Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 43


__ADS_3

Moana dan Yansen mengenakan baju dengan warna yang senada. Keduanya nampak serasi dan sangat cocok. Mereka menuruni tangga bersamaan, terlihat sekali jika hubungan keduanya sangat baik-baik saja sekarang.


Rada yang melihat itu sangat bahagia. Tak perlu khawatir lagi soal rumah tangga putranya. Sekarang yang di harapkannya hanya satu, semoga Moana melahirkan dengan lancar dan cucunya akan segera hadir. Meski harus menunggu beberapa bulan lagi.


"kalian mau pergi keluar?"


"iya, Bu." Jawab Moana.


"Yansen, hati-hati menyetir mobil. ingat Moana sedang hamil sekarang." Peringatnya.


Yansen mengangguk. Tangannya menuntun Moana dengan sangat mesra.


Tanpa banyak lagi yang harus di persiapkan mereka pun pergi menuju rumah Drean. Butuh waktu 2 jam untuk sampai kesana. Senyaman mungkin Moana duduk di samping Yansen.


"Kamu terlihat cantik malam ini." Goda Yansen.


Moana memukul lengannya pelan. Godaan itu berhasil membuatnya malu dan pipinya merona. Mereka hanya berangkat berdua saja tanpa Karan ataupun Johan. Karena ini bukan makan bisnis, hanya makan malam biasa antara teman saja.


Yansen merasa tak perlu melibatkan Karan. Lagipula pria itu sudah terlalu di repotkan olehnya.


"Apa masih jauh?" Tanya Moana yang mulai merasakan pinggangnya panas.


Baginya duduk terlalu lama untuk sekarang sangat menyiksa, pinggangnya akan cepat merasa pegal. Yansen menepikan mobilnya lalu mengusap punggung Moana dengan lembut.


"sekitar beberapa menit lagi? kurasa kamu butuh sesuatu, tunggu sebentar di sini." Ujarnya.


Yansen keluar dari mobil lalu segera menyebrang. Pria itu masuk kesebuah mini market.


Moana memperhatikan dengan seksama. Ia tersenyum ketika melihat Yansen sudah kembali dengan sekantong penuh makanan.


"kenapa banyak sekali?"


"bayi kita pasti lapar." Ujar Yansen. "sebentar." Ia pun mengambil minyak hangat yang baru di belinya.


Membuka tutupnya lalu meminta Moana untuk berbalik memunggunginya.


"mau apa?" Tanya Moana kaget saat Yansen membuka resleting bajunya.


Tubuhnya berjengit ketika kulit punggungnya tersentuh oleh jemari Yansen. Pria itu pun sebenarnya tengah menelan ludahnya. Punggung Moana yang putih juga sangat mulus itu sungguh menarik perhatian.


Perlahan Yansen mengoleskan minyak hangat itu.


"mas..."


"punggungmu akan terasa lebih baik." Selanya.


Moana tersenyum kecil. Perlakukan lembut dan perhatian kecil itu sungguh membuat jantungnya berdebar.


Yansen buru-buru memasangkan kembali resleting baju Moana. Pria itu menghembuskan nafas kasar, sungguh godaan yang terlalu besar baginya jika terlalu lama menatap kulit putih itu.


"sudah. kita berangkat sekarang." Ujar Yansen.


Moana mengangguk. Ia mengambil satu camilan lalu segera membuka bungkus. Lagi-lagi bibirnya tak bisa tersenyum saat satu keripik kentang masuk kedalam mulutnya. Yansen benar-benar telah membuatnya senang. Pria itu bahkan tahu makanan kesukaannya sekarang.

__ADS_1


"kamu suka? aku sering melihatmu memakan keripik itu akhir-akhir ini."


"tentu saja. cobalah." Moana menyuapi Yansen.


Perjalanan terasa menyenangkan karena hal-hal manis yang di lakukan keduanya. Hingga akhirnya mereka pun tiba di kediaman Drean.


...***************...


Karan mengeryitkan keningnya saat melihat rekaman cctv kantor. Pria ini menyeruput kopi hitamnya sebentar lalu kembali fokus menatap layar komputer.


"ini...tidak mungkin." Ujarnya tak percaya.


Johan yang duduk di sampingnya langsung melihat apa yang sedang di perhatikan Karan.


"dia Pak Drean dan sekretarisnya bukan?" Tanya Johan.


Karan mengangguk lalu memutar ulang video itu. Ia menekan tombol stop lalu memperhatikan apa yang baru saja di terima wanita berambut pirang itu dari seorang satpam.


"Johan, hubungi satpam itu sekarang dan interogasi dia?" Perintah Karan.


"memangnya kenapa?"


"lakukan saja."


Johan pun langsung melakukan apa yang di katakan Karan. Dia segera menelpon satpam itu, kebetulan dia memiliki nomornya.


Karan juga segera menghubungi Yansen. Dia harap Yansen tak memenuhi undangan Drean.


"mereka sudah sampai. sambut mereka dengan baik Sabila."


Sabila tersenyum lalu segera membuka pintu. Melihat tangan Yansen melingkar di pinggang Moana membuat gadis itu kesal. Tapi, sebisa mungkin ia tak menunjukkan kekesalannya. Bagaimana pun ia masih belum mendapatkan Yansen, harus menjaga sikapnya.


"silahkan masuk."


Moana dan Yansen pun mengikuti Sabila yang langsung mengajaknya keruang makan. Disana sudah ada Drean yang sudah duduk manis. Pria itu berdiri untuk menyambut kedatangan keduanya.


"aku pikir kamu tak akan datang. Moana, kamu terlihat cantik sekali."


"terimakasih, kak Drean." Moana menjawab dengan suara pelan begitu merasakan pinggangnya di remas oleh Yansen.


"ahh...aku hanya memuji istri mu. jangan marah." Seru Drean, pria itu pun bisa melihat tatapan marah Yansen kepadanya.


"ayo duduklah, kita langsung makan saja. kamu pasti lapar." Sabila mencoba untuk seramah mungkin meski sebenarnya sangat ingin sekali mengusir Moana pergi saat ini.


Yansen dan Moana duduk. Makanan yang terhidang terlihat masih hangat karena asap yang mengepul.


"aku tidak tahu selera kalian, tapi ku harap makanan ini tak mengecewakan." Tutur Drean.


"tidak, kami bukan pemilih makanan." Jawab Yansen.


Mereka pun mulai makan. Sabila melirik Drean, lalu tersenyum. Gadis itu mencuri pandang kearah Yansen. Sebelum Yansen dan Moana tiba ia telah memasukan sesuatu kedalam gelas Yansen. Berharap pria itu segera meminumnya.


"uhuk.." Moana tersedak saat udang yang di makannya terasa pedas.

__ADS_1


"kamu tak apa? minumlah." Yansen segera mengambil air minum miliknya lalu memberikannya pada Moana.


Mata Sabila melebar melihat itu begitu pula dengan Drean.


"jangan." Pekiknya sembari.


Moana yang akan meminumnya pun langsung melihat kearah Sabila. Yansen mengerutkan keningnya ketika Sabila merebut gelas di tangannya.


"apa yang kamu lakukan?" Bentak Yansen, merasa Sabila telah berbuat tidak sopan.


"Sabila hanya mencoba menolong, benarkan?" Drean berkata dengan penuh penekanan, matanya menatap Sabila tajam.


Gadis itu pun segera mencari alasan agar Yansen tak marah.


"i...istrimu sedang hamil, sebaiknya minum air hangat." Tuturnya lalu segera mengambilkan air hangat.


Yansen yang protes kembali langsung di cegah oleh Moana. Moana menyentuh lengannya lalu menggelengkan kepalanya.


"terimakasih banyak atas perhatiannya." Ujar Moana sambil mengambil air hangat yang di berikan Sabila. "udangnya terlalu pedas, aku tak terlalu suka pedas." Jelas Moana.


"ah... benarkah? maafkan aku, Moana." Sesal Drean.


"tak masalah."


Sabila mengepalkan tangannya. Rencananya gagal, ia harus memikirkan cara lain lagi jika begini.


Tuk...


Matanya langsung melihat kearah Drean kala merasa kakinya di tendang pelan dari balik meja. Hanya dengan isyarat mata saja Sabila mengerti. Gadis itu segera berdiri lalu mengambil beberapa buah untuk Moana.


Acara makan malam kebetulan telah usai. Sabila mengajak Moana untuk bersantai di ruang tamu sementara Drean meminta mengajak Yansen berbincang di teras belakang.


"Sebentar saja, kamu pasti tahukan apa alasan ku mengundang mu kemari?" Tutur Drean.


Yansen tak bicara, hanya diam saja. Pria ini terlalu mencemaskan Moana, merasa jika Moana dalam bahaya. Entah hanya perasaannya saja atau memang firasat Yansen yang kuat.


"istrimu akan baik-baik saja dengan Sabila." Ucap Drean, karena melihat Yansen yang terus melihat dalam dimana Moana berada.


"Katakan apa mau, Drean?"


"aku hanya ingin mengajakmu bekerja sama. Aku akan membangun hotel di kota B, ku harap kamu bisa membantuku."


Yansen menatap Drean. Mencoba mencari apa pria ini serius dengan ucapannya atau hanya main-main saja.


Sementara didalam, Moana yang sedang menikmati apelnya tiba-tiba merasakan kantuk. Ia menguap berulang kali membuat Sabila langsung tersenyum penuh kemenangan.


"sepertinya suamimu masih lama, kamu bisa istirahat di kamarku. ayo..." Ajak Sabila.


Moana pun melihat keluar, Yansen memang terlihat sedang mengobrol dengan Drean. Ia pun terpaksa menyetujui ajakan Sabila. Lagipula matanya sudah sangat berat ingin segera terpejam.


Ia pun segera mengikuti langkah Sabila yang mengajaknya kekamar. Tanpa dia tahu, jika gadis itu telah memasukan sesuatu kedalam minumannya tadi, sehingga dirinya sekarang merasa sangat mengantuk.


...**************...

__ADS_1


__ADS_2