
Berita tentang kebakaran dari gedung utama Badan Pengawas Sumber Energi Nasional memang menjadi bahan perbincangan banyak orang. Termasuk para murid sekolah Elemenstator 3 kelas 1 reguler D yang terlalu dini memikirkan tentang permasalahan negara, harusnya mereka lebih berpikir untuk menaikkan nilai agar bisa lulus KKM.
Askar datang memasuki kelas dengan wajah kusut dan menguap karena masih mengantuk, sampai di depan tempat duduknya, segera menarik kursi dan kembali merebahkan diri di atas meja.
"Kenapa dengan kejadian seperti ini sekolah tidak diliburkan saja." Gumam Askar sendiri.
"Apa kau tahu Askar, meski pun ada bencana, sekolah ini akan membuat semua tetap masuk." Balas Erdu yang berjalan datang dan tidak sengaja mendengar ucapannya.
"Itu menyusahkan, bahkan jika seluruh tempat ini hancur bagaimana kita akan belajar."
"Tidak seperti biasanya kau mengeluh soal belajar, aku pikir kau cukup antusias masuk sekolah."
"Semalam aku melakukan banyak hal, tidak ada waktu bersemangat selagi aku masih mengantuk."
Tidak lama setelah Askar datang, kini Sea pun menampakkan diri dari baik pintu, seperti halnya Askar, dia pula menguap dan tampak malas untuk menyapa teman-teman dalam kelas.
"Sea apa kau juga sedang mengantuk."
"Seperti yang kau lihat, Aku tidak bisa tidur di kamar asrama."
"Kau pindah ke asrama ?."
"Seperti itulah Erdu."
"Bukankah merepotkan asrama selalu mengatur kegiatan kita, bahkan aku mendengar jika ibu pengawas asrama adalah orang yang benar-benar tegas."
"Aku pikir itu tidak terlalu buruk, karena aku cukup menikmati hal-hal yang mustahil aku temui di rumah." Salah satunya adalah berduaan dengan Askar seperti semalam.
Guru mata pelajaran di jam pertama pun datang, semua murid berdiri untuk memberi salam, begitu pula Sea yang berusaha menahan kantuknya, kecuali dengan satu orang, yaitu Askar, dia benar terlelap menikmati waktu rebahan di atas meja.
"Askar, Askar, bagun." Panggil Sea tepat di sampingnya.
Tidak ada jawaban untuk sekedar membuka mata, sedangkan pak guru fisika yang ada di depan kelas, kini mengarahkan pandangan tajam kepada Askar.
Pak Agus Marto, pengajar mata pelajaran matematika dan sains terkenal sebagai sosok tegas dan kejam, cincin batu akik di setiap jari berderet menghiasi di tangannya bukan sekedar pajangan, itu adalah Elemenstator yang menjadi kebanggan beliau.
__ADS_1
Tanpa perlu menggunakan kekuatan energi tenaga dalam, satu tamparan tangan itu sudah cukup menjatuhkan seekor kerbau dewasa, begitu juga kepada para murid, cap lima jari dengan batu akik membekas merah merona di pipi mereka, hingga tiga hari tidak akan hilang.
Celaka untuk Askar yang tidak berdiri menyambut pak Agus Marto.
"Kalian duduklah, biar bapak urus manusia satu ini." Ucap pak Agus pelan.
Tidak ada komentar, tidak ada pula penolakan, semua orang hanya merasa kasian melihat Askar yang harus berurusan dengan guru sains satu ini. Mengambil satu buah penghapus dan bersiap melempar ke arah Askar.
Kuat dan tepat sasaran, arah penghapus bergerak lurus menuju bangku Askar, siapa pun bisa membayangkan seberapa sakit ketikan menghantam kening. Tapi tiba-tiba saja tangan Askar bergerak menghentikan penghapus dan langsung saja dia lempar kembali.
Pak Agus pun menangkapnya, seakan aneh untuk diperhatikan, karena Askar masih memejamkan mata. Bagi Askar itu bukan hal aneh, dalam mode tidur, dia harus mengasah kemampuan refleks demi menjaga keselamatan jika terjadi serangan kejutan.
Tapi tidak lama kemudian mata Askar terbuka, dia melihat langsung ke arah pak Agus dan murid lain juga sedang memperhatikan dirinya.
Seakan tahu apa yang terjadi, Askar segera membungkuk.... "Pak, maaf... Aku sungguh minta maaf."
"Sudahlah lupakan, kau harus tetap bagun selama pelajaran ku, jika tidak silakan keluar." Pak Agus cukup terkejut dan juga bingung.
"Maafkan aku." Askar merasa bersalah dengan tindakan yang dilakukan.
*******
Batu agate dengan nilai tertinggi dan sangat langka adalah Intan atau berlian, karena nilai yang sangat mahal inilah, batu intan sangat jarang digunakan oleh para Elementor kecuali bagi orang-orang kaya.
Ada pun yang biasa digunakan oleh orang Indonesia ada enam jenis, Calcedony Quartz, Amethyst Quartz, Emerald Beryl, Aquamarine Beryl, Black Opal kalimaya dan Idocrase Jade.
Meski batu alam Indonesia memiliki banyak jenis, tapi dari keenam batu inilah yang dikategorikan umum untuk di gunakan, karena semakin tinggi nilainya semakin mahal pula harga di pasaran.
Hanya saja batu alam bukan sesuatu yang bisa di dapatkan dengan mudah, perlu proses panjang dan pencarian cukup lama. Tapi para ilmuwan sudah mengembangkan metode lain demi mengatasi masalah jumlah batu alam yaitu batu buatan atau sintetis. Meski tidak sekuat batu natural, batu sintetis benar-benar mendekati nilai asli, sekitar 92 %.
"Pak, bagaimana dengan milik kami." Satu murid bertanya.
"Kalian bisa pikirkan sendiri, apa mungkin sekolah mau memberikan batu alam asli yang mahal, kepada murid belum dimana mereka sepenuhnya siap dalam bertarung." Berkata Pak Agus.
"Aku anggap itu adalah jawabannya."
__ADS_1
Ini bukan hal aneh bagi masyarakat umum, karena mereka tahu bahwa penambangan batu alam sangat dibatasi, karena merusak ekosistem lingkungan menjadi ancaman bagi mereka semua.
"Sea bukankah Elemenstator yang kau miliki itu adalah batu alam asli Chrysocolla chalcedony." Bertanya Askar ke Sea di sebelah.
"Itu benar, kenapa kau bertanya ?." Sea menunjukkan gelang Elemenstator dengan inti batu hijau kebiruan yang di sebut oleh Askar.
"Aku tiba-tiba saja ingat, jika aku memberikan batu itu ketika kau ulang tahun ke 14."
Tapi siapa sangka dari pertanyaan Askar kepada Sea, pak Agus pun tidak sengaja melihat kilauan batu di alat Elemenstator di tangan Sea.
Berjalan mendekat dan segera menarik tangannya penuh semangat...."Apa benar ini batu Chrysocolla chalcedony yang dikatakan sudah habis dari perut bumi."
"Aku tidak tahu soal habis atau tidak, pak, tapi memang benar ini Chrysocolla Chalcedony." Sea menjawab dengan wajah aneh.
"Sungguh kau sangat beruntung, ini salah satu batu yang sangat dicari oleh banyak orang, meski jenis Calcedony, tapi unsur Chrysocolla memiliki kemampuan pengolahan energi tenaga dalam sama tingginya dengan Batu intan, karena semakin lama digunakan akan berevolusi menjadi lebih bernilai. Apa kau mau menjualnya." Pak Agus memberi tawaran langsung.
"Maaf pak, tapi ini adalah pemberian dari seseorang, aku tidak mungkin menjual barang berharga yang aku miliki." Balas Sea dan menarik tangannya.
"Itu benar pak, meski anda menawarkan harga tinggi, pemberian seseorang sangatlah berharga." Askar jelas membela Sea, dia cukup terkesan karena melihat Sea tidak tertarik atas tawaran Pak Agus.
"Sungguh disayangkan, karena batu langka seperti milik Sea benar-benar sangat mahal."
"Kalau boleh tahu berapa banyak." Askar bertanya.
"50 juta." Jawab dengan lima jari terangkat.
"Itu terlalu murah." Askar tidak tertarik.
"Untuk per gramnya." Lanjut pak Agus.
"Li... Ma puluh juta." Askar terkejut.... "Apa anda yakin ?." Askar berubah haluan sambil berbisik ke telinga pak Agus.
"Tidak ragu sedikit pun."
Askar berbalik melirik Sea, tapi seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Askar, dia segera menyimpan alat Elemenstator dari batu Chrysocolla chalcedony itu ke dalam kantong.
__ADS_1
"Sea, 50 : 50." Ucap Askar.
"Aku tidak akan pernah menjualnya." Tegas jawaban Sea tanpa bisa di ganggu gugat.