
Rada bahagia ketika mendengar Moana mengatakan jika dirinya akhir-akhir ini sering pusing dan mual. Wanita itu yakin jika sekarang Moana mengandung. Pernikahannya dengan Yansen sudah berjalan satu bulan, itu artinya kehamilannya pun seusia pernikahan.
"Kita cek kerumah sakit, ya?" Ajak Rada. "besok kita harus periksa, apa kamu hamil atau tidak." Serunya bersemangat.
Jane pun merangkul pundak Moana, ia kecup pipi yang kini mulai berisi itu.
"aku akan jadi Tante." Serunya ikut bahagia.
Moana mendesah pelan. Dia tak yakin dengan ini, melihat kebahagiaan Rada dan Jane membuatnya merasa bersalah. Mereka begitu senang juga berantusias. Jika saja Rada dan Jane tahu bahwa dirinya dan Yansen sudah melakukan perjanjian. Sudah di pastikan keduanya akan sangat kecewa.
Begitu juga dengan dirinya, tangannya mengelus perutnya yang rata. Jika benar di sana ada janin, maka kesedihannya akan di mulai detik ini juga.
Moana ingat apa yang telah di tuliskan Yansen dalam kertas perjanjian itu. Pria itu akan menceraikannya dan mengambil bayinya jika waktunya sudah tiba.
"kenapa kamu diam? apa kamu tak senang Moana?" Rada menggenggam tangan Moana.
Moana menggigit bibirnya. Tak sanggup rasanya untuk mengatakan semuanya. Menghela nafas berat lalu tersenyum kecil.
"aku senang. Mak dan Apa juga di kampung pasti akan senang." Tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Rada langsung menghamburkan peluknya. Ia usap punggung kecil itu dengan lembut.
"kamu hubungi ibu mu setelah kita periksa dan pastikan jika kamu benar-benar hamil." Ujarnya dengan lembut. Jemarinya mengusap airmata Moana yang kini telah menetes.
Jane pun ikut sedih melihatnya. Dengan cepat dia peluk Moana dari belakang. Sebisa mungkin ia akan menjadi adik iparnya yang baik. Jane tak akan membuat sedih ataupun terluka.
"Aku akan selalu menjaga kakak." Ucapnya. Usia mereka tak begitu jauh berbeda, itulah sebabnya keduanya bisa begitu akrab.
"terimakasih." Moana sungguh bahagia. Di balik rumah tangganya yang hampa, masih ada Rada dan Jane yang begitu menyayanginya.
Yansen terdiam melihat ketiga wanita itu. Niatnya ingin bertanya lebih banyak lagi kepada Moana, memastikan jika gadis itu benar-benar hamil. Tapi, melihat Rada dan Jane ada di sana membuat Yansen urung. Ia kembali melangkah kekamar. Mungkin tinggal menunggu saja hasilnya, sedikit banyak dia mendengar percakapan mereka.
Helaan nafas berat terdengar begitu jelas. Yansen merebahkan tubuhnya. Matanya hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Apa debaran di hatinya karena takut jika Moana benar-benar hamil atau sebuah kebahagiaan karena di dalam rahim gadis itu sekarang ada buah hatinya. Entahlah, Yansen tak mengerti dengan dirinya sendiri.
Drrrttt....Drrrtt...
Bahkan getaran ponselnya pun tak ia pedulikan. Tetap melamun hingga panggilan itu pun berhenti. Yansen meliriknya sekilas lalu memilih untuk abai, meski jelas sekali nama Alea tertera di layar itu.
Untuk saat ini Yansen butuh ketenangan. Ia perlu sendiri tanpa seorang pun mengganggu.
...**************...
Alea terus mencoba menghubungi Yansen. Tapi tak satupun panggilan itu di angkat. Semakin panik ketika batu ponselnya tinggal menunjukkan angka 4 persen saja. Alea pun melemparkan ponselnya begitu saja ke jok mobil.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana." Alea celingukan mencari pria yang tadi mengikutinya.
Dia tengah belanja tadi, tiba-tiba saja ada seorang pria terus mengekorinya. Penampilannya sangat mencurigakan, persis seperti orang jahat. Memakai jaket, topi juga masker. Gelagatnya pun sangat mencurigakan, matanya terus menatap Alea kemana pun gadis itu bergerak.
Dengan cepat Alea pun keluar, masuk kedalam mobilnya. Ia harap Yansen bisa datang menjemput atau menolongnya. Tapi, harapan hanya tinggal harapan.
Tok...tok...
Ketukan pada kaca mobil membuat Alea menelan ludahnya. Ia ketakutan setengah mati, pria itu mengikutinya sampai keparkiran.
Dengan memberanikan diri Alea menyalakan mesin mobilnya, ia lajukan mobilnya tak peduli jika pria itu akan terseret nanti. Di pikirannya hanya untuk mencari aman saja.
Mobil hitam itu pun melaju cepat membelah jalanan yang cukup ramai. Alea ketakutan setengah mati hingga tak bisa tenang. Ia membawa mobil dengan ugal-ugalan, menyerobot kendaraan lain.
"Gadis itu melarikan diri, Pak." Pria itu segera melapor.
Sebuah umpatan dan teriakan yang cukup keras membuatnya harus menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
Maka dengan cepat dia pun segera menutup telponnya lalu segera menaiki motornya dan berusaha untuk mengejar Alea. Usahanya tak boleh gagal kali ini, dia tak boleh bernasib sama seperti temannya yang saat ini masih menghilang belum di temukan karena misi nya melenyapkan gadis itu tak berhasil.
Ckiit...
Alea menginjak pedal rem dengan mendadak saat mobilnya hampir saja menabrak seseorang yang tengah akan menyebrang jalan. Pria itu mendelik tajam lalu memukul mobil Alea dengan kesal.
"Mau cari mati kamu ya? keluar..." Pukulan di kaca mobil yang keras membuat Alea justru semakin takut.
"ma...maafkan aku. aku tak sengaja, aku di kejar seseorang." Kilahnya tak berbohong.
Decakan kesal terdengar. Rupanya alasan itu tak membuatnya merasa iba. Dengan marah dia pun membentak.
"jangan cari alasan. Untung kamu bisa ngerem tepat waktu jika tidak..."
"aku minta maaf. sekali lagi maafkan aku." Alea berkata dengan suara yang semakin melemah.
Gadis itu merasakan tubuhnya tak nyaman, lalu perlahan kesadarannya menghilang.
"eehh...hei...hei, ada apa denganmu." Panik pria itu. "Jangan mencoba...aah sial."
Pria itu memasukan tangannya dengan susah payah karena kaca mobil yang terbuka sedikit. Ia berusaha membuka pintunya.
Meski ragu dan takut di kira maling, tapi tetap nekat melakukan itu. Hingga akhirnya dia pun berhasil, menarik nafas lega. Ia bergegas masuk kedalam mobil untuk melihat keadaan Alea.
"dia benar-benar tak sadarkan diri." Ujarnya terkejut. "aku yang hampir mati di tabrak tapi malah kamu yang pingsan. ck... menyusahkan saja." Gerutunya.
__ADS_1
Walau begitu pria bertubuh tinggi itu menolong Alea, memindahkan tubuhnya lalu dirinya segera duduk di belakang kemudi. Ia bawa mobil itu dengan cepat.
Sang pengejar pun mengumpat kesal. Kenapa harus begitu sulit untuk mendapatkan gadis itu. Sekarang malah ada seorang pria. Maka dengan terpaksa ia pun harus mengurungkan niatnya, mencari waktu yang lebih tepat lagi.
...*************...
Moana masuk kedalam kamar dengan langkah perlahan. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat melihat Yansen yang sudah tertidur pulas di ranjangnya.
Dengan gerakan lambat ia berjalan menuju sofa lalu menjatuhkan berat badannya dengan sangat pelan.
Baru saja akan memejamkan matanya, Yansen memanggilnya.
"Kamu, buatkan aku teh dulu."
Moana mengumpat dalam hati. Baru saja merasa senang karena pria itu telah terbang ke alam mimpi. Dengan malas Moana menyibakkan selimutnya.
"Aku punya nama, kenapa selalu memanggil ku dengan sebutan kamu." Gerutunya sembari berlalu keluar kamar.
Yansen hanya tersenyum miring, matanya memang masih terpejam tapi dia tak tidur sama sekali.
"Aku juga bulan ayahmu atau pun gurumu, tapi kamu terus memanggil ku dengan sebutan Pak." Tanpa sadar kalimat itu meluncur dari bibirnya.
Yansen membuka matanya lalu segera melihat sekeliling kamar. Menghela nafas begitu tak melihat keberadaan Moana di sana. Berdecak menertawakan kebodohannya sendiri. Kenapa akhir-akhir ini dia jadi sering peduli dengan apa yang di katakannya. Sebulan ini Yansen merasa aneh dengan dirinya, setiap bersama Moana hati dan pikirannya selalu sulit di kendalikan.
Drrrtt...Drrrttt...
Ponselnya bergetar. Yansen segera mengambilnya. Ia tersenyum melihat nama kekasihnya terpampang di layar kecil itu. Dia pikir mungkin sebaiknya dia angkat sekarang, sedari tadi dia abaikan panggilan dari gadis itu.
"ha..." Baru saja akan mengucapkan sapaan sebuah suara sudah menyelanya lebih dulu.
"aku tak akan bicara banyak karena baterai hp ini akan habis. pemilik ponsel ini ada rumah sakit."
"apa?" Yansen langsung menegakkan tubuhnya.
"halo...halo..."
Tut...Tut...
Panggilannya terputus bertepatan dengan si penelepon menyebutkan alamat rumah sakitnya. Yansen pun segera bergegas untuk pergi.
"ini Pak...eh, Pak mau kemana? ini teh nya?" Moana sedikit berjengit ketika akan masuk pintu tiba-tiba terbuka dari dalam.
Yansen melewatinnya begitu saja. Pria itu tak menjawab sama sekali.
__ADS_1
"dasar pria tua menyebalkan. sudah aku buatkan teh, eh...malah pergi." Gerutu Moana kesal.
...**************...