DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
Teman


__ADS_3

Untuk pertama kali Askar berkenalan dengan Setsu dan Zifa, itu terjadi ketika dia dibawa oleh Zam ke tempat penampungan para anak-anak korban serangan makhluk dimensi Noir.


Askar masih belum menjadi dirinya seperti sekarang, tidak perduli tentang manusia lain dan hidup hanya sekedar hidup tanpa ada tujuan di dalam pikirannya.


Sosok Askar menarik perhatian Setsu dan Zifa, dimana mereka memulai pembicaraan saat melihat Askar hanya berdiri diam sedangkan anak-anak lain mengantri untuk mengambil makanan.


"Hei bocah apa kau tidak lapar, jika kau tidak mengambil makanan maka semuanya akan habis." Setsu mendekat sembari membawa piring berisi jatah makan.


Askar menatap bingung karena tidak mengenal Setsu...."Kau bicara denganku."


"Memang siapa lagi, hanya kau yang berdiri disitu sendirian... Apa kau tidak lapar."


"Lapar, ya sudah seharian aku belum makan, tapi tidak ada apa pun yang bisa aku bunuh."


"Memang apa yang kau pikirkan tentang makanan." Lemas Setsu menanggapi perkataan Askar.


"Predator, aku tidak menemukan mereka di sini."


"Untuk apa kau mencari makhluk itu, kau tinggal pergi kesana dan meminta makan." Tunjuk saja Setsu ke tempat petugas memberikan jatah makan kepada anak-anak di penampungan.


"Disana ?." Askar melihat ke arah yang di tunjuk oleh Setsu.


"Aku tidak melihat ada makanan disana."


Setsu tidak habis pikir dengan jawaban Askar, dianggap aneh memang benar adanya, karena ini pertama kali dia melihat seseorang yang tidak tahu apa pun.


Diambil sebatang roti dari piring..."Lihat ini... Ini namanya roti, kau tidak perlu membunuh predator atau apa pun itu, kau bisa menelannya sebagai makanan."


Cepat tangan Askar mengambil satu roti yang Setsu tunjukan, hingga tanpa disadari sudah masuk ke dalam mulutnya, panik bukan main sedangkan Askar masih saja mengunyah.


"Ini enak." Ucap Askar.


"Hei itu roti milikku, kembalikan." Setsu segera menarik tangan Askar tapi semua sudah di telan.


"Aku mau lagi."

__ADS_1


"Kau bisa memintanya kepada orang-orang disana, jangan ambil milikku." Setsu berusaha menyingkirkan Askar yang coba meraih roti lain di piringnya.


Hingga Zifa datang melihat kegaduhan yang dibuat oleh Setsu karena berebut roti... "Kak Setsu, kau tidak tahu malu mengambil roti milik orang lain."


"Siapa yang kau sebut mengambil milik orang lain, jelas-jelas anak inilah yang memakan roti ku."


"Aku tidak mengambil, tapi kau yang memberikannya."


"Sudah aku bilang, kau bisa mendapatkan roti ini kepada mereka."


"Berhentilah untuk tidak ribut, bisa saja kita di usir dari sini."


"Tapi... Rotiku."


"Nanti akan aku memberikan sedikit bagian ku."


Tidak lama setelah keributan yang Askar buat, beberapa anggota militer di ruangan berusaha membawa Askar pergi, hanya saja, dia memberontak dan dua orang terlempar karena tidak mampu menahan kekuatan Askar.


"Askar jangan melawan." Seorang lelaki bertubuh besar memberi perintah dan nyatanya itu membuat Askar berhenti memberontak.


"Baiklah, tapi kau tidak boleh melawan."


Setsu dan Zifa cukup bingung atas kejadian ini, dimana setelah satu orang itu bicara, para anggota penjaga lain membawakan begitu banyak makanan kepadanya.


Melihat bagaimana rakusnya Askar mengunyah setiap roti di kedua tangan, hingga orang lain meneguk air ludah dan takjub atas pelayanan khusus yang mereka berikan kepada satu anak kecil aneh itu.


Menelan apa yang dia kunyah, menatap Setsu dan Zifa diam memperhatikannya...."Kenapa kalian tidak makan, jika makanan kalian kurang, duduklah kita makan bersama."


"Tidak perlu." Singkat jawaban Setsu, meski pada kenyataannya dia jelas kehilangan dua potong roti dan itu mengurangi jatah makan untuk mengisi perut.


Tanpa ragu Askar mengambil lima roti dan menaruhnya diatas piring Setsu.... "Jika kau kurang, ini masih banyak."


Ini adalah awal pertama yang membuat Setsu dan Zifa mengenal Askar sebagai sosok aneh, tapi dibalik keanehan dari Askar, mereka bertiga menjadi lebih dekat dan saling menjaga satu sama lain.


Sebenarnya ada banyak hal yang bisa Askar ingat di dalam kehidupan bersama Setsu dan Zifa, tentang hari-hari berat dalam pelatihan militer, atau kebahagiaan kecil karena bisa libur dan pergi keluar asrama untuk menikmati waktu luang.

__ADS_1


Tapi setelah hari kematian Zifa, hidup Setsu dan Askar benar-benar berubah, sebuah kehilangan yang baru pertama kali dia rasakan menjadi penyesalan tanpa pernah bisa dia perbaiki.


Dan untuk sekarang....


Setsu menceritakan bahwa dia diminta oleh Roi untuk mengawasi Askar, ini bukan hal aneh, karena tahu bahwa Askar adalah bukan sosok sembarangan, sebagai senjata terkuat yang mampu memusnahkan apa pun di hadapannya.


Tapi bagi Setsu, Askar sudah cukup banyak belajar tentang kehidupan, sehingga dia percaya bahwa tidak mungkin Askar salah menggunakan kekuatan untuk menyakiti orang lain.


"Aku mendengar banyak hal tentangmu Setsu, dan kau melakukan semua dengan baik setelah pergi dari Raynor Avya." Ucap Askar karena dia ingat cerita Ze.


Sedikit senyum mengejek dari Setsu, menganggap bahwa ucapan Askar tidak membuatnya senang...."Ini bukan hal baik Askar, aku hanya melampiaskan semua keputusasaan, kenapa hari itu aku membiarkan Zifa menjadi anggota militer."


Hidup Setsu sekarang seperti penebusan dosa yang diharapkan kepada Zifa, agar Zifa menjalani kehidupan normal tanpa perlu lagi mempertaruhkan nyawa dan itu menjadi penyesalan.


"Aku tahu Setsu kau sangat ingin melihat Zifa kembali, aku pun merasa baru kemarin dia ada di samping kita, melerai kita berdua ketika berebut roti." Sedikit cerita yang Askar ingat.


"Sebenarnya aku bertanya-tanya, apa yang kau tahu tentang Zifa, Askar."


"Ini memang aneh, tapi aku sudah menganggap Zifa sebagai keluargaku." Itulah yang Askar tahu.


"Keluarga kah ?, Askar, Kau memang tidak tahu apa pun tentangnya." Balas Setsu.


Ini menjadi pembicaraan berat yang Setsu katakan setelah beberapa tahun tidak bertemu, bahkan Askar merasakan kemarahan Setsu setiap kali nama Zifa terucap.


"Lupakan itu, dia tidak akan kembali lagi." Setsu kembali tenang, meski sorot mata yang dia miliki begitu dalam dan terselimuti keputusasaan.


"Aku tahu, tapi aku bisa melihat jika kau belum bisa melepaskan kepergian Zifa." Balas Askar yang paham dari tatapan Setsu.


"Tidak mungkin aku bisa melepas kepergian Zifa, karena dia.... " Berat Setsu melanjutkan perkataannya dan berdiri dengan genggaman tangan erat mengepal.


Beranjak pergi dan berniat meninggalkan Askar, tapi tiba-tiba berhenti ketika di depan pintu ... "Askar, aku hanya diminta untuk mengawasi mu, tapi sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan, kau mendapatkan tujuanmu sendiri, hidup normal dan lepas dari segala keterikatan militer."


"Setsu, ini ...." Askar tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka.


"Tidak perlu berkata apa pun, kita tetaplah teman, Zifa menginginkan hal yang sama, dan aku akan menjaga keinginannya." Balas Setsu dimana dia segera pergi meninggalkan Askar sendirian.

__ADS_1


__ADS_2