Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 12


__ADS_3

Keadaan rumah sudah sepi. Semuanya sudah pulang dan tinggallah Rada dan Moana yang duduk di ruang tamu. Menghela nafas panjang melihat keadaan rumah sangat berantakan.


Jane sudah tidur sejak setengah jam yang lalu. Sementara Gutomo, masih betah berada di ruangan baca.


"Moana, kamu istirahat saja. biar ibu yang membersihkan semuanya."


"aku bantu, lagipula...Pak Yansen tidak ada." Lirih Moana. Dia tadi kekamar untuk melihat apa Yansen sudah tidur apa belum, tapi hanya kamar kosong yang dia dapati.


"tak ada? maksudmu Yansen pergi?"


Moana menggelengkan kepalanya. Rada menghela nafas berat. Yansen benar-benar tidak bisa di ajak kerjasama. Putranya sudah memang menuruti permintaannya tapi dia sama sekali tak menghargai Moana sebagai istrinya, bagaimana bisa pria itu meninggalkan istrinya di malam pertama.


"Sebentar." Seru Rada, dia masuk kekamarnya untuk mengambil ponselnya.


Segera dia hubungi Yansen. Bagaimana pun Yansen tak boleh melakukan hal ini, kenapa dia harus pergi tanpa pamit padahal ini hari pertama pernikahan mereka.


Sudah lima kali panggilan tapi satu pun tak ada yang di jawab. Bahkan sekarang Yansen tak bisa di hubungi, sepertinya dia mematikan ponselnya agar tak ada yang menggangu.


"kemana anak itu." Geram Rada.


Dengan kesal Rada kembali keruang tamu, untuk melihat apa Moana masih di sana. Dan rupanya gadis itu telah selesai membersihkan semuanya, ruangan nampak bersih.


Moana pun tengah duduk di kursi dengan secangkir teh di tangannya.


"ibu..." Moana meletakkan tehnya lalu berdiri.


"sudah duduk saja." Rada mengelus lengan Moana. "kamu sudah membereskan semuanya, jika ingin istirahat saja jangan tunggun Yansen."


"tapi..."


"Moana, kamu di nikahi bukan untuk jadi budaknya. ibu tahu, Yansen tak memperlakukanmu dengan baik bukan? ibu tahu seperti apa anak itu, dia akan sangat dingin terhadap seseorang yang tak di sukainya."


Moana terdiam. Memang benar apa yang di katakan Rada. Yansen begitu dingin terhadapnya, bahkan pria itu terang-terangan menunjukan rasa ketidaksukaannya.


"tapi kamu harus bisa membuatnya mencintaimu. jangan menyerah." Rada berharap Moana bisa mendapatkan hati Yansen.

__ADS_1


"i... iya Bu." Jawab Moana ragu, bagaimana caranya agar Yansen mencintainya.


Hanya melihatnya saja Moana merasa jika pria itu sulit di jangkau. Sikapnya yang angkuh dan wajahnya yang menyeramkan itu membuat Moana tak yakin. Gadis mana yang bisa meluluhkan hati pria macam Yansen, pikirnya.


"kamu pasti bisa, Moana." Rada menepuk bahunya. "masuklah kekamar."


Moana mengangguk lalu segera pergi kekamarnya. Lain halnya dengan Rada, wanita itu mengetuk pintu bercat putih dengan tergesa.


"ada apa? menggangu saja." Gutomo membukanya dengan kesal.


"Mas, bagaimana jika Yansen tahu kalau kamu yang telah mencelakai Alea?" Tanya Rada, karena dia yakin saat ini Yansen pasti menemui gadis itu dan berusaha untuk mencari tahu siapa yang telah menabrak Alea.


Pelakunya masih belum di tangkap, Yansen pasti akan terus mencari cara untuk menemukannya.


Gutomo terdiam. Kecemasan Rada membuatnya mau tak mau ikut merasa khawatir. Bukan soal dirinya yang telah merencanakan pembunuhan Alea, tapi hal yang lain. Dia tak ingin rahasia yang selama ini di simpannya baik-baik bisa terbongkar.


Reputasinya sebagai seorang pengusaha sukses akan tercemar dan terlebih Rada pasti akan pergi meninggalkannya. Gutomo memang tak pernah bersikap baik terhadapnya, tapi jauh di dalam hatinya dia sangat mencintai Rada. Tak ingin kehilangan wanita itu, hanya saja dia tak bisa menunjukkan rasa cintanya karena kekerasan kepalanya.


"jangan pikirkan itu, kamu urus saja menantumu. jangan biarkan dia tahu jika Yansen memiliki gadis lain di luar sana." Ujarnya lalu menutup pintu dengan rapat, menguncinya dari dalam.


...*******************...


"tidak bisa Alea, ibu dan ayah tidak akan menerimamu. kita lakukan di belakang mereka. bersabarlah sebentar." Bujuk Yansen.


"sampai kapan? bagaimana jika gadis itu hamil?" Tanya Alea takut.


Yansen memeluknya lalu mencium keningnya. Kecemasan Alea sungguh tak bisa di biarkan.


"Hanya menunggu sampai dia melahirkan. Nanti anak itu akan kita jaga bersama."


Alea mengangguk, membalas pelukan Yansen erat. Keduanya sekarang berada di sebuah rumah yang baru saja di beli Yansen. Sengaja di persiapkan untuk tempat tinggal Alea.


Karan yang berada di luar karena menunggu Yansen pun hanya bisa menghela nafas beberapa kali. Sudah sangat larut tapi belum ada tanda-tanda bosnya itu keluar.


"Sungguh s*al sekali nasib ku." Gerutunya.

__ADS_1


Setelah meyakinkan Alea dengan segala janjinya, Yansen pun pulang. Mobil yang di bawa Karan sengaja di berikan pada Alea, sementara Karan sendiri dia minta untuk membawa mobilnya yang tadi dia bawa.


"antarkan aku pulang." Seru Yansen.


"lalu mobil itu?" Karan melihat mobil yang selalu di bawanya itu.


"biarkan di sini, mana kuncinya. kamu bawa mobil itu dan antar aku pulang." Titahnya.


Tanpa banyak bertanya lagi Karan langsung menyerahkan kunci mobilnya lalu segera masuk kedalam mobil Yansen.


Yansen benar-benar pusing sekarang. Bagaimana caranya agar Rada bisa menerima Alea. Cintanya pada gadis itu tak bisa di gantikan. Hanya Alea yang dia inginkan.


Berharap jika Moana tak mengandung anaknya, maka dengan cepat pernikahan terpaksa ini akan segera selesai. Yansen tak bisa terus berada di dalam lingkaran yang menyulitkan hidupnya.


Sekitar pukul 2 dini hari, Yansen pun tiba di rumah. Ia keluar dari mobil dan meminta Karan untuk segera pulang. Ia sendiri masuk kedalam dengan jalan pelan, tak ingin membangunkan penghuni rumah yang lain. Pintu tak di kunci memudahkannya untuk masuk.


Ceklek...


Yansen masuk kedalam kamarnya. Dia tertegun sebentar melihat Moana yang tertidur di sofa, gadis itu benar-benar mematuhi kata-katanya. Bahkan ketika dirinya tak ada pun, Moana tetap mematuhi apa yang dikatakannya. Padahal dia bisa tidur di kasur karena dirinya tak ada di rumah.


"Pak..." Moana terkejut saat lampu kamar di nyalakan. Dia bangun dan segera duduk.


"Ambilkan aku minum." Perintah Yansen.


Moana pun langsung bangkit dan segera menuangkan air kedalam gelas. Sebelumnya dia memang sudah menyiapkan sebotol air di sana. Karena dia pikir Yansen pasti akan haus ketika pulang nanti. Dan dugaannya benar saja terjadi.


Yansen sempat terkejut, Moana begitu cekatan. Dia pikir, gadis ini lelet dan hanya bisa menyusahkan saja.


Dengan cepat dia mengambil gelas yang di berikan Moana, meneguk airnya dengan sekali tegukan.


"Aku mau tidur, matikan lampunya." Titahnya lagi.


Moana hanya menarik nafas lalu menghembuskan kasar. Sungguh Yansen seorang pria yang suka memerintah. Dengan kesal dia berjalan menuju saklar lampu lalu mematikannya.


"sudah." Seru Moana. "tak ada lagi yang harus aku lakukan kan?" Tanyanya dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Yansen berdecih. Hanya kali ini ada seorang gadis yang berani berkata begitu tak sopan terhadapnya. Tak ingin berdebat, ia pun memilih untuk memejamkan matanya.


...******************...


__ADS_2