Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 36


__ADS_3

Moana menendang kerikil dengan kesal. Dompet dan ponselnya ada di dalam mobil. Bagaimana dia bisa pulang sekarang, hanya dengan jalan kaki tentunya. Tapi, melihat jalanan yang jauh dari tempat keramaian itu membuatnya jadi takut. Di tambah kendaraan yang melintas pun dapat di hitung dengan jari.


Tin...Tin...


Sebuah mobil mewah berhenti di belakangnya. Moana langsung berbalik, dadanya langsung berdetak lebih kencang. Takut jika orang di dalam mobil itu bukanlah orang baik-baik.


Bagaimana nasibnya sekarang. Menelan ludahnya dengan takut saat melihat pintu mobil terbuka.


"hei...Nona, kamu tersesat?" Seorang pria berpakaian serba hitam keluar dan berjalan menghampirinya.


Perlahan Moana berjalan mundur. Takut sekali, berharap ada seseorang yang akan datang dan menolongnya sekarang. Menurut apa yang sering di lihatnya di drama-drama kalau pria bersetelan seperti itu adalah sekolompok mafia. Tapi, apa di Indonesia ada kelompok macam itu. Entahlah, Moana tak tahu.


Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya kabur dan menghindari pria berkacamata itu.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu." Seru pria itu sambil menghentikan langkahnya. Melihat wajah ketakutan Moana menjadi tak tega.


"Ka..kamu siapa?" Tanya Moana takut-takut.


Pria itu tersenyum ramah.


"Aku Drean. Aku melihat mu gerakan sendirian seperti orang bingung, makanya aku berhenti. karena ku pikir kamu butuh bantuan." Jelasnya.


Moana pun menatap pria itu, mencari kebohongan di matanya. Tapi, sepertinya dia pria baik. Moana bisa merasakan itu. Maka dengan pelan Moana pun mendekat.


"Aku...di turunkan di sini. bisa Bapak membantuku?"


Drean terkekeh.


"Jangan panggil seperti itu, kesannya aku seperti sudah tua saja. Panggil saja Dre."


"i..iya. Ba..eh..Apa Kak Dre mau mengantarku pulang?"


"tentu saja. Dimana rumah mu? anak kecil seperti mu kenapa di biarkan sendiri. siapa yang menurunkan mu di jalan sepi seperti ini." Ucap Drean.


Moana sudah duduk di kursi belakang. Ia merenggut mendengar pria itu menyebutnya anak kecil.


"aku sudah menikah dan sekarang aku tengah hamil." Akunya dengan cepat.


"apa?" Drean sampai tersedak mendengarnya. Tak menyangka jika gadis yang di anggapnya di masih muda ini sudah menikah dan tengah hamil pula. "kamu serius?"


"tentu saja." Moana merenggut.

__ADS_1


Melihat ekspresi wajahnya membuat Drean sempat tertegun. Bagaimana bisa gadis yang begitu muda sudah menyandang status sebagai istri. Dirinya saja yang sudah 32 tahun belum memilliki pacar sama sekali.


"lalu...siapa yang menurunkan mu di jalan?"


Moana langsung mengatupkan bibirnya. Tidak mungkin dia mengatakan jika suaminya pelakunya.


"sudahlah, katakan di mana alamatmu?"


Moana pun langsung menyebutkan alamat rumahnya. Bersyukur bisa bertemu dengan orang baik di saat dirinya tengah dalam kesulitan. Sesekali Drean melirik melalui spion, wajah Moana begitu manis dan imut. Tak mengira jika ia benar-benar sudah menikah. Melihat sepintas saja ia masih terlihat seperti gadis sekolahan.


Sementara itu Yansen sudah tiba ditempat ia menurunkan Moana. Pria itu bergegas dan berlarian mencari keberadaan Moana.


"Moana..." Teriaknya. Hatinya menjadi gusar.


Jane pun segera keluar.


"dimana kak Moana? kakak benarkan meninggalkannya di sini?"


Yansen mengacak rambutnya. Ia berlari menuju mobil melihat apa barang Moana ada atau tidak. Melihat dompetnya yang tergeletak di dashboard dan ponselnya masih ada di boks nya membuat Yansen jadi semakin cemas. Jika semua barangnya ada di mobil lalu kemana Moana.


Tak ada taksi lewat di sini, hanya mobil pribadi saja.


"Kakak, apa yang telah kakak lakukan. Sekarang kak Moana menghilang." Cemas Jane. Ia menangis mengkhawatirkan keadaan Moana.


...****************...


Moana melambaikan tangannya pada Drean. Pria itu benar-benar mengantarkannya sampai rumah.


Menghela nafas lega karena bisa tiba dengan selamat. Tapi ia heran kenapa mobil mobil Yansen tidak ada.


"apa mereka belum pulang ya." Cicitnya.


Dengan cepat Moana pun masuk kedalam. Ia masih marah dan kesal pada Yansen, tak akan menunggu pria itu sekarang. Mau pulang jam berapa pun ia tak peduli.


Di luar, Jane membanting pintu mobil. Ia marah kepada Yansen. Bisa-bisanya melakukan hal yang begitu buruk kepada Moana. Bahkan dengan tenangnya memutuskan untuk pulang dan berkata akan mencari Moana nanti. Sungguh Jane tak mengerti dengan pikiran sang kakak.


"Jane, kakak akan pergi mencarinya." Seru Yansen.


"ya memang harus seperti itu. semua salah kakak." Teriak Jane sambil berjalan masuk kedalam.


Moana yang sedang ada di dapur mendengar itu, ia pun segera keluar untuk melihat.

__ADS_1


"Jane, ada apa?" Tanyanya seolah tak terjadi sesuatu.


"kak Moana?" Pekik Jane. "kakak sudah pulang?"


Moana mengangguk.


"tapi... bagaimana bisa? uang kakak dan ponselnya..."


"ssstt...." Moana menempelkan jarinya di bibir Jane. "Ada seseorang yang mengantarkan kakak. kamu menangis ya?" Moana mengelus pipi Jane, ada jejak airmata dan juga matanya terlihat sembab.


"tentu saja. aku mencemaskan kakak."


"dimana Pak Yansen?" Tanya Moana celingukan.


"biarkan saja. dia pergi untuk mencari kakak.heheh..kita kerjain saja sekalian."


Moana tentu setuju. Lagipula dia masih kesal pada pria itu. Tak ada salahnya dia mengerjai Yansen sesekali. Dia pun menceritakan pada Jane siapa yang telah menolongnya hingga bisa pulang kerumah.


...**************...


Yansen kembali ketempat tadi. Pria itu memutari jalanan hampir sepuluh balik. Dengan cemas dia berharap bisa menemukan Moana. Bahkan Yansen sampai menelpon Karan dan Johan untuk membantunya. Karena melapor pada polisi pasti tidak akan di tanggapi karena belum 24 jam Moana menghilang.


"bagaimana Karan?" Yansen menyenderkan tubuhnya kepohon.


"maaf Pak, kami tidak bisa menemukan ibu Moana karena memang sulit mengetahui keberadaannya. Ponselnya ada di pak Yansen dan di jalan ini tak ada cctv-nya." Jelas Karan yang di angguki oleh Johan.


"s*al." Umpat Yansen, menendang pohon di dekatnya dengan kesal.


Kenapa bisa seperti ini. Ia tadi tak bermaksud meninggalkan Moana, tapi gadis itu terlalu banyak bicara hingga membuatnya kehilangan akal.


"kita kembali saja, setelah 24 jam baru minta bantuan polisi." Saran Johan.


Yansen pun tak punya pilihan lain. Ia segera meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Karan dan Johan.


...****************...


Kini Rada dan keluarga Gutomo telah berada di rumah sakit jiwa. Mereka menangis melihat keadaan Gutomo yang begitu kacau. Rambutnya berantakan dan wajahnya nampak kusut tak terawat.


"Dua hari lalu kondisinya sedikit membaik tapi kemarin dia kembali mengamuk tanpa sebab." Jelas dokter yang bertugas merawat Gutomo.


Ibu Gutomo sampai lemas mendengarnya. Anaknya yang selalu terlihat baik juga berwibawa itu bisa berubah sedratis ini. Tak ada lagi tubuh tegap dan wajah angkuhnya. Sekarang Gutomo terlihat sangat menyedihkan.

__ADS_1


Rada sampai harus buang muka tak sanggup untuk melihatnya. Hatinya terasa perih menerima kenyataan bahwa suaminya sudah menjadi seorang yang tak waras.


...**************...


__ADS_2