
Rada beberapa kali mencoba untuk tidak menangis. Mertuanya sudah tiba dan mereka hanya diam saja sedari tadi. Tak ada pertanyaan ataupun pembicaraan di antara mereka.
Suasana rumah sangat hening meski di ruangan itu sekarang terdapat 6 orang. Rada melirik kedua iparnya yang sama diam seperti mertuanya.
Biasanya mereka selalu seenaknya dan berbicara panjang tanpa di pinta. Tapi kali ini justru malah diam dan tak menatapnya sama sekali.
"Ibu..ayah.." Rada memberanikan untuk membuka suaranya. Bagaimana juga ia harus meluruskan masalah keluarganya.
Mertuanya harus tahu apa yang telah terjadi pada Gutomo dan di mana pria itu sekarang berada.
"Rada, kami minta maaf." Mertuanya meraih tangan Rada, jelas sekali raut wajahnya yang begitu menyesal.
"Ibu..."
"kami sudah mendengar semuanya. Yansen sudah mengatakan apa yang telah terjadi. selama ini..." Ibu mertua Rada memeluk tubuhnya dengan erat. Tangisnya pecah begitu saja.
Selama pernikahannya Rada tak pernah sama sekali di akui oleh keluarga Gutomo. Bahkan mertuanya tak pernah mau menyentuh apalagi memeluknya seperti sekarang ini. Hati Rada bergetar, kenapa setelah semuanya terjadi mereka baru menerima dirinya.
"Kami selalu memandang rendah dirimu. Tak pernah sedikitpun melihat betapa baiknya kamu, Rada." Lanjut Ayah mertuanya. "maafkan putra kami. Gutomo melakukan kesalahan yang begitu besar."
Rada hanya diam. Apa semuanya tulus meminta maaf padanya atau mereka melakukan itu agar dirinya tak meninggalkan Gutomo di saat pria itu dalam keadaan terpuruk.
"kami juga minta maaf." Kedua iparnya menyentuh kaki Rada membuatnya berjengit kaget.
"hen..hentikan. aku sudah memaafkan kalian semua." Ucap Rada.
"Bagaimana dengan Jane, apa dia tahu ayahnya sekarang dimana?" Ayah mertuanya nampak cemas.
Rada menghela nafas panjang.
"tidak. aku sengaja tak memberitahunya. Jane sempat shock begitu tahu ayahnya di tangkap polisi." Jelas Rada. "jadi...aku dan Yansen tak mengatakan jika ayahnya telah melenyapkan nyawa seseorang, karena itu bisa mengganggu mentalnya nanti."
Semua yang ada di ruangan mengangguk setuju. Mereka sepakat akan menutupi semuanya dari Jane.
"Kita jenguk mas Gutomo sekarang, ibu dan ayah sudah siapkan?" Tanya Rada.
Dua orang berusia lanjut itu mengangguk lemah. Tak yakin apa hatinya akan kuat melihat keadaan putranya sekarang.
Rada meraih tangan ibu mertuanya. Tersenyum begitu lembut.
"ibu, aku tahu hati seorang ibu seperti apa. Jika ibu tak sanggup, kita tak perlu kesana."
"tidak Rada, ibu ingin melihat Gutomo. Apa dia sehat-sehat saja di sana."
"Baiklah."
__ADS_1
Mereka pun segera pergi. Rada berulang kali menarik nafasnya. Seandainya keluarga Gutomo sebaik ini di saat Gutomo masih baik-baik saja, mungkin akan sangat lebih baik. Kenapa di saat keluarganya tengah di uji berat, mertua dan iparnya baru bersikap begitu baik.
...***************...
"Waahh...bagus kak. Bayi nya sehat." Jane terus bergelayut manja di lengan Moana. "tapi sayang, belum ketahuan apa bayinya tampan atau cantik." Keluhnya.
Moana terkekeh geli. Jane memang yang paling antusias perihal bayi kecil di dalam kandungannya ini. Gadis itu terus berjalan di sampingnya tanpa mau melepaskan pelukannya di lengan Moana.
"Sabar, nanti juga kita tahu."
Mereka baru saja selesai memeriksa kandungan Moana. Melihat perkembangan sang bayi.
Yansen berjalan di belakang keduanya. Hanya diam saja, di tangannya ada hasil USG sang bayi. Gemuruh di dadanya tak bisa berhenti, ada rasa senang dan bahagia. Yansen bahkan tak tahu harus seperti apa mengekspresikannya saking bahagianya.
"Pak, ini mobilnya." Seru Moana dengan cepat ketika melihat Yansen yang terus saja berjalan bahkan hampir melewati mobil mereka.
Jane yang sudah masuk kedalam mobil pun melongokkan kepalanya.
"kakak, mau kemana?" Teriaknya.
Yansen yang sadar kalau langkahnya sudah jauh buru-buru kembali. Memasang wajah datar untuk menyembunyikan rasa malunya. Bisa-bisanya dia jadi linglung begitu karena hasil USG anaknya.
"ada apa dengan bapak?" Tanya Moana cemas.
Moana pun masuk dan duduk di samping Yansen. Sesekali meliriknya melalui ekor matanya. Wajah Yansen nampak begitu kaku.
Hati Moana pun berdesir. Ia berpikir Yansen bertingkah aneh mungkin karena memikirkan Alea. Siapa yang tak akan terguncang jiwanya ketika belahan hatinya pergi untuk selamanya.
Rasa sedih itu seketika menjalar kedalam hatinya. Tak bisakah dia menggantikan gadis itu hanya sebentar saja.
Yansen yang merasa Moana diam saja pun melihatnya sekilas. Berdecak ketika melihat wajah murung Moana.
"Apa kamu tidak senang?" Tanya Yansen.
"maksud Bapak?"
"kenapa wajahmu begitu? apa kamu tidak suka kado yang aku berikan atau kamu menyesali kehadirannya di dalam sana?" Pertanyaan Yansen seketika membuat Moana menggelengkan kepalanya cepat.
"kenapa pak Yansen bertanya seperti itu. tentu saja aku bahagia karena anak ini ada didalam rahimku. justru aku yang seharusnya bertanya, apa bapak menerima kehadirannya atau tidak karena anak ini ada bukan kemauan bapak sendiri tapi sebuah ketidaksengajaan." Tutur Moana.
Jane yang mendengar itu pun langsung buru-buru memakai headset dan menyalakan musiknya, ia tak ingin mencuri dengar perdebatan kakak dan kakak iparnya.
Yansen langsung menghentikan mobilnya. Ia memandang Moana yang juga tengah menatapnya.
"Tak bisakah kamu sedikit saja tak membuatku marah?" Desisnya.
__ADS_1
"Karena memang itu kenyataannya. Bapak menikahiku pun karena terpaksa. benarkan?"
Yansen langsung melihat kebelakang saat Moana berkata begitu, ia takut Jane mendengarnya. Melihat Jane yang memejamkan mata dan headset menempel di telinganya membuat Yansen merasa lega. Ia pun segera keluar dari mobil, berjalan memutar lalu membuka pintu satunya dan menarik Moana keluar.
"Cukup Moana, aku sudah berusaha menerimamu selama ini. jangan membuatku meninggalkan mu di tempat ini." Ancamnya.
Moana menarik tangannya yang di pegang kuat Yansen. Jalanan nampak sepi karena memang bukan di tempat yang berpenghuni. Setiap sisi jalan hanya di penuhi pepohonan.
"menerima apa? bapak hanya menginginkan bayi ini saja." Moana menyentuh perutnya. "Aku tahu Pak Yansen berniat mengurus anak ini bersama dengan Alea. tapi sekarang Alea sudah mati." Karena marah Moana jadi tak memperhatikan ucapannya.
"Kamu..." Tangan Yansen terangkat hendak memukul.
Moana pun memejamkan matanya rapat. Tapi, saat tak merasakan apapun Moana pun kembali membuka matanya. Yansen sudah kembali masuk kedalam mobil. Menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan Moana begitu saja.
"Keterlaluan. Dasar b*jingan. pria br*ngsek." Pekik Moana keras.
Tak menyangka jika Yansen benar-benar akan meninggalkannya. Moana mengepalkan tangannya kuat. Ia berjanji tidak akan memaafkannya begitu saja.
Yansen meremat setir dengan kuat. Hatinya menggelegak panas. Emosinya memang sangat buruk, gampang terbawa arus juga mudah terpengaruh.
"Kak..." Jane yang ketiduran pun terbangun. Gadis itu mengerutkan keningnya saat tak melihat keberadaan Moana.
"loh...kak Moana mana?" Tanyanya.
Yansen tak menjawab, melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Jane pun menjadi cemas, ia tahu pasti telah terjadi sesuatu di saat dirinya tidur tadi.
"kakak... hentikan mobilnya. di mana Kak Moana?"
"berisik Jane. jika tak ingin kakak turun di tengah jalan diam lah."
Jane tak takut dengan ancaman Yansen. Tak peduli apa akan di turunkan sekarang juga.
"Aku tidak akan diam. dimana kak Moana?"
Yansen memejamkan matanya. Menghentikan mobilnya dengan cepat.
"aku turunkan di jalan. kenapa?"
"kakak keterlaluan. kak Moana itu sedang hamil. bagaimana jika terjadi sesuatu padanya juga bayinya."
Mendengar itu Yansen pun langsung memutar kembali mobilnya. Ia jadi khawatir dan takut jika apa yang dikatakan Jane benar-benar terjadi.
"heum..sok tak peduli padahal begitu mencemaskannya." Gumamnya Jane tak mengerti dengan tingkah Yansen.
...**************...
__ADS_1