Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 40


__ADS_3

Makan malam berlangsung dengan sangat cepat. Yansen tak suka saat Drean memandang wajah Moana, matanya yang terlihat menyiratkan sesuatu itu membuat darahnya mendidih. Maka dengan cepat dia pun memutuskan untuk kembali pulang, dengan alasan Moana tengah hamil. Tak baik jika harus di luar malam-malam terlalu lama.


"Selamat malam, Pak." Sabila mengelus lengan Yansen dengan harap pria itu bisa membalas ucapannya.


Moana mendelik tajam. Langsung mengamit tangan kanan Yansen.


"aku mau pulang." Rengeknya.


"baiklah, ayo." Yansen mengabaikan Sabila begitu saja membuat gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Dia pandang Moana dengan penuh kebencian. Kenapa harus seperti ini, padahal dia ingin mendapatkan Yansen tanpa hambatan sedikitpun.


"sudahlah, kita juga pulang." Drean menyeret Sabila masuk kedalam mobil.


"Dre, itu gadis yang kamu maksud bukan?"


Drean menghela nafasnya.


"Humm... sepertinya sampai kapanpun Yansen akan selalu di atasmu. bahkan dia lebih dulu mengenalnya." Kompor Sabila, berharap Drean akan melakukan sesuatu untuk memisahkan keduanya.


Dengan begitu akan menjadi keuntungan juga baginya. Drean melirik Sabila, seringai muncul di bibirnya. Ia sudah memikirkan cara yang tepat untuk menarik perhatian Moana.Tak peduli bahwa Moana sudah menikah dan tengah mengandung saat ini. Ia akan menerimanya dengan senang hati.


Di dalam mobil, Moana menyenderkan kepalanya kebahu Yansen. Ia tahu jika suaminya saat ini tengah dalam mood yang buruk.


"apa kamu marah? karena aku tak mengatakan soal kak Drean yang mengantarkan ku waktu itu."


Yansen melihat keluar jendela mobil. Bukan karena hal itu, tapi Yansen hanya tak mau dan tak suka saat seseorang memandang Moana dengan pandangan yang memuja. Hanya dirinya yang boleh melakukan itu.


Karan langsung menyumpal telinganya dengan headset. Dia tidak ingin menjadi pendengar diantara perdebatan bos dan istrinya.


Melihat hal itu Moana langsung tersenyum, Karan memang sangat pengertian pikirnya.


"Kenapa tersenyum?"


"Pak Karan, lucu sekali." Kekeh Moana.


Yansen langsung menangkup wajah Moana. Pria itu juga tak suka mendengar Moana memuji pria lain di hadapannya.


"apa? lucu kamu bilang?"


"issh...memangnya kenapa." Seru Moana, menepis tangan Yansen dari wajahnya.


Yansen membuang pandangannya kembali keluar. Kenapa dia bisa jadi seperti ini, padahal dulu tak pernah sedikitpun peduli terhadap Moana. Tapi setelah ia memutuskan untuk menetapkan hatinya hanya untuk Moana, rasa cemburu terus menguasainya.

__ADS_1


...*************...


Drean tak bisa berhenti membayangkan wajah Moana. Dimatanya Moana sangat cantik. Penampilannya saat makan malam tadi sungguh menarik perhatiannya. Berbeda dengan Moana yang dia temui di jalan waktu itu, kali ini Moana terlihat begitu anggun dan juga dewasa. Membuat Drean semakin terobsesi untuk mendapatkannya.


"Bila, kamu dekati Yansen dan aku akan mendapatkan Moana."


Sabila menyilangkan kakinya, menatap Drean dengan pandangan remeh. Pria ini dari dulu selalu ingin sekali menang dan berusaha melebihi Yansen. Tapi, tak pernah sekalipun berhasil. Bahkan di dalam hal bisnis sekalipun, Drean jauh tertinggal dibelakangnya.


"apa kamu yakin? aku rasa itu akan sulit bahkan ku rasa sangat amat sulit."


Drean berdecih, mencengkram dagu Sabila dengan kuat hingga gadis itu meringis merasakan kuku pria itu menancap di kulitnya.


"kamu meremehkan aku?"


"Sudahlah, aku juga tahu. Yansen pasti bisa aku dapatkan bagaimana pun caranya." Sabila menepis tangan Drean.


Drean itu sangat menakutkan. Bibirnya selalu tersenyum dan kata-kata yang diucapkannya pun amat manis. Tanpa orang tahu kalau semua itu hanyalah topeng belaka. Di balik senyum dan tutur kata sopannya tersimpan sejuta rahasia yang bisa membunuh siapa saja.


Moana menarik nafas berulang kali. Perasaannya sungguh tak nyaman. Melihat Yansen yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mas..." Panggilnya dengan pelan.


Yansen meletakkan handuk kecil bekas mengeringkan rambutnya. Pria itu berjalan mendekati Moana yang berdiri di depan jendela kamar.


"kenapa kamu tak menutup gordennya dan apa tak ingin ganti baju?" Yansen menutup gordennya lalu menarik Moana untuk duduk di atas kasur.


"ada apa? ada aku di sini. jangan mencemaskan apapun. tidurlah." Yansen memeluk tubuh Moana. Mereka tidur dengan posisi saling berhadapan.


Moana menatap wajah Yansen begitu pula sebaliknya.


"Mas, apa kamu benar-benar mencintaiku atau..." Moana mengigit bibirnya.


"atau apa? apa kamu ragu?" Tanya Yansen.


Moana mengangguk. Kegelisahannya selama ini harus dia utarakan agar hatinya menjadi tenang. Mungkin perasaannya mendadak resah karena Moana masih berpikir jika Yansen terpaksa menerimanya karena Alea sudah tidak ada lagi.


"karena sekarang Alea sudah tidak ada, jadi mas tak punya pilihan lain." Cicit Moana jujur.


Yansen mengelus pipi Moana. Gadis ini selalu berkata apa adanya. Itulah kenapa ia bisa tertarik juga mencintainya sekarang. Meski usia mereka jauh berbeda tapi Yansen merasakan kecocokan yang begitu jelas terlihat.


"Apa kamu ingin tahu sesuatu?" Tanya Yansen. "sebenarnya Alea adalah putri ayah. itulah alasan kenapa ayah begitu menentang hubungan kami."


"apa?" Moana terkejut mendengarnya. Dia tak menyangka jika hubungan Yansen dengan Alea begitu rumit.

__ADS_1


Moana sampai meneteskan airmata nya saat Yansen menceritakan semuanya. Nasib malang Alea yang telah terjadi sedari gadis itu kecil.


Selama ini Moana hanya tahu jika Gutomo mengalami gangguan mental dan telah membunuh seseorang, tidak tahu jika orang itu adalah Alea. Jane pun begitu. Moana dan Jane mendengar cerita yang sama dari Rada.


"jadi ibu menutupi siapa Alea sebenarnya dari Jane?"


"ya, karena ibu tahu. Jane pasti akan lebih terpukul jika tahu ayah memiliki anak lain."


Moana mengerti. Ia peluk erat tubuh Yansen. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Dalam doanya sebelum tidur, Moana berharap Alea tenang di sana.


...************...


"Bu, aku mau ke perpustakaan kota sepulang sekolah."


"untuk apa?"


"tentu saja untuk mencari buku. aku harus menulis beberapa karangan tentang lingkungan hidup yang sehat."


"tidak perlu kesana, kamu bisa mengarang bebas di rumah."


"ibu ayolah..."


Moana tertawa mendengar perdebatan ipar dan mertuanya di meja makan. Ia meletakkan telor dadar juga goreng kentang di atas meja keduanya.


"Aku juga akan keluar siang ini, Bu." Ujar Moana, menarik kursi lalu duduk.


"kemana?" Rada dan Jane bertanya bersamaan.


"Membeli beberapa baju, lihat perutku yang mulai besar."


"ah...sudah izin Yansen?" Tanya Rada.


"tentu saja, Mas meminta Karan menemani ku. Jadi.. Jane bisa ke perpustakaan kota bersama ku nanti." Moana mengerlingkan matanya ke arah Jane.


"Nah...itu baru benar. boleh ya Bu?" Rengek Jane.


Rada tak bisa menolak jika begini, lagipula akan ada Karan yang menjaga keduanya. Wanita itu pun mengangguk setuju.


"Yansen belum bangun?" Tanya Rada baru sadar kalau Yansen tidak ikut bergabung sarapan dengan mereka.


"mas berangkat pagi-pagi sekali, katanya ada meeting bersama klien dari luar negeri." Jelas Moana.


Disisi lain, Drean tengah menyetir dengan konsentrasi. Pria itu akan mengunjungi salah satu mall yang telah dia dirikan beberapa tahun ini. Akan melihat seramai sebagus apa para karyawannya bekerja.

__ADS_1


Mall itu tak terlalu besar tapi cukup menarik perhatian peminatnya karena letak juga bangunannya yang unik. Drean pun akan melakukan survei terhadap toko yang baru saja di buka dua bulan lalu, toko baju khusus ibu hamil dan juga semua peralatan bayi lengkap ada di sana.


...****************...


__ADS_2