Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 17


__ADS_3

Yansen menatap curiga pria di hadapannya. Tangannya dengan cepat merebut ponsel Alea yang di pegang oleh pria itu. Tatapan matanya yang tajam juga dalam itu membuat pria tersebut hanya bisa menghela nafas berat.


"Aku di sini korban, dia hampir menabrakku tapi dia sendiri yang tak sadarkan diri. jangan berprasangka buruk dulu. di lihat dari cara mu memandangku, kamu seperti menuduhku saja." Ujarnya panjang.


Yansen tak menanggapi, ia langsung masuk keruangan di mana Alea berada.


"Ck...apa sulitnya mengucapkan terimakasih. pria dan gadis itu sepertinya pasangan yang cocok." Cetusnya lalu pergi.


Dia bisa bebas sekarang, pulang dan merebahkan tubuhnya. Sungguh sial sekali hari ini, pikirnya. Sudah hampir mati tertabrak, harus menunggu orang asing juga di rumah sakit belum lagi mendapatkan tatapan tak enak dari orang tak di kenal.


"Semoga tak bertemu lagi dengan dua orang menyebalkan itu." Doanya ketika kakinya sudah berhasil melangkah keluar dari dalam gedung rumah sakit.


Yansen mengusap lembut pipi Alea. Seharusnya tadi ia tak abaikan panggilan Alea, mungkin gadis itu tengah butuh pertolongan. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kasar. Yansen sedikit merasa menyesal.


"Mmm..." Alea membuka matanya, kepala sedikit berdenyut.


"Alea, kamu sudah sadar? apa yang terjadi?"


"Yansen..." Alea langsung menghamburkan peluknya kepada pria itu. "aku takut, Yansen." Isaknya.


"takut? apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Yansen khawatir.


"Tadi ada seorang pria mengikuti ku." Alea pun menceritakan semuanya sampai akhirnya dia hampir menabrak seseorang.


Yansen mengepalkan tangannya. Ia yakin pasti pelakunya masih orang yang sama. Dia tak bisa diam saja sekarang, harus bertanya langsung padanya. Apa alasannya mencoba melenyapkan Alea. Jika karena hubungan mereka rasanya tak mungkin, karena bagaimanapun juga dia bukan pria yang bisa melakukan apapun tanpa alasan yang jelas.


"jangan khawatir, ada aku." Yansen menangkup wajah Alea. "mulai hari ini kamu tak boleh keluar sendirian. Aku akan meminta anak buah ku untuk menjagamu."


Alea mengangguk pelan. Dia sungguh bingung, kenapa ada orang yang mencoba berbuat jahat terhadapnya. Padahal selama ini dirinya tak pernah memiliki musuh.


"Yansen, ayahku...apa pria tidak suruhan ayahku?" Alea curiga terhadap ayah angkatnya, karena sudah lama sekali dia tak melihat pria itu.


Bahkan Alea tak menuruti perintahnya, mungkin saja pria itu marah sehingga ingin mencelakainya.


Yansen mengusap lembut rambut Alea.


"Ayahmu bukanlah orang yang bisa membuat seseorang." Ucapan Yansen menyadarkan Alea bahwa ayahnya tak sekaya itu.


Sindiran halus Yansen membuat Alea diam. Jika bukan ayahnya, lalu siapa. Apa istri-istri dari pria yang telah ia layani dulu. Setidaknya dulu dia pernah bermain serong dengan beberapa pengusaha di belakang Yansen, ada kemungkinan jika salah satu istri dari pria hidung belang itu yang mencoba untuk membuatnya terluka.


"jangan di pikirkan. aku akan mencari tahu dalangnya."

__ADS_1


Alea langsung menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa membiarkan Yansen mencari tahu siapa pelakunya, bagaimana jika nanti aib nya terbongkar. Selama ini Yansen hanya tahu jika dirinya adalah gadis baik yang terjebak di gelapnya dunia. Yansen tak tahu, jika dirinya telah melayani para pria di atas ranjang demi menafkahi hidupnya, sebelum bertemu dengan Yansen.


"Kamu tenang saja. malam ini aku akan menemani." Tutur Yansen lagi, pria itu mengecup kening Alea.


Rasa nyaman dan hangat yang selalu di berikan Yansen membuatnya tak ingin kehilangan pria tampan ini. Yansen terlalu baik, ia selalu menjaga juga menghormati dirinya. Tak pernah sedikitpun Yansen menyentuhnya lebih, hanya sebatas ciuman di kening saja yang selalu pria itu lakukan.


...**************...


Moana gusar, tak bisa tidur sama sekali. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat tengah malam. Matanya sungguh sulit di pejamkan.


"aku takut jika di sini benar-benar ada bayi."


Sungguh Moana belum siap akan kemungkinan yang terjadi. Gadis itu merasa takut dan cemas. Matanya bergulir, melihat kasur Yansen yang kosong.


Entah kenapa rasanya Moana ingin sekali berbaring di sana. Hanya membayangkan betapa nyamannya bisa tidur di kasur empuk dengan selimut yang tebal membuat matanya jadi mengantuk.


Perlahan dia bangkit, mungkin tak ada salahnya mencoba berbaring untuk kali ini saja. Lagipula sepertinya Yansen tak akan pulang malam ini.


Moana memejamkan matanya saat punggungnya bersentuhan dengan kasur. Sungguh nyaman dan membuatnya tak ingin beranjak.


"aaahh...enak sekali." Lirihnya.


Moana tak memikirkan kapan Yansen akan pulang, saat ini ia hanya ingin tidur dengan nyenyak.


Paginya...


Moana menguap panjang. Tubuhnya terasa sangat segar juga tak pegal. Biasanya setiap bangun, leher dan punggung akan terasa sakit karena sofa itu terlalu keras.


"Pantas saja, Pria tua itu selalu tertidur dengan pulas. kasur ini sangat empuk dan nyaman." Keluhnya.


Ia segera merapikan lagi tempat tidur Yansen. Melihat jam yang ada di atas meja. Sudah jam 6, ia pun gegas keluar untuk menyiapkan sarapan.


"Moana, biar ibu saja. kamu duduklah." Rada yang juga keluar dari kamarnya langsung mencegah Moana untuk masuk kedalam dapur.


"Tapi Bu..."


"Biar ibu yang buat sarapan. kamu duduk saja, nanti siang kita kerumah sakit."


Gadis itu langsung diam. Rupanya Rada masih ingat soal semalam, wanita itu sepertinya sudah tak sabar ingin tahu apa Moana benar-benar hamil atau tidak.


"aku ikut kedapur saja. aku bantu mencuci sayur atau..."

__ADS_1


"jangan membantah Moana, Jika di perut mu benar ada bayi bagaimana? jangan sampai kelelahan." Rada tak ingin terjadi apapun terhadap Moana atau pun calon sang cucu.


Dirinya sudah sangat bahagia ketika Moana berkata seandai jika dia hamil bagaimana, tentu saja Rada tak akan menolak itu. Ia sangat bahagia dan berharap Moana mengandung cucunya.


Ketika Moana akan menyela lagi, Gutomo sudah mendahuluinya. Mertuanya itu memang jarang bicara dan tapi sebenarnya ia peduli terhadapnya.


"benar kata ibu mu. turuti saja."


Moana dan Rada sempat terkejut, karena Gutomo tiba-tiba saja bicara. Mereka pikir hanya berdua saja. Pria itu tak terlihat keluar ataupun berjalan mendekat.


"Buatkan roti bakar saja." Titah Gutomo kepada Rada. Bukan karena tak ingin memakan masakan Rada, Gutomo hanya tak ingin Rada lelah menyiapkan semuanya.


Rada mengangguk, kecewa dengan permintaan Gutomo. Padahal pagi ini dia ingin membuat sarapan spesial untuk semuanya.


Rupanya, kesalahpahaman antara Rada dan Gutomo memang tak akan pernah berakhir. Meski sudah berumur tapi keduanya tak bisa menunjukkan ekspresi cinta masing-masing.


"Moana, kamu bangunkan saja Yansen." Perintah Rada, yang tak tahu jika Yansen saat ini tidak ada di rumah.


"pak Yansen tak ada. tadi malam dia pergi." Jawab Moana jujur.


Trak...


Gutomo langsung menyimpan gelasnya begitu mendengar jawaban Moana. Pria itu segera keluar dari dapur.


"Ada apa dengan ayah?" Tanya Moana bingung, melihat ekspresi wajah Gutomo yang tiba-tiba berubah dingin.


Rada hanya tersenyum. Ia melihat gelas milik suaminya, sepertinya air itu belum sempat dia minum. Lagi, Rada berpikir jika Gutomo marah karena Yansen tak ada di rumah. Pria itu akan langsung mencari keberadaannya dan memukulnya hingga Yansen mengalami luka di tubuhnya.


Dari kecil Yansen selalu di perlakukan seperti itu. Itulah kenapa, Yansen tak akan pernah dekat dengan ayah nya sendiri. Hingga sekarang pun mereka tak pernah terlihat akur.


"Ibu, rotinya." Pekik Moana kaget saat Rada hendak mengoleskan saus ke atas rotinya.


"aah...ibu melamun." Rada tersenyum.


Moana sungguh merasa ada yang tak beres. Semenjak dia tinggal di rumah ini, tak ada kehangatan sedikit pun. Yansen yang sering keluar tanpa sebab dan tak akan pulang semalaman, lalu Jane yang juga sering menghabiskan waktunya di luar.


Di tambah lagi, Rada dan Gutomo. Pasangan suami istri ini terlihat tak harmonis sama sekali. Belum pernah dia lihat, Rada dan Gutomo bercengkrama dengan hangat. Gutomo hanya akan diam di ruangan baca setelah pulang dari kantornya, keluar hanya untuk makan saja.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga ini." Batin Moana.


...*************...

__ADS_1


__ADS_2