
Askar membawa Sea naik, sebenarnya walau dia tidak membantu Sea ketika terjatuh, gadis ini sudah cukup ahli mengatasi situasi, terlebih dengan kemampuan Elemenstator miliknya, jatuh dari ketinggian gedung lima puluh lantai bukan masalah besar.
Hanya saja Askar memperhatikan bagaimana wajah Sea merah merona karena malu, dia pun merasa tertarik menggodanya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan disini ?." Bertanya Askar selagi membersihkan kotoran yang hinggap di rambut Sea.
"Bukan hal penting." Balasnya tanpa berani menatap ke arah Askar.
"Tunggu, apa karena kau merasakan aura kehadiran ku sehingga mambuatmu penasaran." Itu sudah bisa Askar tebak dengan jelas.
Ekspresi tekejut, bingung dan malu ditujukan Sea...."Ja.... Jangan asal bicara, aku disini bukan karena aku."
"Lantas kenapa kau naik dan bersembunyi dari ku ?."
Terlihat jelas wajah Sea malu-malu untuk mengakui, dia pun mencari alasan lain.... "Aku... Aku... Ya, aku sedang mencari angin."
"Jawabanmu itu tidak bagus Sea." Askar bisa tahu dari ekspresi wajahnya.
Sea memperhatikan Askar dengan seksama, lelaki yang dia kenal cukup lama, bahkan sejak kecil tidak akan sekali pun melakukan hal bodoh tanpa alasan.
Terlebih lagi untuk sebelumnya, ketika dia mendapati Askar berdiri dengan sorot mata serius, seakan memang ada masalah yang harus dihadapi.
"Lupakan tentangku, bagaimana denganmu Askar ?, kenapa kau ada di atas gedung asrama wanita, apa kau berniat mengintip ?." Kini Sea balik bertanya.
Askar terkejut...."Dari mana kau tahu."
"Jangan bercanda !!!." Jelas Sea marah karena dia tahu bukan itu alasannya.
"Hei jangan berteriak, aku tidak ingin orang lain melihat, kita bisa mendapat masalah, jika guru pengawas asrama tahu."
"Kalau begitu katakan sejujurnya, dari mana kau Askar."
"Aku tidak pergi kemana pun, aku ada disini bersama denganmu Sea."
"Kau berbohong, pakaian mu itu terlalu kotor untuk sekedar menyelinap mengintip tempat ini, dan lihat ada bagian hangus di belakang pakaian." Sea sudah memperhatikan Askar dan jelas ada yang aneh.
__ADS_1
"Baiklah, aku menyelesaikan sedikit urusan."
"Urusan seperti apa ?." Sea masih saja penasaran, terlebih lagi dia tahu asal usul Askar bukan sembarangan.
"Itu bukan masalah besar, jadi jangan dipikirkan."
"Benarkah itu ?."
"Jika kau tidak percaya, aku pun tidak memaksanya."
Sea pun tahu bahwa ada yang disembunyikan oleh Askar, banyak hal dari lelaki satu ini masih tidak dia ketahui, tapi untuk sekian lama saling mengenal, Sea sangat paham atas asal usul tentang dirinya.
Tapi sepintas senyum tersirat dari wajah sea, dia jelas cukup menikmati waktu bersama dengan Askar di atas gedung asrama tanpa ada yang menggangu mereka.
*******
Kembali ke masa lalu, ketika Sea pertama kali bertemu dengan Askar...
Ayahnya Zam membawa Askar kerumah, dan saat itu menjadi masalah cukup rumit dengan sang ibu karena dianggap bahwa anak lelaki yang dia temukan dalam hutan adalah anak hasil hubungan gelap wanita lain.
Sea bisa melihat bagaimana Ayahnya coba menjelaskan, tapi tetap saja Ibu marah dan mengintimidasi agar dia mengakui. Tidak ada yang berani ketika ibu negara sudah naik pitam. Bahkan jika itu kepala keluarga, seorang komandan tinggi pasukan militer khusus berjuluk the big Grizzly, kini ibarat seekor kucing yang ketahuan maling ikan pindang dan siap kena pukul sapu lidi.
"Alasan saja, Minggu lalu aku melihatmu pergi bersama wanita lain, dan kau bilang dia adalah anggota baru untuk kau latih. Kemarin juga kau bersama seorang gadis SMA, kau beralasan dia tersesat dan kau ingin mengantarnya." Tapi seakan
"Padahal itu semua memang benar adanya." Gumam Zam yang tidak berani membalas.
"Sekarang aku yakin, anak itu adalah hasil hubungan gelap yang kau miliki dengan salah satu dari mereka."
Zam bingung dengan cara Sean berpikir..."Imajinasi mu itu terlalu luar biasa Sean, aku pikir kau cocok menjadi seorang novelis."
"Novelis apa ?."
"Novel misteri mungkin ?."
"Jika memang benar. Aku akan membuat buku tenang kejadian seorang suami terbunuh dan mayatnya dimasukan ke dalam kulkas." Ada ancaman di baik ucapan Sean.
__ADS_1
"Tolong jangan lakukan itu."
Zam benar-benar takut melihat istrinya marah, karena dia tahu, seluruh rumah bisa hancur berantakan ketika Sean salah paham, meski pun ini biasa terjadi, tapi Zam selalu berusaha membuat sang istri bisa tenang.
Tapi Sea tidak perduli dengan urusan Ayah dan ibunya, dia pergi ke ruang tamu untuk melihat anak lelaki yang kini duduk diam selagi memperhatikan sekitar. Ada rasa penasaran di tunjukkan oleh Sea, dimana penampilan Askar begitu kotor, pakaian lusuh, rambut berantakan dan tidak terawat sama sekali, menjadikan Sea bingung, karena ini pertama kali dia melihat seorang anak lelak seperti itu.
Semua anak dari teman-teman ibu dan ayah selalu berpenampilan rapi, pakaian-pakaian mewah, dan sibuk untuk bermain dengan ponselnya. Sea mengumpulkan keberanian, berjalan mendekat karena rasa ingin tahu tentang Askar.
Duduk di sofa sebelah, mengeluarkan ponsel untuk berpura-pura menarik perhatian, dan itu nyatanya berhasil, meskipun tidak seperti yang dia kira.
"Hei, apa kau memiliki sesuatu yang bisa aku makan ?." Itu menjadi pertanyaan pertama dari Askar kepadanya.
Dia tidak tertarik dengan ponsel atau apa pun yang sedang Sea lakukan, hanya berpikir sesuatu untuk mengisi perut laparnya.
"Kenapa kau meminta makanan di tempat orang yang baru kau kenal, apa kau tidak memiliki rasa malu ?."
Tatapan Askar bingung...."Rasa malu ? Apa itu ? Makanan ? Kedengarannya enak."
"Rasa malu adalah dimana kau harus menunjukkan sikap agar kau tidak berbuat seenaknya sendiri kepada orang lain." Sea coba menjelaskan.
"Hmmm aku mengerti, jadi dimana aku bisa mendapatkan rasa malu itu ?." Bertanya kembali Askar.
Sea benar-benar bingung tentang apa yang bicarakan anak lelaki itu, dia tidak seperti pura-pura bodoh atau sedang membodohi dirinya, tapi karena bingung untuk menjelaskan banyak hal, Sea pun pergi.
Askar tidak berpikir dia melakukan kesalahan dan membuat suasana hati Sea buruk, kembali duduk diam untuk melihat rumah besar yang asing di matanya.
Tapi tidak lama, Sea pun kembali dengan membawa satu piring nasi beserta lauk pauk yang dibantu asisten rumah tangganya dan meletakkan di depan meja tepat depan Askar.
"Ini....." Ucap Sea.
"Apa ini rasa malu yang kau bicarakan ?." Bertanya Askar.
"Tidak, ini hanya makanan."
"Ohhh, aku penasaran bagaimana bentuk rasa malu."
__ADS_1
"Tidak ada bentuknya." Singkat saja jawaban Sea.
Sedangkan makanan sebanyak itu lenyap dalam waktu singkat oleh Askar tanpa menggunakan sendok atau pun garpu. Tapi ini membuat Sea tertarik mengenal lebih banyak soal Askar.