Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 60


__ADS_3

Karan menghentikan langkahnya saat mendengar suara berisik dari ruang tamu. Ia pun berjalan dengan cepat untuk melihat siapa yang sedang tertawa dengan begitu keras di sana. Apalagi saat pendengarannya menangkap suara seorang pemuda berbicara menyebut nama Jane.


"Jane..."Panggil Regard. "Jangan berdiri terus, duduklah. kamu mau menyalin tugas hari ini apa tidak?" Tawar Regard.


Jane yang sedang berdiri bersama Inggit pun langsung melihat kearah Regard. Dua gadis yang sedang asyik memberi makan ikan di aquarium itu pun tersenyum lalu duduk kembali.


"tentu saja, mana bukunya." Jane menyodorkan tangannya pada Regard.


Inggit berdeham lalu menyenggol lengan Regard. Dia tahu jika teman lelakinya ini penyimpan rasa pada Jane.


"Awal yang bagus Regard." Ujar Inggit dengan kerlingan matanya.


Regard langsung berdecak lalu menggeser duduknya menjadi lebih dekat Jane, membuat lengan mereka bersentuhan.


"nah, aku akan membacanya. kamu tulis saja." Ujar Regard menawarkan bantuan kembali.


Tentu saja Jane langsung setuju, karena akan mempermudah pekerjaannya. Jane mulai menulis dan Regard membaca kalimat perkalimat. Sementara Inggit, memainkan ponselnya.


Karan melihat tak suka kearah Regard yang nampak begitu dekat dengan Jane. Hatinya panas terasa terbakar. Hendak berjalan mendekat tapi tiba-tiba dia kembali berhenti, merasa bodoh ketika sadar bahwa perasaannya itu tak benar. Usianya sudah sangat dewasa, jauh sekali perbedaannya dengan Jane. Kenapa dia bisa menyukai gadis kecil itu.


Maka dengan sekali tarikan nafas, Karan pun mencoba bersikap sewajarnya. Mengubur rasa kesalnya melihat Regard yang seperti sengaja mendekati Jane.


"Jane, Dimana Yansen?" Tanyanya langsung tanpa menyapa terlebih dahulu.


Karena cemburunya, Karan jadi tak bisa bersikap ramah. Tetap saja dia kesal dan ingin sekali mengusir Regard sekarang.


Jane mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lebar saat melihat Karan. Inggit dan Regard pun berdiri dari duduknya, keduanya langsung tersenyum sopan kepada Karan.


"Kakak di kamar. Kak Karan ada perlu apa? biar aku panggil kak Yansen."


"hanya ingin memberikan berkas-berkas ini saja." Karan memperlihatkan map coklat yang di pegangnya.


"baiklah, aku akan panggil kakak dulu. kalian tunggu ya sebentar?" Ucapnya pada Inggit dan Regard yang di jawab anggukan oleh keduanya.

__ADS_1


Karan duduk di kursi, kakinya menyilang. Matanya menatap Regard yang nampak biasa saja.


"Kalian teman Jane?" Tanyanya.


Inggit mengangguk sementara Regard hanya tersenyum saja. Entah kenapa perasaannya mendadak tak enak, apalagi saat tatapan Karan terus tertuju kearahnya. Sementara Inggit hanya diam, gadis itu pun merasa tak nyaman karena keberadaan Karan.


Karan seperti guru yang sedang menghukum mereka saja. Auranya terlalu menakutkan bagi kedua siswa SMP itu.


"kak, kak Yansen bilang langsung ke ruang kerja saja." Jane kembali.


Regard dan Inggit pun menghembuskan nafas lega. Apalagi saat melihat Karan beranjak dari duduknya dan pergi dari sana. Keduanya langsung menarik tangan Jane untuk segera duduk.


"dia itu siapa sih?" Tanya Inggit.


"kak Karan. dia itu orang kepercayaan kakak aku. kenapa? naksir ya?" Goda Jane seraya mencolek dagu Inggit.


"gila kamu. aku justru ketakutan setengah mati tahu. wajahnya itu loh, datar banget. apalagi tatapan matanya, iiih...serem. kayak guru matematika." Seru Inggit bergidik.


Regard pun tersenyum mendengarnya lalu menimpali.


Jane tertawa melihat kedua temannya yang begitu ketakutan dengan Karan. Padahal menurutnya, Karan itu biasa saja. Tak ada aura-aura menyeramkan sama sekali. Bahkan jika boleh jujur, Jane selalu merasa nyaman juga hangat ketika bersama Karan. Pria dewasa itu selalu bisa menghiburnya di saat sedih dan menemaninya di saat bahagia. Selalu bisa menyeimbangkan diantara keduanya.


...************...


Sammy meletakkan kue yang di bawanya di atas meja makan. Suasana rumah yang begitu luas dan sangat besar itu nampak sepi seperti biasanya. Hanya ada beberapa pekerja saja yang terlihat berlalu lalang.


"Den, sudah pulang? mau makan siang apa?" Seorang wanita paruh baya berlari tergopoh-gopoh kearahnya.


Wanita itu pun langsung membungkukkan badannya begitu berada tepat di hadapannya. Sammy menghela nafas panjang.


"Bibi tak perlu repot. siang ini aku makan kue ini saja." Jawab Sammy. "bawa ke kamarku dan sisanya bagikan pada semua orang."


Sammy pun langsung meninggalkan ruang makan setelah mengatakan itu. Pemuda berwajah bule itu berjalan dengan cepat menaiki tangga, wajahnya amat datar seolah tak ada ekspresi sama sekali.

__ADS_1


Warni, nama wanita paruh baya itu. Usianya sudah 46 tahun. 25 tahun dia bekerja di sini, dari Sammy belum lahir. Ia hafal sekali setiap jengkal rumah super besar ini. Bahkan semua letak barang juga sudut-sudutnya dia ingat tanpa harus membuka matanya.


Sammy pun dirinya yang mengasuh. Dari lahir hingga saat ini pemuda itu berusia 12 tahun. Warni merasa kasihan juga sangat menyayangi Sammy. Pasalnya, selama 12 tahun ini pemuda itu tak pernah dekat dengan orangtuanya. Mereka terlalu sibuk bekerja, di rumah hanya ketika sedang perayaan besar saja. Seperti tahun baru dan hari-hari besar lainnya. Itu pun tak lama, hanya 2-3 hari saja.


"ya...ampun." Warni terenyuh ketika membuka kotak kue berukuran cukup besar itu.


Melihat nama Sammy tertulis di atas kue itu membuat hatinya merasa sesak. Dari kecil, Sammy tak pernah merayakan ulang tahunnya karena selalu menolak. Pemuda itu beralasan, tak ingin di rayakan karena ibu dan ayah tak ada. Memang benar, setiap di hari kelahirannya mereka tak pernah memiliki waktu untuk sekedar merayakan.


"aku sampai lupa kalau hari ini Den Sammy berulang tahun." Setetes air mata membasahi pipinya.


Warni merasa sangat sedih. Ia pun segera memanggil semua pelayan yang ada di rumah itu. Cukup banyak, ada 7 pelayan di sana.


"Kalian bantu saya ya?" Pintanya. "tolong buatkan makanan spesial untuk Den Sammy. Hari ini Den Sam, ulang tahun."


Mereka pun mengikuti apa yang di katakannya. Warni memang paling senior di sini, bahkan orangtua Sammy mempercayakan segalanya pada Warni.


Sammy membuka baju seragamnya, lalu menggantinya dengan kaos biasa. Dia menatap wajahnya di cermin.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Hanya sorot matanya yang tajam. Entah apa yang dia pikirkan sehingga raut wajahnya begitu marah dan tangannya terkepal kuat.


"Regard, lihat saja." Desisnya penuh kebencian.


Rupanya dia kesal terhadap Regard karena pemuda itu telah berani menantangnya di sekolah tadi dengan mengatakan bahwa dia berniat memacari Jane. Ada rasa marah dan tak suka di hatinya.


Sammy mungkin selalu bertingkah buruk pada Jane, tapi itu sekedar untuk menutupi hatinya yang selalu merasa tak nyaman ketika berdekatan dengan gadis itu. Sammy hanya berusaha menyangkal perasaannya dengan alasan Jane itu tak pantas untuknya.


Dirinya siswa terpintar juga merupakan teladan bagi murid yang lain. Nilainya yang selalu tinggi, disiplin juga tak pernah bolos itu menjadikan Sammy murid terbaik di sekolah.


Sementara Jane hanya siswa biasa. Tak terlihat jika berada di kerumunan siswa lainnya. Tak begitu aktif disekolah bahkan Jane tak mengikuti ekskul apapun sehingga namanya pun tak banyak di kenal di sekolah itu.


Itulah yang membuat Sammy menolak cinta Jane waktu itu. Berpikir jika Jane terlalu kecil sementara dirinya sangat besar. Perbandingan yang sangat mencolok. Sammy hanya tak ingin menjadi pembicaraan di sekolah nanti jika dirinya sampai menerima cinta Jane.


...************...

__ADS_1


Maaf jarang update karena sedikit kurang sehat.


__ADS_2