
Rada dan Jane sudah tiba di rumah sakit. Keduanya naik taksi online, karena Rada merasa kurang sehat jadi ia tak mau membahayakan dirinya dan Jane dengan membawa kendaraan sendiri.
Baru juga keluar dari taksi mereka melihat Karan sedang berjalan tak jauh dari mereka. Dengan cepat Jane memanggilnya.
"Kak Karan?"
Karan menghentikan langkahnya lalu berbalik. Seketika ia pun berjalan kebelakang menghampiri Rada dan Jane.
"selamat pagi menjelang siang, Bu." Sapanya pada Rada. Lalu melirik ke arah Jane dan tersenyum kecil, amat tipis sekali hingga tak terlihat sedang tersenyum.
Gadis itu meroling matanya malas, setiap bertemu selalu begitu. Karan akan melihatnya dengan tatapan yang memuakkan pikirnya.
"Kamu mau menjenguk Yansen?"
"ah...ini Bu, Pak Yansen memintaku untuk membeli makanan." Karan mengangkat kantung plastik yang tengah di pegangnya.
Rada mengangguk.
"Sini, biar kami bawa sekalian. Kamu bisa pulang Karan."
Karan pun menyerahkan kantung plastik itu lalu pamit pulang. Sebelumnya dia mengerling ke arah Jane, menggoda gadis kecil itu terasa sedikit menyenangkan baginya.
Jane melotot lalu mengarah tinju ke arahnya seolah-olah ingin memukul. Karan terkekeh pelan, mengacak poni Jane lalu segera pergi. Hal tersebut tentu saja membuat Jane jadi kesal, selalu di perlakukan seperti anak kecil oleh Karan membuatnya marah.
"iisshh...dasar om-om menyebalkan." Desisnya.
Rada yang memang sudah hafal dengan sikap Karan terhadap Jane hanya menggelengkan kepalanya saja. Dulu, waktu pertama kali bertemu dengan Karan, ia pikir pemuda itu sangat baik juga penyayang. Setiap datang kerumahnya ia selalu membantu Rada melakukan apapun termasuk menjaga Jane yang sedang bermain di halaman rumah.
Karan bekerja pada Yansen sudah cukup lama, ketika Jane masih kelas 4 SD dan sekarang gadis itu sudah duduk di kelas 2 SMP.
"Bu, kenapa sih kak Karan itu suka sekali mengacak rambutnya Jane. Kan jadi berantakan."
"sudah-sudah, ayo kita masuk kedalam. Kakakmu pasti sudah menunggu."
Di dalam Moana nampak resah, perutnya sungguh tak nyaman. Kembali terasa di aduk hingga membuatnya semakin sering bolak-balik kedalam kamar mandi. Ia muntah tanpa mengeluarkan apapun sehingga membuatnya semakin tersiksa.
Yansen yang melihat itu hanya bisa diam saja. Ingin sekali memijit tenguknya untuk mengurangi penderitaan Moana tapi merasa malu. Jika ia lakukan itu maka harga dirinya mau di taruh mana, gengsinya terlalu besar.
"Sampai kapan mau di dalam. kita sudah bisa pulang." Seru Yansen.
Moana mencuci mulutnya lalu bergegas keluar. Ia menatap Yansen dengan sebal, merasa kesal karena pria itu sama sekali tak peduli dengan penderitaannya. Ia seperti ini pun karena bayi di dalam perutnya, seharusnya sebagai calon ayah dari jabang bayi ini Yansen pengertianlah sedikit.
"Ini semua karena..." Ucapan Moana terhenti saat pintu terbuka. "Ibu!" Serunya.
Rada tersenyum. "Ini, kamu pasti lapar." Langsung menyerahkan kantung plastik berisi makanan itu kepada Moana.
Jane pun menerobos masuk, gadis itu tak langsung menghampiri Yansen. Justru malah memeluk Moana lalu mengelus perutnya.
"Kak Moana pasti bayinya juga laper, ya?" Tanyanya.
__ADS_1
Moana hanya tersenyum kecil lalu mengangguk pelan. Yansen yang melihat bagaimana Rada dan Jane memperlakukan Moana hanya mendesah pelan. Kenapa mereka tak pernah bersikap seperti itu terhadap Alea, bahkan Rada terlihat begitu memusuhi Alea setiap kali bertemu.
"Yansen, infusannya di lepas?" Tanya Rada melihat Yansen yang sudah tak di infus lagi.
Pria itu tak menjawab, sikapnya masih dingin terhadap Rada. Rasa kesalnya pada sang ibu rupanya masih tersimpan di hatinya. Jane berdecak dengan tingkah kakaknya.
"Kak Yansen, ibu bertanya." Serunya.
Moana yang sedang makan pun langsung melihat ke arah ketiga orang itu. Ia sedikit kurang berselera sebenarnya karena rasa mualnya, tapi demi kesehatan juga agar ada tenaga ia paksakan telan semua makanan yang masuk kedalam mulutnya. Hanya beberapa suap saja lalu segera merapikan kembali semuanya.
"Ibu, kita pulang saja. Pak Yansen sudah bisa pulang kok." Moana merangkul lengan Rada lalu mengajak wanita itu untuk berjalan keluar. "Jane, ayo." Tak lupa juga mengajak adik iparnya.
Moana mengacuhkan Yansen, bukan tanpa sebab. Gadis itu merasa kesal dengan tingkah Yansen, bersikap tak sopan terhadap ibunya sendiri.
Yansen pun berjalan di belakang dengan kesal. Moana meliriknya sekilas, bibirnya mencebik hingga membuat pria itu melotot lebar. Seketika Yansen lupa dengan Alea. Hatinya bahkan menghangat, tingkah Moana sedikit membuatnya terhibur.
...*****************...
Di tempat lain.
Gutomo tengah berbicara dengan beberapa orang pria berbadan cukup besar yang di penuhi banyak tato di sekujur tubuhnya.
"Jangan sampai tercium oleh polisi." Desis Gutomo lalu menyerahkan koper berukuran sedang ke arah 5 pria itu.
"Tentu bos, semua pasti aman." Seru salah satu dari mereka seraya mengambil koper itu.
Gutomo pun bergegas pergi. Ia tak ingin keberadaannya di ketahui oleh siapapun.
Dari dalam bangunan yang terbuat dari bilik itu seorang wanita terbaring lemah, tubuhnya di penuhi luka dan wajahnya nampak pucat pasi. Entah masih bernyawa atau tidak, hanya mereka yang tahu.
Sekitar pukul 8 malam ia kembali kerumah. Keadaan rumah sudah sepi, hanya ada Rada yang tengah duduk di ruang tamu. Wanita itu sepertinya tengah menunggu kepulangannya.
"Rada."
"Dari mana? aku tahu mas tak kekantor."
Gutomo mendesah lalu berjalan melewatinya sambil berujar cukup pelan.
"Jangan memulai pertengkaran. Kamu sudah berjanji bukan untuk tidak mengurusi urusan pribadiku."
Wanita itu berdiri, menyusul Gutomo dengan cepat yang kini tengah berjalan kearah kamar mereka. Cepat ia kunci kamar itu agar tak ada yang masuk ketika mereka tengah berdebat.
"Mas, selama ini kamu menyembunyikan fakta yang begitu besar. Apa jadinya jika Yansen tahu kalau Alea ternyata putri ayah nya juga? apa kamu tak pernah terpikirkan sebelumnya."
"Itu kesalahan di masa lalu, Rada. aku tak sengaja menghamili seorang wanita."
Rada berdecak. "Tak sengaja mas bilang, itu terjadi setelah kita menikah. Itu artinya mas telah berselingkuh dari ku."
Gutomo memijit pelipisnya. Pernikahannya dengan Rada pun awalnya sebuah tak kesengajaan, ia mabuk lalu mel*cehkannya. Persis seperti Yansen dengan Moana saat ini. Mungkin itulah kenapa pepatah mengatakan jika garam selalu berasa asin walaupun sudah di campur dengan makanan lain.
__ADS_1
"mas bahkan telah melenyapkan satu nyawa, bagaimana jika polisi mengetahui kejahatanmu." Rada terduduk di lantai dengan tangis yang pecah. "Bagaimana jika kamu di penjara?"
Perlahan rasa cinta di hati Rada tumbuh dengan seiringnya waktu berjalan. Ia khawatir terjadi apa-apa kepada suaminya jika semua kejahatannya telah tercium polisi, bagaimana nasibnya nanti. Apalagi dia tahu jika Gutomo pun berniat melenyapkan Alea.
Gutomo luruh, pria yang hampir memiliki uban itu memeluk tubuh rapuh Rada. Ia kecup keningnya lalu mendekapnya erat.
"Maafkan aku selama ini. Keluargaku bahkan tak pernah sekalipun bersikap baik terhadapmu dan aku hanya bisa diam menyaksikan."
Rada semakin menangis, membalas pelukan Gutomo dengan erat.
"jangan khawatir, aku sudah membereskan semuanya. Jangan sampai Yansen atau pun Jane tahu hal ini. Cukup kita berdua saja." Ujarnya lagi.
Rada mengangguk, menyetujui perkataan Gutomo. Lagipula ia tak bisa membuat Yansen bersedih dan terluka jika sampai tahu kalau kekasihnya ternyata masih memiliki hubungan darah dengannya.
...*****************...
Moana sungguh merasa tak nyaman, tidur di sofa dalam keadaan hamil muda membuatnya tersiksa. Punggungnya terasa pegal, perutnya bergejolak dan kepalanya pun terasa pusing. Ia butuh tempat yang nyaman untuk merebahkan tubuhnya yang mungil.
Ceklek...
Yansen baru selesai berganti baju, pria itu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.
"Pindah." Serunya sembari menarik selimut yang tengah di pakai Moana.
Rupanya ia tahu jika Moana sedari tadi terus bergerak untuk mencari kenyamanan di atas sofa itu. Moana duduk, mata bulatnya memandang Yansen tak percaya.
"Bapak mau berganti tempat tidur dengan ku?"
"Ck...siapa bilang. aku tetap tidur di kasur."
"loh, lalu aku pindah kemana?"
Yansen menghembuskan nafas.
"Kasurku muat untuk 4 orang." Hanya mengakan itu saja sudah membuat Moana paham.
Dengan cepat dia pun naik keatas kasur, mengambil posisi paling ujung. Meletakkan guling di tengah lalu memakai selimutnya. Menghela nafas lega saat tubuhnya terasa begitu nyaman. Demi kenyamanannya dia rela tidur seranjang dengan Yansen, lagipula mereka tak berdekatan. Masih ada jarak yang memisahkan.
Yansen pun berbaring, melirik Moana sekilas. Gadis itu rupanya langsung tertidur pulas. Tanpa sadar Yansen tersenyum.
Drrrt...Drrrt..
Ponsel Moana bergetar beberapa kali lalu di iringi sebuah dering kemudian. Yansen berdecak, segera mengambilnya untuk melihat siapa yang menghubungi Moana malam-malam begini.
Decakannya semakin keras ketika melihat nama Daren terpampang di layar. Rasa kesal muncul begitu saja, ia banting ponsel keluaran jadul itu kelantai hingga terbelah. Tak peduli rusak ataupun tidak, Yansen kembali naik keatas ranjang.
Lagipula dia menggantikan ponsel butut itu pikirnya, sekalian mengganti nomornya agar pria bernama Daren itu tak mengganggu Moana lagi. Tanpa sadar, rasa cemburu menguasai dirinya secara perlahan. Yansen tak menyadari jika keberadaan Moana telah menimbulkan rasa hangat di hati dan perlahan menghapus jejak Alea.
...***************...
__ADS_1