
Moana dan Jane asyik tertawa sembari menikmati kue yang kemarin di beli Karan. Bercerita banyak tentang kehidupan Moana sewaktu di kampungnya. Jane merasa tertarik sekali karena menurutnya kehidupan Moana sungguh berbeda dengannya.
"Waaah...kak Moana hebat. sekolah sambil jualan kue kering. apa tak malu kak?" Pertanyaan Jane membuat Moana tertawa.
"Untuk apa malu, kita tidak mencuri tapi mencari uang halal."
"ah...benar juga. tapi kalau aku jadi kakak, pasti tidak mau karena gengsi."
Yansen yang baru saja di rumahnya langsung menajamkan pendengarannya ketika mendengar suara Jane dan juga Moana.
"tunggu...Moana?" Serunya. Yansen merasa tak mengerti, kenapa tak hanya wajahnya sekarang justru suaranya pun terdengar olehnya.
Dengan cepat dia melangkah masuk kedalam untuk memastikan apa pendengarannya salah atau tidak.
"hahaha... sudah-sudah Jane. perut ku sakit dari tadi tertawa." Moana memegangi perutnya.
Jane bertingkah begitu lucu hingga membuatnya tak bisa berhenti tertawa.
"begini ya, kamu enak-enakan dirumah. Tertawa dan apa ini...kue? sementara aku di luar sana mencarimu, cemas dan juga takut."
Moana yang mendengar suara Yansen menggerutu langsung berdiri. Menelan kue yang baru di kunyah beberapa kali itu dengan susah.
"Salah sendiri, kenapa kakak meninggalkan kak Moana." Seru Jane. "ayo kak Moana."
Moana mencebikkan bibirnya ke arah Yansen. Dia ingin sekali memukul kepalanya jika saja tak takut pria itu marah nanti.
"Bapak yang pergi meninggalkanku jadi jangan salahkan aku." Cetus Moana.
"apa? tunggu...hei..aku belum selesai bicara." Teriak Yansen.
Moana tak peduli, dia terus berjalan mengikuti langkah Jane yang memasuki kamarnya.
Karan dan Johan hanya diam melihat bagaimana bos nya itu di buat kesal oleh seseorang. Selama ini tak ada yang berani melakukan hal itu kepadanya. Bahkan setahu mereka, Rada pun yang jelas ibu dari Yansen sering mengalah terhadapnya.
"wanita itu benar-benar menguji kesabaranku." Decihnya.
Di kamar, Jane dan Moana bertos ria. Mereka senang karena bisa membuat Yansen kesal.
"nah...bagus itu kak. jangan kalah dengan kak Yansen."
"humm...tentu saja. ah..iya, kakak mau mandi dulu, gerah."
__ADS_1
Moana pun memilih untuk membersihkan tubuhnya karena terasa lengket oleh keringat. Dia keluar dari kamar Jane, menghela nafas saat mendapati Yansen ada di ruang tamu bersama Karan dan Johan. Dia bisa segera kekamar kalau begitu, mandi lalu beristirahat dengan tenang.
Ekor Yansen bergerak mengikuti langkah Moana. Pria itu langsung berdiri dari duduknya.
"Karan kembali kekantor dan Johan selesaikan laporan malam ini juga." Perintahnya.
Karan dan Johan mengangguk lesu, itu artinya malam ini mereka harus lembur kembali. Kenapa di setiap bos nya dalam mood yang buruk mereka selalu mendapatkan imbasnya, bekerja hingga larut malam. Sungguh nasib seorang bawahan.
Yansen masuk kekamar. Tak ada Moana di dalam, lalu pria itu berjalan kearah kamar mandi. Terdengar suara guyuran air dari dalam, di pastikan Moana tengah mandi saat ini.
"ah...segarnya." Moana keluar hanya berbalutkan handuk saja, karena ia pikir Yansen pasti tidak akan masuk kekamar karena tengah bersama kedua anak buahnya di bawah.
Sedikit bersenandung, Moana tak menyadari jika saat ini Yansen tengah berbaring di atas kasur. Pria itu memperhatikan gerak-gerik Moana tanpa berkedip sama sekali.
Menelan ludahnya saat Moana membuka handuknya. Sungguh tubuh Yansen mendadak kaku, matanya terbuka amat lebar menyaksikan punggung Moana yang begitu putih.
"oh...tuhan." Moana langsung memeluk tubuhnya sendiri berusaha menutupi apa yang tak seharusnya dilihat.
Pantulan diri Yansen di cerminlah yang membuat Moana tahu kalau pria itu ada di kamar sekarang. Buru-buru mengambil handuknya dan segera menutup tubuhnya yang baru terbalut oleh pakaian dalam saja.
"kenapa Bapak...bisa.."
Moana sungguh merasa malu, meski hubungan mereka adalah suami istri tapi tetap saja ini kali pertama atau untuk kedua kalinya dia bertel*njang seperti ini di hadapan Yansen.
"Pakai baju, aku tunggu di bawah." Ujarnya dengan wajah tenang padahal hatinya berdetak tak karuan.
Yansen merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Moana terlihat begitu menarik bahkan lebih cantik dari biasanya.
...*****************...
Rada akhirnya bisa bernapas lega. Gutomo bisa di obati jika pria itu mendapatkan perawatan yang baik. Maka sudah di putuskan, Gutomo akan di rawat di rumah sakit ini hingga kejiwaannya benar-benar pulih.
"Rada, kami berharap kamu tidak akan meninggalkan Gutomo."
"ibu, aku istrinya. Baik maupun buruk, mas Gutomo tetap suamiku." Jawaban Rada membuat mertuanya merasa semakin malu terhadap wanita itu.
Selama ini tak pernah sekalipun berbuat baik atau pun mengakui Rada sebagai istrinya Gutomo. Tapi, di saat seperti ini justru Rada lah yang lebih memperdulikan Gutomo di banding keluarganya sendiri.
"Kita pulang sekarang. Ibu dan ayah harus istirahat." Ajak Rada, menuntut ibu mertuanya dengan hati-hati menuju mobil.
Kedua iparnya berjalan di belakang, mereka tak hentinya memperhatikan Rada. Sikap Rada dan segala sesuatu yang di lakukannya terlihat sangat sempurna. Rada begitu peduli terhadap ibu dan ayah mereka.
__ADS_1
Selama ini mereka telah salah menilainya. Yang di anggap hanya ingin menguasai harta Gutomo nyatanya memiliki cinta yang begitu tulus.
"Rada, bagaimana menantu mu? kami tak pernah menyambutnya dengan baik, sama seperti waktu kamu dulu masuk kekeluarga ini." Tutur ayah mertua membuat istri dan anak-anaknya diam, mereka akui itu.
Rada tersenyum, mungkin inilah saatnya keluarganya bersatu. Di saat dalam keadaan buruk seperti ini sangat bagus jika saling menopang satu sama lain.
"Namanya Moana. dia sedang hamil saat ini. Aku menyukainya karena dia gadis yang baik."
"waahh..sebentar lagi kita akan menjadi kakek dan nenek buyut." Seru ayah mertua senang yang di angguki oleh istrinya.
...***************...
Moana dengan canggung menghampiri Yansen. Pria itu pun nampaknya sedikit gugup, apalagi saat ini Moana tengah mengenakan gaun tidur yang baru di belinya minggu lalu, gaun yang sengaja Rada pilihkan untuknya.
Di matanya Moana nampak menggoda, pahanya sedikit terlihat dan jangan lupakan bahunya yang begitu mulus dapat Yansen lihat secara langsung. Biasanya Moana akan memakai baju tertutup, tapi kali ini seolah sengaja ingin menggoda Yansen.
"kamu sengaja bukan?" Tuduh Yansen begitu Moana telah duduk di depannya.
Moana mengerutkan keningnya tak mengerti, baru juga duduk sudah di tuduh macam-macam.
"sengaja apanya?"
Yansen berdecak keras. Pria itu berdiri lalu melipat tangannya di depan.
"baju itu...dan itu...lalu itu..." Yansen menggerakkan dagunya untuk menuju bagian tubuh Moana yang di anggapnya sengaja di perlihatkan kepadanya.
"Maksudnya apa? aku tak mengerti." Moana memang tak mengerti sama sekali atas apa yang di katakan Yansen.
"Ganti baju atau..."
"atau apa?" Tantang Moana. "kenapa di mata Pak Yansen aku selalu terlihat buruk. Pakai baju apapun selalu jelek. menyebalkan, dasar pria tua, jelek dan tak tahu malu." Berondong Moana dengan nafas memburu, berlari kembali masuk kekamarnya.
Moana kesal karena Yansen tak pernah bisa melihatnya dengan cinta. Kenapa selalu terlihat buruk di matanya, padahal Moana ingin sekali menjadi yang terbaik dan melakukan segalanya dengan baik agar di akui olehnya.
Dengan cepat ia lepas baju itu, menggantinya dengan baju biasa yang selalu di pakainya.
"ibu bilang baju ini bagus untukku, pak yansen pasti suka. tapi apa, nyatanya dia malah marah." Isak Moana.
Yansen mengacak rambutnya frustasi. Selalu saja begitu, yang di maksud olehnya akan menjadi kesalah pahaman bagi Moana. Jujur saja, ia akui jika Moana sangat cantik mengenakan baju tadi. Hanya saja, dia juga pria normal. Tak mungkin bisa bersikap tenang jika di hadapkan dengan hal yang begitu menggoda matanya.
...*****************...
__ADS_1