
Moana sangat merindukan orangtuanya, sudah lama dia pulang dan bertemu dengan mereka. Hanya saling memberikan kabar lewat telpon saja. Mereka pasti akan senang ketika melihat perutnya yang semakin membesar. Ini cucu pertama bagi mereka, begitu pula dengan orangtua Yansen. Tentunya bayi ini pasti akan di sambut dengan sangat gembira.
"Moana, di luar hujan. kenapa malah membuka jendela seperti ini." Rada menutup jendela kamar Moana lalu duduk di sampingnya. "ada apa?"
Moana menarik nafas panjang lalu menyenderkan kepalanya di bahu Rada. Memiliki mertua sebaik Rada membuat Moana bertingkah seperti pada ibunya sendiri.
"Bu, aku rindu Mak dan Appa di kampung."
"saat ini perutmu sudah membesar, jangan terlalu lelah. Apalagi jalan ke kampung mu itu sungguh tidak bagus. Kasihan nanti bayi dalam perutmu, kamu juga pasti akan merasa tak nyaman selama perjalanan." Tutur Rada.
Tak salah dengan apa yang di katakannya. Jalanan menuju tempat tinggal Moana memang sangat rusak parah. Batu-batu besar di tambah jalanan yang berlubang sungguh membahayakan.
Rada mengelus kepala Moana. Dia tahu rasanya merindukan seseorang itu sangat tidak menyenangkan.
"Begini saja, ibu akan meminta Karan atau Johan menjemput orangtua mu kemari? bagaimana?"
"benarkah? ibu tak keberatan Mak dan Appa menginap beberapa hari di sini?" Moana mengangkat wajahnya, menatap Rada dengan mata berbinar.
"untuk apa keberatan, orangtuamu adalah mertua Yansen. Mereka bukan oranglain."
"terimakasih,Bu." Moana memeluk tubuh Rada.
Siang ini sedikit gerimis. Moana dan Rada hanya diam saja di rumah. Mereka pun memutuskan untuk menonton TV di bawah.
Sementara, Jane masih di sekolah. Gadis itu sepertinya tengah dalam masalah. Beberapa temannya berkerumun mengelilingi mejanya.
"Jane, kamu benar-benar menyatakan cintamu pada Sammy?" Tanya salah seorang dari temannya.
Jane terperanjat, bagaimana mereka tahu soal itu. Padahal Jane menyatakan cintanya hanya melalui pesan wa saja. Matanya bergerak gelisah, bingung harus menjawab apa.
Tak lama Sammy masuk, pemuda berwajah bule itu hanya melirik sekilas kearahnya lalu duduk di kursinya dengan tenang.
"itu Sammy, ayo kita tanyakan padanya."
Mereka pun berpindah mengerumuni Sammy. Bertanya apa benar jika Jane telah menyatakan cinta pada nya.
Jane menundukkan kepalanya. Kenapa bisa teman-teman sekelasnya tahu soal itu.
"tentu saja, aku telah mengirimkan kembali pesan itu di grup kelas." Ujar Sammy dengan tatapan mata mengejek ke arah Jane.
Jane mengepalkan tangannya mendengar itu semua. Ternyata Sammy yang telah menyebarkannya. Dari bangun tidur Jane belum mengecek ponselnya sama sekali jadi tidak tahu apa yang sedang di bahas di grup kelasnya.
Dengan tangan bergetar ia mengambil ponselnya lalu segera melihat apa yang telah terjadi sebenarnya.
Benar sekali, Sammy telah menscreen chat yang di kirimnya. Pemuda itu mengirimnya ke grup dengan hastag gadis sok cantik menyukai ku? menjijikan.
Membacanya membuat hati Jane sakit. Airmatanya keluar. Dengan cepat Jane mengambil tasnya lalu berlari keluar meninggalkan kelas, padahal pelajaran kedua akan segera di mulai.
__ADS_1
Ia tak peduli lagi dengan itu. Kakinya terus berlari menuju gerbang sekolah, di pikirannya saat ini hanya satu. Pulang kerumah dan menghindari semua teman sekelasnya.
Sammy telah mempermalukan dirinya. Padahal jika dia tak menyukainya tak perlu melakukan hal itu. Cukup menolaknya dan itu sudah cukup. Jangan mempermalukan dirinya di depan semua teman sekelasnya.
...***************...
Yansen memperhatikan gelang emas yang setahun lalu di belinya itu. Ini kado ulang tahun Alea tahun lalu, gadis itu memintanya. Kenapa dia masih menyimpannya sampai sekarang, itu menjadi pilihan Yansen. Bukan karena dia masih mencintai Alea. Hanya saja, Yansen merasa jika gelang ini tak boleh di buang atau pun di berikan pada orang lain.
Semenjak dia tahu Alea adalah adiknya, perasaannya pada gadis itu telah berubah. Bahkan rasa kasihan lebih mendominasi.
Alea di bun*h ayahnya sendiri untuk menutupi aib yang di lakukannya. Kenapa Yansen harus telat mengetahui hal itu, seandainya dia tahu lebih awal maka hubungannya dengan Alea mungkin berbeda. Yansen akan menerima keberadaannya sebagai adiknya.
"Pak, semua sudah selesai. tapi aku rasa Bu Sabila dan Pak Drean akan terus mencari cara untuk menghancurkan Pak Yansen." Karan masuk membuat Yansen langsung mengantongi kembali gelang itu.
"lalu kenapa kamu tak laporkan mereka ke polisi? barang bukti waktu itu masih ada bukan?"
Karan terkekeh. Duduk di kursi dengan santai.
"perusahaan ini masih membutuhkan dana yang lebih agar bisa tetap bertahan." Ujarnya.
Kening Yansen mengerut. Tentu dia tahu akan itu, tapi apa hubungannya dengan Drean. Lagipula saham yang pria itu berikan tak akan bertambah lagi, mungkin yang ada pria itu akan mencabutnya kapanpun dia ingin.
"Saat kita bekerja sama dengan Pak Drean, dia sudah menandatangani perjanjian ini." Karan melanjutkan ucapannya. Sebuah lembaran kertas ia berikan pada Yansen.
"ini perjanjian tentang penanaman saham." Ucap Yansen. Membaca dengan seksama.
Karan mengangguk. "Di sana di katakan, dia tak bisa menarik saham yang telah di berikannya jika melakukan hal yang merugikan perusahaan dan otomatis saham itu akan sepenuhnya menjadi milik perusahaan."
"lalu apa rencana mu?"
"kita semua butuh uang dan tak bisa hidup tanpa uang."
"jangan bertele-tele Karan. Katakan apa rencana mu?" Yansen akui itu benar. Bahkan dirinya pun tak bisa membayangkan jika perusahaannya gulung tikar, bisa gila dirinya.
"Kita pancing Pak Drean melakukan tindakan kekerasan di perusahaan ini. Apapun yang pria itu lakukan sekarang, biarkan saja. kita hanya perlu mengulur waktu untuk melaporkannya kepada pihak berwajib."
Yansen langsung menepuk bahu Karan kuat. Memang tak pernah salah mempercayainya. Karan tak pernah membuatnya kecewa. Pria ini selalu bisa di andalkan.
"bagus, kamu atur semua."
"tentu saja."
"di mana Johan?" Tanya Yansen karena sedari tadi tak melihat pria itu.
"tadi Bu Rada menelponnya untuk datang kerumah."
"ibu? tapi untuk apa?"
__ADS_1
Karan mengangkat tangannya. Mana dia tahu, lagipula dia bukan Johan yang selalu kepo.
...**************...
Johan bersenandung sambil menyetir. Mendapatkan panggilan dari ibu atasannya adalah hal yang paling membahagiakan. Karena itu akan membuatnya terbebas dari pekerjaan kantor yang banyak juga membuat kepala pusing.
"nona Jane?" Dengan cepat Johan menepikan mobilnya saat tak sengaja melihat seseorang yang di kenalnya tengah duduk di tepi jalan.
"ah..mana mungkin, ini baru jam 9. Nona Jane pasti sedang di sekolah." Tapi meski begitu Johan tetap keluar untuk memastikan apa itu Jane atau bukan.
"Nona Jane?" Johan menepuk bahunya pelan.
Jane mengangkat wajahnya.
"Kak Johan?"
"loh, ada apa? kamu bolos sekolah?" Tanya Johan.
Jane mengangguk. Gadis itu menggigit bibirnya. Johan menghela nafas lalu segera mengajak Jane pulang.
"tidak, ibu nanti marah tahu aku bolos."
Johan pun duduk di samping Jane. Pria berotot itu mengeluarkan permen yang selalu dibawanya kemanapun lalu memberikannya satu pada Jane.
"katakan ada apa? kamu bolos pasti ada alasannya bukan?"
Jane mengambil permen itu, tak memakannya hanya memegangnya saja. Gadis itu ragu untuk menceritakan masalahnya.
"hei, katakan agar aku bisa membuat alasan untuk membantumu nanti di depan Bu Rada."
"kak Johan, mau bicara dengan ibu?"
"tentu, tapi katakan dulu apa masalahnya nanti aku akan bantu bicara."
Jane pun menceritakan semuanya. Gadis itu tak bisa menahan air matanya saat bercerita. Ada rasa malu, marah juga kesal di setiap nada bicaranya.
"keterlaluan sekali si Sammy itu. jika pak Yansen tahu, pemuda itu pasti akan di pukul."
"tidak. Kakak tidak boleh tahu, kak Johan tak akan beritahu kakak bukan?"
Johan mengacak rambut Jane.
"tentu tidak. tenang saja. ayo kita pulang."
Jane pun ikut pulang bersama Johan. Duduk dengan gelisah takut sekali menghadapi Rada nanti. Bisa kena marah dan parahnya pasti akan mendapatkan hukuman, tak boleh keluar rumah dan bermain lagi.
"Nona Jane, jangan takut. aku akan membantumu bicara nanti." Ucap Johan mencoba menenangkan Jane.
__ADS_1
Jane mengangguk. Johan memang berbeda dengan Karan. Untung saja Johan yang menemukannya bukan Karan. Seandainya Karan, sudah di pastikan saat ini sudah mendapatkan ceramah yang amat panjang.
...**************...