DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
Seekor monyet


__ADS_3

Memang seperti yang Askar kira jika para peserta dari murid sekolah lain adalah jenius dengan kemampuan tidak biasa, salah satunya adalah sosok lelaki yang menyerang Askar sekarang.


Bergerak tanpa menunjukkan aura kehadiran, atau pun kemampuan dalam bertarung yang mungkin mencapai tahap ahli, dia berhasil menjalankan rencananya untuk memantau kelompok Askar dan melepaskan serangan jarak jauh.


Bahkan jika bukan karena insting dari pengalaman bertarung, Askar merasa mustahil mengetahui keberadaan sosok itu yang akan menyerang dari belakang.


"Aku adalah Wei Cho dari sekolah Elementor 7 Sriwijaya, orang-orang memanggilku, sebagai kesatria bayangan." Ucapnya dengan memperkenalkan diri.


"Siapa ? ....." Balik Akar bertanya.


"Aku."


".... yang tanya !!!."


Sea sedikit tertawa karena tanggapan Askar kepada Wei Cho, dimana dia tahu bahwa Wei Cho adalah top ranking sekolah yang saat ini menduduki peringkat pertama seluruh Indonesia.


Hanya beberapa orang saja mampu mengatasi keahlian khusus Wei Cho, sekali pun itu Sea, dia harus mengatur rencana dan kekuatan maksimal jika harus berhadapan satu lawan satu.


Tapi berbeda dengan Askar, jika murid sekolah lain masih memberi wajah dan rasa hormat kepada Wei Cho, kecuali Askar. Dia tidak menganggap apa pun, selain orang yang hanya menggangu waktunya.


Dari sisi Wei Cho....


Dia seperti memberi laporan kepada kawan satu kelompok yang berada di jarak jauh, ini menjadi salah satu rencana, dimana Wei Cho adalah mengawasi setiap target untuk kawannya menyerang.


"Tunggu aba-aba ku, dan lepaskan sepuluh serangan ke tempat aku berada, ada satu orang yang jelas memiliki kemampuan lumayan tinggi." Ucapnya ke alat komunikasi yang tersembunyi dibalik jubahnya.


Tangan Wei Cho mengeluarkan sebuah cahaya merah yang berasal dari sekumpulan energi tenaga dalam, ya senjata energi, dimana mirip dengan pedang laser, tapi sumber kekuatan berasal dari tubuh sang pemilik.


Meski tidak menimbulkan luka serius, tapi pedang Energi cukup membuat luka sayatan dan rasa sengatan listrik yang bisa menjatuhkan lawan. Tapi seakan dia tidak menyadari apa pun, dimana Askar yang menghentikan ayunan pedang Wei Cho dengan tangan kosong.


Di sisi lain, Endru yang masih selamat dari ledakan serangan sebelumnya, mendekat kepada Sea dan Askar.


"Nona Sea apa anda baik-baik saja." Bertanya Endru dengan penuh perhatian dan lebih mengkhawatirkan Sea.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, karena kau lebih membutuhkan perawatan." Balas Sea.


"Jangan khawatir, ini bukan luka cukup serius." Padahal dari sekujur tubuh Endru sangat kotor dan darah setelah terlempar gelombang kejut ledakan.

__ADS_1


"Baiklah jika kau bilang begitu."


Endru pun tahu, sosok Wei Cho yang kini bersiap menyerang ke tempat mereka, menganggap bahwa tidak ada kesempatan melawan, dia terlihat ragu.


"Nona Sea, sebaiknya kita pergi, karena percuma melawan, Wei Cho terlalu kuat, bahkan dengan jumlah kita bertiga masih belum mampu." Itu adalah usul dari Endru.


"Bagaimana Askar ?." Balas Sea yang mengarahkan pertanyaan kepada Askar.


"Aku ikut saja, jika kita harus mundur, aku tidak masalah, tapi apa dia akan melepaskan kita begitu saja." Askar menjawab dengan wajah tidak perduli.


"Kalau begitu .... Askar kau bawa Sea pergi, dan aku akan coba menahannya disini, ingat prioritas utama kita adalah melindungi nona Sea sebagai juru kunci." Endru mengajukan diri untuk berlagak sok pahlawan.


Sedangkan Sea tidak merasa itu perlu, dimana dia sangat yakin, tanpa bantuan siapa pun, Askar sendiri sudah cukup menyelesaikan Wei Cho dengan mudah.


"Baiklah, aku serahkan kepadamu, Endru." Sea mengambil keputusan itu.


"Aku akan berusaha nona Sea." Jawab Endru seakan mendapat tambahan semangat untuk berusaha melawan Wei Cho.


Sea menarik tangan Askar dan membawanya pergi. Sedangkan Askar sendiri merasa tidak enak hati menyerahkan Wei Cho, dimana dia tahu, Endru tidak memiliki kesempatan untuk menang.


"Sea apa kau yakin meninggalkan Endru." Bertanya askar yang khawatir dengan kondisi Endru.


"Aku sendiri bisa melawan Wei Cho."


"Sudah lupakan itu Askar, anggap saja kita membuang para pengganggu dari kelompok." Sea memberi alasan kenapa dia pergi dan menuruti rencana Endru.


"Eh... Kau sangat kejam."


"Mereka mengejekmu seakan menjadi penghalang, aku pikir lebih baik mereka tidak perlu melanjutkan festival ini." Jawab Sea menunjukkan nada kesal.


"Tapi bagaimana nanti jika mereka mengalami luka serius."


"Tidak perlu khawatir, karena ada kamera pengawas yang menjaga mereka agar tetap aman."


"Oh begitu, Baiklah."


Hanya saja, menang Wei Cho tidak bisa dihentikan oleh Endru, dimana baru lima belas menit Askar dan Sea pergi, Askar bisa merasakan kehadirannya semakin dekat.

__ADS_1


Mengarahkan pandangan ke tempat Wei Cho dimana dia mengikuti di atas pohon, Askar mengayunkan tangan dengan sedikit energi tenaga dalam, dan seketika, pepohonan besar yang ada di tempat Wei Cho terhempas jauh.


Sea merasakan energi dari Askar, menoleh kebelakang dia pun bertanya.... "Apa yang terjadi Askar."


"Tidak bukan apa-apa, hanya sedikit gangguan dari seekor monyet."


"Lebih baik kita sekarang mencari tempat untuk beristirahat dan memantau situasi."


*******


Sedangkan Wei Cho yang terhempas oleh kekuatan Askar, jatuh di sebuah kubangan lumpur, berjalan kembali ke tempat kelompoknya dengan baju kotor dan juga bau.


Orang-orang dari kelompok Wei Cho, tertawa terbahak-bahak karena melihat penampilan Wei Cho yang dipenuhi lumpur.


"Apa yang terjadi." Seorang wanita dari kelompoknya bertanya.


"Aku di permalukan oleh seseorang, Asfi."


"Oh, jarang sekali kau mengakui ada orang yang bisa mempermalukan mu." Seakan puas menertawakan Wei Cho.


"Kemungkinan dia adalah murid terkuat yang menjadi saingan berat sekolah Elementor kita." Balas Wei Cho memberi pengakuan.


"Bahkan kau sampai memberi pujian, apa sekuat itu sekolah Elementor tiga sekarang." Asfi bertanya dengan serius.


"Entahlah untuk murid lain, tapi satu orang itu, benar-benar memiliki kekuatan yang berbeda."


"Aku akan coba mencari tahu, siapa dia sebenarnya." Asfi pun merasa penasaran.


Dan Wei Cho pun mengarahkan pandangan kepada seseorang, dia duduk bersantai selagi bermain-main dengan seekor burung di tangan.


"Bagaimana menurutmu, Remure." Bertanya Wei Cho.


"Omong kosong, tidak ada yang bisa mengalahkan sekolah Elementor tujuh selama aku masih ada disini." Dibalas oleh sosok Lelaki bernama Remure dengan nada datar yang tidak menganggap serius tentang murid lain.


"Itu benar, kau adalah yang terkuat, bahkan pasukan militer khusus pun ingin merekrut mu setelah lulus."


"Kalau begitu, ayo kita lihat seberapa tangguh lawan kita di festival ini." Ucapnya yang kemudian berdiri.

__ADS_1


Empat orang dari kelompok 3 sekolah Elementor tujuh Sriwijaya mulai bergerak dengan serangan serius. Mereka berempat adalah murid-murid terbaik yang menjadi kandidat utama peraih juara satu festival pesta Nusantara.


__ADS_2