
Pagi hari pun tiba, Moana terbangun dengan bingung. Kenapa dia berada di rumah sakit sekarang. Matanya mengedar melihat sekeliling ruangan yang serba putih itu. Tangannya menyentuh perutnya, Moana tak merasakan ada yang aneh. Lalu bangun dan duduk di ranjang pesakitan itu dengan kaki tergantung ke bawah.
"kenapa aku di sini? bukankah tadi malam..." Mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi tidak sedikit pun yang dia ingat.
Ceklek...
Pintu terbuka. Yansen masuk kedalam bersama Rada dan Jane.
"mas, kenapa aku bisa disini?" Tanya Moana heran. "loh... wajah mu, apa yang terjadi sebenarnya?"
Yansen langsung meraih tangan Moana. Mengecup punggung tangannya dengan lembut.
Rada dan Jane pun menyentuh bahu Yansen. Mereka tahu betapa cemasnya Yansen semalam. Bahkan pria itu tak bisa tidur dan hanya duduk termenung di samping ranjang pesakitan Moana.
"ibu... Jane..." Moana menatap keduanya karena Yansen hanya diam. Pria itu terus menggenggam tangannya seolah tak ingin berpisah.
"Pak, Sekretaris Pak Drean ada di luar?" Karan masuk, pria itu tersenyum saat melihat kearah Moana.
Yansen langsung berdiri dengan tegak. Pria itu mengelus pipi Moana.
"tunggu sebentar. ibu, tolong jaga Moana."
"mmm...pergilah."
Rada semakin tak mengerti dengan situasi sekarang. Kenapa Yansen begitu serius bahkan ketika mendengar ada sekretaris Drean di luar pria itu semakin berekspresi dingin.
Melihat Yansen yang sudah tak ada lagi di ruangan itu pun Rada langsung menjelaskan semuanya. Hanya yang ia tahu saja, karena Karan tak begitu detail menceritakannya tadi.
Jane memeluk tubuh Moana.
"Kakak, aku khawatir terjadi sesuatu pada kakak dan juga bayinya. syukurlah, semua baik-baik saja."
"iya." Moana pun menarik nafas panjang.
Kenapa Drean dan Sabila bisa melakukan hal tega seperti itu. Jika memang dia ingin membalas dendam kepada Yansen, tapi dendam karena apa. Sejauh ini yang dia tahu, Drean sangat baik juga ramah.
Tak mungkin pria itu bisa berbuat jahat. Tapi, mendengar semuanya dari Rada bahwa Drean mencoba untuk menjebak Yansen membuat Moana jadi berpikir, manusia memang tak bisa di tebak. Baik diluar belum tentu hatinya akan ikut bersih.
"Tapi Bu, apa yang coba Kak Drean lakukan pada mas? menjebak seperti apa?" Tanya Moana yang merasa masih belum mengerti.
Rada menggelengkan kepalanya. Ia pun tak tahu, karena Karan tak mengatakan apapun tadi.
__ADS_1
"lalu bagaimana kak Drean sekarang? apa di laporkan?" Tanya Moana lagi.
"tidak, pria jahat itu masih bebas. Karena kak Karan bilang jika melibatkan polisi akan semakin rumit nanti." Jane menyela dengan cepat. "entahlah, Kak Karan itu sangat aneh."
"Karan itu bijak dan dia tahu dengan apa yang di lakukannya. Jane, jangan seperti itu." Rada tak setuju dengan apa yang dikatakan putrinya.
Selama ini Karan selalu membantu keluarganya, pria itu juga selalu membantu Yansen untuk menyelesaikan setiap pekerjaannya. Ide-ide juga cara kerjanya yang cepat itu membuat Karan menjadi kepercayaan Yansen selama ini.
Mungkin jika dilihat sepintas, Karan terlihat seperti karyawan biasa. Tapi, sebenarnya pria itu sangat besar peranannya bagi keluarga Yansen juga perusahaan.
...****************...
Sabila menundukkan kepalanya dalam-dalam saat Yansen menatapnya penuh intimidasi. Gadis itu sangat tahu, apalagi saat mengingat kejadian tadi malam. Kemarahan Yansen begitu menakutkan, pria ini ternyata bisa melukai siapa saja jika orang terkasihnya terusik.
"katakan dengan cepat lalu pergi, apa tujuan mu kemari." Cetus Yansen.
"ak...aku hanya ingin meminta maaf." Cicit Sabila dengan suara pelan.
Karan yang berdiri di belakang Yansen langsung melangkah maju saat melihat Sabila merogoh sakunya. Ia hanya takut gadis ini berani berbuat nekad. Bisa saja dia mengambil sesuatu untuk menyakiti Yansen.
Gerak cepat yang di lakukan Karan membuat Yansen mundur kebelakang. Sementara Sabila hanya tersenyum miris.
Karan mengambil gelang itu lalu segera menyerahkannya pada Yansen.
"sudah bukan, kalau begitu kamu bisa pergi." Seru Karan. Sabila mengangguk lalu pergi.
Yansen pun memperhatikan gelang emas itu. Kenapa bisa gelang ini ada di tangan Sabila. Moana tak mengenakkan gelang ini tadi malam, dia ingat sekali kalau Moana tak memakai perhiasan selama ini.
"gadis itu terlihat lebih baik jika tidak kecentilan." Kekeh Karan.
"Karan, selidiki dari mana Sabila mendapatkan gelang ini."
Karan langsung mengangguk cepat lalu segera pergi. Dia tahu apa yang harus di kerjakan sekarang.
Sabila masuk keruangan yang tak jauh dari ruangan Moana di rawat. Gadis itu tersenyum melihat Drean yang terbaring di ranjang pesakitan. Pria itu terluka cukup ramah, wajahnya bahkan hampir bengkak semua.
"bagaimana?" Tanya Drean.
"sudah aku lakukan. Sepertinya kamu benar, Yansen tidak melibatkan polisi dengan kejadian semalam."
"Aku tahu. Yansen akan mengikuti apa kata pria India itu. kamu lebih baik dekati pria itu dan buat dia berpihak pada kita."
__ADS_1
Sabila terdiam. Apa akan mudah baginya mendekati Karan. Terlihat dari sikapnya saja, Karan tak jauh berbeda dengan Yansen. Pria itu terlalu dingin untuk di jadikan kekasih.
Sepertinya Drean masih belum menyerah juga. Ia tetap merencanakan sesuatu untuk membuat Yansen kalah dan berlutut di depannya.
Tak peduli seberapa sulit pun Drean tetap akan melakukannya.
Yansen kembali kekamar Moana.
"mas, apa ini sakit?" Tanya Moana begitu Yansen mendekat.
Jemarinya mengelus lebam di pipi Yansen. Moana membayangkan betapa kerasnya pukulan itu hingga meninggalkan bekas seperti ini.
"hanya luka kecil saja."
"luka kecil apanya. Ini lebam, mas."
Rada menepuk bahu Yansen kuat. Dari kecil luka seperti ini sudah sering di dapatkannya. Tentu saja, Yansen tak akan merasakan apa-apa sekarang.
"Dari dulu juga seperti itu, Yansen itu sering berkelahi dengan temannya." Tutur Rada.
"iya, bahkan kak Yansen pernah di melukai luka robek di punggungnya." Tambah Jane lagi.
Moana terkejut mendengarnya, tak menduga jika Yansen seperti itu sewaktu di sekolah.
"benarkah? jadi kamu sering ikut tawuran ya?" Pertanyaan Moana membuat Rada dan Jane tertawa, sementara Yansen berdecak keras.
Ia tak segila itu waktu sekolah. Hanya berkelahi untuk membela dirinya tidak lebih dari itu. Senakalnya dia dulu tak pernah sekalipun ia melakukan hal anarkis begitu.
...***************...
Karan seperti biasanya, akan menggunakan kecerdasannya untuk mencari segala informasi yang di butuhkannya. Menghubungi beberapa temannya yang bisa membantunya untuk meretas telpon Sabila dan Drean.
Dia harus mendapatkan informasi sejelas mungkin untuk mencari tahu dari mana gadis itu mendapatkan gelang emas berbandul bintang itu.
Johan menggelengkan kepalanya melihat Karan yang begitu serius mengutak-atik komputer.
"apa lagi sekarang?" Tanyanya.
"hanya pekerjaan kecil saja. aku gunakan otakku dan kamu pakai ototmu nanti." Seru Karan membuat Johan mendengus.
...************...
__ADS_1