
Setsu berjalan memasuki rumah besar yang dia miliki dari segala macam upaya untuk hidup lebih baik setelah keluar kemiliteran. Menabung semua uang dari gajinya, atau menyimpan batu kristal dari para predator yang dia bunuh. Setsu terbilang cukup kaya dan sukses.
Melangkahkan kaki ke bagian ruang bawah tanah itu, Setsu membuka pintu brangkas yang dia gunakan sebagai tempat penyimpanan, benda kubus dengan goresan huruf dalam bahasa kuno berada tepat di tengah ruangan.
Setsu membuka sebuah bungkusan kecil yang dia simpan dalam saku. Itu adalah artefak dari klan Mataram dimana Erdu berikan sebagai bentuk tawaran kepadanya.
"Aku sudah memiliki kunci membuka Dimensi Astral secara penuh, dan kompas penjelajah Dimensi agar bisa menemukan keberadaan Telaga jiwa, semua sudah lengkap, dan Zifa.... Aku pasti membawamu kembali."
Empat tahun lalu....
Satu bulan setelah Zifa pergi, Setsu berada dalam kondisi mental yang down, seakan tidak memiliki semangat untuk melakukan latihan rutin atau menjalankan misi.
Semua orang paham dengan perubahan sikap yang terjadi dalam kepribadian Setsu, mereka tahu jika Zifa adalah satu kehadiran penting dan tidak bisa digantikan, hingga ketika Zifa tewas, sama seperti Setsu kehilangan jiwanya sendiri.
Tapi tugas tetaplah tugas, dia telah melanggar peraturan militer dan mendapat hukuman oleh para petinggi, Setsu dimasukkan ke dalam kamar tempat para pasukan khusus untuk berlatih, tapi bagi Setsu ruangan ini adalah tempatnya menenangkan pikiran atau pun mengurung diri.
Suasana gelap, kering, kosong, dan tidak terawat. Pantulan cahaya dari jendela kecil sebagai satu-satunya penerangan di sekitarnya, Setsu tertutup selimut dan hanya duduk diam memeluk lutut. Cekung kelopak mata seakan sudah lupa kapan terakhir tidur dengan lelap. Menatap kosong, memandangi seekor laba-laba yang berjalan menangkap mangsa ketika masuk dalam jaring perangkap. Tapi tidak lama kemudian seekor tokek datang menelan laba-laba tanpa permisi, tanpa rasa bersalah dan juga tanpa minum.
Dia tertawa, bukan tentang kemalangan laba-laba tewas oleh seekor tokek, melainkan Setsu menertawakan dirinya sendiri karena mungkin akan berakhir menjadi mangsa tokek yang lebih besar, ganas, rakus dan berbahaya.
Tapi Setsu tidak perduli, dia tidak lagi memiliki alasan untuk tetap hidup, sedangkan satu nama yang menjadi dinding pertahanan terakhir dalam hidupnya telah runtuh.
"Pada akhirnya semua akan mati, jadi untuk apa aku berjuang selama ini." Gumam Setsu sendirian dan menertawakan dirinya sendiri pula.
Hidup Setsu yang sudah berantakan karena kehilangan seluruh anggota keluarga ketika penyerangan predator. Porak poranda, hancur lebur dan luluh lantak tanpa sisa. Kebahagiaan yang dia jalani terjun bebas tanpa tahu cara untuk terbang. Tapi berkat Zifa dia masih memiliki tujuan dan alasan untuk tetap berjuang,
Waktu terus bergerak, membawa setiap detik menuju menit, semakin jauh hingga menjadi Jam, tidak berhenti untuk satu hari, dua hari, hingga tanpa disadari satu Minggu telah Setsu lewati di dalam kamar pengasingan.
Suatu ketika, Setsu merasa lelah, sangat lelah, jiwa raganya pun terlalu lelah untuk menjalani kehidupan tanpa tahu apa pun lagi, dan ingin dia menyerah. Membulatkan tekad, depresi panjang yang sudah lama tertanam, meledak menenggelamkan dirinya dalam keputusasaan. Dia pun berniat mengikuti pilihan hati yaitu menggantung diri.
Jika sebagian besar manusia menganggap kematian adalah rasa takut yang ingin mereka dihindari, tapi bagi orang-orang sepeti Setsu, kematian adalah pembebasan dari segala kepahitan hidup. Setsu berharap jika kesengsaraan yang dia alami sampai sekarang akan berakhir ketika kematian menjemput, memberikan dirinya dalam kebahagiaan.
__ADS_1
Saat tali yang melingkar di leher, terikat lurus di tengah ruangan, gambaran-gambaran perjalanan hidup mulai menampakan diri dalam pikirannya. Tidak ada hal baik dari itu semua, dimana keluarga yang dia miliki menjadi hal berharga, penuh kebahagiaan, suka cita, dan kasih sayang, hancur seketika oleh predator dimensi Noir.
"Aku menyerah..."
"Aku menyerah..."
"Aku menyerah..."
"Aku menyerah..."
"Aku menyerah..."
"Aku tidak ingin menjalani hidup seperti ini lagi."
"Aku menyerah."
"Aku menyerah..."
"Aku muak kepada diriku sendiri."
"Aku menyerah."
"Aku menyerah."
"Aku menyerah."
"Aku sudah lelah." Ucap Setsu terakhir dengan menghembuskan nafas berat dan lemas.
Hingga saat tubuh menggantung dan leher terikat keras, nafas sesak, pandangan mulai kabur, dan seluruh tubuh mati rasa, tidak ada kesempatan untuk Setsu mengurungkan niat. Sekilas serpihan-serpihan mozaik ingatan hidup tergambar jelas, itu adalah senyuman tulus seorang wanita yang dia cintai sepenuh hati, dia adalah Zifa
Dia ingat ketika melihat kehadiran Zifa itu, hatinya terasa nyaman, saat terakhir dan hanya menunggu kematian datang, Setsu bisa mengingat kembali semua hal yang sudah dia lewati bersama.
__ADS_1
Tapi tidak lama kemudian, tubuh Setsu jatuh, ada yang memutus tali gantungan untuk melepaskan dirinya dari kematian. Terasa lemas setelah semua oksigen di otak terkuras habis, samar-samar mata melihat bayangan kasat mata dan itu bukan manusia.
Sesosok makhluk astral yang memaksa keluar dari dimensi Maya tanpa ada lingkaran pemanggilan. Setsu bisa menyadari kehadirannya bukan suatu hal normal.
"Siapa kau." Bertanya Setsu.
"Manusia, semua keputusasaan mu, kemarahan mu, rasa benci mu dan segala emosi yang tertumpuk di dalam tubuhmu itu membuat ku terpanggil." Ucapnya dengan suara mendengung dalam pikiran.
Setsu coba bangkit, dan memperhatikan dari bayang-bayang samar sosok makhluk astral tanpa tuan...."Kenapa kau menghalangi ku."
"Aku sudah melihat mu dari sudut dimensi astral, dan mengikuti mu untuk beberapa waktu belakangan, awalnya aku tidak berpikir kau akan bunuh diri, karena biasanya setelah terpuruk akan ada motivasi-motivasi hidup agar bisa membuatmu kembali bersemangat, tapi sebaliknya, kau menyerah untuk menjalani kehidupan, bahkan berniat bunuh diri, apa kau tidak merasa hidupmu itu akan terbuang sia-sia...."
"Aku tidak mendengar jika itu adalah jawaban dari pertanyaan ku."
"Kau kehilangan wanita mu, jadi.... Bagaimana jika aku tahu cara mendapatkan kembali jiwa wanita yang kau cintai itu." Ucap makhluk astral tanpa nama, karena tahu keinginan Setsu.
Memang benar Setsu terdiam sejenak mencerna semua ucapannya..."Apa kau yakin."
"Tentu saja."
"Dimana aku bisa menemukannya."
"Bukan di dunia ini, tapi di dimensi Astral..."
Setsu tertegun, dia sendiri tahu ada satu cara untuk membangkitkan kembali kehidupan yang telah tiada, tapi sampai sekarang semua itu hanya menjadi mitos, tidak ada kepastian dalam melakukannya.
Satu kehadiran makhluk astral tanpa nama memberikan petunjuk yang tidak pernah Setsu sangka, dan dia ingin mencoba menjalin kerjasama.
"Bagaimana caraku melakukannya." Bertanya Setsu.
"Kau harus mencari dua benda, kunci Dimensi dan Kompas Nirwana." Jawab makhluk astral itu kepada Setsu.
__ADS_1
Itu adalah syarat utama untuk Setsu, dua benda yang mungkin mengembalikan Zifa dalam hidupnya.