Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 34


__ADS_3

Yansen menyesal karena selalu tak bisa meredam emosinya. Ia bahkan tak tahu jika hari ini adalah ulang tahun Moana. Memang asalnya ia tak peduli tentang apapun yang berhubungan dengan Moana. Tapi, untuk sekarang Yansen merasa harus melakukan sesuatu untuk gadis itu.


Ia berjalan mendekati Rada yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Ibu tahu hari ini hari apa?" Tanyanya to the point.


Rada meletakkan majalah yang sedang di lihatnya. Memandang Yansen dengan bingung, pasalnya pria itu terlihat sedikit aneh.


" Hari Rabu, ada apa?"


Yansen berdecak keras. Bukan jawaban seperti itu yang dia inginkan.


"Maksudku... sudahlah. Lagipula tak penting." Ujarnya lalu pergi.


Rada mengendikkan bahunya tak mengerti dengan tingkah Yansen. Wanita itu kembali mengambil majalahnya, bukan membaca ataupun melihat setiap gambar yang ada di sana. Rada hanya tak ingin terlihat sedang melamun oleh Jane maupun Yansen.


Berulang kali menghela nafas panjang. Masih ada keraguan di dalam hatinya untuk menghubungi mertuanya. Harus di mulai dari mana dia menceritakan semuanya.


Hafal betul seperti apa sikap kedua mertua dan saudara iparnya. Yang ada mereka akan memarahinya bukan malah mengerti dengan apa yang terjadi. Karena bagaimanapun di mata mereka Rada tak pernah terlihat baik.


"Ibu!" Panggil Moana.


Rada tersentak lalu segera melipat majalahnya.


"Moana, loh...ada apa?" Rada cemas melihat raut sedih di wajah menantunya.


Moana tak menjawab hanya menyodorkan ponselnya yang retak kepada Rada.


"Kenapa ini? ini ponselmu?" Tanya Rada.


Kerusakannya cukup parah. Membuat Rada menggelengkan kepalanya.


"kenapa bisa seperti ini?" Tanyanya lagi.


Moana pun mengatakan semuanya. Bukan bermaksud mengadukan perlakuan Yansen, hanya saja dadanya terasa sesak jika memendam sendiri rasa kesalnya.


Rada tersenyum. Ia mengerti kenapa Yansen melakukan itu, tapi sepertinya Moana tak menangkap apapun dari gelagat Yansen.


"Kamu tahu kenapa Yansen marah?"


Moana menggelengkan kepalanya.


"dia selalu seperti itu padaku. Di hatinya hanya ada Alea." Tuturnya sedih.


Rada mengelus punggung Moana.


"apa kamu tahu kalau Alea..."

__ADS_1


"ya. apa yang terjadi dengannya?"


"selalu ingin tahu masalah orang. bersiaplah." Yansen menyela obrolan keduanya.


Matanya melirik kearah Rada, ia melakukan itu dengan sengaja. Hanya tak ingin ibunya kesulitan menjawab pertanyaan Moana. Bagaimana pun juga Rada adalah ibunya, Yansen sangat mengerti seperti apa wanita itu.


"Keluarga ayah akan tiba sebentar lagi, aku akan ajak Jane dan Moana keluar."


"Yansen, tapi ibu..."


"selesai semua dengan cepat." Ujarnya lagi. "cepatlah sedikit." Yansen menatap Moana yang masih saja duduk di samping Rada.


"Selalu terburu-buru. sabarlah." Ketus Moana kesal.


"aku sudah menjelaskan semuanya pada mereka, ibu tak perlu khawatir. katakan sejujurnya saja apa yang terjadi pada ayah." Yansen berkata dengan pelan, takut jika ada Jane tiba-tiba menghampiri.


"baiklah." Rada mengangguk.


Hatinya sedikit lebih tenang senang. Yansen putra nya kini sudah sangat dewasa. Andai saja Gutomo dan dirinya di pertemukan dengan cara yang baik, maka hal seperti ini tak akan terjadi. Seperti para pasangan suami istri di luar sana, berawal dari pacaran lalu menikah.


Rada menatap punggung Yansen yang semakin menjauh, pria itu hendak memanggil Jane.


"Ibu harap hatimu hanya tertambat pada Moana." Gumamnya.


...**************...


Sungguh bukan ini yang Gutomo harapkan dalam hidupnya. Dia pernah bermimpi, di masa tuanya hidup bahagia bersama Rada dan juga kedua anaknya. Memiliki cucu lalu menikmati masa tuanya dengan begitu bahagia.


"waktunya minum obat." Seru seorang perawat, masuk keruangannya dengan membawa beberapa jenis obat juga segelas air putih.


Gutomo tak menolak ataupun membuat keributan. Setelah berada beberapa hari di tempat ini dirinya menjadi sedikit lebih baik. Gutomo perlahan kembali sadar dan mengingat semuanya.


"Apa aku bisa keluar hari ini?" Tanyanya pada suster itu.


"maaf, tapi belum bisa. setelah satu minggu baru bisa."


Helaan nafas terdengar jelas. Gutomo sungguh merasa kesepian. Ruangan serba putih dan bau obat-obatan membuatnya ingin sekali menghirup udara segar.


Selama dua hari ini yang dia dengar hanya teriakan juga tangisan beberapa pasien yang ada di sebelah ruangannya. Gutomo tahu tempat apa ini. Tertawa miris saat menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah menjadi gila.


Hanya satu harapannya, bisa segera keluar dan menebus segala kesalahannya. Meski Rada tak akan memaafkannya, ia akan tetap berusaha.


"apa kamu tak ingin mengunjungi ku kesini." Desisnya, seolah Rada ada di ruangan itu.


Setelahnya kepala berdenyut dan bayangan seorang wanita berteriak meminta tolong melintas di pikirannya. Bayangan Alea pun ikut terlintas, membuat Gutomo menjambak rambutnya kuat-kuat. Berharap semua bayangan itu hilang.


"Tolong... pasien pasien nomor 156 mengamuk." Teriak suster itu dengan keras.

__ADS_1


Ia panik karena Gutomo mencoba membenturkan kepalanya sendiri ke tembok.


Beberapa perawat dan seorang dokter pun masuk kedalam. Mereka mencoba menenangkannya, salah seorang perawat pun terpaksa menyuntikkan obat penenang.


Beberapa detik kemudian Gutomo pun pingsan. Keningnya sedikit terluka dan mengeluarkan darah.


Sepertinya akan sulit baginya untuk keluar dari tempat ini. Dokter sudah menyatakan bahwa dirinya mengalami gangguan mental.


...****************...


Jane hanya diam saja, mengaduk makanannya dengan tidak nafsu. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Gutomo. Gadis ini merasa jika ayahnya sekarang tidak baik-baik saja. Ingin meminta Yansen mengantarkannya ke kantor polisi pasti tidak akan mau.


"Jane, kamu tak mau makan?" Mona mengelus kepala Jane.


"Kakak, aku rindu ayah." Cicitnya, menggeser piring berisi spaghetti ke arah Moana. "buat Kakak saja."


Moana terdiam. Ia sendiri tak tahu di mana Gutomo sekarang. Yansen maupun Rada tak memberitahu apapun kepadanya.


"Di mana ayah? kamu tahu?" Tanya Moana.


Jane mengeryitkan keningnya. Menatap Moana yang sepertinya memang tak tahu apapun.


"Apa kak Yansen tak memberitahu kakak?"


Moana menggelengkan kepalanya. Jane hendak mengatakan keberadaan Gutomo saat ini tapi Yansen sudah kembali. Pria itu membawa bingkisan.


"Lihatlah." Menyerahkannya pada Moana.


Jane dan Moana saling pandang. Bingung apa yang di berikan Yansen.


Moana perlahan mengambil kotak di dalam kantong itu.


"ini ponsel?"


"mmm...kamu bilang ini hari ulangtahun mu. anggap saja hadiah dari ku."


"apa...jadi kak Moana ulangtahun?" Seru Jane yang juga baru mengetahuinya. "Pantas saja kakak mengajak kami makan di luar, untuk merayakannya toh." Goda Jane, menyikut lengan Yansen.


Moana tersenyum kecil, pipinya merona. Hatinya sangat senang. Padahal apa yang di berikan Yansen sama dengan Daren, tapi entah kenapa Moana merasa sangat bahagia sekarang. Seakan apa yang di berikan Yansen lebih berharga.


Yansen memalingkan wajahnya yang malu karena Jane terus saja menggodanya.


"sudahlah, setelah makan kita ke dokter." Tukasnya kemudian.


"ke dokter? untuk apa?" Tanya Moana. "apa Jane masih sakit?"


Jane menggelengkan kepalanya, ia sudah sangat sehat sekarang.

__ADS_1


"aku hanya ingin memastikan anakku baik-baik saja." Pernyataan Yansen cukup membuat kedua gadis itu tersenyum simpul.


...****************...


__ADS_2