Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 44


__ADS_3

Sabila tersenyum melihat Moana yang kini telah tertidur. Ia berjalan keluar lalu mengunci pintunya. Ia berharap jika Moana akan terlelap hingga besok pagi. Gadis itu pun berjalan menghampiri Yansen dan Drean yang masih berada di luar.


"Pak, ini kopi spesial buatan ku." Ujarnya dengan gaya yang di buat semanis mungkin.


Yansen hanya meliriknya sekilas lalu kembali melihat ke arah Drean dengan tak peduli. Lagi pula dia tak terlalu suka kopi apalagi kopi hitam. Perutnya akan sakit juga mual nanti.


"Kopi buatan Sabila sangat enak. cobalah." Tutur Drean, supaya Yansen mau meminumnya.


"simpan saja, nanti aku minum." Yansen merogoh ponsel di saku celananya saat merasakan benda pipih itu bergetar.


Ada banyak sekali panggillan masuk yang tak terjawab lalu 2 pesan chat yang belum terbaca. Dengan cepat Yansen melihatnya, keningnya mengerut ketika melihat semua panggillan itu dari Karan. Lalu segera membuka pesannya. Tak biasanya Karan akan menelpon sebanyak itu, Yansen jadi berpikir pasti ada hal penting yang ingin pria itu sampaikan.


Dua foto juga satu video di kirimkan oleh Karan. Yansen menyaksikannya dengan seksama. Rahangnya mengeras melihat sebuah bukti yang di berikan oleh Karan.


"keterlaluan." Desisnya sembari mencengkram erat leher Sabila.


Gadis itu sampai terkesiap. Dengan gerakan Yansen yang tiba-tiba. Yansen tak main-main cekikannya sangat kuat. Sabila meronta meminta ampun.


"Yansen, apa yang kamu lakukan? kamu bisa membunuhnya." Pekik Drean, mencoba menarik tangan Yansen.


"kamu juga sama, kalian benar-benar bedebah." Yansen menghempaskan tubuh Sabila kelantai dengan kasar lalu berbalik mencengkram kerah baju Drean.


Drean kebingungan kenapa tiba-tiba Yansen bisa melakukan hal seperti itu. Pria itu pun mencoba melepaskan cengkraman tangan Yansen yang begitu kuat.


"ada apa denganmu? kenapa kamu menjadi gila." Ronta Drean.


Sabila pun masih terduduk di lantai. Masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Gadis itu menyentuh lehernya yang begitu sakit.


Yansen melihat kedalam, kemarahannya semakin bertambah saat tak mendapati Moana di sana. Dengan kuat dia mendorong tubuh Drean hingga pria itu terjatuh. Ia menatap Sabila penuh kemarahan.


"dimana istriku?"


"di...dia ada di dalam." Jawab Sabila ketakutan. Gadis itu beringsut mundur saat Yansen berjalan mendekat.


Ketakutan setengah mati melihat tatapan tajam juga aura yang di keluarkan olehnya. Yansen sangat menyeramkan jika dalam mood yang tak baik.


Drean yang merasa jika Yansen pasti telah mengetahui rencananya itu langsung berdiri dengan cepat.


"Lari Sabila." Perintahnya membuat Yansen berbalik menatapnya. "Katakan, kamu sudah mengetahui segalanya bukan?"


Sabila yang melihat ada kesempatan untuk kabur pun langsung bangun dan berlari masuk kedalam. Drean tertawa keras lalu menyilangkan tangannya di dada.


"Kamu sungguh naif, Yansen." Ejeknya.


Yansen mengepalkan tangannya. Dia pun bergerak dengan cepat melayangkan pukulan ke arah Drean. Keduanya pun terlibat perkelahian. Yansen maupun Drean memiliki kekuatan yang hampir setara, sehingga membuat keduanya sedikit sulit untuk mengenakan pukulannya satu sama lain.

__ADS_1


Sabila berlari menuju kamar di mana Moana berada. Dia semakin marah sekarang, rencananya kembali gagal. Padahal tadi dia sudah menaburkan obat di kopi yang di buatnya. Meski masih tak mengerti kenapa Yansen tiba-tiba mencekiknya tapi Sabila berpikir jika pria incarannya itu pasti telah mengetahui sesuatu.


...****************...


Karan dan Johan berharap akan segera sampai ketempat Drean dengan tepat waktu. Semuanya telah Karan ketahui, niat buruk Drean juga sekretarisnya. Rupanya satpam yang bekerja di perusahaan Yansen di minta untuk membeli obat per*ngsang oleh Sabila dengan imbalan yang cukup besar.


Membeli obat seperti itu sangat sulit, entah dari mana dia mendapatkannya yang jelas Johan telah berhasil membuat satpam itu mengatakan semuanya.


Karan tersenyum lega begitu melihat chat yang dikirim nya pada Yansen akhirnya bercentang biru, yang artinya bos nya telah membaca dan melihat semuanya.


"Itu rumahnya." Tunjuk Karan.


Johan pun segera memarkirkan mobilnya. Mereka bergegas keluar lalu berlari masuk kedalam rumah Drean.


Bugh...


Prang...


Tubuh Yansen terjatuh, punggungnya membentur meja hingga gelas yang ada di atasnya terjatuh kelantai. Wajahnya sudah memar akibat terkenal pukulan Drean, begitu juga sebaliknya. Kondisi keduanya tak ada yang baik. Bahkan sudut bibir Drean sampai mengeluarkan darah. Pria itu tertawa keras melihat Yansen yang nampak kesakitan.


Johan dan Karan yang melihat semua itu pun langsung berlari dengan cepat.


"Pak, tidak apa-apa?" Karan mencoba membantu Yansen berdiri.


"kamu selamatkan istriku, cari dimana dia sekarang?" Ujar Yansen, meringis kesakitan saat merasakan sudut bibirnya begitu perih.


Yansen hanya ahli olahraga bukan berkelahi. Jadilah dia kalah telak dengan Drean. Meski sama-sama kuat tapi keahlian mereka berbeda.


Di kamar, Moana masih tertidur dengan nyaman. Sabila menatapnya penuh kebencian, gadis itu telah memegang bantal sedari tadi. Niatnya ingin menutup wajah Moana menggunakan bantal itu. Tapi, hatinya tak sanggup. Ia tak sekejam itu, masih memiliki ketakutan juga rasa pedulinya terhadap sesama masih ada.


Brak...


Pintu terbuka. Sabila terkejut, gadis itu langsung berbalik untuk melihat siapa yang masuk kedalam.


"apa yang akan kamu lakukan?" Karan mendekat, merebut bantal yang di pegang Sabila.


Sabila menghembuskan nafas kasar. Gadis itu melirik Moana lalu melihat Karan.


"bawa wanita ini keluar." Ujarnya dengan suara pelan.


Karan yang merasa Sabila tak akan berbuat macam-macam pun segera mengangkat tubuh Moana. Meski sedikit khawatir nanti Yansen pasti akan marah karena dirinya telah menyentuh istrinya.


Keadaan Moana sedikit mengkhawatirkan. ia begitu terlelap hingga terlihat seperti orang pingsan. Entah berapa dosis obat tidur yang telah di berikan Sabila.


"Moana, apa yang terjadi?" Yansen yang langsung mengambil alih Moana.

__ADS_1


Pria itu mengguncang tubuhnya agar Moana terbangun. Tapi semua sia-sia, Moana diam saja. Tak ada pergerakan sedikit pun.


"Bawa Ibu Moana kerumah sakit, kami akan mengurus segalanya di sini." Tutur Karan.


Yansen pun segera berlari keluar. Ia tak boleh membuat Moana dalam bahaya. Bergegas melajukan mobilnya.


Karan menghampiri Johan yang sudah mengalahkan Drean. Pria itu terkapar di lantai di sadarkan diri. Tubuhnya yang lebih kecil dari Johan memudahkannya untuk di kalahkan.


"apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Johan.


Karan mengendikkan bahunya. Yansen tak memberi perintah apapun. Tapi, dia tahu apa yang harus di lakukan.


"kita pergi saja. lagipula sudah ada bukti kejahatannya, bisa kita gunakan untuk mengancamnya."


"baiklah." Johan meregangkan otot-ototnya. "dimana Pak Yansen dan istrinya?"


"ceritanya di jalan saja. ayo kita segera pergi."


Sabila keluar dari kamar. Berjalan dengan langkah pelan. Perasaannya tak menentu, bukan karena ia gagal mendapatkan Yansen tapi entah kenapa dirinya jadi memikirkan Moana. Seharusnya dia tak memberikan obat tidur pada wanita hamil, apalagi dengan dosis yang tinggi. Apa yang akan terjadi nanti, Sabila harap bayinya akan baik-baik saja.


Semoga kandungan Moana kuat dan semua akan baik-baik saja. Sabila tak ingin Yansen membun*hnya nanti.


...****************...


"Beberapa obat tidur memang aman untuk ibu hamil, tapi tetap saja harus berkonsultasi dahulu dengan dokter kandungan. Sebab mengonsumsi obat sembarangan bisa mempengaruhi kesehatan ibu hamil itu sendiri. Ada juga beberapa obat yang bisa melewati plasenta hingga bisa mempengaruhi janin di dalam rahim. Tapi tenang saja, istri dan bayi anda baik-baik saja." Dokter wanita itu menjelaskan dengan sangat jelas. "kenapa kamu membiarkan istrimu mengonsumsinya?" Tanya dokter itu lagi.


"maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Yansen. Dokter itu pun keluar dari ruangan lalu meminta salah satu perawat mengobati luka di wajah Yansen.


Yansen tergugu mendengarkan penjelasan dokter yang baru saja memeriksa Moana. Dirinya begitu cemas sekarang. Tangannya mengelus kepala Moana dengan lembut.


"istri anda akan baik-baik saja, beberapa jam lagi akan terbangun. karena dosis obat yang diberikan tinggi jadi dia tertidur dengan nyenyak." Jelas perawat dengan sangat ramah.


Yansen tak menjawab hanya diam saja memperhatikan wajah Moana.


"Pak, mari saya obati lukanya." Yansen langsung menepis tangan sang perawat yang hendak membersihkan luka di wajahnya. Dia tak ingin di sentuh siapa pun.


"tidak perlu."


"tapi..."


"saya bisa melakukannya sendiri."


Perawat itu pun akhirnya keluar dengan hati kesal. Menghadapi beberapa pasien memang kadang menguras kesabaran.


...***********...

__ADS_1


__ADS_2