
Yansen tertegun di tempatnya. Rada telah mengatakan segalanya. Gadis itu rupanya merupakan seseorang yang di kenal ibunya, Yansen tak mengira itu.
Alea terpaku, tangannya semakin erat mencengkram lengan Yansen. Baru saja dia berniat akan melawan Rada, tetap berada di samping Yansen mempertahankan cintanya. Tapi, kenyataan pahit yang di katakan Rada membuat Alea jadi ketakutan setengah mati.
Kesempatan untuk menjadi istri Yansen benar-benar telah hilang.
"kamu telah melakukan kesalahan maka harus bertanggung jawab. Tinggalkan gadis ini dan nikahi gadis yang telah kamu nodai." Tegas Rada.
Karan dan Johan buru-buru pamit pulang. Mereka tak ingin terseret kedalam masalah bos nya.
Rada menatap Alea. Berharap gadis itu akan mundur dengan sendirinya setelah tahu apa yang telah terjadi. Asalkan Alea tak menjadi menantunya, Rada sudah senang. Gadis mana pun yang terpenting tidak seperti Alea, maka dia akan menerimanya.
Moana yang telah di rusak kesuciannya oleh Yansen terlihat jauh lebih baik dari Alea. Wajahnya yang manis memancarkan kenaturalan karena belum terpoles makeup dan juga tatapan matanya yang polos membuat Rada yakin jika Moana memiliki kepribadian yang bagus.
"aku tak percaya Yansen melakukan itu. Ini hanya rencana mu untuk membuat ku menjauhinya." Alea menatap Rada dengan pandangan menantang. "Yansen, apa yang di katakan ibumu, semua itu bohong kan?"
Yansen melepaskan pegangan tangan Alea di lengan nya. Pria itu tak berani menatap wajah gadis tercintanya.
"maafkan aku, Alea." Hanya kata itu yang dia ucapkan lalu berjalan meninggalkan Alea begitu saja.
Pikirannya kacau sekarang. Yansen tak tahu harus bagaimana. Alea langsung berlari mengejarnya.
"tidak Yansen, jangan begini. aku mencintaimu." Teriaknya.
Yansen terus melangkah masuk kedalam. Hatinya sama-sama terluka, tapi dia tak bisa mengabaikan kesalahan yang sudah dilakukannya.
"Jangan kejar putra ku lagi. kamu tak pantas dengannya." Rada menghalau langkah Alea.
Alea mengepalkan tangannya. Matanya balas menatap Rada.
"Kenapa kamu begitu membenci ku? apa karena aku miskin?"
Rada tersenyum sinis.
"Aku tak pernah memandang derajat seseorang, miskin atau kaya sama saja. hanya saja..." Rada menunjuk Alea dengan jarinya. "kamu terlalu kotor untuk masuk keluarga ini."
Alea mengerutkan keningnya.
"Jangan pura-pura bodoh. kamu menjual dirimu demi uang, kamu pikir aku tak tahu?" Seru Rada membuat Alea menelan ludahnya.
Dia tak menyangka jika Rada telah mengetahui pekerjaan apa yang telah di lakukannya selama ini. Alea selalu bermain bersih dan hati-hati, bahkan Yansen saja sewaktu masih menjadi kekasihnya tak pernah tahu soal itu.
"kenapa diam? kehabisan kata-kata untuk membela diri? ckk... lucu sekali. Jane ayo masuk." Rada memanggil Jane lalu mereka pun masuk kedalam.
Alea terpaku di tempatnya. Tubuhnya merosot ketanah. Hatinya sungguh hancur, kenapa harus seperti ini. Dari kecilnya hidupnya selalu menderita. Hanya Yansen yang bisa memberikan kebahagiaan untuknya, tapi sekarang telah berakhir.
__ADS_1
Yansen berdiri di depan jendela kamar. Menyaksikan bagaimana rapuhnya Alea. Gadis itu menangis pilu di luar. Ingin sekali berlari menghampiri lalu memeluknya memberikan kata-kata penenang.
Dia tak tahu, jika Rada telah membuat Alea semakin terpuruk saat ini. Gadis itu benar-benar tak memiliki harapan lagi.
Ia bangkit, berjalan lunglai menuju gerbang. Pikirannya kosong.
"tidak, Alea. jangan pergi." Yansen berlari keluar dengan cepat.
Hatinya tak setega itu. Dia mencintai Alea, tak akan membiarkan gadis itu terluka. Yansen telah berjanji akan terus berada di sampingnya, ia tak akan ingkar dengan janji yang telah di buatnya.
...****************...
Sarah senang ketika Rada menghubunginya dan mengatakan jika Yansen akan bertanggungjawab. Itu artinya Moana tidak harus lagi merasa sedih. Dengan segera Sarah memberitahu kabar itu pada Moana.
"A...apa semudah itu? pria itu langsung setuju?" Tanya Moana.
Sarah mengangguk, mencium puncak kepalanya. Moana sudah di anggap seperti anaknya sendiri.
"Besok kita bertemu dengan Yansen."
"Apa aku harus menikah dengan pria asing?" Lirih Moana.
Sarah mengelus kepalanya. Keraguan Moana dan ketakutan gadis itu membuat Sarah merasa kasihan. Seusia Moana seharusnya masih menikmati masa-masa mudanya, Tapi gadis ini harus di hadapkan dengan masalah yang rumit.
"Untuk menyelamatkan masa depan mu dan berjaga-jaga jika..." Sarah ragu mengatakannya.
"Percayalah, Tuhan pasti telah mengatur ini semua. mungkin ini caranya menunjukkan kasih sayang padamu."
Moana mengangguk. "Ibu, bagaimana cara ku nanti menjelaskan semuanya pada Mak dan Apa?"
Sarah tersenyum. Mengelus punggung tangan Moana. Dari awal bertemu dengannya Sarah tahu jika Moana adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya. Setiap langkahnya hanya untuk membahagiakan keluarga.
"Ibu akan ikut dengan mu nanti, kita hadapi semuanya berdua. jangan cemas, ibu akan menjelaskan segalanya pada mereka."
Moana pun tersenyum, beruntung dirinya bertemu dengan Sarah. Jika saja tak ada Sarah, sudah di pastikan sekarang dirinya hanyalah tinggal nama saja. Moana sungguh putus asa waktu itu, hanya satu yang terlintas di benaknya, mengakhiri hidupnya sendiri.
"Besok ibu akan bantu kamu berdandan. Kamu harus terlihat cantik di depan Yansen. Buat dia mencintaimu, pria itu harus bertanggungjawab dan seumur hidupnya hanya harus ada kamu di hatinya." Sarah mengatakan itu dengan alasan agar Moana berjuang untuk mendapatkan cinta Yansen.
Moana harus hidup bahagia. Jangan sampai menderita seperti dirinya. Di tinggalkan suaminya hanya karena tak bisa memberikan keturunan. Dalam hati, Sarah berdoa. Semoga saja Moana dan Yansen benar-benar di takdirkan untuk bersama meski dengan jalan yang salah mereka di pertemukan.
Dengan demikian, Moana pun mengangguk. Dia akan mendengar semua kata-kata Sarah. Hanya dengan menuruti ucapannya maka hatinya dan hidupnya mungkin akan sedikit lebih baik. Berusaha menyingkirkan pikiran buruk tentang pria itu.
Berharap jika Yansen memanglah pria baik. Dan kejadian malam itu akan ia lupakan, berusaha untuk memandang Yansen sebagai pria yang baik juga bertanggungjawab.
...************...
__ADS_1
Rada dan Jane telah masuk kekamar masing-masing. Mereka tak tahu jika Yansen kembali keluar mengejar Alea.
Ia berlari tergesa keluar, takut Alea melakukan hal yang aneh-aneh.
"Alea..." Panggilnya dengan suara keras.
Alea menghentikan langkahnya. Ia lupa jika saat ini tengah berada di tengah jalan, hendak berbalik untuk melihat kebelakang.
Mata Yansen melebar ketika melihat sebuah mobil yang melaju cukup kencang menuju kearah kekasihnya.
"Alea awas..." Pekiknya sambil berlari mencoba untuk menyelematkan.
Alea menyipitkan matanya saat sebuah cahaya menyorot kearahnya. Jalanan yang begitu gelap membuat sang sopir tak terlalu bisa melihat dengan leluasa.
Hingga akhirnya, tubuh itu pun terpental cukup jauh saat mobil berwarna biru itu menabraknya cukup keras.
Ciiiiittt....
Rem mendadak yang di lakukan sang sopir menimbulkan suara decitan yang begitu memekakkan telinga. Yansen membeku seketika, tubuhnya kaku dan kakinya menjadi sulit untuk bergerak.
Melihat sendiri bagaimana tubuh kecil itu terpental.
"tidak...Alea..." Pekiknya dengan keras begitu tersadar.
Berlari cepat seperti orang gila. Ia peluk tubuh yang sudah berlumuran darah itu. Alea hanya diam tak bergeming, matanya terpejam erat.
Rada tersentak kaget mendengar suara Yansen yang berteriak. Ia segera bangun kembali, baru saja akan memejamkan matanya tapi teriakan Yansen membangunkan.
Ceklek...
Rada membuka pintu dengan tergesa. Hendak berjalan menuju kamar Yansen tapi Gutomo memanggilnya. Jane pun sama, gadis itu keluar dari kamarnya dan hendak menuju kamar Yansen.
"Yansen sepertinya di luar." Ucap Gutomo.
Rada dan Jane pun segera berlari untuk memastikan. Gutomo hanya berjalan santai, pria itu seolah tak terlalu peduli.
"Alea, bangun... kumohon." Yansen menangis sembari mengguncang tubuh Alea yang telah tak berdaya.
"a...apa yang terjadi?" Rada terkesiap begitu tiba. Mundur beberapa langkah melihatnya.
Jane bahkan langsung memeluk Rada. Gadis itu menjerit ketika melihat Alea yang terbujur kaku di pelukan sang kakak.
"bawa Alea kerumah sakit, ibu tolong Alea." Yansen meminta tolong pada Rada begitu sadar jika ibunya sekarang ada di sana.
Rada hanya diam. Kakinya terpaku di tempat. Baru saja dia memaki gadis itu dan sekarang gadis itu ada di hadapannya dengan keadaan mengenaskan.
__ADS_1
...**************...