
Moana sungguh merasa nyaman, lembut dan hangat ia rasakan secara bersamaan. Tubuhnya seperti di selimuti banyak bulu halus hingga membuatnya enggan membuka mata. Bahkan gadis itu tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada lengan Yansen , hal itu tentu saja membuat Yansen langsung membuka matanya.
Sedari malam posisi tidurnya tak berubah, Yansen tak bisa banyak bergerak karena Moana terus memeluk lengannya. Ingin sekali melepaskan pelukannya tapi hati kecilnya merasa senang, entah kenapa Yansen sama sekali tak keberatan dengan apa yang di lakukan Moana.
"Uumm... Daren, tunggu sebentar saja ya." Gumam Moana dalam tidurnya, entah mimpi apa gadis itu.
Senyumnya begitu lebar dan menyebut nama Daren dalam tidurnya. Hati Yansen langsung bergejolak. Pria itu dengan keras menarik lengannya karena marah.
"Bangun..." Bentaknya keras.
Moana mengerjapkan matanya, terkejut ketika merasakan tubuh kecilnya tergoncang.
"Apa sih, Pak?" Serunya sembari menatap penuh protes.
"Kamu..." Yansen menggantung kalimatnya, sadar untuk apa dia marah mendengar Moana menyebut pria lain dalam tidurnya. "tidak, geser sedikit." Serunya kemudian.
Mata bulat Moana berputar, lalu segera bergerak menjauh. Ia lihat jam yang menempel di dinding sebelah kanan, baru jam 3 pagi tapi Yansen sudah ribut saja. Sungguh membuatnya jadi kesal. Moana memunggunginya lalu kembali memejamkan mata.
"Ini masih pagi, Bapak ini benar-benar deh." Gerutunya kesal, padahal dia sedang bermimpi tadi.
Mimpi sedang bermain bersama Daren. Masa-masa di mana mereka tengah akrab dulu. Moana merindukan hari dimana Daren selalu memperhatikannya, hingga terbawa sampai mimpi.
Yansen masih dalam posisi duduk. Pria itu mengacak rambutnya, merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Kenapa harus kesal ketika Moana menyebut nama pria lain. Apa hubungannya dengan dirinya.
"Alea, apa mereka sudah menemukannya." Ketika akan merebahkan tubuhnya kembali ia teringat akan Alea.
Maka dengan cepat Yansen bangun, mengambil ponselnya lalu mengecek apa ada email atau pesan masuk dari Karan. Tapi, tak ada notifikasi apapun di sana. Mendesah kecewa lalu mengetik sebuah pesan kepada Karan.
Alea belum di temukan dan Yansen pun tak tahu kabar gadis itu bagaimana sekarang, anehnya hatinya kenapa tak secemas dulu. Yansen justru malah merasa biasa saja. Dengan cepat dia pun beranjak dari tempatnya, berjalan keluar kamar. Rasa kantuknya sudah hilang jadi ia putuskan untuk bangun saja.
Moana membuka matanya ketika mendengar suara pintu di tutup. Gadis itu meremat selimut dengan perasaan tak menentu. Dia tahu jika Yansen pasti sedang mencemaskan kekasihnya, ada rasa tak suka di hatinya. Moana sungguh merasa cemburu.
"Kenapa selalu saja sakit setiap Pak Yansen peduli pada gadis itu." Lirihnya tak mengerti, ia tekan dadanya untuk menghilangkan rasa tak nyaman itu.
"ah...ponselku. hari ini aku harus ketemu Bu Sarah."
Moana pun menyingkap selimutnya. Berjalan menuju sofa untuk mengambil ponselnya. Ia harus menghubungi Sarah terlebih dulu untuk membuat janji temu.
Krak...
Langkahnya terhenti begitu kakinya menginjak sesuatu. Moana mengeryitkan keningnya saat benda pipih itu tergeletak di bawah kakinya.
"Ya ampun, ponsel ku." Pekiknya terkejut.
__ADS_1
Diambilnya dengan cepat untuk melihat apa ponselnya rusak atau tidak. Moana mendesah sedih mendapati ponselnya yang sudah rusak. Layar retak dan juga tak bisa dinyalakan lagi.
"Bagaimana ini?" Moana menangis pelan.
Ponsel ini pemberian ayah nya. Benda pertama yang di beli ayahnya dengan sangat susah payah. Berbulan-bulan menabung demi mendapatkannya dan sekarang sudah ponsel itu hancur. Lalu bagaimana nanti dirinya menghubungi orangtuanya di kampung.
Jika tahu Yansen lah yang telah merusaknya maka Moana pasti akan langsung memarahi pria itu. Menjambak rambutnya mungkin jika ia bisa.
...**************...
Yansen duduk termenung di bangku taman belakang rumahnya. Dirinya masih belum mengerti juga dengan perasaannya yang selalu mendadak aneh setiap berada di dekat Moana.
Terlebih lagi, saat ini Moana tengah mengandung anaknya. Rasanya tangan Yansen gatal ingin sekali mengelus perut Moana. Tapi, Yansen selalu menahannya dengan dalih untuk apa dia lakukan itu.
Drrrt...Drrrtt...
Getaran di ponselnya mengagetkan Yansen hingga lamunannya pun buyar. Dengan kesal dia angkat tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"ada apa?" Jawabnya. "Apa? kamu menemukan petunjuk tentang penculik Alea?"
Yansen langsung berdiri, ia lihat layar ponselnya. Rupanya Karan yang menelpon. Di pagi buta pria itu sudah menghubunginya dan mengabarkan kabar tentang Alea. Di pastikan semalaman dia tak tidur dan belum istirahat sama sekali. Mengingat itu Yansen jadi tak tega, ia langsung meminta Karan untuk libur sehari.
"Aku tahu. hari ini istirahat yang cukup. Beri tahu Johan juga. aku bisa mencari keberadaan Alea sendiri."
"Rada, berhenti."
Yansen mengeryit mendengar suara Gutomo yang berteriak dari arah ruang tamu. Ia pun bergegas masuk untuk melihat apa yang terjadi.
"Aku akan pergi. Sebelum kamu mengatakan di mana Alea. Jangan lakukan hal gila lagi mas. Itu semua salah, kamu sudah melakukan kejahatan."
"Gadis itu mungkin sudah mati."
"dimana dia sekarang? kenapa mas begitu tega." Rada menangis histeris.
Ia tak bisa diam lagi. Gutomo telah melenyapkan nyawa seseorang, hal yang sangat kejam dan bisa membuat pria itu terjerat hukum. Rada hanya tak bisa membiarkan itu, meski dia mencintai Gutomo tapi hal sekejam itu tak bisa abaikan. Gutomo tetap bersalah dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Yansen mematung di tempatnya. Tak menyangka akan mendengar semuanya. Jadi, selama ini dugaannya benar. Bahwa ayahnya sendiri yang telah mencoba melenyapkan Alea selama ini. Lalu apa yang dia dengar barusan adalah nyata, Gutomo telah membunuhnya.
"Apa yang ibu katakan?" Desisnya, berjalan mendekati keduanya.
Matanya menatap tajam Gutomo yang berdiri menghadap kearahnya. Rada menelan ludahnya, dengan cepat dia mendekati Yansen.
"Yansen, kamu..."
__ADS_1
"aku sudah mendengar semuanya? apa maksudmu Alea sudah mati?" Tangan Rada ia tepis dengan cepat. Yansen sama sekali tak mengalihkan tatapannya dari Gutomo.
Gutomo hanya diam. Menyela atau berbohong pun tak akan bisa untuk saat ini. Lagipula semua sudah terlanjur. Rada sudah mengetahui keberadaannya maka bukan masalah jika Yansen pun tahu. Lagipula menyembunyikan terus menerus pun tak ada gunanya.
Grep...
Yansen mencengkram erat kerah baju Gutomo. Matanya menyala penuh emosi.
"Apa yang telah kamu lakukan pada Alea? dia tak pernah menyinggung mu sedikitpun. Kenapa kamu begitu membencinya? apa salahnya."
"Yansen, hentikan." Rada terperosot kelantai, kakinya lemas melihat perselisihan antara Yansen dan Gutomo.
"Dia tak pantas untuk mu." Ucap Gutomo tenang, sama sekali tak merasa takut jika Yansen akan memukulnya. Tatapan matanya yang begitu teduh jika suaranya yang tenang membuat Yansen langsung menarik kembali tangannya.
Tak mengerti sama sekali dengan ayah nya. Dirinya memang tak terlalu dekat dengan ayahnya sejak dari kecil. Bahkan Yansen merasa jika sang ayah tak pernah peduli terhadap dirinya atau pun Jane. Pria ini tak pernah menunjukkan kasih sayangnya, sikapnya begitu dingin bagi seorang ayah.
"Rada, masuk kekamar dan tenangkan dirimu." Ujar Gutomo, melewati Yansen dan Rada begitu saja. "aku akan keluar."
"tunggu!" Seru Yansen. "aku belum selesai bicara."
"Siang ini temui ayah di kantor jika kamu ingin tahu."
Gutomo benar-benar pergi setelahnya. Tak peduli di luar masih gelap karena memang masih dini hari. Rada menangis keras sementara itu Yansen berdiri dengan tangan terkepal. Gutomo memang sulit di lawan.
Tanpa mereka tahu, di ujung tangga. Jane dan Moana melihat semuanya. Karena kegaduhan itu kedua keluar dari kamar dengan cepat.
"Jane, ayo." Moana menarik tangan Jane pelan.
Gadis itu menggigit bibirnya kuat. Selama ini ia memang selalu mendengar ibu dan ayahnya bertengkar tapi tidak separah sekarang. Bahkan sang kakak pun ikut terlibat.
"Jangan menangis. Semua pasti akan baik-baik saja." Moana memeluk tubuh Jane yang kini bergetar karena tangis.
Gadis sekecil dirinya pasti merasa terguncang melihat keluarganya yang begitu berantakan. Jane membalas pelukan Moana.
"Aku selalu curiga jika ayah dan ibu pasti memiliki masalah besar. tapi..." Suaranya tersendat-sendat. "Kenapa kakak pun ikut terlibat. apa yang sebenarnya terjadi pada mereka."
Moana mengelus punggung Jane. Ia tahu Jane pasti sedih sekali. Moana pun melirik Yansen yang masih berdiri di bawah sana. Ingin sekali berlari untuk menghampirinya, memberikan kata penenang atau sekedar memberikan pelukan kepadanya.
Meski tak tahu masalahnya apa, tapi Moana merasa pasti semua ada hubungannya dengan Alea. Karena mendengar dengan jelas nama Alea di sebut-sebut dalam perdebatan mereka.
Rasa penasarannya semakin besar. Ada sebenarnya, kenapa mertuanya seolah tak menyukai gadis itu.
...************...
__ADS_1