
Rencana yang di katakan Karan membuat Yansen jadi berpikir, apa dia akan berhasil membuat Drean di jebloskan ke penjara tanpa melukai dirinya sendiri ataupun orang-orang terdekatnya. Ia tak ingin pria itu nekad dan menyakiti keluarganya.
"Karan, atur pertemuan dengan..."
Kring...
Telpon kantor berbunyi. Yansen menghentikan ucapannya lalu segera mengangkat telpon itu.
"biarkan dia masuk." Ujarnya lalu segera menyimpan kembali telpon itu.
Matanya melirik kearah Karan lalu menarik nafas dalam. Dugaan Karan memang benar, Drean akan datang tak lama setelah Sabila pulang. Pria itu pasti sudah kehabisan kesabarannya untuk menghadapi Yansen. Selalu gagal dalam setiap rencananya membuat pikirannya menjadi kacau dan tentu saja ia akan melakukan hal bodoh.
"Dia ada di lobi, apa kita temui dia atau biarkan dia masuk kesini?" Tanya Yansen.
Karan berdiri dari duduknya. Pria itu segera keluar untuk menghadapi Drean. Sedikit melakukan penghalangan agar emosi Drean terpancing lebih banyak lagi.
"Karan, katakan sesuatu? aku bos mu." Seru Yansen tak suka saat Karan sama sekali tak mengatakan apapun dan langsung bertindak begitu saja tanpa perintahnya.
"tenang Pak, lihat saja cctv nya." Cetus Karan sembari terus berjalan meninggalkan ruangan Yansen.
"Ck... sebenarnya siapa yang bos di sini." Decak Yansen, tapi meski begitu ia tetap menyalakan komputernya lalu segera melihat apa yang di katakan Karan.
Dia bisa melihat Drean ada lobi, pria itu membawa senjata di tangannya. Sedikit takut karena bagaimanapun juga di kantornya ini banyak karyawan yang tengah bekerja, bagaimana jika Drean melukai salah satu dari mereka.
Matanya terus mengawasi Drean yang kini sedang berbicara dengan pihak keamanan. Dia di tahan karena senjata yang dibawanya. Tak lama Karan terlihat, Yansen semakin fokus melihat apa yang akan terjadi antara Karan dan Drean.
"Biarkan aku yang urus, kalian berjaga saja di depan." Perintah Karan pada kedua security muda itu.
Drean tertawa keras melihat Karan.
"dimana Yansen? pengecut itu mengirimmu?" Ujarnya sambil menodongkan senjata kearah Karan.
Karan menelan ludahnya. Bagaimana jika dirinya terluka, jujur saja Karan tak ahli dalam berkelahi.
"tenang Pak Drean. Jika ada sesuatu yang ingin Pak Drean sampaikan katakan padaku." Karan berusaha bersikap tenang agar tak membuat Drean melukainya. Pura-pura berani padahal jantungnya berdegup kencang.
"Siapa kamu berani memerintah pada ku?" Teriaknya. "Aku akan membunuh b*jingan itu."
Beberapa karyawan yang ada di sana berdiri ketakutan, melihat senjata api yang di acungkan Drean membuat semuanya tak berani bergerak. Berdiri di tempatnya dengan tubuh gemetar.
Karan melirik kamera cctv yang tepat menyorot kearahnya. Ia memberikan kode kepada Yansen melalui gerakan matanya.
Grep...
Drean meraih kerah baju Karan. Pria itu menodongkan senjata api itu tepat di kepalanya.
__ADS_1
"Berjalan atau aku akan menembakmu?" Ancam Drean.
Dengan pelan Karan melangkahkan kakinya. Ia berharap Yansen sangat pintar di saat seperti ini, mengerti dengan kode yang baru saja dia berikan.
Yansen dengan cepat langsung menghubungi polisi saat melihat gerakan mata Karan. Dia tahu sekarang Karan dan Drean sedang berjalan menuju ruangannya. Maka dengan persiapan yang penuh dia pun berdiri, berjalan mendekati pintu.
Ceklek...
Pintu terbuka. Drean langsung mendorong tubuh Karan hingga menabrak Yansen.
"aku minta maaf jika dia melukai Pak Yansen sekarang. Jujur saja aku takut melihat senjata itu." Bisik Karan membuat Yansen melotot tajam kearahnya.
"Katakan permintaan terakhir kalian?" Ejek Drean.
"Drean, apa yang sebenarnya kamu benci dariku? aku tak pernah melukai mu ataupun mencoba..."
"apa kamu bilang? tak pernah melukai ku?" Sela Drean dengan emosi menggebu. "Kamu ingat sewaktu di sekolah dulu?" Tanyanya dengan kesal.
Yansen tentu tak akan pernah melupakan itu. Sejak dari kelas satu mereka selalu di sandingkan karena sama-sama hebat dalam bermain basket. Guru-guru bahkan menjuluki mereka sebagai dua murid emas.
Tak hanya mahir dalam olahraga, keduanya merupakan siswa terpintar. Hingga hari dimana Drean tersingkirkan pun tiba.
Yansen menjadi lebih unggul ketika mereka sudah kelas 2. Guru semakin membanggakannya, semua teman-teman dan adik kelas mengidolakannya. Perlahan nama Drean pun terlupakan. Yansen menjadi bintang di sekolah.
Sekeras apapun Drean mencoba mengimbanginya tak pernah bisa. Yansen semakin berada di depannya. Yang lebih menyakitkan baginya adalah di saat gadis yang di sukainya malah menyimpan perasaan terhadap Yansen.
...*******************...
Jane bersembunyi di belakang punggung Johan ketika mendapatkan tatapan tajam dari Rada. Ini pertama kali baginya bolos sekolah. Jane takut sekali menghadapi kemarahan Rada.
"Bisa jelaskan kenapa kamu sudah pulang sekolah, Jane?" Pertanyaan Rada penuh dengan nada tekanan.
Jane menarik baju Johan, meminta pria itu untuk membantunya bicara. Johan berdeham pelan, sebenarnya ragu juga untuk berbicara dengan Ibu dari bosnya itu. Tapi, dia sudah berjanji tadi. Maka Johan akan menepatinya.
"Bu Rada, Nona Jane sedikit kurang sehat. Tadi dia menelpon Karan untuk menjemputnya. Karena Karan sibuk jadi aku di minta untuk menjemput Jane, kebetulan aku juga akan kesini." Johan berharap kebohongannya tak di ketahui.
Rada memicingkan matanya. Dia tarik Jane dari belakang Johan.
"apa itu benar? tapi kenapa kamu begitu takut ketika melihat ibu? seperti memiliki salah saja." Ucap Rada yang masih saja curiga.
Moana segera menghampiri ketiganya. Dia tak bisa membiarkan Jane begitu saja.
"Ibu, sudahlah. mungkin itu benar, iya kan Jane?"
"i...iya kak. aku sedang datang bulan dan perut ku sakit sekali." Jane terpaksa berbohong untuk menyelamatkan dirinya dari kemarahan Rada juga hukuman.
__ADS_1
Moana menuntun Jane dengan cepat.
"Ibu, aku akan antar Jane kekamarnya." Dengan cepat Moana mengajak Jane segera pergi dari sana.
Dia tahu adik iparnya tengah berbohong sekarang, terlihat dari gerakan matanya yang nampak gusar.
"Katakan Jane, apa ada masalah di sekolah sampai bolos seperti ini?" Tanya Moana begitu sudah berada di dalam kamar Jane.
Jane memeluk Moana. Ia tumpahkan segala kesedihannya. Hanya Moana yang bisa dia ajak bicara sekarang.
"Kak aku di permalukan oleh pria yang aku cintai. Rasanya sakit sekali. Dia keterlaluan, kak." Isaknya.
"di permalukan?"
"iya." Jane pun memberikan ponselnya pada Moana. Memintanya untuk melihatnya sendiri bagaimana Sammy mempermalukan dirinya di depan semua teman sekelasnya.
"Keterlaluan. kenapa dia begitu tega. Pria macam apa dia, biar kakak marahi dia." Moana jadi kesal di buatnya.
"Tapi...Kak Moana jangan mengatakan apapun pada kakak ataupun ibu." Pinta Jane.
Dia tak ingin Rada maupun Yansen mengetahui masalah.
"kenapa begitu?"
"Kak Yansen bisa memukul Sammy nanti. Kau tak mau menjadi bahan gosip lagi di kelas, sudah cukup hari ini saja."
Moana menghela nafas. "Baiklah. Ganti bajumu, kakak akan buatkan susu. Istirahat lah."
"mmm..."
Jane segera mengganti seragam sekolahnya dengan baju santai. Gadis itu merebahkan tubuhnya, menatap layar ponselnya dengan perasaan tak menentu. Bagaimana besok dia kesekolah. Rasanya sudah tak ada muka lagi untuk bertemu dengan semua teman sekelasnya. Bisa-bisa mereka akan mengejeknya nanti.
"Moana, kemari sebentar." Panggil Rada saat melihat Moana menuruni tangga.
"iya Bu."
"Johan sudah ibu suruh menjemput orangtua mu, malam ini pasti mereka tiba. kita buatkan makanan untuk menyambut mereka."
"iya." Moana tersenyum bahagia. Tak sabar rasanya ingin segera melepaskan rasa rindunya. "aku buatkan susu dulu untuk Jane dulu."
"mmm...dia benar sakit atau hanya pura-pura? Ibu rasa itu akal-akalan saja." Rada masih saja tak percaya, dia yakin jika Jane berbohong soal sakitnya.
Moana terkekeh. "katanya perutnya sakit karena datang bulan, itu hal biasa Bu. Kau juga sering merasakan itu hingga tak sanggup untuk berdiri."
Rada mengangguk-angguk kepalanya. Benar apa yang di katakan Moana. Waktu muda dulu dia juga sering seperti itu.
__ADS_1
...*************...