
Yansen tak ingin bertindak gegabah untuk saat ini. Nyawanya bisa saja melayang dalam hitungan detik jika dia melawan Drean. Begitu juga Karan, hanya diam sembari mengangkat tangannya ke atas. Persis seperti yang di perintahkan Drean.
"Hummm... ternyata kalian takut mati juga?" Kekeh Drean puas melihat wajah tegang Yansen dan Karan.
Siapa juga yang akan tenang jika berhadapan dengan seorang pria yang sedang memakai senjata api.
"Katakan, siapa yang ingin mati terlebih dahulu?" Tanya Drean, menggerakkan senjatanya kearah Karan. Lalu menarik pelatuknya.
Karan sampai menelan ludah, keringat sebiji jagung membasahi pelipisnya. Ini adalah hal yang paling menakutkan baginya, selama hidup tak pernah sekalipun berhadapan dengan kematian seperti ini.
Yansen terus memutar otaknya, dia harus mencari cara untuk mengulur waktu hingga polisi tiba. Bagaimana pun juga Karan tak boleh sampai terluka apalagi kehilangan nyawanya.
"aku minta maaf jika selama ini telah menyakitimu." Ucapan Yansen membuat Drean menurunkan tangannya.
Menatap dengan Yansen dengan kening berkerut lalu kemudian berdecih keras.
"Sudah terlambat." Teriaknya. "kamu mengambil semua perhatian orang dan merebut gadis yang aku cintai."
"aku tidak pernah bermaksud begitu, mereka saja yang..."
"Cukup!" Seru Drean, kembali mengacungkan senjatanya. Kali ini di arahkan kepada Yansen.
"Jika Amara yang kamu maksud, aku tak pernah menerima cintanya. Salah mu sendiri kenapa tak pernah mencari tahu apa aku dan Amara telah berpacaran atau belum. Lagipula, sekarang aku sudah memiliki istri. Tak penting lagi soal Amara atau dirimu."
Yansen sungguh merasa kesal kepada Drean. Kenapa pria ini bisa membencinya hingga seperti ini hanya karena masalah disaat-saat mereka bersekolah. Itu masa lalu yang sudah sangat lama, bahkan Yansen sendiri hampir lupa jika Drean tak mengingatkannya.
"kenapa kamu selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Moana...aku ingin gadis itu." Ucapan Drean membuat Yansen dan Karan saling melemparkan tatapan.
"Kamu gila, dia istri ku." Yansen berujar dengan penuh penekanan.
"aku tidak peduli." Kekeh Drean. "jika kamu mati, maka Moana akan menjadi milikku."
Amarah Yansen terpancing. Ia hendak maju untuk menghajar Drean, tapi Karan dengan cepat menahannya. Apa Yansen gila, ingin melawan orang yang bersenjata.
"hahahhaha... kenapa diam? kamu takut?" Ledeknya dengan suara tawa yang keras.
Yansen mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dadanya naik turun menahan emosi. Jika saja ada kesempatan untuk merebut senjata itu, pasti akan dia lakukan secepatnya.
Drrrtt...Drrrtt...
Drean berdecih saat ada telpon masuk. Menganggu kesenangannya saja. Dia merogoh sakunya lalu segera mengangkat telpon itu.
"Ada apa Bila? kamu mengganggu saja." Bentaknya.
Melihat Drean yang lengah karena tengah mengangkat telpon membuat Karan langsung memberikan kode kepada Yansen. Mereka bergerak perlahan lalu berhitung tanpa suara.
Grep...
Bugh...
"Aaahh..." Drean tersungkur kelantai dengan keras.
Karan merebut senjatanya sementara Yansen memukul pria itu dengan keras tepat di rahangnya. Ponsel Drean pun sampai terlempar jauh.
__ADS_1
"Kalian..."
"apa? sekarang bangun dan angkat tanganmu?" Karan menodongkan senjatanya ke arah Drean.
Keadaan telah berbalik. Kini Drean telah kehilangan senjatanya. Ia hanya bisa melakukan apa yang di perintahkan Karan. Mengumpat dalam hati, semua karena Sabila. Jika gadis itu tak menelponnya maka perhatiannya tak akan lengah.
Yansen memasukan tangannya kedalam saku celana. Berjalan memutari Drean.
"Drean, aku tak pernah menganggapmu musuh ku. Tapi, karena dirimu yang selalu menganggapku sebagai lawan, maka mau tak mau aku pun bersikap begitu." Ujarnya. "Kita hanya bersaing di saat sekolah dulu, kenapa sampai menyimpan kebencian begitu dalam."
Tok...Tok...
Terdengar ketukan pintu berulang kali lalu seseorang berteriak dari luar.
"Kami polisi, buka pintunya."
Akhirnya yang di tunggu pun datang. Karan langsung membuka pintunya. Tiga polisi masuk kedalam.
"ini senjata yang di bawanya." Karan menyerahkan senjata itu kepada polisi.
"Terimakasih atas kerja sama nya. Bapak tak terluka?"
"tidak. Aku harap dia mendapatkan hukuman yang setimpal." Ujar Karan. "Dan ini bukti-bukti kejahatannya, ada di dalam."
"baik."
Drean tak melawan atau pun mengucapkan sepatah katapun. Pria itu hanya diam saat tangannya di borgol. Matanya menatap Yansen begitu tajam.
"Aah...aku pikir akan mati dalam keadaan bujang." Kekeh Karan seolah itu lucu.
Sabila menatap ponselnya dengan bingung. Ada apa dengan Drean, kenapa telponnya tiba-tiba mati. Gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa.
"di mana Drean, kenapa tak ada di rumah." Cetusnya.
Drrrt...
Sabila langsung bangkit saat ada panggilan masuk. Berpikir sejenak sebelum mengangkatnya karena nomor itu tak ia kenal.
"halo..."
Seketika Sabila pun terkejut. Drean menelponnya dan mengatakan jika saat ini ada di kantor polisi. Dengan cepat Sabila pun segera pergi untuk menemuinya.
Hatinya sungguh cemas dan takut. Bagaimana keadaan Drean sekarang.
...************...
Moana dan Rada sudah menyiapkan semuanya. Mereka cukup merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati teh hangat dengan kue kering.
"Baru jam 5, masih lama." Rada melihat jam lalu duduk di samping Moana.
"iya, aku sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan mereka."
"ibu juga, terakhir bertemu saat kamu dan Yansen menikah."
__ADS_1
Moana mengelus perutnya. Dua bulan lagi bayi ini akan lahir, tak sabar rasanya.
"Mas Yansen menginginkan anak perempuan, katanya biar mudah di atur." Moana ingat saat Yansen mengatakan keinginannya untuk memiliki seorang anak perempuan. "tapi, bagiku mau perempuan atau pria. Tak masalah."
"iya. yang terpenting anak kalian sehat dan tak kurang apapun."
Moana mengangguk setuju. "Bulan depan aku mau cek up sekalian melakukan USG."
"ibu ikut ya?"
"iya. aku ingin Mak dan ibu ikut."
Kebahagiaan seperti inilah yang selalu Moana impikan. Dan pada akhirnya semua menjadi kenyataan.
Suara deru mobil terdengar di halaman rumah. Moana dan Rada pun bergegas, mengira jika orangtuanya telah tiba.
"loh, mas Yansen?" Seru Moana, saat melihat Yansen keluar dari mobil.
Pria itu nampak lesu. Berjalan dengan langkah pelan menghampirinya.
"ada apa Yansen?" Tanya Rada. "Kamu seperti banyak masalah."
Karan keluar, pria itu langsung berbicara.
"Di perusahaan terjadi masalah besar tadi."
"apa?" Moana dan Rada sampai terkejut.
Karan pun menjelaskan semuanya. Moana bersyukur karena Yansen tidak terluka sedikitpun.
"mas, baik-baik saja kan?" Tanyanya khawatir.
"mm...mas tak apa."
Moana dan Yansen pun segera masuk kekamar. Sementara Karan kembali pamit, dia harus ke kantor polisi untuk memberikan beberapa keterangan.
Di kantor polisi...
Drean duduk dengan diam. Tak mengatakan sepatah katapun, tak membantah ataupun mengakui kejahatannya. Membuat petugas yang mengintrogasi nya sedikit kesal.
"Pak, setidaknya jawab iya atau tidak." Kata petugas itu telah kehilangan kesabarannya.
"Drean..." Sabila yang duduk di sampingnya hanya memandang Drean dengan sedih.
Ia tak mengharapkan semua ini terjadi. Dari kecil Drean selalu di abaikan orangtuanya. Hidup tanpa rasa bahagia. Makanya Drean akan sangat benci ketika melihat seseorang yang lebih beruntung darinya. Berkeinginan menghancurkan hidup nya dan tentu saja merebut segalanya.
"Maaf, sedikit terlambat."
Sabila langsung melihat kearah kanan saat mendengar suara Karan. Gadis itu berdiri lalu berjalan mendekatinya.
"Kenapa kalian tega melaporkan Drean?" Matanya merah penuh emosi.
Karan hanya mengendikkan bahunya. Dengan santai dia berjalan melewati Sabila lalu duduk. Sekilas melirik Drean lalu kembali melihat petugas yang akan bertanya kepadanya.
__ADS_1
Sabila tak bisa berbuat banyak, ini di kantor polisi. Ia tak bisa berteriak ataupun memaki Karan untuk saat ini.
...**************...