DIMENSION GUARD

DIMENSION GUARD
terkejut


__ADS_3

Malam telah datang, beberapa kelompok dari peserta Event Festival Pesta Nusantara lebih memilih untuk menghentikan pertarungan dan mencari tempat beristirahat. Tapi ada pula yang menggunakan kesempatan di kegelapan malam sebagai rencana menyerang saat kelompok lain terlelap.


Tidak ada aturan yang menjelaskan tentang batas waktu dalam bertarung, selama dua puluh empat jam, siapa pun bisa menggunakan rencana-rencana licik seperti mencuri, atau melakukan jebakan di malam hari.


Askar dan Sea, hanya mereka berdua yang tersisa dari kelompok lima sekolah Elementor tiga, tapi itu bukan tanpa alasan, secara sengaja, Sea membiarkan Endru dan Rudy tersingkir karena sikap mereka berdua membuatnya muak.


Dan sekarang, Askar dan Sea membuat perapian di antara celah batu besar sebagai tempat beristirahat, setelah cukup banyak bertarung di hari ini, membuat Sea kehabisan energi tenaga dalam.


"Sea bagaimana kondisi lukamu." Bertanya Askar yang berjalan mendekat dan duduk di samping Sea.


"Hanya beberapa luka gores dan lebam, aku masih baik-baik saja, tapi jika ada yang menyerang kita di saat sekarang, aku tidak yakin untuk melawan."


"Jangan terlalu di pikiran, biar aku menjaga mu selagi beristirahat."


Askar menarik tangan Sea, dan melihat semua luka yang membekas biru karena melawan kelompok sekolah lain sebelumnya.


Memang Askar mampu mengalahkan empat orang sekaligus, tapi jika harus bersamaan dengan melindungi Sea, Askar terbilang cukup kesulitan. Dimana kekuatannya harus dibatasi agar tidak menjadi masalah.


Mengusap pergelangan tangan Sea, Askar mulai mengalirkan energi tenaga dalam untuk mengobati aliran darah yang terhambat, begitu juga mengisi ulang energi Sea dengan miliknya.


"Apa aku hanya menjadi penghambat mu saja Askar." Ucap sea menunjukkan wajah bersalah.


"Bicara apa kau, Sea ?, Kau bertarung dengan sangat baik, jadi tidak mungkin aku mengatakan kau hanya menjadi penghambat saja." Tapi dengan santai Askar menjawab.


"Tapi, kau harusnya bisa bertarung dengan mudah, jika tidak melindungi ku dari serangan lawan."


"Apa kau sedang sakit ?." Balik Askar bertanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu."


"Ya.... Tidak biasanya kau menyalahkan dirimu sendiri, aku lebih suka jika kau bersikap sombong dan menjadi sosok yang keras kepala." Jawab Askar dengan perasaan aneh.


Setelah sekian lama Askar mengenal Sea, jelas Askar tidak nyaman jika dia berubah, sikap sombong bukan hal buruk ketika ditempatkan dalam posisi yang tepat.


Menjadi sombong agar tidak diremehkan oleh orang lain, dan menjadi keras kepala agar tidak mudah menyerah untuk terus berjuang. Kedua sikap Sea itu adalah turunan dari sang ibu, dan membuat Sea dikenal sebagai pribadi yang kuat.


Askar menyelesaikan pengobatan untuk Sea, semua menjadi lebih baik, dan luka-luka kecil, lebam lenyap tanpa bekas. Kemampuan Askar adalah hal yang paling sulit untuk dijelaskan, dimana dia mampu menggunakan kekuatan tenaga dalam menjadi hal apa pun.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu Askar, apa kau terluka." Sea pun menunjukkan perhatian.


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Biar aku melihatnya."


"Untuk apa ?, Aku tidak terluka."


"Sudah diam, biar aku memastikannya sendiri." Tegas Sea yang tidak bisa Askar hentikan.


Askar menurut saja dengan Sea, dia membiarkan Sea mengecek di tangannya, memang tidak ada luka sedikitpun, kecuali beberapa bekas dari luka lama yang tidak bisa hilang.


"Bagaimana dengan tubuhmu." Tangan sea beranjak ke tempat lain.


"Bukankah tangan saja sudah cukup."


"Kau tidak akan tahu, jika mungkin ada luka cukup serius."


"Aku sendiri bahkan sudah lupa kapan terakhir terluka dalam pertarungan." Gumam Askar yang tidak tahu kenapa sea begitu khawatir.


"Luka ini...." Ada tatapan bersalah di wajah Sea.


Sea menyentuh bekas luka panjang yang membekas dari pundak hingga pinggang itu.


"Tidak perlu kau mengingatnya Sea." Jawab Askar karena tahu kejadian di masa lalu yang membuat Sea bersalah.


"Jika bukan karena aku, kau tidak akan mendapat rasa sakit di sini."


"Kau terlalu berlebihan, selama kau baik-baik saja, ini hanyalah harga yang murah."


"Lantas, kenapa kau berkorban untukku."


"Karena kau sangat penting bagiku, apa itu cukup menjadi alasan." Jawab Askar.


Semua yang terjadi di masa lalu, memang membuat Sea merasa bersalah, tapi dia tidak ingin mendengar ucapan Askar selanjutnya.


"Hanya menganggap ku seperti seorang saudara, aku tidak menyukai itu." Sea menjadi murung.

__ADS_1


Sea melepaskan sentuhan tangannya, dan membalikkan badan dengan wajah rumit untuk segala hal yang tidak ingin dia dengar dari jawaban Askar.


Begitu pula dengan Askar, dia mulai memahami sikap Sea, menginginkan sebuah hubungan yang lebih dari berpura-pura sebagai saudara, tapi Askar tidak yakin untuk mengambil keputusan itu.


Untuk Askar sendiri, hidupnya terlalu rumit, dia diliputi dengan segala hal yang berbeda sebagai manusia. Mengambil keputusan menjalani kehidupan normal, hanya sedikit keinginan dari orang lain.


Melihat kebelakang, Sea sudah merebahkan diri dengan mata terpejam, Askar tersenyum, dan menyentuh rambut Sea yang jatuh ke tanah untuk dia benahi.


"Aku sendiri tidak yakin, apa hidup menjadi orang normal adalah hal yang pantas untuk aku dapatkan." Ucap Askar dengan sentuhan lembut di pipi Sea.


Tapi di sisi lain, sebenarnya Sea tidaklah tidur, dia masih merasakan kasarnya tangan Askar yang menyentuh lembut secara perlahan.


'Selama ini, apa kau hanya menahan diri untuk sebuah hubungan... Lantas kenapa terasa begitu berat.' pikir Sea.


Dan cepat Sea menangkap tangan Askar sebelum lepas dari pipi, menahan untuk tidak pergi dan menarik Askar semakin dekat. Tanpa bisa Askar hindari, wajah saling menatap dan lembut kecupan melekat di bibir Askar tanpa persiapan.


"Tidak perduli serumit apa kehidupan mu, aku tidak akan menyesal dan akan terus berada di sisimu Askar." Ucap Sea tiba-tiba.


Askar jelas terkejut...."Sea.... Kau."


"Sudahlah aku tidur, kita akan sibuk besok." Ucap Sea yang membenamkan diri dengan detak jantung kencang.


Tapi di saat Askar menjaga Sea, dia bisa merasakan kehadiran kasat mata yang datang diam-diam ke tempatnya. Ini adalah orang yang sama, Wei Cho.


"Apa kau tidak memiliki kegiatan lain, sampai harus datang ke tempat ini." Ucap Askar yang dia tunjukkan kepada seseorang di balik bayangan batu.


Dan Wei Cho pun keluar dari tempat persembunyian, seakan memiliki dendam karena kejadian siang tadi, dia secara langsung mendatangi Askar.


"Bukan sebuah kebetulan, kau menang mampu merasakan kehadiran ku." Berkata Wei Cho.


"Meski pun kau melenyapkan aura dari kekuatan energi mu, tapi kau adalah manusia memiliki emosi yang bisa aku rasakan." Jawab Askar dengan senyum penuh makna.


Mengeluarkan senjatanya, Wei Cho langsung saja menyerang ke tempat Askar, tapi itu bukanlah masalah, dimana untuk kedua kalinya, Askar melepaskan kekuatan gelombang energi kejut yang melempar tubuh Wei Cho terbang jauh.


Tapi bukan dia yang sebenarnya ingin bertarung, karena ada orang lain muncul setelah Wei Cho terlempar.


"Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Wei Cho, kau mungkin satu-satunya murid yang dikatakan cukup kuat untuk bersaing denganku." Ucapnya penuh makna.

__ADS_1


__ADS_2