
Beberapa jam sebelumnya....
Askar mengetahui dan sempat juga membicarakan tentang hubungan antara Setsu dan Erdu. Bagaimana pun semua terasa janggal, karena tidak ada alasan bagi mereka berdua untuk saling bekerja sama.
Tapi melihat dari sudut pandang Setsu yang akan melakukan segala cara demi satu wabita, dia tidak segan-segan memanfaatkan, memanipulasi atau merugikan orang lain, semua itu adalah bentuk cinta yang Setsu miliki untuk subjek bernama Zifa.
Saat berada di dalam kelas, Askar sudah mengawasi setiap gerakan dari Erdu, karena memang Erdu menjadi satu orang yang sangat mudah untuk dimanfaatkan oleh Setsu. Terlebih lagi, Askar percaya jika Setsu mampu memberikan keinginan Erdu. hanya saja, apa diinginkan dengan membantu putra ketiga dari kepala klan Mataram.
Dengan sigap Askar segera saja mendekati Erdu yang saat ini sedang sibuk menikmati waktu luang untuk duduk di jam istirahat.
"Erdu apa yang sedang kau lakukan." Bertanya Askar dengan akrab.
"Askar... Bukankah kau melihatnya, hanya sekedar duduk dan membuang waktu saja." Jawab Erdu yang terbilang santai menanggapi pertanyaan Askar.
"Itu terdengar menyenangkan."
"Menurutmu begitu ?."
Mengambil satu bangku di samping Erdu, Askar pun coba berbicara hal lain...."Hmm bagaimana dengan latihan mu untuk membangkitkan kekuatan energi tenaga dalam."
"Sampai saat ini tidak ada kemajuan, aku mencobanya berulang kali, tapi hasilnya nihil." Balas Erdu.
"Lantas bagaimana dengan senior Setsu ?."
"Dia bilang akan membantuku setelah jam sekolah berakhir."
"Oh begitu, apa aku boleh ikut." Askar sedikit menyinggung keinginan Erdu.
"Sepertinya itu tidak mungkin, karena ini cukup pribadi." Erdu menolak.
Melihat bagaimana sikap Erdu dalam membicarakan hubungannya dengan Setsu, seakan tidak menaruh curiga terhadap Askar. Ada kemungkinan Erdu memang termasuk dalam tipe yang mudah di pengaruhi oleh orang lain.
Askar kembali ke bangku tempatnya duduk, tepat di samping seorang wanita masih diam tanpa berucap sepatah kata pun dari awal masuk jam pelajaran hingga waktu istirahat akan berakhir.
"Sea, apa yang kau bicarakan dengan senior Setsu kemarin." Ucap Askar mengawali pembicaraan.
"Bukan hal penting, tapi tidak ada urusannya denganmu." Singkat jawaban Sea dan itu terdengar jelas bahwa dia sedang marah.
"Apa kau pernah melihat Setsu melakukan kegiatan kelompok di luar jam kuliahnya."
"Tidak." Jawaban semakin singkat bahkan terdengar Sea tidak berniat bicara.
__ADS_1
"Lantas bagaimana dia menjalin hubungan dengan orang lain ?, Tentu senior Setsu memiliki banyak teman di sekitarnya."
"Aku tidak tahu."
"Bukankah senior Setsu cukup terkenal, aku tidak berpikir jika dia menjadi seorang penyendiri tanpa teman." Askar tetap saja bertanya.
Tiba-tiba saja Sea berdiri dengan tegas, ditunjukkan sorot mata tajam ke arah Askar.
"Aku tidak tahu !!!. Dan juga kenapa kau bertanya kepadaku, aku bukan keluarganya, ibunya, saudaranya, apa lagi bapaknya, tentu saja bukan." Jawab Sea dengan nada tinggi.
Askar yang bingung dan juga terkejut, hanya tersenyum lemas, kemudian menjawab ... "Aku tahu Sea, aku hanya bertanya, kau tidak perlu sampai ngegas begitu."
"Kau bertanya banyak hal tentang orang lain, sedangkan kau tidak perduli apa pun tentangku."
"Aku mengerti Sea, jadi tolong tenang lah." Coba Askar mendamaikan hati Sea karena kondisi kelas bisa kacau untuk sikapnya.
"Kau tidak berhak memintaku untuk tenang, kau membuatku kesal Askar."
"Ok, maafkan aku, maafkan aku, jadi jangan marah-marah lagi."
"Memangnya kenapa ?, Aku tidak marah !."
"Tidak ada orang yang tidak marah dengan wajah menyeramkan seperti itu." Gumam Askar.
"Tenanglah Sea, kita bisa bicarakan itu nanti, ibu guru sudah melihat kita sejak tadi." Jawab Askar yang menjadi alasan utama kenapa dia begitu khawatir.
Sedangkan di sisi lain, guru yang baru saja masuk untuk memulai pelajaran harus terdiam sejenak, menyaksikan sosok Sea masih berdiri dengan raut wajah marah.
Dia seakan tidak berani mengganggu Sea yang sedang naik pitam, berusaha bicara tapi hilang keberanian mendengar suara tinggi dan aura membunuh dari Sea.
"Maaf, nona Sea, kita bisa mulai perjalanannya sekarang ?." Ucap ibu guru yang sudah berdiri di samping meja.
Tapi segera Sea mengangkat tangan untuk menahan guru bicara..."Tunggu sebentar ibu guru, aku ingin berbicara dengan lelaki tidak kompeten ini."
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, karena akan membuang waktu pelajaran kita terlalu banyak."
Guru pun tidak memiliki ketegasan untuk menghentikan Sea yang marah-marah kepada Askar. Bagi siapa pun mereka mengenal Sea sebagai sosok dingin tanpa menunjukkan emosi berlebih kepada orang lain.
Tapi untuk sekarang, satu lelaki yang duduk di samping Sea hanya bisa pasrah ketika mendengar semua luapan emosi tanpa pernah di tunjukkan selama ini.
"Untuk banyak hal yang aku lakukan, kau tidak pernah mengerti apa pun Askar. Hanya membicarakan tentang orang lain, dan itu seorang lelaki, apa kau itu sebenarnya menyukai lelaki ?."
__ADS_1
"Jangan sembarangan bicara, aku masih normal Sea." Balas Askar lirih dan tidak berani menatap Sea.
"Kalau begitu, apa aku tidak pernah mendapat nilai sebagai wanita di hadapanmu."
Askar bingung sudah sepuluh menit sejak jam pelajaran di mulai, tapi ibu guru tidak berani menghentikan Sea. Dan selama sepuluh menit itu pula, Askar kena semprot segala hal yang ditunjukkan kepadanya.
"Ibu guru, apa kita tidak mulai pelajarannya." Saut Askar yang coba meminta bantuan ibu guru agar Sea berhenti mengoceh.
"Tidak apa Askar, ibu juga ingin tahu seperti apa endingnya nanti." Santai ibu guru menjawab.
"Bagaimana mungkin ?. Ini bukan serial drama keluarga Bu guru."
"Jangan khawatirkan itu, lanjutkan saja."
"Eeehhhh kenapa bisa seperti ini." Bingung Askar melihat sikap ibu guru yang sangat santai.
Tidak ada niat Sea untuk berhenti sejenak dan melanjutkan semua drama yang dia buat di episode selanjutnya, Askar pun semakin bingung menanggapi jawaban kepada Sea.
"Ok, ok, apa pun yang kau inginkan Sea, aku akan memberikan apa pun itu, jadi kita berhenti untuk sekarang."
"Kalau begitu besok kau harus menemaniku pergi." Itu yang Sea inginkan.
"Tapi besok aku...." Askar coba menolak, hanya saja melihat sikap Sea dia segera berhenti untuk bicara.
"Tidak ada kata tapi, jam delapan pagi, jangan terlambat."
"Baiklah." Pasrah Askar.
Setelah semua yang Sea bicarakan, berakhir dengan satu permintaan untuk mengajaknya pergi, meski Askar tahu beberapa hari ini dia berniat mengawasi Setsu, tapi kemarahan Sea menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan.
"Apa kalian sudah selesai ?." Bertanya ibu guru.
"Apa yang ibu harapkan ?, Jika ini tetap berlanjut sampai jam pulang sekolah tidak akan berakhir."
"Padahal kalian berdua terlihat menjiwai peran dan ibu sedikit berharap menjadi Sad ending." Balas ibu guru.
"Kenapa harus sad ending, apa ibu guru tidak ingin kami berakhir bahagia."
"Berakhir bahagia sudah biasa, bahkan ibu sudah melihatnya 56 kali, itu membosankan."
"Tapi aku menginginkan Happy ending untuk kehidupan ku sendiri." Gumam Askar membalas jawaban ibu guru.
__ADS_1
Dan pelajaran pun dimulai kembali setelah Sea menjadi lebih tenang, sedangkan di jam pulang Askar berniat mengikuti Erdu pergi.