Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 19


__ADS_3

Rada sungguh luar biasa merasa bahagia ketika melihat hasil tes Moana. Akhirnya dia akan menjadi seorang nenek. Jane yang tengah sakit pun merasa lebih baik. Keduanya langsung memeluk Moana.


Sementara Yansen, pria itu berdiri mematung. Perlahan tangannya mengambil kertas yang tergeletak di atas meja. Dengan tangan gemetar dan mata sedikit berkaca dia baca semuanya. Jantungnya berdetak kencang, ada rasa yang begitu aneh di sana.


"Ini serius?" Tanyanya entah pada siapa.


Rada dan Jane melepaskan pelukannya pada Moana. Mereka langsung melihat Yansen yang kini tengah menatap kearah mereka dengan pandangan yang sulit di mengerti.


"Kamu akan menjadi seorang Ayah, Yansen." Ujar Rada lembut.


Yansen menelan ludahnya, matanya tertuju pada Moana. Mereka cukup lama saling memandang dalam kebisuan.


"Kenapa? kamu bahagiakan?" Rada kembali berucap.


"iya, Kak Yansen akan jadi ayah. pasti bahagia." Seru Jane.


Yansen langsung membuang pandangannya. Tanpa bicara dia pergi begitu saja. Hati Moana mencelos, ia tahu kehamilan ini sebuah kecelakaan. Pasti Yansen tak pernah menginginkan hal ini. Tangannya menyentuh perutnya, ada rasa yang begitu aneh. Seperti di aduk dan memaksa ingin keluar.


Dengan cepat Moana pun berlari menuju dapur, lalu memuntahkan isi perutnya.


"Moana..." Rada mengejarnya.


Ia pijat tengkuknya lalu membuatkan minuman hangat untuk menantunya itu.


"Istirahatlah, awal-awal pertama memang sangat menyiksa. kamu pasti bisa melewatinya." Rada menepuk bahu Moana. Lalu beralih mengelus perut ratanya. "Cucu nenek, sehat ya. jangan buat ibu mu susah."


Moana tersenyum mendengarnya. Setidaknya masih ada orang yang mengharapkan bayi ini terlahir. Dia pun akan segera menghubungi ibunya nanti, mereka pasti akan sangat bahagia.


Yansen mondar-mandir di kamarnya. Bingung dengan apa yang di rasakan oleh hatinya saat jni. Saat tahu Moana hamil hatinya bergetar dan ada rasa bahagia disana tapi ketika teringat dengan apa yang telah dia tulis dan sepakati dengan Moana, hatinya menjadi resah. Di tambah dengan kehadiran Alea, gadis itu pasti akan sangat sedih.


Ceklek...


Pintu terbuka, hanya sedikit saja. Moana ragu untuk masuk kedalam. Tangannya menggenggam erat engsel pintu, sementara matanya tertuju pada Yansen kini berdiri menghadap ke arahnya.


Tak di pungkiri oleh keduanya. Rasanya amat canggung, bibir keduanya tertutup rapat.


"Sudah berapa lama?" Tanya Yansen kemudian.


Moana yang tengah bingung harus bagaimana pun langsung melangkah perlahan, menutup pintu rapat-rapat.


"Satu bulan lebih 5 hari." Jawabnya dengan lesu.


Pria bertubuh tinggi itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kasar. Ia lalu duduk di tepi ranjang, sementara Moana masih berdiri di hadapannya dengan wajah menunduk.

__ADS_1


"Aku tahu, Pak Yansen pasti tak mengharapkan ini. aku minta maaf." Cicitnya seolah dirinya melakukan kesalahan besar.


Yansen menyugar rambutnya kebelakang. Hatinya semakin tak karuan.


"Semua terjadi karena salah ku. jika sudah begini mau bagaimana lagi. jaga bayi itu sampai hari itu tiba."


Moana menelan ludahnya. Rasanya berat menghadapi semuanya, tangannya menyentuh perutnya. Apa dia akan sanggup kehilangan janin ini, tentu saja. Kenapa semua harus terjadi padanya. Seharusnya ini adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya, tapi justru dengan hadirnya bayi ini didalam rahimnya membuat Moana merasa jika ini awal dari kehancurannya.


Bagaimana tidak, dia akan terpisah dengan kelak. Itu pasti akan sangat menyakitkan bagi seorang ibu.


"siapa gadis yang bersama Bapak waktu itu?" Entah kenapa Moana jadi teringat dengan gadis yang di lihatnya waktu di restoran.


Rasanya dia menjadi sangat penasaran, apa hubungannya dengan Yansen. Ada rasa tak suka saat berpikir jika mereka berdua dekat melebihi teman.


Yansen menaikkan sebelah alisnya. Lalu terkekeh pelan.


"kenapa, kamu ingin tahu?" Tanyanya. "Dia kekasihku, Alea. kami tak bisa bersama karena..."


Moana mengigit bibirnya, ada rasa sakit di dalam sana.


"Karena pernikahan ini?" Sela Moana cepat. Matanya berembun.


Yansen langsung terdiam, melihat Moana kini menangis di hadapannya.


"ya."


Tangis Moana semakin pecah. Tubuhnya terperosot kelantai. Yansen pun dengan cepat mendekat, ia jadi takut terjadi sesuatu padanya.


"apa yang terjadi?" Tanyanya panik. "perutmu kenapa?"


Ia sentuh tangan Moana yang sedang menyentuh perutnya. Yansen takut terjadi sesuatu terhadap janin di dalam sana.


Moana tak menjawabnya, hanya menangis saja membuat Yansen kelimpungan. Pria itu pun mengangkat tubuh kecil itu ke atas kasur lalu merebahkannya dengan hati-hati.


Melihat tak ada penolakan dari Moana, dengan cepat dia sibak baju berwarna kuning itu lalu meletakkan tangannya di perut Moana. Menggosokkannya dengan perlahan dan lembut. Hal tersebut membuat Moana langsung terdiam, ada perasaan nyaman disana. Hingga akhirnya, tanpa sadar Moana memejamkan matanya.


"Merasa lebih baik?" Tanya Yansen. Pria itu lupa jika gadis di hadapannya hanyalah istri kontrak baginya. Ia terus saja mengusap perut rata Moana.


Bibirnya tersenyum lebar, mengingat ada sesuatu yang di hidup di dalam. Sebuah kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


Malam ini, keduanya melupakan tentang pernikahan kontrak yang mereka jalani. Seperti suami istri pada umumnya, Yansen tidur di samping Moana. Tangannya melingkar di pinggang ramping itu. Tertidur nyenyak dengan saling memeluk, memberikan kehangatan.


...***************...

__ADS_1


Karan ingin sekali menjambak rambut Alea jika di perbolehkan. Gadis itu terlalu banyak mau juga menyebalkan. Sudah hampir jam 11 malam dan Alea dengan seenaknya meminta dirinya untuk membuatkan susu.


Jika bukan karena pekerjaannya, sudah dari tadi dia tinggalkan gadis itu.


"Bisa-bisanya dia menyuruhku." Gerutu Karan kesal.


Johan pun yang baru akan tertidur harus bangun kembali karena mendengar teriakkan Alea tadi yang membangunkan Karan.


"Kenapa bos bisa mencintainya. Mak lampir macam begitu." Cetus Johan, menyenderkan tubuhnya ke kulkas.


"berikan ini pada nyonya Alea yang menyebalkan." Seru Karan sembari menyerahkan segelas susu kepada Johan.


"loh...kok..." Hendak protes tapi Karan sudah pergi meninggalkannya.


Mau tak mau, Johan pun membawa susu itu kekamar Alea. Gadis itu masih duduk di depan laptop, sepertinya tengah melakukan sesuatu. Bibirnya tak berhenti tersenyum.


"ini susunya." Seru Johan.


"letakkan di meja." Ujar Alea tanpa melihatnya.


Alea sungguh tak bisa di ganggu dengan kegiatannya. Jemarinya dengan lincah menekan setiap huruf. Matanya berbinar kala melihat balasan email dari seseorang.


"waaahh...Bagus sekali. besok aku harus berdandan cantik." Ujarnya dengan semangat.


Entah apa yang dia lakukan setiap malam dan dengan siapa berbalas pesan email. Yang jelas Alea tak akan pernah bisa meninggalkan pekerjaannya yang satu ini. Bukan karena masalah ekonomi, karena tentu Yansen sudah mencukupi kebutuhannya tanpa kurang sedikitpun. Tapi, Alea hanya mencari kepuasan baginya, sesuatu yang membuatnya candu. Selagi Yansen tak mengetahuinya, Alea merasa akan baik-baik saja.


Di sisi lain, Gutomo tengah duduk resah di kamarnya. Ia lihat Rada sudah terlelap di sampingnya.


"Jika kamu tahu aku memiliki anak lain, apa yang akan kamu lakukan?" Bisiknya.


Sepertinya rahasianya selama ini akan segera terbongkar. Gutomo tak bisa terus menutupinya lagi terlebih sekarang Moana tengah mengandung anak Yansen. Di tambah hubungan putranya dengan Alea tak bisa di biarkan. Mereka masih memiliki hubungan darah.


Pria yang sudah berusia 60 tahun itu sangat resah. Takut menghadapi semuanya nanti, bagaimana jika Rada meninggalkannya dan apa yang akan terjadi pada Yansen jika tahu kalau Alea adalah adiknya. Soal Alea sendiri, Gutomo tak peduli. Gadis itu telah dia anggap tak ada hubungan dengannya, bahkan ibunya saja sudah dia lenyap 25 tahun yang lalu.


Apa semua kejahatan dan kebohongannya harus di bongkar olehnya sendiri demi pernikahan Yansen dan Moana.


Gutomo tak ingin cucu nya terlahir tanpa orangtuan yang lengkap. Pria itu berharap, Yansen dan Moana tetap bersama.


Tanpa Gutomo tahu, Rada rupanya masih terjaga. Wanita itu meremat selimut yang menutupi setengah badannya. Posisinya membelakangi, sehingga tak dapat di lihat jika sekarang dirinya tengah menangis.


Hatinya terasa berat dan luka. Mendengar perkataan suaminya yang begitu jelas, pengakuan Gutomo yang begitu menyakitkan. Rada berpikir jika Gutomo pasti sudah menikah lagi dan sekarang istri keduanya itu sudah memiliki seorang anak dari nya.


Sebuah ketakutan terbesar bagi seorang istri adalah berbagi suami. Itu merupakan hal yang sangat berat di lakukan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2