DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
makan malam


__ADS_3

Kediaman klan kerajaan kuno Mataram....


Ruang makan orang kaya selalu berbeda dengan lesehan lantai milik orang miskin. Mereka hidup dibawah ruang terang berlampu kristal, meja panjang kayu jati ukiran Jepara, banyak makanan tertata rapi, bermacam bentuk, bermacam model, wortel berukiran burung terbang, atau semangka yang dibuatnya seperti bunga.


Tidak ada yang terlewat dari kandungan nutrisi, protein, karbohidrat, mineral, vitamin, lemak jenuh, atau pun keseimbangan gizi, semua itu di hitung sedemikian rupa oleh para ahli masak yang berpengalaman dari appetizer, main course, desert.


Nasi hangat uap mengepul, lauk diambil berurutan, sendok garpu berlapis emas dan piring marmer tersedia. Semua penuh aturan, sopan santun, tata krama, hanya untuk mengisi perut mereka yang dipenuhi lemak dan kolesterol.


Mahal ?, tentu saja. Udangnya saja harga motor sport seken, surat-surat komplit, pajak panjang pula. Sehat ?, Jangan ditanya, empat sehat, lima sempurna, pokoknya. Higenis ?, Sudah pasti. Enak ?, Behhh gaya restoran berbintang... Meski pun, semua hanya akan menjadi ko*toran dan berakhir dalam toilet, tidak bisa di daur ulang pula.


Jika dihitung-hitung satu kali buang hajat sama dengan bayar pajak motor dua tahun, itu sebuah kerugian yang di miliki oleh para orang kaya.


Tapi di sinilah mereka, kegiatan makan malam keluarga dari Erdu Panatagama, ketika ayah, ibu dan kedua saudaranya menikmati waktu untuk menghitung mulut saat mengunyah makanan.


Sosok lelaki paruh baya berwajah tegas itu adalah kepala klan Mataram, Wira Panatagama, lelaki yang memiliki pengaruh besar di wilayah central java tempat dimana klan Mataram berkuasa.


"Agra, apa bisnis perkebunan klan Mataram berjalan lancar." Wira pun angkat bicara dan memecah keheningan semua orang.


"Semua dalam kondisi normal ayahanda, bahkan kita akan melakukan kerjasama untuk bahan pembuatan ramuan ke pasar internasional." Jawab sosok lelaki yang menjadi anak sulung dari tiga bersaudara.


"Itu cukup baik, tapi jangan sampai kita dikendalikan oleh negara lain, hubungan dalam kerjasama harus sama rata, bahkan merekalah yang harus mengikuti keinginan kita." Balas Wira menanam ideologi sebagai pemimpin bagi anaknya.


"Akan aku lakukan ayahanda." Agra pun menjawab keinginan sang ayah, sedangkan dirinya tidak bisa mengangkat kepala dan hanya mengangguk patuh.


Pandangan Wira pun berganti arah, kini sosok wanita cantik di sebelah Agra, dialah anak kedua dari Wira. Nura Panatagama, 21 tahun, rambut panjang hitam pekat, mahasiswa semester akhir, jurusan teknologi element dan astral modern.


"Nura, bagaimana dengan studi lanjutan mu ?." Bertanya Wira.

__ADS_1


"Hanya menunggu sidang akhir skripsi, tapi aku pikir itu hanya formalitas saja, karena semua guru besar sudah menjamin kelulusan ku ayahanda." Jawab Nura yang sejenak berhenti mengangkat sendok untuk menjawab.


"Jadi apa kau sudah memiliki rencana setelah kelulusan mu."


"Aku tidak yakin ayahanda, tapi aku ingin masuk ke Pusat Penelitian Energi Nasional."


"Itu bagus, ayah tidak akan melarang mu menjadi apa pun tapi ingat kau tetaplah wanita, suatu hari nanti, kau harus mengikuti suami mu." Balas Wira dengan anggukan kecil.


"Aku mengerti ayahanda." Sedikit berubah ekspresi Nura yang bisa di rasakan oleh Erdu.


Wira pun berganti mengarahkan pandangan kepada Erdu, walau pun ada hal yang berbeda dari Agra dan Nura, Wira masih menganggap bahwa Erdu adalah darah dagingnya, anaknya sendiri, hanya saja Wira tidak bisa menaruh harapan besar.


"Erdu, bagaimana dengan sekolah mu." Bertanya Wira kepada Erdu.


"Biasa aja, Ya seperti itulah." Jawab Erdu seakan tidak perduli.


Seakan tidak menyukai pertanyaan dari Wira, Erdu pun menjawab seadanya..."Hanya duduk dan menunggu jam pulang, memang apa yang ayahanda harapkan ?, aku bertarung melawan alien dari planet namek ?."


"Erdu jaga sikapmu." Keras Agra bicara.


Tapi tangan Wira menghentikan Agra, dan memintanya untuk kembali duduk dan menyelesaikan makan.... "Tidak begitu juga Erdu... Sudahlah, yang penting kau tidak membuat masalah, dan jangan terlalu banyak membolos."


Wira tidak bisa marah kepada Erdu, dia cukup paham kenapa sikap anak bungsunya begitu kera. Tekanan dari anggota klan Mataram, keterbatasan pengolahan kekuatan Elemenstator dan perbandingan dengan kedua saudaranya menjadi masalah yang Erdu hadapi.


Erdu pun menjawab..."Ya, Aku tahu."


"Erdu. Ayah tahu, masalah yang kau hadapi adalah beban berat, karena orang lain menganggap mu tidak pantas sebagai anggota keluarga klan Mataram, tapi kau tetap anakku, darah yang mengalir di tubuh mu adalah darah klan Mataram, ayah yakin suatu hari nanti kau bisa menunjukkan kepantasan kepada mereka semua." Jawab Wira dengan perhatian sebagaimana seorang ayah kepada anaknya.

__ADS_1


Jika orang lain lihat, semua ini seperti sinetron keluarga bahagia dimana sosok ayah memberi nasihat kepada anak-anaknya untuk menjalani kehidupan dengan baik.


Tapi kenyataan yang Erdu rasakan tidak seperti itu. Berbeda dari kedua saudaranya yang benar-benar diberikan apresiasi, pujian dan perhatian penuh dari sang ayah, sedangkan Erdu tidak lebih di minta untuk jangan membuat masalah dan lulus.


Ini membuat Erdu iri, dia tidak pernah dipandang layak oleh keluarganya sendiri, memiliki dua saudara jenius yang dibanggakan keluarga semakin membuat Erdu terasingkan. Sedikit harapan dia terlahir di keluarga biasa saja, dan hidup dengan masalah yang biasa pula. Tanpa dibandingkan atau pun diberi harapan besar.


Satu suap makanan terakhir di piring Erdu telan dengan rumit wajah yang menunjukkan rasa lain ketika masuk ke dalam perut.... "Tidak enak."


Erdu tutup telinga atas semua ucapan dari ayahnya. Hanya tiga suap dan segelas air putih, Erdu telah selesai untuk makan malam yang begitu tidak menyenangkan. Dia berdiri dan beranjak pergi menuju kamar.


Berada di antara keheningan kamar yang gelap dan berantakan, jendela terbuka, angin berhembus menerpa rambut. Tapi tidak membuat Erdu tenang, satu batang ro*kok dia ambil dari bungkus mulai dinyalakan.


Hembusan asap dari mulut di wajah tanpa senyum, hanya melihat keluar untuk semua masalah yang terjadi dalam hidupnya.


"Aku benar-benar muak dengan semua ini." Gumam Erdu sendiri.


Dengan suasana yang membuat Erdu marah, dia memilih untuk keluar rumah dari pintu belakang agar tidak diketahui oleh siapa pun. Tapi Erdu tidak pergi tanpa tujuan. Dia mengendap-endap, menyelinap dan bersembunyi, menggunakan jalan rahasia yang dia buat untuk melewati para penjaga di halaman luar, Erdu berhasil lolos dan sampai di sudut lain kediaman klan Mataram.


Dari ujung jalan itu Erdu melihat sebuah mobil terparkir di pinggiran jalan, perlahan pintu terbuka dan dia pun melangkah masuk tanpa curiga sedikitpun.


Sosok itu muncul dan menatap Erdu secara langsung..."Apa kau membawa yang aku minta Erdu."


"Tentu saja senior Setsu, ini dia.... Artefak peninggalan kerajaan Mataram yang klan ku simpan." Jawab Erdu dengan membuka bungkusan kecil, dimana itu hanya lempengan batu bulat dengan delapan kata dari bahasa sansekerta tentang arah mata angin.


"Bagus, besok kau datang ke tempat ku."


"Baik senior." Jawab Erdu yang membungkuk hormat dan segera keluar.

__ADS_1


Mobil itu bergegas pergi meninggalkannya, tidak ada kecurigaan apa pun, Erdu hanya berharap dengan bantuan itu, senior Setsu bisa mengatasi masalah yang sedang dia hadapi.


__ADS_2