
Moana terdiam melihat Yansen yang kini tengah bersiap untuk pergi kekantor. Seolah tak terjadi sesuatu, pria itu masih bisa beraktivitas dengan sangat tenang dan santai seperti hari-hari sebelumnya. Apa kematian Alea sungguh tak berarti baginya atau Yansen sengaja bersikap seperti itu untuk menutupi kesedihannya.
Entahlah, Moana terlalu sulit untuk mengerti Yansen.
"Pak, apa Jane sakit parah? ini sudah dua hari." Moana mengikuti Yansen yang berjalan keluar.
Jane dan Rada memang belum pulang semenjak hari itu. Dua hari sudah berlalu dan sampai saat ini Moana masih belum mengetahui perihal kasus Gutomo.
Yansen menarik nafas dalam-dalam.
"Hari ini Jane pulang." Jawabnya lalu masuk kedalam mobil.
Moana kembali diam, melihat mobil Yansen yang semakin menjauh. Sejak hari itu Yansen jadi seperti menghindarinya, bahkan pria itu selalu membuang pandangannya ketika tak sengaja bertatapan.
Tentu hal itu membuat Moana sakit. Apa Yansen benar-benar tak ingin melihatnya. Bahkan Yansen selalu tidur sofa sekarang, benar-benar seperti tak mau tersentuh sama sekali.
Moana berpikir itu semua terjadi karena Alea. Pasti Yansen bertingkah begitu karena telah di tinggal oleh kekasihnya.
Dengan lemas dia masuk kembali ke dalam. Menutup pintu rapat-rapat. Suasana rumah sangat sepi dua hari ini. Biasanya Jane yang selalu membuat keributan, berteriak keras saat menonton drama kesukaannya. Tapi kali ini sungguh membosankan. Moana hanya sendirian. Ponselnya mati sudah hampir seminggu ini, Yansen bahkan tak pernah bertanya kenapa ponselnya bisa rusak padahal Moana meletakkan ponsel itu di atas meja yang ada di kamarnya.
Ting...Tong...
Bel berbunyi. Moana mengeryitkan keningnya. Ini baru jam 7 pagi, siapa yang bertamu pagi-pagi sekali.
"Daren, kamu..." Moana terkesiap saat pria itu langsung menyodorkan sebuah kotak kecil di bungkus kertas kado ke arahnya.
"happy birthday, Moana..." Serunya dengan senyum mengembang lebar.
Moana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sungguh dia sendiri lupa jika saat ini adalah hari bahagia untuknya. Tanpa sadar Moana pun menangis, menghambur kedalam pelukan Daren.
"Terimakasih Daren. Kamu masih mengingatnya."
Daren mengelus punggung Moana. Tentu saja dia tak akan pernah lupa, di hatinya Moana selalu menjadi yang terpenting.
"Apa ini?" Moana mengambil kado itu lalu segera membukanya.
Matanya melebar melihat ponsel keluaran terbaru yang di berikan oleh Daren.
"i...ini? kamu memberikan ini untuk ku?" Tanyanya tak percaya.
"ya, aku menyisihkan uang gaji ku selama 3 bulan dan jreng...jreng..." Daren mengambil ponsel itu dari tangan Moana. "aku bisa beli kado terbaik. ponsel mu rusak bukan? sebenarnya aku menabung untuk melamarmu tapi..." Daren tak melanjutkan ucapannya.
Moana jadi merasa canggung. Gadis itu pun hanya bisa menunduk dalam-dalam.
"tak masalah, aku bisa beli ponsel ini sekarang." Kekeh Daren, mengacak-acak rambut Moana. "Bayi mu bagaimana?"
Moana sedikit mundur kebelakang saat tangan Daren akan menyentuh perutnya. Hal itu tentu membuat Daren langsung menarik tangannya kembali. Merasa malu sendiri, kenapa dia bisa bersikap begitu lancang.
"bayiku sehat." Jawab Moana. "Daren, apa sebaiknya kamu tak memberikan kado semahal ini?"
"ck...anggap saja aku menyumbang padamu. ah... sudahlah, aku harus berangkat kerja. bye.."
"bye..."
Rupanya Daren sengaja kesini hanya untuk memberikan kado saja kepada Moana. Pria itu pun bergegas pergi. Moana memandangi ponsel itu dengan perasaan bersalah.
Daren selalu mencintainya tapi kenapa hatinya tak sedikit pun merasakan hal yang sama. Saat ini di hatinya hanya ada Yansen, pikirannya pun di penuhi pria itu.
...**************...
__ADS_1
"Jane, kita pulang sekarang." Rada mengelus kepala Jane.
Gadis itu mengangguk. Mulai sedikit lebih baik dan tak lagi bersikeras untuk menemui Gutomo. Perlahan hatinya mulai menerima kenyataan bahwa ayahnya telah melakukan kejahatan. Meski Rada berbohong kejahatan apa yang telah di lakukan Gutomo dengan cepat Jane percaya.
Jane percaya bahwa ayahnya telah melakukan korupsi sehingga di jerat hukum. Tak lagi banyak bertanya ataupun memaksa Rada untuk kembali ke kantor polisi. Jane sudah rela sekarang, hanya berharap ayahnya segera di bebaskan.
"Ibu, bagaimana dengan kak Moana dan kak Yansen?"
"mereka sudah tahu. kamu baik-baik saja bukan?"
"iya, aku baik."
Rada sungguh ingin menangis karena telah membohongi Jane. Tapi semua ia lakukan demi kebaikan Jane sendiri. Usianya masih sangatlah muda, jiwanya pasti akan terguncang mengetahui kenyataan yang ada.
Di luar Karan sudah menunggu. Dia memang di tugaskan Yansen untuk menjaga Jane dan ibunya saat ini.
"Kak Karan, kamu tak bekerja?" Tanya Jane.
"apa ini bukan pekerjaan?" Tanya Karan balik, membuka pintu mobil belakang lalu mempersilahkan Jane dan Rada masuk kedalam.
Jane menyenderkan kepalanya ke bahu Rada. Pikirannya masih lelah, ia belum benar-benar pulih seutuhnya. Masih sedikit merasa shock atas kejadian tempo lalu. Bahkan bayangan Gutomo yang sedang mengamuk di dalam sel masih terbayang jelas di kepalanya.
"Bu, aku apa ayah baik-baik saja?"
Rada menelan ludahnya. Apa yang harus di katakan sekarang, Rada takut salah bicara. Bagaimana jika Jane memaksa kembali untuk bertemu dengan Gutomo.
Karan melihat kebelakang melalui kaca di depan. Jelas sekali wajah Rada yang tegang. Dengan cepat dia pun mengalihkan pembicaraan untuk membuat Jane lupa dengan pertanyaannya.
"oh...iya, hari ini pembukaan toko kue yang ada di sebrang rumah. Apa ibu mau kesana? membeli sesuatu untuk ibu Moana nanti?"
Jane langsung melihat kedepan.
"iya, apa nona Jane yang cantik ini mau mampir dulu?" Goda Karan.
"iih.. menyebalkan. tentu saja mau."
"baik tuan putri, nanti kita mampir sebentar."
Rada tersenyum melihat keduanya. Karan memang pria yang selalu bisa di andalkan. Jane kembali tersenyum dan melupakan pertanyaannya.
Dua jam kemudian, mereka pun tiba. Toko kue ini terletak tak terlalu jauh dari rumah Rada. Hanya bersebrangan saja. Maka Rada pun memilih untuk pulang lebih dulu karena merasa lelah dan ingin segera istirahat. Sementara Jane dan Karan memasuki toko itu.
"Moana..." Panggil Rada begitu masuk kedalam rumah. "kamu sedang apa?"
"ah...ini, pak Yansen bilang Jane akan pulang hari ini. aku buat puding buat menyambutnya."
Moana tengah berada di dapur. Matanya melirik kebelakang Rada.
"loh...mana Jane?" Tanyanya saat tak mendapati gadis itu.
"bersama Karan, sebentar lagi juga kembali."
Moana melepaskan apronnya. Dia gandeng lengan Rada, rasanya rindu sekali beberapa hari tak bertemu.
"Ibu pasti lelah, istirahatlah. Aku akan buat jus jeruk untuk ibu."
"terimakasih."
"aku juga mau." Jane memeluk Moana dari belakang. Wajahnya sudah kembali ceria membuat Rada semakin tenang.
__ADS_1
"ah... Jane, kamu sudah sehat?"
"tentu saja kak. lihat, aku sehat kan?"
Jane berputar di depan Moana. Membuat Rada dan Moana tersenyum di buat nya. Karan pun meletakkan bungkusan kue yang di bawanya di atas meja.
"kalau begitu aku pamit dulu. Pak Yansen pasti membutuhkan ku di kantor."
"iya, Karan. terimakasih banyak ya."
"iya Bu."
Karan melihat sekilas Jane yang berlari masuk kedalam dapur. Tersenyum tipis melihatnya.
...***************...
Malam pun tiba. Moana mencoba mengutak-atik ponsel pemberian Daren tadi. Dari pagi hingga selarut ini ia sama sekali tak bisa menggunakannya. Moana bingung bagaimana cara memasukkan kartu nya. Maklum saja, ini kali pertama dirinya memegang ponsel semahal ini.
"ishh... bagaimana mana sih?"
Grep...
"eh..." Moana terkejut saat ponselnya sudah berpindah tangan kepada Yansen.
Saking seriusnya dia sampai tidak mengetahui kalau Yansen masuk kedalam kamar. Pria itu membolak-balik ponsel Moana.
"dari mana?" Tanyanya.
"itu...kado ulangtahun dari Daren."
Rahang Yansen langsung mengeras. Dengan kesal dia lempar benda pipih itu kelantai.
Brak...
"Yakk...apa yang Bapak lakukan? ini kado..."
"Aku bisa membelikannya untuk mu. jangan di sentuh atau aku akan mengusir mu." Ancamnya.
Moana yang berjongkok hendak mengambilnya pun langsung berdiri kembali. Tangannya terkepal erat, matanya berembun.
"Kenapa Pak Yansen selalu bertingkah seenaknya. Daren menabung dengan susah untuk membelinya. Ini kado ulangtahun ku." Teriak Moana dengan airmata berlinang.
Yansen langsung terdiam di buatnya. Dia tak tahu jika hari ini Moana berulang tahun. Pria itu jadi merasa bersalah.
"Padahal ini kado ulangtahun ku." Lirih Moana.
"aku bisa membelikan yang baru." Ucap Yansen lalu meninggalkan Moana begitu saja.
Moana mengambil ponsel yang sudah retak itu. Bagaimana nanti dia menjelaskannya pada Daren jika pria itu bertanya kemana ponsel dari nya.
Yansen menghembuskan nafas kasar. Sikapnya tadi terjadi begitu saja, entah kenapa setiap mendengar Moana menyebut nama pria lain hatinya menjadi marah bahkan selalu kehilangan kendali.
"tidak mungkin." Desisnya saat berpikir apa dirinya mulai terjebak dengan perasaannya sendiri.
Yansen sendiri bingung kenapa dia bisa seperti itu. Bahkan kematian Alea sama sekali tak membuatnya terpuruk seperti dulu. Padahal dulu Alea hanya meninggalkannya tapi ia begitu hancur tapi di saat Alea benar-benar pergi untuk selamanya, hati Yansen kenapa merasa baik-baik saja.
...************...
...****************...
__ADS_1