DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
kucing ?


__ADS_3

Guru Nadia ingat tentang perkataan Kepala sekolah Gustav di siang itu .....


Ketika Nadia baru saja masuk ke ruang guru setelah selesai mengajar, cukup jarang bagi kepala sekolah Gustav meminta untuk berbicara empat mata kecuali hal-hal penting.


Terlebih dia merasa tidak ada masalah yang terjadi di dalam sekolah, hanya satu untuk Nadia pikiran yaitu tentang anak muridnya di kelas reguler kategori D, dimana dia adalah wali kelas bagi mereka.


Rasa bingung menyelimuti pikiran Nadia, memang benar kelas reguler kategori D terpandang buruk, semrawut dan pemalas, akan tetapi dia tidak mendengar kabar yang meliputi pelanggaran peraturan sekolah.


"Apa ada masalah tuan Gustav ?." Bertanya Nadia.


"Tidak, ini bukan sesuatu yang menjadi masalah, hanya aku ingin berbicara mengenai seorang murid pindahan." Balas Gustav tanpa turun dari kursi dan melayang mendekati Nadia.


"Oh, aku sudah mendengar beberapa kejadian tentang murid melakukan uji tes dengan Silka, apa yang tuan Gustav maksud adalah dia."


"Ya itu benar, namanya adalah Askar, secara khusus aku menempatkannya sebagai kelas Reguler D."


"Aku tidak keberatan, tapi kenapa tuan ?, Aku sempat mendengar jika Askar mampu memojokkan Silka di dalam ujian, seharusnya dia menempati kelas Elite." Tentu Nadia bingung atas keputusan Gustav.


"Ada alasan khusus kenapa aku tidak menempatkan dia di kelas Elite." Rumit wajah Gustav yang sulit untuk menjelaskan perihal tujuan Askar.


Nadia membayangkan sesuatu...."Apa dia murid bermasalah."


Lemas wajah Gustav ragu-ragu..."Tidak juga, hanya.... Maaf, sebenarnya iya, dia memang membuat beberapa masalah untukku, tapi itu bukan hal penting, karena Askar sendiri yang meminta untuk di tempat di kelas reguler."


Nadia merasa aneh, ini pertama kali dia mendengar ada orang murid yang menolak posisi sebagai murid kelas Elite, terlebih lagi, kepala sekolah menerima permintaan darinya. Itu membuat Nadia berpikir bahwa latar belakang Askar tidaklah sederhana, sehingga kepala sekolah Gustav tidak bisa menolaknya.


Gustav memberi Nadia selembar kertas yang berisi informasi tetang pendataan hasil uji murid baru bernama Askar. Tentang jumlah kapasitas energi, penilaian Fisik, jenis elemen, dan tipe kekuatan.


Tidak ada yang aneh untuk diperhatikan oleh Nadia, semua terlihat normal, meskipun ketika dia membandingkan soal cerita pertarungan melawan Silka, data dalam kertas itu tidak sesuai untuk memojokkan seorang top rangking sekolah.


"Nona Nadia, bukan aku berniat mengatur anda dalam memberi arahan kepada para murid dibawah pengawasan anda, hanya saja, bocah Askar ini spesial, jadi jangan terlalu keras kepadanya." Berkata Gustav dengan serius.

__ADS_1


Tapi ekspresi Nadia berganti tegas dan menjawab...."Aku tidak bisa membeda-bedakan dia dengan murid lain, jika Askar ini melakukan kesalahan, maka itu tetap menjadi hal yang salah."


"Tidak bukan seperti itu, jika memang salah, berikan dia hukuman, bahkan kalau bisa buat Askar sampai pingsan." Terlihat ada alasan pribadi dari jawaban Gustav.


"Lantas apa yang membuat dia spesial." Nadia semakin bingung.


Rumit wajah Gustav ....."Aku tidak bisa menceritakan tentang Askar, tapi aku minta agar murid lain tidak membuat masalah apa lagi jika sampai Askar ini tersinggung, itu akan menjadi hal yang gawat."


"Baiklah, aku akan mengawasinya dengan ketat tuan Gustav."


Nadia tidak berpikir tentang hal lain yang mungkin menjadi alasan kenapa Gustav begitu perhatian. Hanya saja terlihat dari cara kepala sekolah menjelaskan tentangnya, bahwa kehadiran Askar adalah hal penting.


*******


Tepat ketika Nadia menanyakan perihal ilmu astral supranatural kepada murid-muridnya, tangan Askar terangkat, dimana itu menunjukan bahwa dia mampu mengendalikan makhluk astral.


"Apa kau tidak salah Askar." Bertanya Nadia dengan bingung.


"Salah dari mana ibu, anda bertanya siapa yang sudah mampu melakukan kontrak dengan makhluk astral, aku mengangkat tangan karena aku sudah melakukannya." Sederhana Askar menjawab pertanyaan Nadia.


Dimana dalam data itu tertulis bahwa Askar bukanlah pengguna makhluk astral kontrak, melainkan Elemenstator jenis peningkatan kekuatan fisik.


"Baiklah jika memang benar kau bisa melakukan pemanggilan makhluk astral, aku ingin melihatnya." Jelas Nadia penasaran.


"Tentu saja."


Askar tidak perlu basa-basi atau berkomat-kamit untuk melafalkan mantra pemanggilan, hanya dengan satu tepukan tangan, tepat di atas meja terbentuk lingkaran prasasti bertulis kata-kata dalam bahasa sansekerta.


Nadia memang terkejut karena Askar tidak menggunakan alat Astralistator, atau mengucapkan mantra terlebih dahulu, tapi yang jelas sangat aneh adalah jumlah lingkaran itu sendiri.


Kualitas makhluk astral yang telah mereka kontrak dapat di lihat dari jumlah lingkarannya. Milik Nadia ada tiga lingkaran, itu sudah menunjukan bahwa Ignis Papilio adalah tingkat menengah.

__ADS_1


Sedangkan lingkaran empat adalah makhluk astral tingkat tinggi, tapi Askar mampu membentuk lima lingkaran, tentu ini tidak pernah dilihat Nadia selama hidupnya. Kini dia benar-benar tahu kenapa tuan Gustav memberi hak spesial.


Gugup untuk mengetahui seperti apa makhluk yang dipanggil oleh Askar, terbayang dalam pikiran Nadia sosok bertubuh tinggi besar dengan enam lengan dan kepala tiga, atau pun burung besar bersayap api.


Ketika sosok itu muncul, wajah Nadia bingung, karena apa yang dia lihat jelas berbeda dari bayangannya. Dimana seekor kucing belang-belang oren putih dengan mahkota emas di atas kepala, tampak lelap tertidur diatas lingkaran prasasti.


Bahkan murid-murid lain yang ikut melihat, terkejut... karena nyatanya rasa penasaran mereka terbuang sia-sia untuk sosok makhluk biasa saja dan tidak mengagumkan sama sekali.


"Kenapa seekor kucing ?." Itu yang di tanyakan oleh Nadia.


Lebar senyum Asksr sebelum menjawab ..."Dia adalah Omen piger feles qui vult ad coitum feminas, makhluk astral tingkat surgawi."


Setelah Askar memperkenalkan makhluk astral yang menjadi roh kontrak miliknya, semua orang tertawa, mereka terbahak-bahak karena banyak alasan dianggap bodoh.


"Tingkat surgawi katanya, apa kau sedang mengigau Askar, tidak ada tingkat surgawi, hanya rendah sampai tinggi."


"Jika memang kau tidak tahu, kembali ke SMP saja sana, biar kau lebih banyak belajar."


"Dan juga lihat, makhluk astral ini lebih seperti binatang peliharaan dari pada untuk bertarung."


Askar tidak menggubris komentar orang lain, dia masih tersenyum lebar dengan seekor kucing yang dia perkenalan penuh kebanggaan.


Tapi tidak lama, kucing astral itu terbangun, dia meregangkan tubuh setelah terusik ketenangan dalam tidurnya, mulai mengusap-usap wajah dan jilatan lidah merapikan bulu.


Nadia mendekat karena penasaran, dilihat secara langsung hingga Omen menatap penuh perhatian.


"Siapa kau nona manis." Ucap kucing itu tiba-tiba, sontak Nadia jatuh karena mendengar suara yang keluar dari seekor kucing.


"Dia berbicara...." Nadia bingung. Karena dia tahu, hanya makhluk astral tingkat tinggi saja yang mampu memiliki kecerdasan spiritual dan berkomunikasi tanpa harus merasuki tubuh manusia.


Omen melompat turun dari atas meja, berjalan mendekati Nadia dan berkata...."Nona manis kau tidak perlu takut, aku yang tampan ini tidak menggigit."

__ADS_1


"Omen duduk, jangan melakukan melakukan hal yang tidak perlu dan jaga ucapan mu dia adalah guruku." Perintah Askar.


"Baik tuanku." dan kucing itu menuruti perkataan Askar dengan patuh.


__ADS_2