
Alea pulang dengan kesal. Seharusnya dia berada di samping Yansen, menemani pria itu. Seandainya saja tidak Gutomo ataupun yang lainnya, maka sudah di pastikan saat ini dirinya dan Yansen sudah menikah. Hidup bahagia tanpa halangan siapapun.
Gadis itu memasuki rumah dengan cepat, ingat dengan kejadian tadi membuatnya takut berada di luar rumah. Akhir-akhir selalu ada saja ada seseorang yang mencoba melukainya. Bahkan hari ini lebih parah, nekad menerobos masuk kedalam rumah.
Setelah mengunci semua pintu dan merasa aman, Alea pun bergegas masuk kedalam kamar. Merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.
"kenapa nasibku begitu buruk. Orangtua pun tak tahu berada di mana dan sekarang ada seseorang yang ingin melenyapkan ku. apa tuhan begitu membenci ku."
Airmata pun mengalir, meratapi nasibnya yang begitu buruk dari kecil. Alea tak pernah merasakan kebahagiaan kecuali jika bersama Yansen. Hanya pria itu yang selalu menerima dirinya, menyayanginya sepenuh hati. Tapi, semua terhalang oleh Rada dan Gutomo. Kedua orangtua Yansen sangat menentang hubungan mereka.
Sementara itu di rumah sakit. Yansen sudah terbangun dari tidurnya. Pria itu sedang di suapi bubur oleh Moana. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya kecuali pertanyaan tentang bagaimana Alea.
"Alea bagaimana?" Tanyanya pada Karan yang tengah berdiri di belakang Moana.
Moana terdiam, pegangan jemarinya pada sendok menguat.
"Sudah pulang kerumah. Tuan Gutomo mengusirnya."
Yansen menarik nafas dalam. Lalu melihat Moana, gadis itu masih sama. Diam tanpa suara, hanya menyuapinya makan tanpa bertanya apapun.
"Ibu dan ayah akan kembali nanti malam. untuk saat ini aku yang menjaga bapak." Ucap Moana setelah Yansen selesai makan.
Karan yang merasa suasana sedikit tegang pun akhirnya memilih untuk keluar. Dia duduk disamping Johan yang dari tadi ada di luar ruangan. Mereka tak bisa pulang karena Yansen memintanya untuk menjaga Alea, tapi keduanya merasa sangat keberatan.
Maka memilih untuk lebih lama tinggal di rumah sakit, lagipula penjahat tadi sudah di amankan polisi. Tinggal menunggu hasilnya saja, apa dia murni pencuri atau memang sengaja ingin melukai Alea.
"sebaiknya kita pergi sekarang." Ujar Johan.
Karan hanya mengangguk lemah. Menjaga Alea lebih melelahkan di banding harus mengerjakan pekerjaan di kantor.
Moana meletakkan mangkok kosong lalu mengambil air, matanya masih sama seperti tadi sama sekali tak menatap wajah Yansen.
"kenapa mengindari tatapanku?" Tanya Yansen tak suka.
Moana menarik nafas dalam-dalam lalu menggeleng cepat. Suasana hatinya kurang baik, sejak berbicara dengan Alea tadi ada sesuatu yang sakit juga menyesakkan di dalam dadanya. Apalagi jika harus menatap wajah Yansen, hatinya semakin merasa jika pria ini sungguh tak pernah mengharapkan kehadirannya.
"Aku..." Moana menelan ludahnya, ingin bertanya tapi rasanya begitu berat.
"kenapa? jangan berbelit. kamu ingin pulang? pulang saja. lagipula aku tak butuh bantuanmu di sini."
Tangan Moana mengepal. Wajahnya langsung terangkat, dengan kesal menatap wajah menyebalkan Yansen baginya.
__ADS_1
"Lalu jika tak butuh aku, kenapa bapak memintaku untuk menyuapi bubur tadi? kan perut bapak yang luka bukan tangan." Seru Moana kesal.
Yansen langsung terkekeh, inilah yang dia suka dari gadis ini. Tanpa sadar dirinya mulai menyukai apa yang di lakukan Moana.
"aku hanya asal bicara. kamu mau berkata apa tadi?" Senyum Yansen yang nampak tulus itu membuat Moana tertegun sebentar, belum pernah Yansen tersenyum setulus kepadanya.
"ahh...iya." Moana menarik kursi lalu duduk di samping ranjang pesakitan Yansen. "Alea...gadis itu kekasih Pak Yansen? kenapa bapak bisa mengkhianatinya dengan melecehkanku? seandainya malam itu bapak tidak melakukannya maka sekarang hubungan kalian akan baik-baik saja bukan?"
Yansen diam. Ia tahu jika Moana tak pernah tahu apa yang terjadi sebelumnya dengan dirinya. Pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin membahas tentang masalah itu. Lagipula sampai kapanpun hubungannya dengan Alea tidak akan terjalin baik sebelum Gutomo dan Rada membuka hatinya.
"kenapa diam?" Tanya Moana penasaran, dia hanya ingin tahu saja apa alasan Yansen berbuat tak senonoh kepadanya padahal pria ini memiliki gadis yang begitu cantik.
"diamlah. aku tak suka seseorang bertanya tentang masalah pribadi." Tekan Yansen.
Moana mendengus.
"lagipula bocah sepertimu tak akan paham." Cetus Yansen lagi.
Mata bulat Moana berputar, Yansen memang selalu menganggapnya anak kecil. Usia mereka yang terpaut jauh selalu saja menjadi tolak ukur pria itu. Menganggap Moana bodoh dan tak akan bisa mengerti dengan perasaannya.
Gerakan tangan Moana yang mengusap perutnya menarik perhatian Yansen. Hatinya mendadak hangat mengingat ada kehidupan di sana. Tangannya ingin sekali menyentuh tapi di tahan karena gengsi.
"seusia pernikahan kita." Jawab Moana ketus. "Untuk apa bertanya? tak sabar ingin segera menikah dengan kekasihmu?"
Hati Moana jadi panas. Yansen pasti tak sabar ingin bayi ini lahir agar segera berpisah dengannya dan menikah dengan Alea. Tentu saja Moana merasa cemburu akan itu dan tak rela. Bagaimana juga bayi dalam perutnya akan dia pertahankan, tak akan membiarkan siapapun merebutnya darinya.
...*****************...
"Dari rumah sakit hingga saat ini dia masih sendiri. Tak ada penjaga lagi. aku akan masuk kedalam untuk memastikan." Ujar seorang pria berpakaian serba hitam, ponselnya ia matikan lalu lempar kedalam mobil.
Perlahan langkahnya memasuki halaman rumah Alea. Dengan seringai tipis ia melihat jika gadis itu ada di kamarnya saat ini.
Dengan cepat, pintu terbuka. Tanpa kesulitan sedikit pun ia membongkar pintu yang terkunci rapat itu.
Keadaan rumah sangat sepi, memudahkan sang pria berjalan leluasa memasuki setiap ruangan. Menyeringai saat pintu kamar itu tidak di kunci.
...****************...
Gutomo duduk dengan cemas di ruangannya. Berharap kali ini orang bayarannya bisa melakukan tugasnya dengan benar. Yansen ada rumah sakit begitu juga dengan Karan dan Johan. Dengan begitu kemungkinan besar keberhasilannya kali ini adalah seratus persen.
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka, Rada masuk dengan membawa segelas kopi. Wanita itu sepertinya masih belum puas dengan apa yang di katakan Gutomo. Rada merasa jika Gutomo menyimpan rahasia yang begitu besar selama ini.
"Ada apalagi?" Tanya Gutomo, berdiri dari kursinya.
"Penjelasanmu, apalagi." Seru Rada penuh penekanan.
Pria yang hampir memiliki warna putih di rambutnya itu menghela nafas panjang. Ia pikir Rada akan melupakannya tapi nyatanya masih saja berusaha untuk mencari kebenarannya.
"Aku tak menyembunyikan apapun, Rada."
Rada memutar bola matanya, ia letakkan cangkir berisi kopi panas itu dengan kesal.
"Aku dengar jelas malam itu, kamu mengatakan ada anak lain di luar sana. Aku belum tidur dan bisa mendengar semuanya." Ucap Rada menggebu-gebu.
"Kamu benar ingin mendengarnya dari ku?" Pertanyaan Gutomo membuat jantung Rada berdebar hebat. "Aku akan mengatakan semuanya tapi dengan syarat."
"a...apa?"
"Setelah kamu tahu segalanya jangan pernah berusaha pergi dariku atau berbuat hal lainnya."
Pernyataan itu membuat Rada tak mengerti tapi dengan cepat ia menganggukkan kepalanya.
Hal yang sama pun terjadi pada Moana dan Yansen. Keduanya sama-sama bersitegang. Masalahnya Moana masih saja merasa tak terima dengan kenyataan bahwa gadis bernama Alea itu merupakan kekasih Yansen.
Moana sendiri bingung sebenarnya kenapa dirinya harus marah dan merasa cemburu. Tapi, sedikit pun ia tak bisa menyembunyikan perasaannya itu.
"Jangan bodoh Moana. aku menikahi mu karena anak di dalam perut mu. kamu harus ingat posisi mu seperti apa?" Tegas Yansen. Pria itu sedikit meringis ketika berusaha untuk duduk, jahitan di perutnya terasa begitu perih.
Dengan cepat Moana membantunya lalu buru-buru menarik tangannya yang memegang lengan Yansen.
"maaf, aku hanya membantu saja." Ucapnya ketika mendapat tatapan tak suka. "Aku tahu, Bapak hanya menginginkan bayi ini tapi setidaknya selama aku masih istri Bapak, hormatilah. jangan berhubungan dengan gadis lain." Cicit Moana.
Yansen mendengus dingin.
"lalu bagaimana dengan pria yang pernah kamu undang kerumah?"
"apa?"
Kini keduanya sama-sama diam. Moana maupun Yansen memilih untuk membuang pandangannya ke arah lain. Kebetulan seorang perawat masuk untuk memeriksa keadaan Yansen, dengan cepat Moana pun berdiri dari kursinya. Ia bergegas keluar dari kamar rawat Yansen. Wajahnya memerah menahan malu, kenapa dia begitu bodoh sehingga mengeluarkan pertanyaan dan pernyataan yang begitu memalukan.
...********************...
__ADS_1