Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 39


__ADS_3

Dua bulan berlalu. Semua masalah rasanya berlalu dengan cepat. Rada pun mulai bisa bernafas dengan lega, Gutomo sedikit demi sedikit berangsur pulih. Meski begitu, pria tua itu tetap akan menyerahkan dirinya pada polisi. Dia ingin menebus segala kesalahannya dengan berada di dalam jeruji besi. Berapa pun lamanya tak akan menjadi masalah baginya.


Jane pun mulai menerima segala kondisi yang ada. Mengunjungi Gutomo setiap di akhir pekan kerumah sakit. Awalnya Jane shock saat tahu kalau ayahnya mengalami gangguan kejiwaan dan di rawat di salah satu rumah sakit jiwa yang ada di kota.


Kehamilan Moana pun semakin terlihat, perutnya mulai membesar. Meski hubungannya dengan Yansen belum terbilang baik tapi setidaknya pria itu mulai menunjukkan sedikit rasa cintanya.


"pagi ini ada meeting lagi?" Tanya Moana, Sembari membetulkan posisi dasi Yansen.


Pria itu mengangguk, menatap layar ponselnya dengan serius. Moana menghela nafas panjang, selalu begitu. Setiap berdekatan seperti ini Yansen seperti menghindari pandangan matanya. Pria itu akan sibuk dengan benda pipih itu.


"aku mau keluar nanti. Daren.."


"tidak pria itu." Sela Yansen cepat. Ia masukkan ponselnya kedalam saku celana bahannya.


"Tapi dia..."


"apa? sudah aku katakan berkali-kali padamu. jangan temui dia lagi." Sorot mata Yansen menajam menunjukkan ketidak sukaannya.


"baiklah." Jawab Moana lesu.


Yansen meraih tangan Moana. Pandangan matanya melembut.


"dengarkan aku." Ujarnya sembari mengusap perut Moana. "kita sudah berjanji untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun, karena anak ini."


Moana mengangguk. Mereka memang sudah merubah surat perjanjian waktu dulu. Yansen sudah menerima sepenuhnya Moana sebagai istrinya.


"Malam ini jangan pulang telat." Moana menyerahkan tas kerja Yansen.


"tidak, malam ini aku akan makan di luar bersama rekan bisnisku. nanti Karan akan menjemputmu."


"aku? Pak Yansen mengajakku?" Tanya Moana senang. Ini akan menjadi pengalaman pertama baginya, makan malam di luar bersama para rekan bisnis Yansen.


Yansen mendengus, masih saja begitu. Moana tak pernah berubah.


"sudah aku katakan, jangan panggil aku seperti itu."


"Umm...mas...atau kakak? aku harus panggil apa?"


Yansen berdecak. "terserah kamu saja."


Moana terkekeh. Mengikuti Yansen yang kini berjalan keluar. Pria itu masuk kedalam mobil lalu melambaikan tangannya. Hal kecil yang mampu membuat merasa hangat.


"Moana, di luar dingin." Rada menghampiri. Memakaikan kain kepada Moana.


"ibu."


Mereka berdiri berdampingan sambil memperhatikan mobil Yansen yang semakin menjauh dan tak lama menghilang di tikungan. Kehangatan keluarga dan juga perubahan Yansen membuat Rada amat bahagia. Wanita itu memejamkan matanya, membayangkan andai saja Gutomo pun ada di sini. Pasti pria itu akan merasa bahagia.


"Jane, sudah berangkat?" Tanya Moana, yang tak melihat keberadaan gadis itu.


"Masih bergelut dengan mimpinya."

__ADS_1


"eh...ini kan hari Senin. apa ibu tak bangunkan? nanti kesiangan loh."


"ahh..kamu benar. ibu lupa." Rada langsung berlari kedalam untuk membangunkan Jane.


Moana tertawa melihatnya. Setiap pagi selalu seperti itu, Rada akan sibuk dengan Jane yang sulit untuk bangun.


...***************...


Yansen memutar matanya malas ketika melihat Sabila memasuki ruangannya. Gadis ini tak memiliki sopan sama sekali, masuk seenaknya dan selalu bertingkah centil di hadapannya.


"mana bos mu?" Tanya Yansen tanpa meliriknya sedikit pun.


"Pak Drean, masih di lobi."


"lalu?"


Sabila mengeryit. "lalu apa? aku masuk lebih dulu karena Pak Drean sedang mengobrol dengan asisten mu." Jawaban Sabila membuat Yansen menghentikan kegiatannya.


Pria itu langsung berdiri, ia harus memarahi Karan. Karena dia mengajak bicara Drean, jadi gadis ini bisa seenaknya mengganggunya.


"tunggu..." Sabila mengejar Yansen. Sengaja menyandungkan kakinnya sendiri agar terjatuh kedalam pelukan Yansen. "aaahhh..." Pekiknya.


Brugh...


Tubuh ramping dengan pakaian ***** itu pun terjatuh. Yansen sampai terkejut di buatnya.


"jalanlah dengan benar." Tegas Yansen tak peduli. Melangkah melewati Sabila yang kini terbaring di lantai. "Karan, ikut aku dan Pak Drean. Urus sekretaris mu." Cetusnya kemudian.


"Aiihh... menyebalkan." Sabila menutup wajahnya dengan malu.


"hhhmmpptt..." Karan menahan tawanya. "jidatmu memar tuh." Ucapnya lalu segera menyusul Yansen.


Drean menepuk jidatnya merasa konyol dengan apa yang telah di lakukan Sabila. Gadis itu merenggut, merasakan sakit di keningnya. Tapi yang paling menyakitkan lagi, ia terjatuh dengan tidak elitnya di hadapan Yansen. Mau di simpan di mana mukanya nanti, Sabila tak mungkin bisa menampakkan wajahnya lagi di hadapan Yansen.


"Apa yang coba kamu lakukan, Bila?"


"aku...sudahlah, tak penting."


Rencananya untuk mendapatkan perhatian dari Yansen selalu saja gagal. Sabila menjadi putus asa di buatnya.


"Jangan cemas, malam ini kita makan malam bersamanya. gunakan waktu sebaik mungkin." Tutur Drean.


Drean memang sengaja ingin menyatukan Sabila dengan Yansen. Ambisinya untuk mengalahkan pria itu amat besar. Ia tahu, jika Sabila berhasil mendapatkan Yansen maka di pastikan semua saham dan anak perusahaannya akan menjadi milik Sabila. Setelah itu hanya perlu melakukan satu permainan dan semua akan berpindah tangan kepadanya.


Sebenarnya tanpa Sabila sadari selama ini Drean hanya menjadikannya sebagai batu loncatan saja. Dia tak benar-benar ingin membantunya, semua Drean lakukan demi keuntungannya juga.


...**************...


Moana berulang kali mengganti bajunya. Merasa tak cocok karena perutnya yang mulai membesar.


"Semuanya sudah di coba." Keluh Moana, melihat gaun yang berserakan di atas kasur.

__ADS_1


"Moana, Karan sudah menjemput. apa sudah siap?" Teriak Rada.


"Belum." Moana membuka pintunya. "lihat, bajunya tak ada yang cocok. perutku..."


Rada tersenyum. "sebentar."


Moana melihat Rada masuk ke kamarnya lalu kembali dengan membawa satu gaun berwarna putih polos. Wanita itu langsung meminta Moana memakainya.


"ini gaun hamil. Akan cocok untuk mu., ibu membelinya sewaktu mengandung Jane. tapi, ini masih bagus kok."


Moana pun mengangguk setuju. Bajunya memang masih sangat bagus, warnanya pun belum pudar sama sekali. Dengan cepat Moana memakainya lalu bergegas pergi bersama Karan.


Yansen sudah menunggunya bersama rekan bisnisnya di sebuah restoran.


"Apa rekan bisnis Pak...maksudku, mas Yansen banyak?" Tanya Moana di tengah perjalanan.


Ia mendadak gugup. Takut jika dirinya akan membuat Yansen malu di depan rekan-rekan bisnisnya.


"hanya satu orang saja. ini makan malam biasa. tidak sangkutannya dengan pekerjaan." Jelas Karan.


Moana menghela nafas lega. Jika begitu ia tak perlu khawatir.


Begitu sampai, Karan langsung mengantarkan Moana kedalam restoran.


Yansen tersenyum melihatnya, Moana tampil dengan sangat cantik juga terlihat anggun. Rambutnya di gerai dan di hiasi jepitan bunga mawar. Sangat manis di pandang.


"Apa aku lama?" Moana menatap Yansen yang tak hentinya menatap wajahnya.


"tidak, duduklah." Yansen menarikkan kursi untuknya lalu tersenyum lembut.


Moana pun segera duduk. Ia tak sadar jika di meja itu tak hanya mereka berdua. Masih ada dua orang lainnya yang kini sedang melihat keduanya dengan pandangan berbeda.


Sabila meremat garpu yang di pegangnya. Menatap Moana tak suka. Sementara Drean, pria itu memicingkan matanya. Mencoba mengingat-ingat wajah Moana. Merasa pernah melihatnya tapi tak ingat di mana. Hingga akhirnya Moana pun melihat ke arahnya.


"maaf, kalian...Kak Drean?" Moana ingat begitu melihat wajah Drean.


Masih sangat jelas wajah pria yang telah mengantarkannya pulang waktu itu.


"kamu... Moana?" Drean pun sama terkejutnya.


Ia melihat Yansen dan Moana bergantian. Jadi, gadis kecil yang terus berada di pikirannya itu adalah Moana, istri dari Yansen. Drean tiba-tiba merasa jika Yansen memang sangat menyebalkan, lebih menyebalkan dari biasanya.


"kalian saling mengenal?" Tanya Sabila.


Yansen pun menatap Moana meminta penjelasan.


"waktu itu aku melihat seorang gadis berjalan sendirian di tepi jalan yang sepi." Ucap Drean, matanya tertuju kepada Yansen. "Aku rasa dia sengaja di tinggalkan."


Yansen mengepalkan tangannya. Mengingat kejadian itu kembali. Jadi Moana yang waktu itu tiba kerumah lebih dulu atas bantuan Drean.


Sabila melihat Moana dengan cepat. Jadi, gadis yang selama ini di tunggu Drean adalah Moana. Drean selalu mengatakan tak bisa melupakan sosok gadis kecil itu,sayangnya dia sudah menjadi istri seseorang.

__ADS_1


...**************...


__ADS_2