
Semenjak malam itu, Moana dan Yansen menjadi semakin harmonis. Yansen memperlakukan Moana dengan penuh sayang. Bahkan pria itu ragu lagi untuk meminta jatahnya.
"Pagi ini mas tak ada rapat?" Tanya Moana sambil menyibakkan selimut yang membungkus tubuh Yansen.
Pria itu menggelikan. Sudah jam 8 tapi Yansen merasa sangat mengantuk juga malas untuk bangun.
"Hari ini aku mau tidur saja." Jawabnya.
Moana menggelengkan kepalanya. Berdecak sebentar lalu kembali menyelimuti tubuh Yansen. Mungkin Yansen sedang tak enak badan, pikirnya.
Ia pun bergegas kedapur untuk mengambilkan sarapan bagi Yansen. Saat hendak masuk kedapur Moana melihat Jane yang baru kembali. Gadis itu nampak lelah, keringat membasahi wajahnya hingga rambutnya pun nampak basah dan lepek.
"Jane, loh..kamu dari mana? aku pikir kamu sudah berangkat sekolah." Tanya Moana heran, karena sudah sesiang ini Jane masih berada di rumah.
Jane menghembuskan nafas. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya. Moana yang melihat itu hanya diam, menebak jika adik iparnya pasti sedang memilliki masalah. Maka dia pun segera kedapur, membuatkan segelas susu untuknya.
"Jane, minumlah dulu."
Jane membuka matanya.
"Kak..."
"ada apa?" Moana terkejut ketika Jane tiba-tiba memeluknya. Gadis itu menangis di dalam pelukannya.
"Jane, kamu kenapa?" Cemas Moana.
Tak menjawab apapun, ia hanya menangis saja. Jane hanya ingin menumpahkan airmatanya yang sedari tadi di tahannya. Moana mengelus punggungnya untuk menenangkan.
"kamu minum dulu susunya lalu mandilah. jika ingin bercerita nanti cari kakak saja, ya." Ujar Moana.
Jane mengangguk pelan. Moana mengelus pipinya.
"sudah, jelek jika cengeng seperti itu. kakak mau buat sarapan buat kakak mu."
"aku...juga lapar." Cicit Jane sembari menyentuh perutnya.
Moana terkekeh. "iya, cepat mandi sana."
Setelah di lihatnya Jane naik keatas, Moana pun segera kembali kedapur. Dia akan buat sarapan untuk semuanya. Terlebih Rada juga belum terlihat pagi ini, dari kemarin Moana merasa jika Rada pun sepertinya dalam mood yang buruk. Maka dia harus melakukan sesuatu untuk wanita itu. Jane dan Rada nampak tak baik-baik saja, Moana mungkin harus membuat sarapan spesial untuk keduanya.
Empat nasi goreng cumi telah terhidang di meja. Moana pun bergegas untuk memanggil Jane dan Rada, sementara satu piring dia bawa kekamarnya. Karena berpikir jika Yansen sepertinya sedang tak enak badan.
"Mas, sarapan dulu. aku pergi memanggil ibu dan Jane. mas makanlah, nasi dan air nya aku letakkan di sini ya." Ujar Moana.
Yansen menggeliat. Membuka matanya lalu mengangguk pelan, sebenarnya dia sehat-sehat saja. Tapi entah kenapa, rasanya begitu malas untuk bangun dari tempat tidur. Bahkan Yansen merasa matanya sulit sekali untuk terbuka. Apa karena tadi malam dia melakukan hal itu dengan Moana jadi tidurnya yang selalu terganggu itu kini telah kembali nyenyak. Tubuhnya terasa ringan dan kepalanya tak lagi pusing.
Melihat Moana yang kembali keluar, ia pun segera bangun. Membersihkan tubuhnya terlebih dahulu lalu menyantap sarapannya dengan cepat.
__ADS_1
Sementara itu, di ruang makan. Ketiga wanita berbeda usia itu tengah menikmati makanannya dengan diam. Rada sesekali melirik Jane, memastikan jika putrinya baik-baik saja.
"Ibu, mau tambah lagi?" Tanya Moana ketika melihat piring mertuanya telah kosong.
"tidak, ibu sudah kenyang." Jawab Rada. "Jane, kamu masih marah dengan ibu?"
Jane meletakkan sendoknya lalu meneguk segelas air. Moana yang merasa ini bukan masalahnya pun buru-buru mencuci piring bekas makannya lalu keluar. Ia tak ingin mengganggu ibu dan anak itu.
"mas, loh...mau kemana?" Moana langsung berlari mengejar Yansen yang baru saja menuruni tangga.
Pria itu sudah rapi dan terlihat akan pergi. Yansen menghentikan langkahnya.
"hanya keluar saja, mau ikut?" Tawarnya.
"apa boleh?"
Dengan gemas Yansen menyentil hidung Moana. Tentu saja, Moana sekarang berhak untuk ikut kemanapun dirinya pergi.
"Ayo, kita jalan-jalan sebentar. agar baby juga senang." Ucap Yansen, mengelus perut Moana. "pasti dia kaget karena tadi malam ayahnya telah menjenguknya."
"mas, iihh..." Moana langsung mencubit lengan Yansen. "apaan sih." Cemberutnya.
Yansen terkekeh, menggoda Moana menjadi hal yang begitu menyenangkan sekarang.
...*************...
Regard menarik nafas panjang melihat tumpukan buku di hadapannya. Karena bersikeras untuk menemani Jane tadi pagi, membuatnya harus datang terlambat ke sekolah. Pemuda berkulit gelap itu menghembuskan nafas kasar, dua buku tebal itu harus di salin dalam satu hari saja. Hukuman yang di berikan gurunya memang luar biasa.
"apa hukumannya kurang?"
"lebih dari cukup. sudahlah jangan menggangguku." Usir Regard.
Hanya Regard teman Sammy yang bisa berbicara dengan kasar kepadanya atau menegur hingga berani menasehatinya. Yang bahkan hanya untuk bertanya saja terlihat sungkan.
"Demi gadis bodoh itu kamu kesiangan." Celetuk Sammy lagi.
Regard menghentikan kegiatan menulisnya. Ia langsung menatap Sammy dengan kening berkerut, lalu melihat arah pandang Sammy.
"dia tak bodoh. aku menyukai." Jawab Regard sambil memandang bangku kosong milik Jane. Pemuda itu melirik tangan Sammy yang terkepal di bawah meja lalu tersenyum sinis.
"Jane itu gadis yang baik. aku suka dia." Tambahnya lagi dengan sengaja.
Sammy langsung berdiri lalu pergi tanpa mengucapkan satu kata pun. Regard menggelengkan kepalanya, lalu bersiul ke arah Inggit. Gadis itu berbalik lalu segera mendekati Regard.
"ada apa? aku ingin ke kantin. kamu ingin di belikan sesuatu?" Tanya Inggit.
"tidak, hanya mau minta bantu aku menyalin ini." Regard menggeser satu buku lainnya kearah Inggit.
__ADS_1
Inggit bergidik sendiri, bukunya begitu tebal di tambah banyak sekali angka dan rumus di sana. Fisika salah satu pelajaran yang bisa membuat kepalanya botak.
"Ayolah nggit." Mohon Regard. "kamu kan teman terbaikku."
"nanti deh, aku lapar. aku beli sesuatu dulu." Ujarnya lalu segera berlari keluar kelas.
Sekarang memang waktunya istirahat. Berhubung hukumannya harus selesai sekarang juga, Regard terpaksa harus menahan diri untuk tidak pergi kekantin.
Pemuda itu pun jadi teringat dengan Jane. Dengan cepat dia keluarkan ponselnya lalu menekan tombol call. Tak lama panggilannya terhubung, Jane tersenyum riang begitu melihat wajah Regard.
"Aku di hukum Jane." Adu Regard dengan wajah di buat sedih.
"aah...benarkah? apa karena aku? sudah aku katakan padamu bukan, pergilah sekolah. kamu sih tak dengar." Cerocos Jane. Gadis itu terlihat membenarkan posisi duduknya.
Inggit yang baru kembali dari kantin langsung merebut ponsel Regard. Lalu melambaikan tangannya pada Jane.
"eh... Inggit." Kaget Jane, dia kira Regard sendirian.
"kamu selesaikan saja hukumannya biar aku yang pegang ponselnya." Seru Inggit pada Regard. "Jane, dia hukum menyalin banyak sekali."
"hahaha...kasihan sekali. nanti pulang sekolah mampirlah kerumah, aku akan buatkan puding coklat untuk mu Regard."
"serius nih?"
"wah.. Regard doang, aku bagaimana?"
"iya...kalian berdua."
Regard dan Inggit pun tertawa bersama dengan Jane yang menemani mereka lewat video call. Sammy meletakkan sekantong penuh makanan keatas meja lalu meminta Inggit untuk berdiri dari kursinya. Pemuda itu sama sekali tak melihat kearah ponsel.
Jane yang melihat kedatangan Sammy langsung berpamitan.
"aku tutup ya. nanti jangan lupa datang." Ujarnya.
"oke." Jawab Inggit dan Regard bersamaan.
Sammy mendengus. Regard mengisyaratkan Inggit untuk pergi meninggalkan mereka. Dengan cepat gadis itu pun mengembalikan ponsel Regard.
"Aku sengaja menghubungi Jane."
"apa itu masalah untuk ku?" Cetus Sammy. "terserah kamu melakukan apa dengannya."
Regard tersenyum penuh arti.
"termasuk memacarinya?"
Sammy langsung menatap tajam dirinya. Kedua pemuda itu terlihat saling menatap dengan pandangan berbeda. Sammy penuh kemarahan sementara Regard, tenang juga tak tergoyahkan.
__ADS_1
...****************...
Maaf ya update nya telat. aku sedikit sibuk beberapa hari ini.