
Moana mematung di tempatnya begitu melihat keadaan Yansen. Pria itu tergeletak tak berdaya di atas ranjang pesakitan. Luka tusuk di bagian perutnya untuk tak terlalu dalam sehingga tak melukai organ dalam. Hanya mendapatkan beberapa jahitan saja akibatnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa bisa terluka seperti ini?" Tanya Rada pada Karan dan Johan.
Karan menjelaskan segalanya pada mereka. Gutomo dan Rada pun langsung melirik Alea yang kini berdiri di belakang Karan. Gadis itu menunduk dalam-dalam, takut menghadapi kedua orangtua Yansen. Apalagi saat ini ia lah penyebabnya.
"Dasar gadis tak berhati. berani-beraninya kamu masih mendekati putraku." Geram Rada, tangannya hampir saja menjambak rambut Alea yang tergerai sebahu itu.
"cukup, tenangkan dirimu. ini rumah sakit." Gutomo langsung menahan Rada, menyeret istrinya itu masuk kedalam ruangan Yansen.
Tak lepas dari matanya yang menyorot tajam ke arah Alea, Gutomo bergumam pelan kepada Karan juga Johan.
"usir gadis itu."
Dengan cepat Karan pun mengajak Alea untuk kembali pulang. Keadaan akan semakin buruk jika ia tak langsung membawa Alea, apalagi di sini ada istri Yansen sekarang.
Moana yang sedari tadi menatap Yansen dari jendela pun langsung berbalik untuk melihat Alea. Menarik nafas lalu menghembuskan pelan, tadi tak memperhatikan dengan jelas siapa saja yang ada di sini. Rupanya ada gadis yang pernah dia lihat sebelumnya.
"tunggu..." Panggilnya cepat.
Karan dan Alea menghentikan langkahnya. Moana berjalan mendekat.
"Kamu... Alea?" Tanya Moana memastikan, apa benar gadis ini yang selalu di gumamkan Yansen di setiap tidurnya.
Alea hanya diam, menelisik penampilan Moana. Ada rasa tak suka di sana, mengingat jika posisinya sebagai kekasih gelap Yansen tak lebih berarti dari posisi Moana sekarang. Rasa kesalnya menjalar begitu saja hingga tatapan matanya menyiratkan ketidaksukaan yang begitu jelas.
"Nona Moana, sebaik anda kedalam bersama nyonya dan tuan Gutomo." Ujar Karan.
Moana tersenyum kecil kearahnya lalu menggeleng cepat. Ia ingin sekali berbicara dengan Alea, hanya ingin tahu apa hubungannya dengan Yansen.
"Maafkan aku, Pak. boleh aku bicara dengannya?"
Karan jadi canggung sendiri di panggil seperti itu. Johan yang dari tadi diam langsung mendekat, menepuk bahu Karan pelan.
"hei, jangan biarkan mereka berdua saja. kita tetap harus bersama mereka." Bisiknya.
Karan mengerti. Untuk mengantisipasi agar tak ada kejadian buruk maka dengan terpaksa ia pun menuruti permintaan Moana, tapi dengan syarat mereka berdua ikut bersama.
__ADS_1
"Baiklah, aku ingin bicara saja. lagipula bapak berdua ini anak buah Pak Yansen." Tutur Moana.
Lagi-lagi mendengar sebutan yang di berikan Moana membuat Karan jadi canggung, baru kali ini dia panggil begitu sopan oleh seorang atasan. Alea saja yang hanya menyandang kekasih Yansen selalu memanggilnya dengan sebutan nama, tak sesopan Moana sekarang.
Alea menyilangkan tangannya dengan angkuh. Matanya menatap remeh Moana. Baginya Moana tak ada apa-apanya di banding dirinya.
"mau bicara apa?" Tanyanya ketus.
"aku hanya ingin bertanya, apa hubunganmu dengan suamiku?"
Alea berdecih mendengar kata suamiku. Gadis itu sungguh ingin sekali mendorong tubuh kecil Moana saat ini, rasanya muak begitu ingat jika saat ini di dalam rahimnya ada anak Yansen.
"Aku kekasihnya. Kami berhubungan jauh sebelum kamu ada. kenapa? cemburu? mau melarang ku untuk menemui Yansen?" Tantang Alea.
Karan dan Johan sampai ikut kesal karenanya. Tingkah Alea sungguh tak sopan juga terlihat sangat arogan.
Tapi dengan tenang Moana menanggapinya. Lagipula, ia sadar posisinya saat ini seperti apa. Yansen amat mencintai gadis di hadapannya ini, jika saja tak ada kejadian pahit malam itu pasti saat ini yang akan jadi istri Yansen adalah Alea, bukan dirinya.
Moana tak tahu seperti apa kisah cinta keduanya. Rada maupun Jane pun tak pernah menyinggung sekalipun tentang kekasih Yansen ini.
Gutomo berdiri di belakang Rada, pria itu menarik nafas dalam-dalam. Kenapa harus kembali gagal dan sekarang justru putranya sendiri yang terluka. Dengan kesal Gutomo pun mengirimkan pesan pada seseorang, tapi sayang orang yang coba dia hubungi sama sekali tak aktif.
"Kenapa dia bisa kembali gagal." Desisnya.
Rada melirik Gutomo sekilas lalu kembali memperhatikan wajah Yansen.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa harus mengorbankan dirimu demi gadis itu?" Lirih Rada tak mengerti. Kenapa Yansen begitu mencintai Alea, padahal dalam diri Alea tak ada yang bisa di katakan baik menurutnya.
Gadis itu terlalu buruk untuk di jadikan pasangan Yansen. Gutomo yang mendengar perkataan Rada hanya bisa diam, bagaimana jika Rada tahu kalau Alea adalah putrinya dari wanita lain. Saat ini hanya satu yang bisa Gutomo lakukan, dia bergegas keluar untuk menemui Alea.
"Aku dan Yansen sangat peduli satu sama lain. kami saling mencintai." Alea mendorong bahu Moana dengan telunjuknya.
Moana hanya bisa diam saja. Ia tahu selama ini Yansen sering sekali mengigau dalam tidurnya, menyebut Alea dan bahkan ketika bersamanya saja nama gadis inilah yang dia ingat.
Karan dan Johan hendak mendekat tapi Moana mengisyaratkan keduanya untuk tetap diam. Ia tak mau pembicaraan antara dirinya dan Alea terganggu. Ingin lebih jelas dan tahu seperti apa hubungan Yansen dengan gadis ini. Jika saling mencintai kenapa harus ada kejadian buruk malam itu, Yansen mabuk dan melakukan pel*cehan terhadapnya.
"Aku baru melihatmu, selama ini kamu kemana?" Tanya Moana.
__ADS_1
Alea mendengus, melipat tangannya di dada. Sungguh tak bisa bersikap ramah sekali. Gadis ini menunjukkan warna aslinya di hadapan Moana. Karena menurutnya untuk apa berpura-pura baik jika hatinya tak suka.
"Untuk apa kamu tahu, yang jelas di sini kamu adalah perebut kekasihku. tapi, meski begitu di hati Yansen hanya ada aku." Jelas Alea.
Gutomo dapat mendengar dengan jelas. Pria itu langsung meminta Karan dan Johan untuk pergi, sementara dirinya langsung mendekati Alea dan Moana.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Moana tetap menantuku. kamu tak ada apa-apanya. sekarang pergilah." Usir Gutomo tegas.
Moana dan Alea sama-sama terkejut karena kedatangan Gutomo yang tiba-tiba. Alea langsung terdiam, berhadapan dengan Gutomo selalu membuat nyalinya ciut. Pria ini terlihat menyeramkan baginya tapi meski begitu di dalam hati kecilnya selalu merasa jika Gutomo adalah seseorang yang pernah dia kenal dekat. Entah apa alasannya hati Alea selalu berdenyut jika berhadapan seperti ini.
"Moana, temui Yansen." Raut wajah Gutomo melembut ketika berbicara dengan Moana.
"iya, baik ayah."
Alea mengepalkan tangannya. Melihat betapa baiknya perlakuan itu, seharusnya dia yang menjadi menantu di keluarga ini bukan Moana.
"Sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah temui Yansen lagi atau sesuatu yang buruk akan terjadi padamu." Ancam Gutomo.
"Kenapa paman begitu membenciku? apa salahku? aku hanya mencintai Yansen. apa ada yang salah?" Alea memberanikan dirinya untuk bertanya.
Selama ini dia diam saja mendapatkan perlakuan buruk dari Gutomo ataupun Rada, tapi untuk kali ini saja biarkan dia melawan.
"karena kamu seorang l*nte. menjual tubuhmu kepada setiap pria kaya, kamu tak pantas untuk Yansen."
Gadis cantik itu langsung bungkam. Jadi Gutomo telah mengetahui pekerjaannya selama ini.
"aku melakukan semua itu sebelum bertemu dengan Yansen. sekarang..."
"dulu ataupun sekarang sama saja bagiku. jauhi Yansen jika ingin nyawanya mu selamat."
Mendapatkan ancaman seperti ini membuat Alea tak bisa berkutik. Cinta terhadap Yansen tak lebih berharga dari nyawanya. Bagaimana pun Alea tak ingin mendapatkan bahaya ataupun kehilangan nyawanya hanya karena mempertahankan cintanya. Dengan cepat gadis itu pun pergi.
"ikuti dan jangan biarkan dia selamat kali ini." Gutomo menelpon seseorang dan memintanya untuk mengikuti Alea.
Rencananya kali ini tak boleh gagal. Lalu Gutomo pun meminta seseorang untuk menghapus jejak tentang pria yang mencoba menyerang Alea dan telah melukai Yansen. Jangan sampai polisi tahu apalagi sampai Yansen tahu jika dirinya terlibat dalam hal ini.
...****************...
__ADS_1