terlebih lagi keras dagingnya tidak bisa di robek oleh pisau biasa.
__ADS_1
Hanya saja melihat betapa lahap anak kecil itu menggigit dan mengunyah daging Predator dengan mudah, sudah membuat Zam menelan ludahnya sendiri.
"Apa kau yang membunuh semua makhluk ini."
"Ya begitulah."
Semakin besar kejutan yang Zam ketahui, dia menolak percaya karena tidak melihat saat kejadian, tapi anak kecil itu berbicara jujur, cara dia menjawab dan ekspresi dari di wajah, sudah bisa Zam nilai bahwa tidak ada kebohongan dari ucapannya.
"Kenapa kau sendirian di tempat ini, dimana keluargamu ?, Ayah ibu mu ?."
"Keluarga ?, Apa itu keluarga ? Dan apa itu ayah dan ibu mu ?." Dibalik pertanyaan Zam yang dia tanyakan kembali.
Zam semakin bingung, anak kecil ini tidak tahu apa pun tentang keluarganya, bahkan membahas mengenai ayah dan ibu, itu seperti kata Asing yang dia tidak ketahui.
Melihat kondisi mengenaskan dari anak kecil itu, Zam pun memutuskan membawanya pulang dan diberikan nama 'Askar', tapi Zam tidak kembali ke rumah, melainkan ke tempat badan penelitian, dia ingin tahu tentangnya. Bagaimana mungkin seorang bocah manusia mampu membunuh Ratusan predator dengan mudah.
Dan satu fakta yang membuat Zam tercengang adalah dia seorang manusia, struktur sel-sel dalam tubuh, bentuk tulang, organ dalam, dan wujudnya, tidak ada keanehan dari anak yang Zam bawa.
Tapi ada satu hal yang di temukan oleh para ilmuwan, bahwa anak kecil itu memiliki energi hidup di dalam tubuhnya, jika manusia di zaman sekarang membutuhkan bantuan alat bernama Elemenstator untuk membangkitkan energi, tapi Asksr sudah memilikinya tanpa bantuan alat lain.
Berusaha keras demi melindungi Askar, tapi keinginan komandan tertinggi telah di setujui oleh pemerintah pusat, Zam pun tidak bisa berbuat banyak, hanya meluangkan waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada Askar.
Termasuk segala hal yang mendasar untuk menjadi seorang manusia yaitu cinta, mengetahui jika dirinya terlahir dari seorang wanita maka Zam mengajarkan kepada Askar agar mencintai seorang wanita, bukan pria.
Singkat cerita, ketika posisi Zam sudah naik jabatan menggantikan komandan pasukan, Zam pun memberi kebebasan bagi Askar untuk melepaskan diri akan tugas sebagai pasukan khusus.
Askar memiliki pergi, dan ingin menjalani hidup seperti manusia normal pada umumnya untuk bersekolah, tapi disinilah rasa khawatir Zam muncul, dimana Askar tidak pernah tahu tentang kehidupan sekolah pada umumnya itu seperti apa.
"Apa sebaiknya aku meminta Sea untuk mengawasi Askar mulai sekarang." Keluh Zam dengan hembusan nafas berat.
Ketukan pintu terdengar, seseorang masuk dan memberikan hormat kepada Zam.... "Komandan Zam, aku datang untuk melapor, jika misi telah di selesaikan."
__ADS_1
"Ya laporan aku terima, kau boleh kembali." Perintah Zam.
"Terimakasih komandan."
Tepat sebelum perwira itu pergi, Zam kembali memanggil... "Roi, tunggu, ada yang ingin aku bicarakan."
"Siap komandan."
"Tidak perlu formal, ini masalah di luar tugas." Balas Zam.
Mengambil kursi di depan meja Zam, perwira itu duduk santai setelah melepas baret yang dia dia gunakan.
"Ada kepentingan apa komandan ingin berbicara kepadaku." Bertanya Roi dengan sopan.
"Aku pernah mendengar, jika sebelumnya ada satu perwira muda yang mengundurkan diri dan kembali ke sekolah, apa itu benar ?."
"Ya itu benar komandan, dia bernama Setsu, sekarang berada di sekolah elementor tiga, di kelas tingkat lanjutan." Balas Roi yang cukup tahu akan pertanyaan Komandan Zam.
(Note : kelas lanjutan di sini berarti dia sudah menyelesaikan tiga tahun di sekolah menengah atas, dan melanjutkan belajar di tingkat yang lebih tinggi.)
"Bisa kau meminta bantuannya ?."
"Untuk urusan apa komandan ?."
"Aku ingin dia mengawasi Askar di sekolah, karena siapa sangka dia juga berada di sekolah yang sama." Itu tujuan Zam bertanya tentang satu lelaki bernama Setsu mantan anggota pasukan khusus di militer.
"Tentu saja komandan, dan lagi Askar dan Setsu itu pernah berada di satu kelompok, bisa dibilang mereka berdua cukup dekat satu sama lain."
"Ini kabar baik, aku tidak terlalu mengenal Setsu, karena sebelumnya aku berada di divisi yang berbeda, tapi siapa sangka, Askar dan Setsu satu kelompok." Jawab Zam.
"Hanya saja, ada kejadian yang membuat Setsu keluar dari militer."
__ADS_1
"Apa itu ?."
"Kekasihnya tewas dalam pertarungan saat menjalankan misi bersama Askar." Balas Roi mengatakan apa yang dia ketahui.