Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 10


__ADS_3

Semuanya sudah siap. Seminggu sudah Moana memikirkan apa yang akan dia lakukan. Tetap menerima Yansen dan menikah dengannya atau memilih menanggung beban itu sendiri. Hanya saja, Moana tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya.


Dengan takut dia mengatakan semuanya. Sarah pun ikut menjelaskan pada mereka. Dan sekarang, tibalah saatnya Moana dan Yansen menikah.


Hanya pernikahan sederhana, tak terlalu besar atau pun megah. Yansen meminta pada Rada,untuk tidak memberitahu oranglain kalau dirinya akan menikah. Cukup hanya keluarga dekat saja yang mereka undang.


"Kenapa harus seperti ini? Yansen itu putra pertama mu, menikah hanya di KUA dan sekarang hanya makan-makan sederhana seperti ini." Rodisa mencibir. Dia adik perempuan Gutomo, selalu tak menyukai Rada.


Baginya Rada itu hanyalah sekedar orang asing yang menumpang hidup pada Gutomo. Terlebih lagi, pernikahan Gutomo dan Rada persis sama seperti apa Yansen saat ini.


Rada hanya diam, tak ingin berdebat ataupun membuat masalah di pernikahan putranya. Dia hanya tersenyum kecil lalu beranjak mendekati Gutomo.


"adikmu...siapa yang mengundang?" Tanyanya. Karena setahunya Jane hanya mengabari orangtua Gutomo, kakak dan bibi nya saja.


Gutomo meletakkan ponselnya.


"kenapa? dia adikku jangan berkomentar apapun terhadapnya."


Mendengar itu Rada itu bungkam. Gutomo memang menyayangi adiknya, pasti dirinyalah yang telah memberitahu perawan tua itu.


Rodisa sudah 35 tahun, masih sendiri karena pemilih. Tak ingin menikah dengan pria yang hanya memiliki gaji 3 juta atau 5 juta. Dia menginginkan pria seperti kakaknya.


"Moana, kamu lapar?" Rada memilih untuk menghampiri Moana.


Gadis yang sudah sah menjadi menantunya itu tengah duduk seorang diri. Dia hanya diam di sudut, tak ada satupun keluarga Yansen yang menyapanya. Begitu pula dengan Yansen, pria itu hanya diam di kamarnya. Entah apa yang dia lakukan.


"Tidak, ibu...apa aku boleh masuk kekamar?" Tanyanya sopan.


Rada tersenyum. Tentu saja dia tak akan menahan Moana untuk tetap berada di ruangan yang pengap ini. Dirinya saja tak betah, hanya ada orang-orang munafik di sini.


"masuk saja."

__ADS_1


"iya. Terimakasih ibu."


Pesta pernikahan Yansen dan Moana lebih terlihat seperti acara berkumpul keluarga saja. Tak ada musik ataupun tamu undangan yang lain.


Moana membuka pintu perlahan, dengan ragu ia melangkah masuk. Jantungnya berdebar hebat melihat Yansen yang duduk di tepi ranjang. Pria itu menatapnya begitu tajam.


"Kamu kemarilah." Panggilnya. Yansen sama sekali tak bisa bersikap lembut terhadapnya, dengan kasar pria itu melemparkan selembar kertas ke arah Moana.


"apa ini?" Tanya Moana sambil melihatnya.


"baca dan tanda tangani saja." Dengan angkuh Yansen memberikan bolpoin kepadanya.


Moana mengambilnya dengan ragu. Dia kemudian membaca tulisan yang ada di kertas itu. Tubuhnya terasa lemas, airmatanya tiba-tiba keluar begitu saja. Ia tak mengira jika Yansen akan begitu tega terhadapnya.


"sudah cukup jelas bukan? tanda tangan dan semua akan berjalan dengan lancar. Kamu tidak perlu takut soal orangtuamu, aku tak akan memberitahu mereka kalau putrinya akan menjadi istri kontrak saja." Jelas Yansen.


Tangan Moana bergetar. Di kertas itu tertulis, bahwa Yansen hanya akan menjadi suaminya selama setahun saja, jika Moana benar-benar hamil dan melahirkan maka bayi yang akan di lahirkannya akan sepenuhnya menjadi hak asuh Yansen. Jika Moana tak hamil, maka dalam delapan bulan kedepan pernikahan ini akan berakhir.


Setega itu Yansen. Tak peduli dengan Moana. Sementara bagi seorang wanita, di ceraikan atau di tinggalkan pasangannya adalah mimpi buruk.


Anggukan kepala Moana membuat Yansen tersenyum puas. Rencananya berjalan dengan begitu mudah, untung saja Moana adalah gadis lugu yang bisa di tindas olehnya.


...****************...


Sarah mengantarkan kedua orangtua Moana kembali ke kampung. Merda menangis sepanjang jalan, antara sedih dan bahagia. Moana putrinya satu-satunya dan sekarang sudah menikah.


"Ibu, Moana akan baik-baik saja. doakan saja Moana." Ucap Sarah.


"iya, selama ini Moana selalu berkata tak akan menikah jika usianya belum 23 tapi sekarang..." Merda terisak. "gadis itu baru saja 19 tahun, kenapa harus mengalami hal seperti itu."


Awalnya dia marah dan hampir saja melaporkan Yansen ketika mendengar cerita dari Sarah. Moana telah di perk*sa dan sekarang akan menikah dengan pelakunya. Tentu saja Merda tak rela akan itu. Ibu mana yang akan tega melihat anaknya menderita.

__ADS_1


Tapi, setelah Sarah meyakinkannya dan Moana berkata dia akan baik-baik saja, Merda pun setuju. Begitu pula dengan Handi. Pria itu terlalu tua untuk meluapkan emosinya, dia hanya bisa diam dan berdoa akan nasib putrinya.


Seandainya mereka tahu apa yang telah terjadi pada Moana, sudah di pastikan Sarah akan menghabisi Yansen. Tak akan memandangnya lagi sebagai putra dari sahabatnya. Baginya Moana seperti anaknya sendiri, tak akan dia biarkan siapapun menyakitinya.


"Ibu Sarah, terimakasih banyak atas bantuan." Merda dan Handi keluar dari mobil, mereka telah sampai di rumah.


"iya, saya permisi untuk pulang."


"tak mau mampir sebentar?"


"tidak usah. ini sudah sore, takut kemalaman di jalan."


Sarah pun pamit dan segera pulang. Dengan cepat dia menyalakan mesin mobilnya, mengendarai dengan kecepatan tinggi. Sarah merasa harus kembali kerumah Rada, ia harus pastikan jika Moana baik-baik saja di sana. Dengan begitu hatinya akan tenang.


...***************...


Gutomo terus saja memperhatikan Rada, bagaimana istri nya di perlakukan tak baik oleh orangtuanya juga Rodisa. Rada terus di minta melakukan ini dan itu.


Dan tak mengeluh sedikit pun ia melakukannya. Ada rasa tak tega tapi tak ada yang bisa di lakukan oleh nya. Baginya orangtua dan adiknya jauh lebih berharga di banding Rada.


"Ayah, kenapa diam saja. aku kesal, nenek dan kakek selalu memerintah ibu jika kemari dan bibi Rodisa pun sama. ayah tak bantu ibu? kasihan ibu." Jane menatapnya marah.


Gadis itu berdecih saat tak ada tanggapan apapun dari Gutomo.


"Aku benci ayah." Ujarnya dengan kesal lalu segera mengejar Rada yang kini memasuki dapur.


Gutomo menghela nafas berat. Jane bukanlah putri satu-satunya, ada Alea di luar sana. Tanpa Rada dan keluarganya ketahui selama ini Gutomo telah menutupi semuanya.


Dia menghancurkan hidup seorang gadis 28 tahun yang lalu. Membunuhnya lalu membuang bayinya ke tempat sampah, meski begitu dia masih memantau perkembangan sang bayi hingga sekarang.


Dan yang lebih parah, bayi itu tumbuh menjadi seorang gadis penghibur karena didikan orang yang telah menemukannya. Semakin parah lagi, putri yang telah di buangnya sekarang justru menjalin kasih dengan Yansen.

__ADS_1


Dia tahu, jika Yansen masih berhubungan dengannya meskipun telah menikah. Dengan keras dia berpikir, bagaimana cara menyingkirkan Alea tanpa harus terbongkar rahasianya.


...***************...


__ADS_2