Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 25


__ADS_3

Yansen hanya di rawat satu malam saja, seharusnya hari ini belum bisa pulang karena luka jahitnya belum benar-benar kering. Tapi pria itu tetap ngotot hingga membuat dokter dan beberapa perawat yang ada di kamarnya pun menyerah membujuknya. Lagipula Yansen bukan seorang pasien anak kecil, susah membujuk pria dewasa seperti itu.


"Urus semuanya." Titah Yansen pada Moana. Pria itu pun berbalik memunggunginya.


Moana hanya menghela nafas lalu segera mengurus segalanya agar Yansen bisa cepat-cepat keluar pagi ini juga. Yansen melirik pintu yang baru saja di tutup Moana, sebenarnya dia memiliki alasan kenapa ingin pulang. Hatinya tak tenang semalaman ketika mendapatkan kabar dari Karan jika Alea telah menghilang.


Pria tampan ini tak bisa diam saja. Ia harus segera menemukan kekasihnya kembali. Yakin jika orang-orang yang mencoba melukai Alea pasti berkeliaran saat ini. Tangannya mengepal kuat ketika ia ingat kejadian bulan lalu, Alea sengaja di tabrak sebuah mobil dan semua atas perintah Gutomo.


Selama ini ia mencoba untuk tidak menanyakan hal itu pada Gutomo, kenapa berusaha melenyapkan Alea. Yansen butuh bukti yang lebih akurat lagi. Dia juga yakin jika penyerangan di malam hari yang menyebabkan dirinya terluka pun pasti ulah ayahnya kembali. Dan kali ini Alea menghilang apa masih ada hubungannya dengan sang ayah.


Tangannya mengepal erat. Yansen tak bisa tetap diam sekarang, ia harus bertanya kepada Gutomo secara langsung. Ayahnya sudah sangat keterlaluan.


Moana duduk sebentar ketika merasakan perutnya mual di tambah kepalanya sedikit pusing. Yansen benar-benar tak perhatian, sudah tahu dirinya tengah hamil muda malah di perintah melakukan ini dan itu.


"Di pikirannya hanya ada Alea. Dari semalam terus saja menanyakan kabar gadis itu. apa aku memang tak pantas di perhatikan?" Keluh Moana. "Baby, kita ke rumah nenek Sarah ya nanti. ibu ingin mengadu banyak pada ibu Sarah."


Moana jadi teringat dengan Sarah. Sudah lama sekali dia tak menemui wanita itu. Kesibukannya mengurus rumah juga kesibukan Sarah di rumah makannya membuat keduanya jadi sulit bertemu.


Dengan lemas Moana kembali bangun dari duduknya, ia harus segera kembali menemui Yansen. Pria itu pasti sudah menunggunya.


"Semuanya sudah selesai, tinggal menunggu dokter melepaskan infusnya." Ucap Moana, duduk di kursi dengan tampan kusut.


Perutnya sungguh terasa di aduk, pagi-pagi sudah di buat lelah padahal belum makan apapun. Ini sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Moana sungguh lapar juga merasa mual di waktu bersamaan.


Yansen yang memperhatikan raut wajahnya sedari tadi hanya membuka mulutnya tanpa suara lalu kembali diam. Pria itu ingin menanyakan keadaan Moana tapi rasa gengsinya terlalu besar. Hingga memilih untuk tetap tak peduli. Terus mencoba menghubungi Alea kembali yang kini sudah tak lagi bisa di lacak berada di mana. Nomornya selalu berada di luar jangkauan.


"Dari semalam aku belum makan? apa Bapak tahu itu?" Tanya Moana akhirnya, kesal juga karena Yansen terus sibuk dengan gadget nya.


Yansen meletakkan ponselnya lalu menatap wajah Moana. Ia tahu itu, tapi berusaha bersikap acuh.


"Lalu kenapa tak makan?"


Dengusan keras Moana sebagai jawaban membuat Yansen mengerutkan keningnya.


"Kenapa? kamu bisa kekantin dan makan di sana bukan?" Ucap Yansen lagi.

__ADS_1


"Kekantin? mana aku tahu ada kantin di rumah sakit ini." Dengusnya sebal. Moana menggerutu sendiri di dalam hati, beginilah jika terlahir sebagai orang yang tak tahu apapun. Bahkan soal kantin di rumah sakit saja ia tak tahu.


Yansen memutar matanya.


"Setiap rumah sakit memiliki..."


"iya aku tahu. sudahlah, aku mau istirahat sebentar." Sela Moana kesal. Dari semalam Yansen terus saja mengkhawatirkan Alea hingga dirinya yang ada disini tak di hiraukan.


Moana tahu, keberadaannya tak lebih penting dari Alea. Tapi setidaknya hargailah dirinya.


Yansen terdiam, memperhatikan Moana yang kini memejamkan matanya. Gadis itu tidur dengan posisi duduk. Menghela nafas panjang lalu segera mengirim pesan pada Karan, meminta pria itu untuk membawakan makanan.


...******************...


Rada masih terduduk di tepi ranjang. Kenyataan pahit yang baru di ketahuinya tadi malam sungguh membuatnya shock. Tak menyangka jika Gutomo benar-benar sekejam itu. Pria itu mengakui semua kejatahannya selama ini, ia telah melenyapkan seorang wanita 25 tahun yang lalu dan lebih parahnya sekarang dia berusaha melenyapkan putri dari wanita itu.


Yang tak lain adalah Alea, putri Gutomo sendiri. Rada kembali terisak, kenapa harus begitu rumit. Yansen mencintai gadis yang seharusnya menjadi adik tiri itu. Apa yang akan terjadi jika Yansen mengetahui kenyataan ini.


"Ibu... kenapa masih di dalam?" Teriak Jane dari luar kamar. Ketukan pintu semakin keras terdengar.


"Ada apa Jane?"


"ibu kenapa? menangis?" Tanya Jane begitu melihat mata Rada yang bengkak juga merah.


"Ibu hanya sakit kepala saja. Ada apa? kamu tidak sekolah?"


"loh, ibu lupa? kita harus kerumah sakit untuk melihat kak Yansen. Kak Moana pasti sudah lelah di sana semalaman."


"Ya Tuhan." Rada baru sadar jika kemarin berjanji pada Moana akan kembali kerumah sakit untuk bergantian menjaga Yansen. "kalau begitu ibu mandi dulu ya."


"iya Bu."


Jane menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibunya. Gadis kecil ini sengaja izin tak masuk untuk menemani Rada karena Gutomo pagi-pagi sekali sudah berangkat entah kemana. Pria tua itu memintanya untuk menemani Rada kerumah sakit, padahal tanpa di minta pun Jane pasti melakukannya.


"Sebenarnya ada apa dengan ibu dan ayah. akhir-akhir ini mereka terlihat tak baik." Gumam Jane yang merasakan adanya kejanggalan di antara kedua orangtuanya.

__ADS_1


Meski dari dulu Rada dan Gutomo tak silang banyak bicara tapi belum pernah Jane melihat ibunya semurung tadi. Bahkan sudah seminggu ini ia sering memergoki ibunya tengah menangis diam-diam.


...****************...


"Jo, kamu tetap cari Alea. aku akan kerumah sakit sebentar." Seru Karan pada Johan yang sedang menyetir.


"oke. aku antar atau turun di sini saja?"


"di depan sedikit, aku harus beli beberapa makanan."


Johan pun segera menghentikan mobilnya begitu tiba di sebuah rumah makan. Pria itu melambatkan laju mobilnya ketika melihat Karan melambaikan tangannya.


"cih...pakai acara seperti itu segala, geli rasanya." Decih Johan.


Ia kembali meminta beberapa orang dari kepolisian untuk mencari Alea, menyebarkan beberapa foto gadis itu di media sosial. Berharap usahanya untuk menemukan gadis itu berhasil. Untuk menebus kesalahannya tadi malam yang tak bisa menyelamatkan gadis itu.


Sekilas dia melihat seorang pria malam itu tengah menyeret paksa gadis kedalam mobil, tapi tanpa rasa curiga sedikitpun ia terus saja melajukan mobilnya. Meski sebenarnya dia sedikit familiar dengan sang gadis. Menurutnya mirip sekali dengan Alea, tapi di tepisnya begitu saja. Hingga mereka pun tiba di rumah Alea, keadaan rumah sungguh sepi dan sedikit berantakan. Pintu sudah terbuka dan ada bercak-bercak darah di lantai. Detik itu lah Johan sadar dan yakin jika gadis di sebrang jalan tadi memang Alea.


Yansen menarik nafas dalam-dalam, hatinya resah karena belum mendapatkan kabar tentang kekasihnya tapi tak secemas ketika melihat Moana. Gadis itu tiba-tiba terbangun dan berlari kedalam toilet yang ada di kamar itu dan muntah dengan keras hingga terdengar jelas olehnya.


Yansen ingin menghampirinya dan melihat keadaannya, tapi lagi-lagi gengsi itu menguasai pikirannya.


Terlebih ketika hendak akan turun dari ranjang, seorang perawat masuk untuk melepaskan infusnya. Maka Yansen kembali diam, hanya sesekali melirik pintu yang masih tertutup rapat. Hatinya gusar ketika Moana tak kunjung juga keluar.


"Pak, anda boleh pulang sekarang." Seru seorang perawat membuyarkan lamunannya.


"ahh...iya."


Ketika perawat itu keluar Yansen buru-buru berdiri dan mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.


"hei...Buk....kka..." Tangan Yansen menggantung di udara, untung saja refleksnya bagus sehingga kepala Moana tak terketuk olehnya.


"apasih? Bapak kebelet?" Tanya Moana. Gadis itu nampak baik-baik saja, wajahnya basah. Sepertinya baru saja mencuci muka.


Yansen berdeham pelan, tak ingin jika Moana tahu kalau sebenarnya dia mencemaskannya dan berpikir terjadi apa-apa padanya.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2