
Yansen mabuk hingga tak sadarkan diri. Ingin sekali membuang segala hal yang ada di dalam pikirannya. Bagaimana bisa Gutomo begitu tega terhadapnya dan juga ibunya. Selama ini Yansen ternyata telah menjalin hubungan dengan putri dari ayahnya sendiri. Gutomo menyembunyikan semuanya dengan tanpa perasaan.
"Pak, kita pulang saja." Ajak Karan, berusaha mengangkat tubuh yang menelungkup di atas meja Bar.
"Alea...gadis itu..." Racaunya tak jelas, tanganya menggapai udara. "dia tewas kan? dia membunuh putrinya sendiri... pria itu..."
Belum selesai apa yang di ucapkan nya Yansen sudah tak sadarkan diri. Karan menghela nafas berat lalu segera mengangkat tubuh Yansen di punggungnya.
Dia tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada bos nya itu, hanya bisa menebak saja pasti semua karena Alea.
Johan berlari cepat begitu melihat Karan keluar dari Bar.
"apa yang terjadi dengan Pak Yansen?" Tanyanya sembari membuka pintu mobi.
"kamu bawa mobilnya jangan banyak tanya." Seru Karan, meletakkan Yansen di kursi belakang lalu ikut masuk.
Lelah dan punggungnya terasa akan patah.
Johan pun langsung berlari mengitari mobil. Jika Karan sudah berkata seperti itu tandanya pria jangkung itu tak ingin banyak lagi bicara.
Di tempat lain, Gutomo tengah terdiam memandang wajah pucat Alea yang terbaring di hadapannya. Pria itu mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Alea dengan perlahan. Terasa dingin sekali membuat Gutomo langsung memejamkan matanya.
"bawa gadis ini dan masukan kedalam mobil." Perintahnya pada seseorang yang ada di belakangnya.
"kami baru akan menguburnya."
"tidak perlu."
Semua anak buahnya saling melempar pandangan tak mengerti lalu dua orang dari mereka pun langsung bergerak untuk mengangkat tubuh Alea.
Gutomo berdiri dan merogoh ponselnya. Ia hubungi Rada tanpa banyak berpikir. Begitu sambungannya terhubung Gutomo pun langsung berucap dengan amat pelan.
"Rada, temui aku di kantor di polisi."
Tut...
Mematikannya langsung tanpa menunggu jawaban dari Rada. Gutomo melangkah dari gudang tua itu. Menarik nafas dalam lalu mengambil koper dari dalam mobilnya.
"uang itu berjumlah 3 ratus juga. kalian membaginya dan tutup mulut sampai kapanpun." Ujarnya.
Ke enam pria itu masih tak mengerti dengan apa yang dilakukan Gutomo. Pria itu sudah memberikan uang yang sangat banyak kepada mereka sebelumnya dan memerintahnya untuk melenyapkan Alea lalu menghapus jejaknya. Tapi, kenapa Gutomo malah membawa mayat itu bersamanya.
"Tinggalkan tempat ini dan pergi lah sejauh yang kalian bisa."
Gutomo pun masuk kedalam mobil setelah mengatakan itu. Ia lajukan mobil berwarna putih itu dengan pelan. Sesekali di melirik ke belakang, melihat tubuh kaku putrinya yang selama ini tak pernah ia akui itu.
Hatinya bergemuruh hebat. Tangannya gemetar memegang setir mobil.
__ADS_1
"aah...hahaha..." Tawa penuh kesedihan dan sesal itu terdengar sangat menyayat.
Gutomo seperti orang gila, sepanjang perjalanan hanya tertawa lalu detik kemudian menangis. Pria itu sesekali membenturkan belakang kepala nya ke jok, banyak sekali bayangan-bayangan tentang dirinya yang selama ini telah menyakiti Alea.
Gadis yang tak pernah tahu siapa orangtuanya dan alasan kenapa dirinya begitu menderita selama ini harus meregang nyawa dengan begitu sadis.
Sekujur tubuhnya di penuhi banyak luka. Wajah cantik nya berubah pucat dan matanya yang bulat terpejam erat.
...**************...
Rada mematung dengan tubuh bergetar hebat. Ponselnya telah terjatuh ke lantai. Perasaannya mendadak tak nyaman.
"ibu, ada apa? siapa yang menelpon?" Tanya Jane cemas melihat keadaan Rada.
"ki...kita ke kantor polisi sekarang." Ucap Rada panik.
Jane dan Moana saling pandang.
"sebenarnya ada apa, bu?" Moana jadi ikut panik. Perasaannya sedari tadi sangat tak nyaman, ia takut terjadi sesuatu terhadap Yansen karena pria itu sampai sekarang belum pulang juga.
Rada tak menjawab. Ia berlari menuju garasi di ikuti Jane dan Moana. Rada dan Jane langsung masuk kedalam mobil. Sementara Moana berlari menuju pintu gerbang, membuka pintu pagar hitam itu dengan cepat.
Baru saja Rada akan melajukan mobilnya, sebuah mobil sudah masuk lebih dulu. Moana pun berjalan mendekati mobil itu.
"Pak Yansen!" Terkejut melihat Yansen yang di papah Karan keluar dari mobil.
Rada pun bergegas keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Jane.
"kekamar saja langsung." Moana berlari mengikuti.
Rada yang sempat ingin kembali masuk kedalam untuk melihat keadaan Yansen pun harus menghentikan keinginannya ketika teringat akan Gutomo.
"Jane, ibu akan pergi sendiri." Ucapnya lalu segera masuk kembali ke dalam mobil.
Jane berdiri di tempatnya dengan bingung. Sebenarnya ada apa dengan keluarganya, ibunya terburu-buru ke kantor polisi entah untuk menemui siapa dan kakaknya seperti itu.
Masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi di keluarganya ini.
Johan dan Karan sudah kembali. Kedua pria mengeryit melihat Jane yang masih berdiri di luar rumah. Mereka pun langsung menghampirinya.
"Jane..." Panggil Johan.
"Kak Jo, apa yang terjadi pada kakak?"
Johan melirik Karan terlebih dahulu setelah mendapat isyarat dari Karan untuk segera pergi Johan pun mengangguk mengerti. Ia menepuk bahu Jane.
"Karan akan menjelaskannya."
__ADS_1
Jane langsung melihat Karan. Pria itu mengangguk lalu menarik tangan Jane untuk masuk kedalam. Sementara Johan kembali pulang.
"di luar dingin."
"kak, apa yang terjadi sebenarnya? ibu dan ayah selalu berselisih dengan kakak. apa semua karena kekasih kak yansen itu?"
"kamu masih kecil, Jane. tak akan mengerti dengan masalah orang dewasa." Jawaban Karan membuat Jane marah.
Gadis itu menatap Karan dengan kesal. Selalu di anggap bocah dan di perlakukan seperti anak kecil itu sangat menyebalkan. Dia tahu jika keluarganya dalam masalah, apa tak ada seorangpun yang ingin memberitahu nya masalah apa yang sedang di hadapi kedua orangtua juga kakak nya itu.
"Aku bukan anak kecil. Aku sudah SMP sekarang. aku bisa membedakan mana yang baik dan buruk. kenapa kakak, ibu dan ayah selalu memperlakukan ku seperti anak-anak. Bahkan kak Karan pun begitu." Teriaknya penuh emosi.
Grep...
Karan langsung memeluk tubuh Jane. Membuat gadis itu menangis semakin keras, tangannya mencengkram baju Karan erat.
"apa yang harus aku lakukan saat melihat semuanya? Ibu bahkan tak memberitahu ku untuk apa ke kantor polisi."
Karan langsung melepaskan pelukannya. Ia pegang kedua bahu Jane, melihat wajahnya dengan penuh tanya.
"kantor polisi?"
Jane mengangguk.
"kita kesana, kak Karan mau kan?"
Menghela nafas berat lalu segera mengajak Jane pergi. Tapi sebelumya dia meminta gadis kecil itu mengambil kunci motor milik Rada. Sebuah scoopy berwarna putih pun ia pakai.
Di kamar, Moana tengah kewalahan. Mencoba membuka sepatu dan juga baju Yansen.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumam Moana, baju dan sepatu sudah dia lepas.
Moana menutup matanya untuk membuka celana Yansen. Tangannya gemetar dan tubuh nya sangat tegang. Ini hal yang memalukan baginya, meski Yansen dalam keadaan tak sadar tapi Moana tetap saja tak berani melakukannya.
Grep...
Tangannya langsung di pegang Yansen dengan cepat. Moana terperanjat, matanya membulat sempurna melihat Yansen yang sudah terbangun. Pria itu perlahan bangun dan dengan sekali tarikan ia peluk tubuh Moana.
"Moana..."
Deg
Jantung Moana terasa berhenti. Baru kali ini Yansen memanggil namanya. Moana menegang dengan pelukan Yansen yang semakin mengerat.
"Jangan bergerak." Bisiknya tepat di telinga kiri Moana, membuat gadis itu menelan ludahnya susah payah. "sebentar saja."
Yansen meletakkan kepalanya di bahu kiri Moana. Posisi kedua nya saat ini duduk di atas ranjang. Yansen memejamkan matanya, merasakan kehangatan juga kenyamanan yang di dapatkannya dari Moana.
__ADS_1
Semua bebannya seakan menghilang begitu saja.
...*****************...