Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 14


__ADS_3

Alea langsung keluar dari mobil saat melihat Yansen sudah menunggunya. Gadis itu bahagia sekali karena pada akhirnya masih bisa memenangkan hati pria tampan itu. Meski Rada dan Gutomo menentangnya, Yansen tetap memilihnya. Bahkan di saat pria ini telah menikah pun masih saja menomorsatukan dirinya.


"Yansen, maaf. kamu pasti menungguku dari tadi." Alea memasang wajah menyesalnya, ia kaitkan kedua tangannya di lengan kanan Yansen.


Melihat wajah melas Alea tentu saja Yansen tak bisa marah. Dia hanya tersenyum saja.


"memangnya kamu dari mana?" Tanyanya dengan lembut.


"aku beli baju, sepatu juga beberapa perhiasan." Ujarnya senang. Rupanya dia manfaatkan dengan baik apa yang telah Yansen berikan terhadapnya.


Uang yang selalu di berikan untuknya tak ia sia-sia begitu saja. Ia gunakan untuk memuaskan kebutuhannya, termasuk mempercantik tampilannya.


"aku sudah lapar, ayo kita masuk." Ajaknya dengan manja.


Keduanya pun segera masuk kedalam. Mereka nampak serasi, yang satu cantik juga modis dan satunya tampan berwibawa. Membuat beberapa pasang mata melirik ke arah mereka begitu melangkah kedalam.


Tak ayal juga dengan Moana. Gadis itu melotot lebar ketika tak sengaja melihat Yansen. Detik berikutnya, ia palingkan wajahnya tak ingin jika Yansen melihat keberadaannya.


"ada apa?" Tanya Sarah melihat Moana yang nampak gusar.


"Tidak kok. aku suka daging ini, apa namanya?" Moana berusaha untuk mengalihkan perhatian Sarah.


"steak. kamu suka? mau pesan lagi?"


Moana dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia bukan gadis yang rakus, lagipula bisa malu jika makan terlalu banyak. Apa nanti kata orang, seorang gadis memiliki nafsu makan berlebih. Sungguh memalukan.


"sayang di sini saja ya."


"iya, duduklah."


Sarah langsung terdiam saat mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya, tepat berada di belakangnya. Dia pun segera menoleh untuk memastikan jika pendengarannya tak bermasalah.


"Yansen..." Gumamnya. Ia langsung melihat Moana yang sama-sama tengah melihat kearah yang sama.


"Moana, Yansen..."


"bagaimana ini? aku tak izin akan makan di tempat mewah seperti ini." Ujar Moana sembari menutup wajahnya dengan kesepuluh jemarinya.


Sarah berdecak, kenapa gadis ini begitu lugu. Dia malah berpikir soal meminta izin, sementara sekarang suaminya tengah makan bersama dengan seorang gadis.


"hei, suamimu makan bersama wanita lain. kenapa kamu tak marah?"


"i...itu...aku..." Moana jadi bingung. Hatinya tak merasa marah sedikitpun, bahkan yang dia khawatirkan saat ini adalah Yansen akan marah karena dirinya tak bilang akan makan di tempat semewah ini.

__ADS_1


Moana hanya izin untuk jalan-jalan saja, bukan untuk makan. Jadi, gadis itu takut Yansen mencap nya sebagai pembohong.


"ckk...tak bisa di biarkan." Seru Sarah. Dia beranjak dari duduknya.


Brak...


Tangannya dengan cepat menggebrak meja yang di tepati Yansen dan Alea.


"hei... apa-apaan ini? siapa kamu?" Alea berdiri dengan marah.


Sementara Yansen sendiri terkejut ketika akan memarahi pelaku penggebrakan meja. Matanya langsung tertuju Moana yang kini sedang berdiri di depannya.


"Ibu, kita pulang saja. kenapa ibu marah?" Ujarnya sembari menarik Sarah. Moana berusaha membuat Sarah tak mencari keributan.


"diam Moana." Bentak Sarah, membuat Moana langsung melepaskan pegangan tangannya. "Yansen, kamu berselingkuh padahal pernikahan mu saja baru berjalan beberapa bulan. Apa-apaan ini, kamu mengkhianati istrimu."


Alea langsung terdiam. Gadis itu melihat Yansen lalu Moana. Tubuhnya langsung lemas, dia terduduk. Bisa di tebaknya jika gadis yang ada di belakang wanita itu adalah istri Yansen.


Yansen tak berkata-kata, pria itu berdiri lalu menarik Moana keluar begitu saja. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, ia tinggalkan Alea begitu saja.


"hei...mau kamu bawa kemana Moana? Yansen." Teriak Sarah. Ia hendak mengejar tapi karyawan restoran langsung menghadang jalannya.


"maaf nyonya, anda belum membayar."


Sarah berdecak lalu segera membayarnya. Sebelum keluar menyusul Yansen dan Moana, Sarah mendekati Alea terlebih dahulu.


Alea mengepalkan tangannya. Dia tak seburuk itu pikirnya, lagipula Yansen mencintainya bukan istrinya. Dengan cepat Alea membayar makanan yang belum sempat di cicipinya lalu segera menyusul Sarah.


"aku tidak menggoda Yansen. dia mencintaiku sampai kapanpun." Teriaknya ke arah Sarah yang hendak masuk kedalam mobil.


Sarah tak meladeni, ia lajukan mobilnya dengan cepat. Khawatir Yansen melakukan sesuatu terhadap Moana.


...*****************...


Brak...


Yansen membuka pintu dengan kasar, ia seret Moana kedalam begitu saja. Tak peduli gadis itu meronta kesakitan karena cengkraman di pergelangan tangannya.


"Yansen, kenapa kamu..." Rada mengejarnya tapi tak berhasil, keduanya sudah masuk kedalam kamar.


Wanita itu berharap tak ada masalah apa-apa. Ia pun meninggalkan kamar keduanya.


"Pak, lepaskan." Pinta Moana.

__ADS_1


Yansen melepaskannya tapi tatapan matanya yang tajam tak lepas dari Moana.


"aku tahu salah. maafkan aku Pak." Cicit Moana sembari menundukkan kepalanya. "Tadi aku hanya izin untuk jalan-jalan saja, tapi aku lapar tadi jadi mengajak ibu makan dulu. maafkan aku, seharusnya tadi aku bilang akan makan juga."


Yansen terdiam. Ia jadi merasa bersalah. Lagipula kenapa dia sangat marah lebih tepatnya takut. Begitu melihat Moana dirinya tengah bersama Alea, kenapa ada rasa takut di hatinya. Takut Moana akan salah paham juga marah padanya. Jadi, sebelum itu terjadi dia melakukan hal ini.


Tapi, tak menyangka gadis ini bahkan tak menyinggung sedikitpun soal gadis yang makan bersamanya. Justru Moana malah merasa bersalah karena tak meminta izin terlebih dulu.


Yansen menarik nafas dalam-dalam. Perasaannya menjadi kacau akhir-akhir ini karena Moana.


"Pak... Bapak..." Moana menyentuh lengan Yansen.


Yansen tersadar dari lamunannya. Dia jadi salah tingkah, berdeham untuk menghilangkan rasa anehnya. Lalu pria itu mengangguk sembari berujar pelan.


"lain kali kabari aku setiap kamu berada di luar." Ujarnya lalu segera keluar dari kamar.


Moana menghela nafas lega. Merasa tenang karena Yansen tak memarahinya.


"eehh...tunggu Pak?" Moana mengejarnya.


"apa lagi?"


"gadis yang bersama Bapak bagaimana? kenapa di tinggal, nanti dia pulang bersama..."


"jangan banyak tanya, aku tak suka." Ketus Yansen lalu pergi.


Moana mencebik, kenapa Yansen kembali marah. Padahal dia kan hanya mengingatkan saja, kalau gadis tadi mereka tinggal begitu saja. Ia pun jadi teringat Sarah, dengan cepat Moana menghubunginya.


"dia bahkan tak cemburu sedikit pun." Desis Yansen. "ah...s*al. kenapa aku memikirkan pendapatnya."


Rada tersenyum melihat Yansen yang pergi, ia mendengar gerutuannya dengan jelas. Sarah baru saja menghubunginya dan mengatakan jika Yansen tengah bersama gadis lain tadi dan Moana melihat itu semua.


"bagus Moana, buat Yansen jatuh ke tangan mu." Lirih Rada. Ia mendongak melihat Moana yang berada di atas tangga, gadis itu sepertinya tengah menghubungi seseorang.


Mata rada memicing, melihat ponsel yang di pegang Moana.


"ya ampun, gadis itu." Serunya begitu melihat seperti apa ponsel itu. Sungguh buruk, pikirnya.


Kenapa Moana tak membeli ponsel baru yang lebih canggih. Apa Yansen tak memberinya uang, batin Rada.


Yansen mengumpat berkali-kali di dalam mobil. Ia melupakan Alea tadi, dirinya terlalu banyak berpikiran aneh jadi linglung begitu. Ia pun segera pergi kerumah Alea.


Gadis itu pasti marah dan akan sulit untuk membujuknya.

__ADS_1


Benar saja, telponnya pun di matikan. Yansen tak dapat menghubunginya. Maka dengan cepat Yansen harus menemuinya dan menjelaskan segalanya.


...*******************...


__ADS_2