
Malam semakin larut. Rada duduk tak tenang di ruang tamu menunggu kepulangan Yansen. Dia butuh kepastian dan penjelasan dari putranya, apa benar telah melakukan tindakan tak terpuji itu.
Gutomo hanya duduk acuh, baginya itu bukan masalah. Waktu muda bahkan dirinya lebih parah dari Yansen. Berganti pasangan dan tidur dengan gadis berbeda setiap malam adalah hal yang tak aneh lagi.
"Untuk apa kamu khawatir? hanya meniduri seorang gadis bukanlah masalah besar." Menyesap rokoknya lalu membuang puntungnya ke dalam asbak. Gutomo tak peduli sama sekali.
Rada mengepalkan tangannya. Hidup dengan pria ini tak pernah sedikitpun merasakan kebahagiaan. Dia pria yang kejam dan tak berperasaan. Andai saja dulu ia tak terima pernikahan yang di atur keluarganya ini, mungkin sekarang dia sudah hidup bahagia.
Meksipun ia telah melahirkan dua anak dalam pernikahannya, tapi tak ada sedikitpun rasa cinta di hatinya. Rada hanya bertahan demi hidup dan kebahagiaan Yansen juga Jane.
"kamu pikir ini bukan masalah besar? dia anak orang, Bagaimana perasaan ibunya jika tahu putrinya telah ternoda? apa kamu tak memikirkan Jane, jika itu terjadi padanya apa kamu akan diam saja?"
Gutomo hanya mengeraskan rahangnya. Selalu saja bertengkar, setiap hari tak ada ketenangan sama sekali di rumah ini.
"Kamu urus saja putra dan putri mu, aku tak peduli." Ucapnya acuh tak acuh.
Meski begitu Gutomo memejamkan matanya kala berujar demikian. Hatinya sungguh sakit melihat tatapan kebencian dari Rada. Berusaha bersikap keras demi membuat wanita itu membencinya. Entah apa alasannya tapi pria ini merasa tak pantas mendapatkan kebahagiaan.
Ia melangkah masuk kedalam ruang baca, memilih untuk berdiam diri di sana sampai hatinya benar-benar merasa tenang. Usianya tak muda lagi, tak baik jika terus bertengkar dan membuatnya emosional.
Jane hanya diam melihat ibu dan ayahnya. Baginya pertengkaran itu sudah jadi hal yang biasa. Bagaimana dinginnya sang ayah terhadap ibunya.
Rada mendudukkan tubuhnya di kursi dengan lemas. Berdebat dengan Gutomo selalu menguras tenaga, kepalanya pun berdenyut sakit.
"Ibu!" Seru Jane cemas.
"sayang, ada apa?" Rada membuka matanya yang terpejam. Tersenyum seolah semua baik-baik saja.
Jane menggigit bibirnya. Senyum palsu itu selalu membuatnya ingin menangis. Ibunya selalu berusaha kuat di hadapannya selama ini. Di tambah lagi dengan masalah yang Yansen hadapi sekarang, Jane merasa ibunya semakin tertekan setiap hari.
Meski Rada selalu terlihat bahagia, tersenyum bahkan tertawa keras. Jane tahu, itu semata hanya untuk menutupi kesedihannya.
"kemana kakak mu itu, ibu takut dia melakukan hal buruk lagi. Sudah cukup satu orang yang dia rusak." Cemasnya.
Jane menggenggam tangannya. Mencoba untuk membuat Rada tenang.
"Jangan berpikir buruk Bu, kak Yansen..." Jane tak melanjutkan ucapannya saat mendengar deru mesin mobil Yansen.
__ADS_1
Rada dan Jane pun bergegas untuk menemui Yansen. Keduanya berdiri di depan pintu. Memperhatikan Yansen yang keluar dari dalam mobil. Jane melihat ada satu mobil lagi di belakang.
"Itu sepertinya kak Karan dan kak Johan." Ujarnya. Rada mengangguk.
"Yansen..." Rada hendak mendekat, tapi langkahnya terhenti saat seorang gadis ikut keluar dari dalam mobil. "kamu..."
Telunjuknya mengarah ke arah Alea, tepat di depan wajahnya. Rada menatap Yansen meminta penjelasan.
"Dia akan tinggal di sini sementara." Ujar Yansen.
"apa kamu gila Yansen. kamu bawa gadis ini kerumah? kamu tak menghargai ibumu?" Cerca Rada.
Alea langsung bersembunyi di balik punggung Yansen. Takut sekali melihat kemarahan Rada. Gadis itu menelan ludahnya, gugup serasa di hadapkan dengan kematian.
"jangan takut." Bisik Yansen sambil menggenggam tangannya.
Alea mengangguk pelan. Matanya melihat Rada dan Jane bergantian. Canggung rasanya di hadapkan dengan wanita ini. Rada jelas sekali menunjukkan kebencian terhadapnya. Sementara Jane, gadis itu hanya melihatnya dalam diam, meski masih kecil tapi tatapannya cukup mengintimidasi.
"Karan, bawa tas Alea kedalam." Titah Yansen, tak peduli sama sekali dengan Rada yang kini menatapnya marah.
Karan pun segera mengambil koper dari bagasi mobil.
Karan seketika melepaskan tangannya dan menyimpan koper besar itu di tanah. Johan yang masih di dalam mobil ikut merasakan ketidak nyamanan. Orang-orang di luar sana saling melemparkan tatapan tajam.
"Bawa atau aku pecat?" Ancaman Yansen membuat Karan langsung kembali membawa koper itu kedalam dengan cepat.
Rada menghembuskan nafas. Sepertinya Yansen benar-benar tak bisa di ajak bicara dengan baik-baik.
"Kamu tak bisa menikahi Alea." Desis Rada.
"Ibu tak bisa..."
"Kamu tak bisa karena harus bertanggung jawab terhadap gadis yang telah kamu nodai." Selanya dengan cepat.
Mata Yansen melebar, bagaimana Rada bisa tahu jika dirinya telah menodai seseorang. Genggaman tangannya langsung terlepas, Alea mengerutkan keningnya. Ia meraih tangan Yansen kembali.
"apa yang ibumu katakan Yansen?"
__ADS_1
Rada tersenyum melihat kecemasan di balik sorot mata Yansen dan Alea. Kesempatan baginya untuk memisahkan kedua pasang kekasih ini.
...****************...
"Moana baik Mak, jangan khawatir." Sambil menahan tangisnya Moana berbicara pelan.
Pagi-pagi sekali ibunya sudah menghubunginya. Wanita itu mengatakan tiba-tiba merindukannya dan merasa cemas terhadap Moana.
"Mak, Moana mandi dulu ya? sebentar lagi berangkat kerja."
Setelah panggilan terputus, Moana menangis keras. Tak lagi punya keberanian untuk menemui sang ibu. Membohonginya membuat Moana merasa bersalah.
Sarah menyenderkan tubuhnya di pintu. Tangisan Moana sungguh menyayat. Gadis itu sekarang dalam kondisi yang buruk. Kehilangan kepercayaan dirinya sendiri.
"Moana?" Panggilnya sambil membuka pintu yang tak di kunci itu.
"Ibu Sarah!"
Sarah langsung mendekapnya erat. Hatinya ikut sakit melihat betapa kacaunya Moana saat ini.
"Jangan takut, kamu akan baik-baik saja."
"Aku lebih baik mati saja."
"kenapa kau berkata seperti itu? ibu pastikan Yansen akan bertanggungjawab."
Moana mengigit bibirnya. Pria itu meninggalkan rasa trauma yang dalam baginya. Setampan apapun, sekaya apapun jika telah membuatnya hancur seperti ini Moana tak bisa bayangkan bagaimana kehidupannya nanti.
Apa mungkin pria itu akan memperlakukan dirinya dengan baik. Bagaimana jika nanti dia malah menyiksa atau bahkan lebih parah dari itu.
"Yansen, pria yang baik. percaya pada ibu." Sarah menangkup wajah Moana. "Rada pun akan jadi mertua yang baik, dia wanita yang berhati tulus, baik dan pasti kamu akan bahagia tinggal bersama mereka." Ucapnya meyakinkan.
Moana memalingkan wajahnya. Sebaik apapun orang yang akan menjadi keluarganya nanti, tetap saja Moana belum siap. Apalagi pria itu belum tentu mau menerimanya. Semua yang telah terjadi, apa mungkin masih di ingat pria itu.
"Aku tak mencintainya." Lirih Moana.
Hatinya terasa begitu sesak. Dulu, dia pernah berangan-angan memiliki seorang suami yang baik dan sangat mencintainya. Hidup sederhana dengan dua anak, menjalani rumah tangga harmonis.
__ADS_1
Hidup dengan seseorang yang dia cintai pasti akan sangat menyenangkan. Tapi, semua impian itu telah sirna. Mimpi buruk telah menghampirinya. Moana tak pernah bayangkan hal seperti ini akan menimpa dirinya.
...******************...