Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 59


__ADS_3

Jane bingung sendiri saat melihat bahan-bahan untuk membuat puding yang sudah tersedia di atas meja. Gadis itu beberapa kali melihat google dan mencari resep cara membuat puding cokelat.


"kelihatannya mudah tapi kok sulit sih." Gerutunya.


Moana tersenyum melihat adik iparnya yang kebingungan. Niat ingin membuat susu untuknya pun di urungkan ketika melihat berbagai macam bahan di atas meja.


"kamu mau buat apa, Jane?" Tanyanya sambil meletakkan susu bubuk khusus ibu hamil itu kembali ke dalam lemari.


"ini loh kak, aku janji mau buat puding coklat untuk temanku. tapi..." Jane menghembuskan nafas kasar. "aku tak bisa." Lanjutnya dengan nada sedih.


Moana pun mengambil wajan berukuran sedang lalu mencampur semua bahannya. Dengan sangat lihai dia membuat puding cokelat, tak butuh waktu lama untuknya. Jane hanya diam melihat semuanya.


"terus ini bagaimana kak?" Tanya Jane ketika Moana mematikan kompornya.


"kamu tinggal tuang saja kecetakan itu, setelah itu tunggu sampai dingin."


Jane pun langsung mengambil cetakan berbagai bentuk yang memang sudah di siapkannya lalu segera menuangkan cairan kental itu secara perlahan.


"kak, kalau nanti aku bilang pada Inggit dan Regard ini aku yang buat, bagaimana?"


Moana terkekeh. Mencubit lengan Jane dengan pelan.


"lakukan seperti mau mu saja."


Jane tersenyum. Dia akan sedikit berbohong pada mereka nanti. Mengakui hasil karya orang lain demi mendapatkan pujian dari Inggit dan Regard.


Moana pun melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, membuat susu untuk dirinya sendiri lalu segera kembali kekamar.


"mas, sudah lama Karan tak kemari. apa dia begitu sibuk?" Moana meletakkan gelas susunya lalu naik ke atas ranjang.


"karena aku cuti jadi dia yang mengerjakan semuanya. kenapa? kamu merindukan pria lain?" Yansen menatap Moana dengan pandangan cemburu.


"bukan begitu mas. aku kan hanya bertanya saja."


"sudahlah, kita tidur siang saja." Yansen memeluk tubuh Moana.


Sementara itu Jane tengah menunggu kedatangan Regard dan Inggit.


"Jane, kamu menunggu siapa?" Tanya Rada.


"teman Bu. loh...ibu mau kemana?"


"Ibu mau beli beberapa baju untuk ayah ganti nanti. kamu tak mau ikut?"


Jane menahan nafasnya, jika saja tak memiliki janji pada kedua temannya dia ingin ikut dengan Rada. Memilih beberapa baju untuk ayahnya.


Melihat Jane yang terdiam membuat Rada langsung mengusap kepala anak bungsunya itu.


"Jane, kamu tak apa kan?" Tanyanya khawatir.


"tidak Bu." Jane menggeleng pelan. "Inggit mau kesini, jadi aku tak bisa ikut ibu."

__ADS_1


"tak apa. tapi besok kamu harus menemui ayah ya?"


"iya. aku juga rindu ayah."


"haaah.." Rada menghembuskan nafas kasar. "ya sudah, ibu pergi ya?"


"iya bu. Hati-hati."


"mmm..."


Jane melambaikan tangannya. Mobil Rada keluar lalu beberapa menit kemudian Regard dan Inggit pun tiba. Inggit duduk manis di belakang Regard.


"hehehe...maaf ya lama. maklum...kan goes." Ujar Regard seraya memarkirkan sepedanya.


"tak apa. ayo masuk."


Inggit dan Regard pun masuk. Mereka mengobrol banyak sekali sambil menikmati puding cokelat buatan Moana tadi. Regard bahkan sudah memakan empat nampak sangat menyukainya.


"kamu hebat bisa buat puding seenak ini." Pujinya.


"iya. aku saja tak bisa masak mie apalagi buat beginian." Timpal Inggit.


Jane hanya tersenyum, ingin mengatakan jika kakak iparnya yang membuat rasanya berat. Gadis itu pun hanya diam sambil sesekali menggaruk lengannya tak gatal.


Di luar pagar rumah tanpa mereka bertiga ketahui Sammy berdiri sambil melihat kedalam. Pemuda itu hanya sendirian saja, entah kenapa ketika melihat Regard dan Inggit di jalan membuatnya ingin mengikuti. Sehingga disinilah dia sekarang. Meminta supirnya untuk pulang dengan alasan akan ada kerja kelompok.


Tiinnnn...


Sammy terkaget saat suara klakson mobil di belakangnya berbunyi. Dengan cepat dia menggeser tubuhnya, memberi jalan untuk mobil berwarna putih itu.


"tidak. hanya kebetulan lewat saja." Ujar Sammy lalu segera pergi dari sana.


"bocah itu bukannya... ah, mungkin hanya mirip." Karan segera keluar dari mobil lalu membuka pintu pagar dan kembali masuk kedalam mobil.


Di rumah ini memang tak ada satpam. Jadi harus melakukan semuanya sendiri. Setelah parkir di dalam, Karan pun segera menutup pintu pagarnya.


Keningnya berkerut melihat dua pasang sepatu di tempat penyimpanan sendal.


"Apa ada teman Jane?" Gumamnya.


...**********...


Rada sudah membeli 4 potong kaos beserta celananya. Wanita itu segera membayarnya ke kasir. Berjalan cepat menuju parkiran lalu segera masuk kedalam mobilnya.


"aku lupa beli sesuatu untuk Jane dan Moana." Gumamnya saat mobil yang di kendarainya sudah berada di tengah jalan.


Ketika melihat toko kue, ia pun segera menghentikan mobil nya dan tart untuk Jane dan Moana.


Saat hendak membayarnya tak sengaja Rada menabrak seorang anak lelaki berseragam SMP. Pemuda itu baru saja masuk kedalam toko itu, sepertinya tengah melamun hingga tak memperhatikan jalannya.


"ahh...dek, kamu tak apa-apa kan? maafkan tante ya?" Tanya Rada.

__ADS_1


Pemuda hanya diam, menatap Rada sekilas lalu berlalu begitu saja.


"aneh." Seru Rada.


"Bu, kuenya sudah di bungkus." Panggil seorang kasir seraya mengangkat paper bag nya.


"aahh...iya." Rada pun segera membayarnya.


Hendak keluar dari toko, Rada merasa ingin melihat kebelakang dimana anak lelaki yang bertabrakan dengannya tengah berdiri. Menatap kue bertingkat yang bertuliskan happy birthday.


Rada melihat ekspresinya, pemuda itu nampak murung.


"Mbak, aku mau kue ini dan berikan nama di atas nya." Seru anak lelaki itu.


Rada jadi penasaran, niatnya untuk pulang pun di urungkan. Melangkah kembali kedalam lalu berpura-pura melihat kue-kue yang lainnya. Entah kenapa, dia jadi penasaran dengan pemuda itu. Ekspresi wajahnya yang sedih membuat Rada merasa kasihan. Tiba-tiba teringat dengan Jane. Apalagi seragam sekolah yang di pakainya pun sama dengan Jane.


"ingin menambah kata apa?"


"Sammy."


"hanya itu?"


"ya."


Rada terus menguping hingga pemuda itu selesai dengan pesanannya dan dia pun segera pergi.


Rada masuk kedalam mobil. Matanya masih memperhatikan anak lelaki tadi, berdiri di pinggir jalan dengan memegangi boks kue yang berukuran cukup besar. Tak tega rasanya melihat anak itu kesusahannya. Akhirnya Rada pun keluar dari mobil dan menawarkan tumpangan untuknya.


"Nak,mau tante antar pulang. jika naik angkutan umum akan sulit?"


Pemuda itu diam saja tapi kepalanya mengangguk pelan.


"Siapa yang berulang tahun? Sammy, tadi tante tak sengaja menguping." Cetus Rada begitu sudah berada di dalam mobil.


"aku." Jawaban yang begitu singkat dan cukup mengejutkan bagi Rada.


"kamu...jadi Sammy itu namamu?"


"mm..."


"kamu memesan kue ulang tahun untuk dirimu sendiri?" Tanya Rada.


Sammy hanya diam saja. Tak suka berbicara banyak apalagi menjawab pertanyaan. Rada pun menghela nafasnya, merasa jika pemuda di belakangnya tak suka di tanya.


Rada pun meminta Sammy memberi tahu alamatnya. Sedikit terkejut ketika sebuah nama perumahan elit di sebut. Itu artinya pemuda yang di tawarinya tumpangan ini bukan seorang anak biasa. Orangtuanya tentu sangat kaya raya, karena di sini hanya tempat untuk para Sultan saja.


Begitu mobil berhenti, Sammy keluar. Tanpa mengucapkan terimakasih atau kalimat lainnya dia pergi begitu saja. Masuk kedalam sebuah rumah yang bai istana.


Bahkan kedatangannya langsung di sambut oleh beberapa orang yang Rada yakini pasti para pekerja di rumah ini.


"anak yang aneh." Seru Rada.

__ADS_1


Waktu bertabrakan tak meminta maaf dan sekarang tak mengucapkan terimakasih juga padahal sudah di tolong. Bahkan yang membuat Rada bingung, kenapa dia memesan kue ulangtahun nya sendiri.


...**********...


__ADS_2