Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 20


__ADS_3

Moana mengeryitkan keningnya ketika merasa ada yang menindih tubuhnya. Tepat melingkar di pinggangnya, dengan cepat matanya terbuka untuk melihat apa yang sebenarnya melilit begitu erat di perutnya.


"Tangan..." Desisnya heran ketika melihat sebuah tangan di sana.


Gadis itu masih belum sepenuhnya tersadar karena baru terbangun. Tiba-tiba dia teringat dengan kejadian tadi malam, tepatnya ketika Yansen menggendongnya ke atas kasur. Maka matanya pun terbuka dengan sempurna.


Moana menelan ludahnya gugup, apalagi ketika pelukan itu malah semakin erat. Tubuh Yansen begitu dekat hingga Moana dapat merasakan punggungnya menghangat.


"tidurlah, Alea. aku masih mengantuk." Gumam Yansen sembari menelusupkan wajahnya ke tengkuk Moana.


Seketika Moana tersentak, jantungnya berdetak tak karuan. Ada yang sakit dan perih bersamaan. Mendengar nama Alea di sebut Yansen dalam tidurnya. Dengan cepat Moana pun mencubit lengan itu, ia kesal dan marah.


"aaahh...apa yang..." Yansen menjerit dan menarik tangannya dengan cepat.


Bibirnya langsung terkatup dengan rapat ketika pandangannya bersirobok dengan Moana.


"Apa? Bapak lancang memelukku tapi nama Alea yang di sebut. siapa dia? kekasih bapak." Sentak Moana. Tanpa sadar gadis itu menunjukkan rasa cemburunya.


Moana sendiri tak mengerti kenapa dia begitu cemburu saat Yansen memikirkan gadis lain. Yansen mengeryitkan keningnya, mendapatkan bentakan dari gadis kecil itu. Dengan cepat Yansen bangun lalu meminta Moana turun dari kasurnya.


"turun." Ujarnya dengan tak kalah membentak.


Moana terhenyak mendengar bentakan itu. Dengan cepat Moana pun turun.


"Kamu bilang apa? aku lancang?" Desisnya tak terima. "kamu hanya istri di atas kertas, jangan lupa itu." Tambahnya lagi.


Mendengar itu Moana kembali menyadari sesuatu, jika dirinya sampai kapanpun tak akan pernah di terima. Hanya karena janin itulah dia perlakukan baik tadi malam. Dia sadar, di hati Yansen telah ada gadis lain. Dan sepertinya ia pun mulai tahu jika gadis yang pernah di lihatnya waktu di restoran itu pasti gadis yang baru saja di sebut Yansen dalam tidurnya.


Seketika raut wajahnya berubah sendu, Moana sedih juga terluka. Meremat jemarinya lalu segera keluar dari kamar. Ia abaikan Yansen yang kini tengah memanggilnya.


"hei...kamu, aku belum selesai bicara."


Brak...


Pintu di tutup dengan keras. Yansen menghempaskan tubuhnya ke kasur, kenapa hatinya jadi resah saat tadi melihat wajah Moana yang berubah sendu. Pria ini mulai bimbang dengan hatinya, terkadang ada rasa tak suka terhadap Moana tapi di waktu bersamaan hatinya merasa nyaman juga terbiasa dengan kehadirannya sekarang.


Moana mengambil air dari dalam kulkas lalu meneguknya sampai habis. Tapi, detik kemudian perutnya langsung merasa melilit minta isinya di keluarkan. Sungguh, tersiksa rasanya. Mual dan pusing yang di rasakannya sekarang.


Jane yang baru keluar dari kamar untuk sarapan pun langsung menghampiri Moana, begitu mendengar kakak iparnya tengah muntah di dapur.


"kakak, sudah ibu bilangkan jangan memaksakan diri untuk membuat sarapan." Ujarnya, lalu membuatkan air hangat untuk di minum Moana.


"aku hanya ingin minum." Jawab Moana, lalu meminum air itu. Mulai lebih baik, Moana pun duduk di kursi.


"mana ibu? kenapa belum buat sarapan?" Jane melihat meja yang kosong.


Moana menggelengkan kepalanya, dari tadi dia pun belum melihat ibu mertuanya.

__ADS_1


"Aku akan panggil ibu, pasti belum bangun." Seru Jane hendak pergi.


"ibu di sini Jane." Jawab Rada lesu. Wajahnya nampak pucat juga matanya sangat terlihat lelah.


"ibu sakit?" Jane langsung membantu ibunya lalu menarik kursi. "duduklah."


Moana menatap wajah Rada yang tak terlihat baik. Gadis itu meraih tangan Rada yang ada di atas meja.


"ibu sakit?" Tanya Moana khawatir.


Senyum tipis tersungging, Rada menggelengkan kepalanya pelan.


"hanya tak bisa tidur semalaman." Jawabnya tak bohong. Semalaman Rada terus jaga karena terpikirkan akan ucapan Gutomo.


Wanita ini resah juga takut. Bagaimana jika suaminya benar-benar memiliki istri dan anak di luar sana. Apa yang akan terjadi dengan rumah tangganya. Lalu bagaimana nanti Jane juga Yansen. Kedua anaknya pasti akan kecewa sekali.


"Ibu, sebaiknya ibu istirahat saja. kembali kekamar. biar aku yang buat sarapan." Ujar Moana.


"kamu kan sedang hamil muda, Jangan terlalu lelah."


"hanya memasak saja, Bu. Jane bawa ibu ke kamar."


Jane pun segera menggandeng Rada. Moana tak mungkin tega membiarkan mertuanya tetap mengerjakan pekerjaan rumah sementara kondisinya terlihat tak begitu baik. Meski dirinya sendiri merasa tak nyaman karena sering sekali ingin muntah, ia tahan itu. Moana mengiris bawang dengan cepat, lalu sesekali menelan ludahnya untuk menahan agar tak muntah. Gadis itu sesekali menarik nafas dalam.


Bau bawang juga aroma masakan membuat perutnya semakin melilit. Hingga keringat pun mengalir di pelipisnya. Moana mulai tak kuat lagi, maka begitu semuanya hampir matang ia langsung berlari ke kamar mandi yang ada di dapur. Melupakan kompor yang masih menyala.


Sementara itu Jane hanya bisa diam begitu membuka pintu kamar melihat ayahnya yang masih tertidur dengan pulas. Ia melirik ibunya sekilas, hanya ada ekspresi datar di wajahnya.


"ibu, apa kalian bertengkar tadi malam?" Tanyanya karena tak biasanya jam segini Gutomo masih belum bangun.


Rada mengelus pipi Jane lembut. Hanya senyuman yang dia sunggingkan. Anak gadisnya tak boleh tahu soal permasalahan yang tengah di hadapinya.


"Kamu kembalilah, kakakmu pasti butuh bantuan di dapur."


Jane mengangguk lalu segera pergi. Begitu tiba di dapur ia mencium bau gosong, cepat-cepat masuk dan hampir saja nasi goreng di atas penggorengan menjadi hitam pikat.


"ya ampun." Desisnya dengan tangan gemetar karena api yang hampir membakar penggorengan. "kakak, baik-baik saja?"


Gadis itu langsung masuk kedalam kamar mandi. Ia angkat tubuh Moana yang terduduk di lantai.


"Kenapa masih buat sarapan. Ibu bilang Kakak sedang hamil harus banyak istirahat. aku bisa buat sarapan sendiri." Gerutu Jane, bukan karena nasi gorengnya yang gosong tapi karena dirinya begitu mengkhawatirkan keadaan kakak iparnya.


"aku antar ke kamar." Dengan cepat Jane menuntut Moana.


Moana tak menolak, ia berjalan dengan lemas. Muntah terus menerus membuatnya kehilangan banyak tenaga, apalagi perutnya yang dari kemarin belum terisi dengan benar.


Ceklek...

__ADS_1


Yansen yang sedang memakai bajunya langsung mengancingkan kemejanya dengan cepat.


"Jane..."


"kak Moana muntah terus. ayo bantu kak." Ucap Jane menyela ucapan Yansen.


Moana langsung melepaskan pegangan Jane lalu melewati Yansen yang hendak menyentuh tangannya. Hatinya kembali panas melihat pria ini. Menjadi ingat jika Yansen memiliki gadis lain di luar sana.


"ya, sudah. kakak istirahat saja ya." Ucap Jane lalu kembali untuk sarapan. Ia tak mau kesiangan berangkat sekolah.


Hendak merebahkan tubuhnya di sofa tiba-tiba ponsel berdering. Moana mengeryitkan keningnya melihat nama my honey tertera di layar ponselnya yang tak terlalu lebar itu. Senyumnya merekah ketika ingat soal Daren. Moana yakin, pasti pria itu yang menulis sendiri namanya. Memang Daren sungguh jahil.


"halo, Daren."


Yansen menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasang dasi. Ia langsung melihat Moana.


"maafkan aku, Iya. kamu bisa datang kemari. aku akan memberikan alamatnya."


Moana langsung memutuskan panggilan lalu segera mengetikkan alamat rumahnya. Senyumnya terus berkembang, hatinya jadi kembali senang. Mungkin Daren bisa membuatnya melupakan kesedihannya. Sebagai seorang teman, pria itu selalu nyaman jika di ajak di bicara.


"ekhem..." Yansen sengaja berdeham dengan keras.


"apa sih? jika tenggorokan bapak kering, minum air saja jangan ekhem-ekhem begitu. berisik." Seru Moana dengan mata mendelik.


Yansen sampai kehabisan kata-kata menghadapinya, Moana menjadi galak semenjak hari kemarin. Mungkin karena bawaan bayi, pikirnya. Ibu hamil sungguh merepotkan desis Yansen dalam hatinya.


Ia lihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat, lalu tak lama terdengar guyuran air. Ia pastikan gadis itu tengah mandi sekarang. Dengan rasa penasarannya, pria berusia 30 tahun itu mengambil ponsel Moana yang tergeletak di atas meja.


"ponsel model apa nih?" Merasa lucu karena ponsel Moana yang masih sangat jadul. Meski memiliki kamera tapi desain ponsel ini sungguh sudah ketinggalan zaman.


Ia lihat panggilan masuk yang baru di terima oleh Moana. Jantungnya langsung bergemuruh lalu segera melihat pesan yang baru di kirim Moana.


"rupanya dia memiliki kekasih." Gumamnya tak suka.


Dengan kesal Yansen banting ponsel itu keatas sofa. Dadanya panas apalagi nama yang tertulis di sana sungguh terlihat menggelikan baginya.


Moana keluar dari kamar mandi, sudah memakai bajunya dengan lengkap. Karena setiap hari pun begitu, ia akan memakai bajunya di dalam kamar mandi.


"ck..." Decak Yansen dengan mata melotot ke arah Moana.


Brak...


Pria itu keluar dengan membanting pintu. Moana mengangkat bahunya, merasa aneh dengan tingkah Yansen.


"ada apa dengannya? dasar pria tua menyebalkan."


...***************...

__ADS_1


__ADS_2