Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 15


__ADS_3

Yansen merasa ada yang aneh dengannya, kenapa dari tadi terus saja memikirkan Moana. Padahal seharusnya sekarang yang dia khawatirkan adalah Alea. Dia telah meninggalkannya di restoran begitu saja, gadis itu pasti marah dan merasa sedih.


Tapi, entah kenapa tak ada rasa sedikit terhadap Alea saat ini. Justru Yansen lebih memikirkan bagaimana pendapat Moana saat ini. Ada rasa takut di hatinya, bagaimana jika Moana mencap dirinya sebagai pria jahat atau pria berperasaan.


"ahhh...sial, kenapa aku harus memikirkan gadis kampung itu." Serunya sembari memukul setir.


Sungguh dirinya tak bisa menyetir dengan konsentrasi. Untuk saja jalanan cukup sepi, tak terlalu padat. Yansen melaju pelan di antara kendaraan lain. Pria itu masih memikirkan keselamatannya.


Sesampainya di rumah Alea, ia langsung keluar dari mobil. Masuk begitu saja kedalam tanpa mengucap salam atau mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena ia memiliki kunci cadangan. Jadi tak repot lagi meski pintu itu di kunci.


"Alea..." Panggilnya, Yansen mencari Alea kekamarnya tapi nihil.


Kamar bercat pink itu kosong. Yansen pun kembali keluar, dia tahu di mana gadis itu jika tengah merasa kesal. Dengan cepat Yansen pun berjalan menuju taman belakang. Benar saja, Alea tengah duduk di tepi kolam renang.


Kakinya di masukan kedalam dan pandangan matanya kosong menatap kedepan.


Grep...


Yansen langsung memeluknya dari belakang.


"maafkan aku ya? kamu marah?" Bisiknya.


Alea melepaskan pelukannya, lalu berdiri. Gadis itu menghindari Yansen. Hatinya masih merasa kecewa atas apa yang terjadi di restoran tadi.


"kenapa kesini, urus saja istri mu." Ketusnya.


Menghembuskan nafas kasar. Pria itu tahu cara membujuk Alea supaya tak marah lagi. Ia tersenyum sembari meraih tangannya.


"maafkan aku, jika aku tak membawanya pulang takutnya dia melapor pada ibu. bisa gawat jika ibu tahu kita masih bersama, aku tak mau ibu atau ayah mengusikmu. sabarlah sebentar, aku akan ceraikan dia lalu kita hidup bahagia." Serunya. "Aku akan belikan apapun yang kamu mau sekarang."


Bibir Alea perlahan tersenyum, gadis itu senang bukan karena janji Yansen yang akan segera menceraikan istrinya tapi karena pria itu menawarkan sesuatu untuknya.


"benar?" Tanya Alea dengan mata berbinar.


"tentu saja, aku akan menceraikannya segera. Lagipula sudah sebulan ini tak ada sedikitpun tanda-tanda kalau dia hamil." Tutur Yansen.


"bukan itu, maksudku benar kamu akan membelikan apapun yang aku inginkan?" Seru Alea antusias. Dia sangat suka belanja.


Dari kecil hidupnya susah, baju saja hanya bekas orang. Jadi sekarang Alea begitu menikmati hidupnya, semenjak bersama Yansen semuanya terpenuhi.


Mendengar pertanyaan Alea ada yang menggelitik hatinya, Yansen mengapa merasa kecewa. Dia berpikir kenapa Alea lebih tertarik dengan apa yang di tawarkannya bukan apa yang di janjikannya.


"Ya, katakan saja. aku akan belikan hari ini juga." Seru Yansen berusaha tersenyum.


Alea langsung menyeret Yansen kedalam. Mengambil ponselnya lalu memperlihatkan beberapa barang yang telah dia masukan keranjang dalam salah satu aplikasi belanja online.


"ini lihat, aku ingin tas ini...juga baju-baju ini." Serunya.


Yansen tak melihat semua harganya, baginya itu tak perlu. Ia anggukan kepalanya maka dengan cepat Alea pun cek out semua barang-barang itu. Dia senang sekali, sampai melupakan soal di restoran tadi. Kemarahannya langsung hilang.


Pria itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alea. Dia berpikir jika wanita memang mudah berubah, uang dan segala barang mewah bisa menghilangkan kemarahan dengan sekejap. Persis Jane, adiknya. Jika marah hanya perlu di obati oleh belanja.


Keduanya pun bercengkrama, Alea sudah tak marah lagi. Mulai kembali manja kepada Yansen.


Di luar, tanpa mereka tahu. Ada seorang pria yang celingukan seperti mencari sesuatu. Pria itu mengenakan masker dan topi, nampak mencurigakan.


"Pak, putra anda ada disini. Kedua mobilnya pun di sini. Tapi, keadaan rumah sepi. sepertinya dia berada di dalam." Lapor pria itu melalui ponselnya. Lalu ia pun mengarahkan ponselnya dan memotret rumah itu.


"Bagus, gajiku akan naik bulan ini." Girangnya begitu foto itu telah terkirim pada seseorang.


Dengan cepat dia lajukan motornya sebelum ada seseorang atau Yansen keluar.


Yansen tiba-tiba merasa ada yang memperhatikan, dia menoleh ke arah jendela. Matanya menyipit melihat keluar, memastikan jika tak ada siapapun di sana.


"kenapa?" Tanya Alea ikut melihat keluar, gadis itu berjalan mendekati jendela lalu menyibakkan gorden tipis itu untuk melihat lebih jelas keadaan di luar.


"kamu melihat apa sih?" Tanyanya ketika tak melihat apapun di luar, hanya ada dua mobil terparkir di sana.


"tidak, aku hanya merasa ada orang di luar. hanya perasaan ku saja, sudahlah." Ucap Yansen.


Alea mengendikkan bahunya.


Tapi, meski begitu Yansen masih merasa tak nyaman. Hatinya kembali resah, seperti saat di jalan tadi. Hanya saja bedanya kali ini dia tak terpikirkan Moana.


...****************...


Gutomo mencengkram ponselnya, rahangnya mengeras melihat foto yang baru saja di lihatnya. Dia yakin, saat ini Yansen pasti tengah bersama Alea. Selama ini dia kesulitan mencari gadis itu.

__ADS_1


"Johan, kamu di mana?" Dia menghubungi anak buahnya yang paling di percaya oleh putranya itu.


"saya di kantor pak. Pak Yansen meminta saya menyelesaikan semua laporan."


"lalu di mana Yansen?"


Johan mengerutkan keningnya. Kenapa dia merasa seperti di interogasi. Matanya melirik Karan yang baru saja masuk keruangan. Dia tutup ponselnya dengan tangan lalu berbisik pada Karan.


"pak Yansen di mana?" Tanyanya dengan suara cukup pelan.


"bukankah Pak Yansen..." Karan menghentikan ucapannya lalu merebut ponsel Johan. Dia menghela nafas.


"Pak Yansen pulang katanya karena istrinya." Jawab Karan dengan suara keras.


Johan mengerutkan keningnya, lalu detik kemudian dia sadar. Dengan cepat kembali menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"maaf pak, pak Yansen..."


"saya sudah mendengarnya." Ujar Gutomo tapi telpon pun terputus.


Karan menepuk bahu Johan sembari mengangkat jari jempolnya.


"good job. kamu ternyata mengerti dengan kode yang aku berikan."


Karan tahu di mana Yansen dan dia juga tahu untuk apa Gutomo menanyakan keberadaannya. Selama ini dia telah menyelidiki kasus tabrak lari yang di alami Alea, pelakunya telah tertangkap tapi tak dia serahkan ke polisi. Yansen memintanya menyekap pria itu di gudang bawah bawah. Menginterogasinya dan berhasil.


Sekarang pria itu sudah di bebaskan, di berikan banyak sekali uang dan di minta pergi jauh dari negara ini. Yansen ingin menggunakannya sebagai saksi nanti, ketika dia benar-benar memergoki ayahnya mencelakai Alea kembali.


Yansen telah putuskan akan melaporkan Gutomo ke pihak berwajib, tak peduli jika pria itu adalah ayahnya sendiri.


Johan mendudukkan tubuhnya di kursi di ikuti oleh Karan. Kedua pria lajang itu saling bertatapan lalu mendesah pelan. Masalah bos nya kenapa harus serumit ini.


"Karan, aku sedikit tak menyukai kekasih bos. dia terlihat matre sekali."


"Bukan itu saja, aku merasa banyak sekali kebohongan yang gadis itu sembunyikan."


"apa itu?"


"mana aku tahu."


"aaaahhh..." Johan mengacak-acak rambutnya, kenapa dia jadi ikut khawatir dengan masalah atasannya itu.


Karan mengangguk setuju. Keduanya memang baru beberapa kali melihat Moana, tapi kesan pertama mereka terhadapnya sangat bagus.


"haaattcchhii..." Moana bersin cukup keras membuat Rada yang sedang menonton pun langsung beranjak dan menghampiri gadis itu.


"kamu kenapa?" Tanyanya khawatir.


Moana menggosok hidungnya yang terasa gatal.


"sepertinya karena lada ini." Jawabnya, ia memang sedang memasak sekarang. Di tangannya ada botol kecil berisikan lada hitam.


Rada terkekeh. Moana sungguh selalu menghangatkan hatinya, semenjak ada dirinya, Rada benar-benar merasa ada teman. Rumah menjadi tak sepi seperti dulu, Jane pun lebih sering makan di rumah. Gadis itu mulai mengurangi kegiatan bersama temannya.


"kamu buat apa?"


"sup jamur. Dulu di kampung aku buat sup jamur cuma pake jamur doang." Ujarnya. "tapi sekarang, banyak temannya."


"teman?" Rada mengeryit.


"iya, lihat Bu. Ada bakso, sosis juga ini... brokoli." Moana mengaduk-aduk sup itu.


"Hanya sup saja Moana?" Tanya Rada karena tak melihat menu lain lagi.


"tidak, aku akan buat sambal sepi goreng teri balado juga kukus tahu putih. Aku tahu, ibu doyan sepi kan? aku juga kok." Ujarnya dengan malu-malu.


"bukan hanya ibu, Jane juga." Jawab Rada. "dan ayah juga." Bisiknya.


Mereka pun tertawa. Lalu Rada pun membantu Moana memasak. Keduanya sangat akrab, lebih terlihat seperti anak dna ibu di bandingkan mertua dan menantu.


Jane yang baru pulang dari sekolahnya mengintip di balik pintu dapur. Akhirnya dia bisa melihat kembali tawa ibunya yang begitu bahagia. Moana sungguh luar biasa, Jane sangat senang dengan kehadirannya di keluarga ini.


Malam pun tiba, semua sudah berkumpul di meja makan. Yansen mengerutkan keningnya melihat menu yang sedikit berbeda. Rada yang menyadari itu langsung berkata.


"ini sambal sepi teri balado, kamu pasti suka." Ucapnya sembari menyendokkannya ke atas piring Yansen.


"jangan sepi nya." Ucap pria itu menarik piringnya. "cukup bumbu dan terinya saja."

__ADS_1


Rada mengerti, dari kecil Yansen memang anti makanan bau itu. Meski ibu, ayah dan adiknya sangat menyukainya. Hanya Yansen yang selalu berbeda soal apapun.


"padahal enak loh." Ucap Jane.


Gutomo hanya tersenyum sambil mengunyah. Ia akui, memang enak. Ketiganya makan dengan lahap hanya Moana saja yang terlihat sedikit diam. Gadis itu berkali-kali memejamkan matanya, padahal tadi baik-baik saja. Tapi begitu sesuap nasi masuk kemulutnya, perutnya mendadak mual.


"Moana, kamu..." Belum juga Rada selesai bicara, gadis itu sudah berlari dari dapur sembari menutup mulutnya.


Yansen pun menghentikan suapannya.


"biar aku saja." Ujarnya ketika melihat Rada akan beranjak untuk menyusul Moana.


"Hoek...Hoek..." Moana langsung memuntahkan isi perutnya begitu tiba di kamar mandi yang ada di kamarnya.


Yansen mematung di ambang pintu. Mendengar itu membuatnya jadi resah. Ia berpikir jika Moana pasti tengah mengalami mual karena sesuatu. Dengan cepat dia mengetuk pintunya.


"Moana, apa yang..."


Ceklek...


"aku baik-baik saja, hanya pusing dan mual. mungkin masuk angin." Jawab Moana menyela ucapan Yansen.


Ia rebahkan tubuhnya di sofa, tempatnya tidur semenjak dia tinggal di rumah ini. Yansen terdiam.


"aku baik, bapak lanjut makan saja." Ujarnya sembari menarik selimutnya lalu membelakangi Yansen.


Moana jadi kehilangan selera makan, perutnya mendadak tak enak.


"kamu...tidak hamilkan?" Yansen bertanya dengan pelan.


Mata Moana yang terpejam langsung terbuka lebar. Ia bangkit, tangannya menyentuh perutnya yang rata.


"Ti...tidak mungkin Pak. aku tak merasakan apapun, hanya..." Moana langsung diam, menelan ludahnya gugup.


Ia tahu, gejala orang hamil itu seperti apa. Sebagai seorang wanita, tentu saja Moana hafal semuanya. Baginya itu sesuatu yang harus dia ketahui semenjak tumbuh dewasa. Apalagi karena ibunya seorang dukun beranak di kampung.


"hhuuuuuuaaaaa..." Tiba-tiba Moana menangis keras membuat Yansen terkejut.


"hei...hei...ada apa dengan mu?" Panik Yansen.


Moana malah semakin keras menangis. Ia melemparkan selimut dan bantalnya ke arah Yansen membuat pria itu cepat-cepat mengindar.


"hentikan, kamu ini kenapa?" Teriak Yansen.


Pria yang selalu terlihat tenang, dingin dan tak banyak bicara itu sekarang malah terus berteriak sambil menghindari pukulan Moana di tubuhnya.


"hentikan...aku bilang." Bentaknya yang mulai tak tahan lagi.


Moana langsung diam. Tapi matanya menatap Yansen dengan marah.


"aku benci." Pekiknya lalu keluar dari kamar.


Brak...


Yansen memejamkan matanya, sungguh dia tak mengerti. Apa salahnya hingga Moana begitu marah terhadapnya.


"ckk...gadis kampung itu, sungguh aneh."


"aku mendengarnya." Teriak Moana dari luar, rupanya dia tak benar-benar pergi hanya diam berdiri di balik pintu.


Ceklek...


Pintu kembali terbuka. Moana masih melemparkan tatapan marah pada Yansen.


"Pak Yansen, jika aku hamil maka kamu harus tanggung jawab." Hardiknya, telunjuknya mengarah pada wajah pria itu.


Yansen mengerutkan keningnya, menepis tangan Moana dengan keras.


"bukankah kita sudah menikah? lalu aku harus tanggung jawab seperti apa lagi?"


Moana mengigit bibirnya, kenapa dia jadi begitu bodoh. Bukankah Yansen sudah bertanggungjawab, meski belum tahu apa dirinya hamil atau tidak. Moana berdeham pelan, malu rasanya. Gadis itu tersenyum bodoh sambil mengelus lengan Yansen yang langsung di tepis oleh pria itu.


"hehehe...aku hanya bercanda." Tuturnya lalu berlari keluar.


"bodoh." Seru Yansen, ujung bibirnya terangkat. Tanpa dia sadari, sebuah senyum terulas di wajahnya.


Yansen menjadi gemas sendiri dengan tingkah Moana. Pria itu menggelengkan kepalanya merasa lucu.

__ADS_1


Lalu detik kemudian dia langsung diam. Kenapa hatinya merasa bahagia tanpa sebab. Seharusnya dia takut, jika Moana benar-benar hamil maka perceraiannya akan tertunda sampai gadis itu melahirkan.


...***************...


__ADS_2