
Sepertinya Drean tak akan menyerah begitu saja. Dia terus melakukan segala cara untuk bisa dekat dengan Moana. Bahkan pria itu sengaja mengundang Yansen beserta Moana kerumahnya. Dengan alasan untuk menjalin hubungan kerjasama bisnis antara mereka.
"kita berteman dari sejak di bangku SMA, Yansen. Bahkan kita pun satu kampus. Jadi tak ada salahnya bukan aku menjamu mu dan istrimu di rumah ku? hanya sebagai teman, itu saja."
Yansen hanya diam, lalu meminta Karan untuk membatalkan acara makan malamnya nanti dengan rekan kerjanya dari Jepang. Jika ia menolak tawaran Drean sama saja dengan mengaku kalah.
"Baik, jam 7 kami akan datang." Ujar Yansen lalu pergi di ikuti Karan.
Drean tersenyum licik. Menggerakkan tangannya memberi isyarat pada Sabila untuk mendekat.
"ingat jangan sampai melakukan kesalahan."
"tentu saja. aku ahlinya." Sabila tersenyum sembari memainkan botol berisi obat di tangannya.
Entah obat apa itu, yang jelas akan di berikan kepada Yansen. Sabila sudah memesannya jauh hari, tak sabar ingin segera melancarkan aksinya.
Karan mengikuti Yansen dengan langkah cepat. Pria itu menghadang jalan Yansen begitu atasannya itu akan membuka pintu untuk masuk kedalam ruangannya.
"Pak, tunggu dulu. aku rasa Pak Drean dan Bu Sabila mencurigakan. Izin aku untuk menyelidiki nya?"
Yansen mengangguk penuh keyakinan. Selama ini Karan tak pernah salah dengan instingnya. Pria keturunan India itu sangat pintar juga jeli dalam menilai seseorang. Jika ia sudah berkata seperti itu, maka Yansen akan percaya sepenuhnya terhadap Karan.
Di sisi lain, Moana tengah melamun. Ia menyentuh bibirnya berulang kali. Kecupan Yansen tadi malam sungguh membekas seolah masih menempel di bibirnya.
Pipinya pun langsung merona mengingat itu. Tak menyangka jika Yansen mulai melakukan hal seperti itu. Selama pernikahannya, Yansen tak pernah menyentuh Moana lebih dari itu. Hanya sebatas pelukan saja.
"Moana, ibu mau mengunjungi ayah. kamu tak apa sendiri di rumah?" Tanya Rada yang sudah bersiap akan pergi.
"iya, tak apa kok Bu. lagipula Jane sebentar lagi pulang."
"baiklah, ibu pergi ya. jangan membuka pintu untuk orang asing. ingat Moana, kamu harus menelpon Yansen atau ibu jika ada tamu yang tak kamu kenal." Rada mengatakan hal itu karena Moana terlalu polos, mudah percaya pada siapa saja.
Gadis ini mudah sekali di bohongi, makannya Yansen maupun Rada sangat mencemaskan Moana jika tak bersamanya.
"iya Bu."
Moana merenggut, selalu begitu. Padahal dia sudah sering mendengar kalimat itu setiap di tinggalkan di rumah sendirian.
Rada pun segera pergi. Ia membawa mobil sendiri karena sepulang dari menjenguk Gutomo, akan berbelanja.
__ADS_1
Tring...
Sebuah pesan masuk. Moana menatap membaca pesan dari nomor yang tak di kenal itu. Bibirnya mengerucut lucu membaca setiap rangkaian kata yang tertera di layar ponselnya.
"ih...menggelikan." Bergidik geli karena kata-kata manis yang berlebihan itu.
"tapi, siapa ya?" Tanyanya pada diri sendiri. Kenapa mengirimkan puisi cinta ini kepadanya. Jika Yansen, mustahil. Pria itu tak seromantis itu.
Atau...Moana ingat dengan Daren. Sudah seminggu ini pria itu datang menemuinya. Bahkan saat Moana mencoba mengirimkan pesan itu hanya di baca tanpa di balas. Sebenarnya ada apa dengan Daren. Moana sempat ingin menemuinya tapi ingat jika Yansen selalu mengatakan jika dirinya tak boleh menemui pria manapun, termasuk Daren. Meski mereka hanya teman tetap saja Yansen tak pernah menyukai hal itu.
Lalu ia menggelengkan kepalanya. Tak mungkin juga Daren, pria itu terlalu kaku untuk kata-kata manis.
...*************...
Drean berdendang di dalam kamar mandi. Mencukur kumisnya yang mulai muncul. Sesekali menggosok dagunya untuk memastikan jika janggutnya pun sudah tercukur dengan rapi.
"Tampan." Serunya memuji dirinya sendiri.
Matanya melirik ponselnya. Menghembuskan nafas kasar saat pesan yang dia kirimkan tak ada mendapatkan balasan meski sudah centang biru yang artinya pesan itu telah di baca.
"apa kurang romantis?" Pikirnya.
"Bagaimana?"
"tentu saja sudah selesai. Sebentar lagi makanan datang dan..." Sabila tersenyum sambil memamerkan keindahan pahanya.
"baju ini terlalu bagus untuk mu, aku yakin Yansen akan tergoda." Kekeh Drean.
Sabila memang sengaja memakai baju super minim. Wanita ini tak akan membuat Yansen lolos begitu saja. Berandai-andai jika pria itu akan tergoda dengan penampilannya.
"baru jam 5, masih lama. aku sudah tak sabar." Seringai Drean nampak menakutkan. Ia kecup ponselnya.
Disana foto Moana di jadikan layar utama. Entah dari mana dia mendapatkan foto itu yang pasti bukan hal sulit bagi Drean untuk mendapatkan itu semua. Pria itu mengelus bibirnya dengan sensual.
"Aku sudah tak sabar." Serunya.
Sabila sampai menahan nafasnya. Drean persis seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda. Meski sudah lama bersama, tetap saja ada rasa takut di hatinya. Apalagi di saat pria itu dalam mood yang buruk, terkadang Sabila akan menjadi pelampiasan baginya.
Tapi bagaimana juga, Sabila menyayangi Drean. Dari kecil tumbuh bersama dan tak pernah terpisahkan.
__ADS_1
...**************...
Jam menunjukkan pukul 6 kurang, Moana dikejutkan oleh kepulangan Yansen yang lebih awal.
"mas, sudah pulang?"
"mmm...mana ibu dan Jane?" Yansen merangkul pinggang Moana lalu mengajaknya untuk duduk.
"Jane di kamar kalau ibu masih belum kembali dari menjenguk ayah."
Yansen menyenderkan kepalanya di bahu sempit Moana. Tangannya mengelus perut Moana yang semakin membesar saja. Dapat ia rasakan gerakan kecil di tangannya.
"bergerak?" Serunya tak percaya.
"iya."
"Sayang, ini ayah. kamu dengarkan?" Yansen langsung berjongkok di depan Moana, menempelkan telinganya di perut buncit Moana.
"loh, kok tak bergerak lagi?" Tanyanya heran.
Moana tersenyum mendengarnya.
"belum waktunya, hanya sesekali saja. itu menunjukkan kalau bayinya sehat." Jelas Moana.
Yansen kembali duduk disamping Moana.
"malam ini kita makan malam di rumah Drean. kamu ingat pria itu kan?"
"mmm...apa ada acara penting di rumahnya?"
"tidak. tapi, jika kamu tak mau ikut aku tak akan memaksa.
Moana berpikir sebentar, apa dia harus ikut atau tidak. Tapi, kenapa rasanya ada yang aneh dengan perasaannya. Ia merasa jika akan ada hal yang tak baik akan terjadi.
"kenapa?" Yansen mengelus pipi Moana.
"tidak. aku akan ikut."
Akhirnya Moana pun memutuskan untuk ikut dengan Yansen. Berharap semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
...**************...