
Yansen sungguh tak bisa memahami Moana. Gadis itu kadang terlihat pemalu dan selalu diam, tapi detik kemudian dia akan menjadi galak juga sulit untuk di ajak bicara. Moodnya berubah hanya sekian detik saja.
Sebulan sudah pernikahan mereka berjalan, belum juga ada tanda-tanda Moana ngidam. Gadis itu terlihat biasa saja, bahkan badannya terlihat semakin berisi. Mungkin karena terlalu banyak makan.
Yansen pun masih menyembunyikan hubungannya dengan Alea. Ia tak ingin Rada atau Gutomo mengusik gadis itu, menyembunyikannya serapat mungkin.
Meski begitu, Gutomo tak tinggal diam. Dia masih berusaha untuk melenyapkan Alea. Membayar beberapa orang untuk mencari keberadaan gadis itu.
"Ini teh nya dan sepatu Pak Yansen sudah aku semir hingga mengkilap." Seru Moana, wajahnya jutek dan nada bicaranya pun terdengar ketus.
Pagi-pagi sudah kesal, karena Yansen banyak maunya. Pria itu memintanya membuatkan nasi goreng, menggosok bajunya dan menyiapkan sepatunya juga. Melelahkan sekali, Moana kesal karena caranya memintanya sangat tak berperasaan.
Yansen melemparkan kemeja dan sepatunya ke pada Moana.
"Bagus." Hanya itu yang di ucapkannya.
Moana berdecak. Berterimakasih saja nampaknya sulit di ucapkan oleh pria itu.
Rada hanya tersenyum melihat keduanya, meskipun masih belum terlihat ada benih cinta diantara mereka tapi setidaknya Yansen tak terlalu dingin lagi terhadap Moana.
"Ibu, mau sarapan juga? aku sudah membuat nasi goreng untuk semuanya." Seru Moana begitu melihat Rada masuk kedapur.
"Buatkan aku susu juga ya, kak." Jane menyerebot, gadis itu duduk di dekat Yansen.
"iya." Moana mengambil susu dan gelas, ia juga tak lupa bertanya pada Rada dan Gutomo yang baru saja masuk. "Ibu dan ayah mau teh atau air putih saja?"
"air putih saja." Seru Gutomo. Ekor matanya melirik Yansen. "kamu sudah selesai?"
Yansen tak menjawab sama sekali, pergi begitu saja. Membuat suasa menjadi canggung. Gutomo tak peduli, dia menikmati sarapannya.
"aku tahu pelakunya, bersiap saja." Cetus Yansen sebelum benar-benar meninggalkan dapur.
Rada terkesiap, suapannya terhenti. Ia lihat Gutomo tak bereaksi sama sekali, pria itu masih menikmati makanannya. Rada yakin, Yansen sudah mengetahui segalanya, makanya pria itu sama sekali tak bersikap ramah pada ayahnya sendiri.
Moana yang melihat Yansen pergi langsung mengejarnya. Dia ingat jika hari ini punya janji bersama Sarah, mereka akan makan siang bersama.
"tunggu..."
"apa lagi?"
"aku hanya mau minta izin untuk keluar."
__ADS_1
Alis Yansen bertaut, dia pandang Moana yang kini tengah menunggu jawabannya.
"Izin?" Ulang Yansen memastikan kalau dirinya tak salah mendengar.
"iya, aku mau keluar hari ini. Pak Yansen izinkan atau tidak?" Tanyanya sedikit kesal.
Entah kenapa Yansen merasa ada yang aneh dengan hatinya. Hanya sebuah permintaan izin saja bisa membuatnya terharu. Selama ini Alea pun tak pernah izin atau mengatakan padanya akan di mana dan sedang di mana. Kenapa Moana berbeda sekali, bahkan gadis ini hanya ingin membeli sesuatu saja selalu meminta pendapatnya. Yansen merasa benar-benar di butuhkan juga di hargai setiap bersama dengannya.
"Malah bengong... Pak!" Seru Moana sungguh kesal.
"ah...kenapa minta izin, kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan." Seru Yansen.
"bagaimana juga Bapak itu suamiku, meski cuma kontrak." Cibir Moana sambil berlalu.
Yansen dapat mendengar dengan jelas, pria itu terdiam. Merasa tak senang dengan apa yang di katakan Moana, padahal dirinya sendiri yang memulai itu semua. Bahkan menuliskan beberapa syarat untuk Moana.
...***************...
Alea duduk manis di meja makan. Pagi sekali dia bangun dan menyiapkan sarapan, karena seperti biasanya Yansen akan mampir dulu sebelum berangkat ke kantor. Biasanya Yansen hanya akan minum kopi saja dan memberikan uang untuknya belanja, tapi pagi ini Alea ingin Yansen tak hanya sekedar minum kopi. Dia ingin pria itu mencicipi masakannya, selama berpacaran belum sekali pun Alea memasak untuknya.
"ahh...itu dia." Seru Alea girang begitu mendengar deru mobil dari luar rumah.
Dia berlari untuk menyambut kedatangan Yansen.
"Aku buat nasi goreng cumi, kamu makan dulu ya?"
"apa? makan?" Yansen menelan ludahnya. Perutnya sudah kenyang. Tapi, jika menolak maka Alea pasti akan kecewa.
Maka dengan terpaksa dia meng-iya kan permintaannya. Melihat sepiring nasi goreng di atas meja, terlihat enak dan bau nya pun sangat sedap. Yansen langsung duduk, menyendok sedikit untuk mencicipi seperti apa rasanya.
Mulutnya langsung terkatup rapat, perutnya mendadak mual. Cumi yang dia makan bersamaan dengan nasi terasa amis di mulutnya. Susah payah Yansen menelannya.
"bagaimana?" Tanya Alea, berharap Yansen menyukainya.
"mmm...." Yansen berusaha terlihat baik, menelan semuanya meski ingin muntah.
Ia pikir mungkin karena sudah kenyang jadi seperti ini. Tadi di rumah dia makan sangat banyak, masakan Moana terasa pas di lidahnya. Oleh sebab itu, semenjak Moana yang mengambil alis dapur Yansen menjadi sering makan di rumah. Begitu juga dengan yang lain nya.
"habiskan kalau begitu, aku buatkan susu ya." Alea beranjak dari duduknya.
Yansen mati-matian menahan perutnya yang bergejolak, semua makanan yang di telannya seperti berlomba-lomba ingin keluar. Begitu Alea kembali dengan segelas susu, ia langsung teguk habis. Justru itu malah membuat perutnya semakin melilit.
__ADS_1
"aku ada rapat. ini kartu kredit untuk mu belanja hari ini." Ujarnya lalu segera berlari keluar.
Alea hanya mengerutkan keningnya lalu tersenyum senang melihat kartu ATM yang di letakkan Yansen di atas meja. Ia pun puas, masakanya habis.
"Hooeekkk...Hoeekk..." Yansen memuntahkan semua isi perutnya tepat dirinya memasuki mobil.
Kepalanya amat pusing dan matanya berkunang-kunang. Dengan cepat dia melajukan mobilnya, tepat di pertigaan ia berhenti. Segera menghubungi Karan untuk menjemputnya. Yansen tak kuat lagi, matanya terpejam menahan mual.
Sungguh baru kali ini dia mencoba masakan Alea dan hampir mati. Yansen berjanji tak akan meminta gadis itu untuk membuatkannya makanan meski pun kelaparan.
"ah...aku lupa, siang ini aku ajak Yansen makan siang di restoran baru itu. dia pasti suka." Alea bergegas mencuci piring bekas makan Yansen.
...****************...
Moana dan Sarah baru saja selesai belanja. Sebenarnya hanya Sarah saja, Moana tak membeli apapun.
"kamu tak beli baju?"
"hhmm..aku lupa minta izin Pak Yansen."
Sarah berdecak, mendengar Moana yang masih saja memanggil Yansen dengan panggilan Pak.
"dia itu suami mu panggil dia, mas atau hubby."
"tidak-tidak." Moana menggeleng keras. "aku lapar, Bu."
"baiklah, di sana ada restoran yang baru buka seminggu lalu, kita kesana."
Moana pun segera naik kedalam mobil. Dia sudah lapar, seharian menemani Sarah berkeliling mall. Gadis itu nampak senang ketika sampai di tempat tujuan.
"waaahhh...Bu, boleh minta belikan buat Ibu dan Jane?" Tanya Moana begitu masuk kedalam.
"Ck... dasar kampungan sekali kamu. Oke, nanti ibu atur."
"hehehe...." Moana tersenyum lalu merangkul lengan Sarah dengan manja. Mereka terus berjalan untuk mencari tempat duduk.
Sementara itu, di luar. Nampak Yansen yang nampak lesu tengah berdiri bersandar mobil. Pria itu berdecak berkali-kali sembari melihat ponselnya.
"di mana Alea." Gerutunya, ia bergegas kemari begitu mendapatkan pesan darinya. Tapi Alea sendiri belum tiba.
Setelah tadi istirahat beberapa jam di kantor karena rasa mualnya, kini Yansen memaksakan dirinya untuk tetap bertemu Alea.
__ADS_1
...***************...