
Yansen menggerutu kesal dengan kedatangan Karan. Padahal hari ini dia mau bermanja-manja dengan Moana seharian penuh. Tapi, Karan malah datang membawa banyak pekerjaan dari kantor.
"hehe...ini demi kebaikan karyawan, agar sejahtera gajinya tak di potong cuma gara-gara kita gagal tender." Karan berdalih ketika merasa Yansen kesal dengan kehadirannya.
"iya aku tahu. mana berkasnya?"
Karan pun segera meletakkan semua berkas yang di bawanya di atas meja. Yansen pun langsung memeriksa semuanya.
Tok..
Tok..
Ketukan pintu membuat keduanya kompak melihat siapa yang datang. Moana tersenyum sambil masuk kedalam. Dia membawa dua cangkir teh jahe, lalu meletakkannya di meja yang ada di dekat jendela.
"ini bagus untuk menghangatkan tubuh. di luar hujan dan cuaca sekarang sangat dingin." Ujarnya.
"terimakasih sayang." Ujar Yansen.
Karan hanya mesem saja, dia tahu kedatangannya pasti sangat tidak tepat sekarang. Di cuaca yang sangat dingin ini Yansen pasti ingin menghangatkan tubuhnya dengan cara lain.
"ekhemm..." Karan berdeham begitu Moana sudah kembali pergi.
Ia duduk lalu menutup berkas yang sedang di baca oleh Yansen. Hal tentu membuat sang bos langsung menatapnya dengan tajam.
"hehe... sebaiknya, aku kerjakan ini sendiri. Pak Yansen bisa kembali kekamar dan melakukan aktifitas yang lebih menyenangkan." Kekehnya dengan tak tahu malu.
Yansen mendengus, jika dia bisa melakukannya sendiri kenapa tak dia kerjakan dari tadi. Tak perlu repot-repot datang kemari dan mengganggunya. Hendak protes tapi dengan cepat Karan menarik tangannya hingga berdiri lalu mendorong tubuhnya keluar dari ruangan. Hanya Karan memang yang berani berbuat seperti itu padanya.
"kerjakan dengan benar, maka bonusmu akan ku transfer malam ini juga." Ujar Yansen memperingati.
"siap Pak bos."
Yansen pun segera kembali kekamarnya. Benar apa kata Karan, dia harus mencari kesenangan hari ini. Tak sabar rasanya melakukan olahraga panas dengan sang tercinta.
Ceklek...
Pintu terbuka, Moana yang sedang berganti pakaian terperanjat kaget. Dia baru saja selesai mandi.
"Mas, buat terkejut saja." Keluhnya, dia mengancingkan kancing terakhirnya.
Yansen langsung memegang tangannya lalu membawa Moana duduk di atas kasur. Matanya menatap tepat pada bola mata sang istri.
"ada apa? apa pekerjaannya sudah selesai?" Tanya Moana gugup.
Dadanya bergemuruh saat tangan Yansen menyentuh punggungnya dengan gerakan lembut.
"Karan bisa melakukannya sendiri." Bisik Yansen.
Moana menelan ludahnya. Dia tahu apa yang sedang coba lakukan saat ini. Kenapa pria ini harus menginginkannya di siang hari seperti ini. Meski cuacanya mendukung untuk memadu kasih tapi tetap saja ini masih siang dan orang-orang di rumah tentu masih terjaga.
"Mas..." Moana menahan tubuh Yansen yang semakin merapat. "Jane ada di rumah dan Karan pun..."
__ADS_1
"jangan takut, pintunya sudah aku kunci. tak akan ada yang bisa masuk." Yansen tak kehabisan akal untuk melancarkan keinginannya.
"tapi..."
"ayolah, sayang. Perut mu semakin membesar dan nanti setelah bayi ini lahir, akan lama aku berpuasa untuk tidak menyentuh mu." Wajah memelas Yansen membuat Moana akhirnya mengangguk setuju.
Dia tak tega jika menolak keinginan Yansen. Apalagi pria itu sudah terlihat sangat bernafsu. Maka siang hari yang dingin karena hujan semakin lebat pun di penuhi oleh erangan dan ******* keras.
Sementara itu di ruang tamu, Inggit dan Regard duduk dengan bingung. Mereka harus segera pulang tapi di luar hujan.
"bagaimana ini? aku sudah bilang pada ibu untuk pulang cepat." Inggit menatap keluar jendela.
"padahal tadi masih terlihat cerah." Ujar Regard.
Memang benar, saat mereka kemari belum ada tanda-tanda hujan akan turun.
"mmm...begini saja, aku akan minta tolong kak Karan untuk mengantar kalian. bagaimana?" Tawar Jane.
Inggit dan Regard saling pandang lalu keduanya membuat tanda × dengan jarinya. Mereka tak mau karena merasa takut dengan Karan.
"tidak-tidak. Aku takut." Seru Inggit.
Jane tertawa mendengarnya. Baru kali ini ada yang begitu takut pada Karan. Dirinya saja merasa jika Karan itu sangat baik dan tak seperti yang di lihat oleh kedua temannya. Tak ada kata seram bagi Jane.
"Tak apa. aku juga akan ikut kok. sebentar ya?"
Inggit menghela nafas.
"ck..sudahlah, hanya itu jalan satu-satunya."
...***************...
Sammy duduk di meja makan dengan wajah datar. Tatapan matanya begitu dingin. Ia melihat makanan yang sudah terhidang di atas meja, banyak sekali.
"Mbok Warni, buat ini spesial untuk Den Sam." Warni mengambil piring lalu meletakkan di depan Sammy. "mau makan yang mana?"
Sammy tak bergeming. Dia menggelengkan kepalanya lalu beranjak bangun dari duduknya.
"Den..."
"tak perlu repot. Mereka saja tak peduli."
Warni tahu maksud dari kata mereka. Rasanya sangat sedih melihat anak dari majikannya itu, dari kecil kurang perhatian. Meski semua keinginannya terpenuhi tapi Sammy sungguh kekurangan kasih sayang.
Orangtuanya lebih mementingkan pekerjaan, bahkan di hari spesial putranya pun mereka tak pernah menyempatkan diri untuk pulang atau meluangkan waktu sebentar saja untuk mengucapkan selamat padanya.
Lebih parah lagi, ketika Sammy sakit. Ibu dan ayahnya hanya akan meminta Warni untuk menjaganya. Seolah dalam hidup mereka hanya ada uang dan uang. Sammy sungguh bukanlah hal penting.
Sammy melihat keluar, hujan cukup deras. Matanya menatap lurus dengan penuh kehampaan.
Perlahan dia berjalan keluar, mungkin akan mencari sesuatu yang bisa membuatnya lebih merasa tenang.
__ADS_1
"den Sam. mau kemana?" Warni berteriak keras saat melihat Sammy menaiki motornya.
Sammy sama sekali tak menggubrisnya, motor ninja itu dia pacu dengan kecepatan penuh.
Warni sungguh cemas. Sammy masih kecil, dia bisa salah jalan jika di biarkan seperti itu terus. Dengan cepat dia menghubungi tuannya yang sekarang berada di luar negeri.
...**************...
Karan ingin menolak permintaan Jane karena pekerjaannya belum selesai. Tapi, melihatnya memohon seperti itu membuatnya tak tega.
"oke, hanya mengantar saja bukan?"
"iya. di luar hujan..jika pakai mobil maka Inggit dan Regard tak akan kehujanan."
"iya, tunggu di luar. aku akan menyelesaikan ini sedikit lagi."
Jane pun segera berlari. Dia menghampiri kedua temannya yang kini sudah berada di teras.
"kak Karan setuju."
"baguslah. hujannya lebat sekali." Seru Inggit.
Regard tiba-tiba teringat sesuatu. Waktu di kelas tadi dia tak sengaja melihat Sammy mengutak-atik ponselnya. Dia seperti mengirim pesan pada seseorang.
"mm....tadi di kelas aku melihat Sammy berkirim pesan dengan seseorang."
Jane dan Inggit pun mengeryitkan keningnya. Kedua gadis itu melihat Regard dengan seksama.
"dia mengirim pesan seperti ini. ini hari ulangtahunku, apa kalian ingat. begitu kalau tak salah."
"iihhh...kamu mengintip pesan seseorang. tak baik." Seru Inggit, memukul lengan Regard cukup keras.
"aduh, sakit tahu." Regard mengelus lengannya. "bukan itu intinya, aku hanya mengira mungkin hari ini Sammy ulangtahun."
"apa peduli kita. biarkan saja." Ketus Inggit. "ya kan, Jane."
"ah...i...iya." Jane tersenyum kaku. Kenapa dia merasa tiba-tiba ingat dengan Sammy.
Ckiit...
Ketiganya langsung melihat kedepan saat mendengar decitan ban mobil. Jane tersenyum senang, karena Rada sudah pulang.
"ada teman Jane ya? kenapa di luar. Ayo masuk." Rada menyerahkan beberapa paper bag pada Jane.
"kami baru mau pulang tante." Jawab Inggit.
"loh...kan hujan."
"aku akan mengantarkan mereka." Timpal Karan sambil berjalan mendekati semuanya.
"oh.. begitu, hati-hati jalanan licin."
__ADS_1
Mereka pun segera masuk kedalam mobil. Jane juga ikut karena kedua temannya pasti tak mau hanya bertiga saja dengan Karan.
...************...