
Moana duduk dengan gelisah. Ini pertama kali dalam hidupnya dia menunggu kedatangan seseorang dengan begitu antusias. Bukan karena tahu tamu yang datang akan melamarnya, tapi Moana tiba-tiba saja teringat wajah pria itu.
Entah kenapa, dadanya bergejolak di dalam sana. Ia jadi penasaran, ingin melihat seperti apa wajah asli pria itu. Pria yang telah kejam memaksanya untuk melayani hasratnya.
Semua perasaan itu hadir karena Sarah yang terus saja mengatakan betapa hebatnya Yansen. Pria itu penyayang juga memiliki hati yang lembut. Moana berasumsi, mungkin malam itu Yansen kehilangan kendali karena alkohol seperti apa yang di katakan Sarah.
Sungguh naif memang gadis itu. Hanya sedikit kata-kata saja sudah membuatnya memandang Yansen dengan pandangan baik.
"Kenapa belum tiba juga ya?" Sarah beranjak dari duduknya. Melihat ke luar untuk memastikan kalau Rada dan kedua anaknya telah datang.
"Mungkin masih di jalan." Moana ikut melangkah keluar, berdiri di depan pintu sembari memperhatikan jalanan.
"nah...itu dia." Seru Sarah begitu melihat mobil Yansen dari kejauhan.
Sarah berlari untuk membuka pintu pagarnya. Dia senang sekali karena Rada sudah menepati janjinya. Akhirnya dia lega, Moana akan segera mendapatkan kebahagian setelah ini. Tak perlu takut gadis itu akan melakukan hal aneh lagi dan yang pasti mendapatkan pertanggungjawaban dari Yansen.
Moana menelan ludahnya melihat sosok tinggi keluar dari dalam mobil. Kejadian malam itu terlintas kembali, tetap saja hatinya bergetar ketakutan. Tiba-tiba ia ingat bagaimana kasarnya pria itu memperlakukan dirinya. Rasa takut mendominasi dirinya saat ini, padahal tadi dia sudah merasa bahagia.
"Jangan..." Pekiknya tanpa sadar sembari mundur beberapa langkah begitu Yansen berjalan ke arahnya.
Yansen mengerutkan keningnya. Ia terkejut dengan sikap Moana. Begitu juga dengan ketiga wanita itu, mereka ikut berhenti tepat di belakang Yansen.
"Moana..." Sarah langsung mendekatinya. "astaga, kamu kenapa?" Tanyanya khawatir.
Tubuh Moana bergetar hebat, matanya bergulir gelisah. Jelas sekali dia seperti tengah ketakutan. Sarah dengan cepat membawanya masuk kedalam kekamarnya.
"kalian masuk saja, aku akan mengantarkan Moana kekamarnya dulu." Ucapnya.
Yansen hanya diam melihat Moana. Dia ingat dengan jelas siapa gadis itu. Dunia begitu sempit rupanya, cepat sekali dia bertemu kembali dengannya.
Rada dan Jane duduk berdampingan. Sementara Yansen memilih berdiri di dekat jendela, pria itu melihat keluar. Hatinya tak bisa tenang, pikirannya di penuhi oleh Alea saat ini.
"Bu, ada apa dengan kak Moana?" Tanya Jane penasaran.
Rada menggelengkan kepalanya. Melihat gelagat Moana, ia tahu jika gadis itu pasti trauma. Apalagi di hadapkan dengan pria yang telah merusaknya. Meski begitu, Rada memilih untuk diam. Tak ingin berkomentar apapun.
Di kamar, Moana langsung meringkuk ketakutan. Gadis itu menangis terisak.
__ADS_1
"aku tak bisa Bu, hanya melihatnya saja sudah mengingatkan aku dengan kejadian kelam itu. aku takut." Isaknya.
Sarah menghela nafas. Mengelus kepalanya dengan penuh kasih.
"kamu istirahat dulu di sini. ibu akan keluar."
Moana mengangguk. Padahal dia sudah sangat antusias untuk bertemu dengan Yansen, penasaran seperti apa pria itu aslinya. Tapi sekarang dirinya malah seperti ini, baru melihatnya sekilas saja sudah menggigil ketakutan.
"Maaf ya, kalian menunggu." Ujar Sarah. "Yansen, kamu tak duduk?"
Yansen melihat Sarah lalu berjalan mendekati Rada dan duduk di sampingnya. Pria itu tak banyak bicara hanya mengangguk dan sesekali tersenyum kecil.
"Sepertinya akan sulit untuk kalian bisa dekat tapi..." Sarah menatap Yansen. "kamu bisa kan melakukan pendekatan terhadap Moana?"
Pria itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Menolak pun percuma, ini sudah kewajibannya melakukan hal itu. Ia pun mengangguk sebagai jawaban.
"Uumm...apa Moana baik-baik saja?" Tanya Rada.
"dia hanya sedikit trauma begitu melihat Yansen."
"aku akan menikahinya secepatnya." Ucapnya sambil beranjak dari duduknya. "aku permisi, masih ada yang harus aku kerjakan sekarang."
Rada tak mencegah Yansen pergi, baginya sudah cukup untuk hari ini. Kemana pun Yansen pergi sekarang tak masalah, karena pria itu sudah berjanji akan menikahi Moana. Rada yakin jika Yansen pasti menepati janjinya, dia sangat hafal seperti apa putra nya itu.
...*****************...
Alea hanya bisa pasrah saat ayah angkatnya mencengkram lengannya dengan kuat. Gadis itu memejamkan matanya. Ia tak akan melakukan perlawanan.
"ingat...kamu harus mencari pria yang lebih kaya lagi agar aku bisa mendapatkan uang lebih banyak atau..." Pria tua itu mendekatkan bibirnya ketelinga kanan Alea. "aku akan membunuhmu."
Tubuh kecil itu bergeming. Tak peduli apa yang akan ayahnya lakukan. Menghabisinya sekarang pun Alea tak akan melawan. Mungkin lebih baik mati daripada harus terus tersiksa seperti ini. Lagipula, Yansen pun tak bisa dia jadikan sandarannya sekarang. Alea tak punya pilihan lagi.
"ingat apa yang aku katakan." Ayahnya pun pergi setelah mengancamnya.
Alea hanya bisa menangis sekarang. Dulu, dia meninggalkan Yansen karena berpikir jika Yansen dan dirinya bagaikan langit dan bumi. Mereka tak mungkin bisa bersatu. Apalagi, keluarga Yansen menentang hubungan mereka.
Dengan yakin Alea pergi tanpa sedikitpun memberikan kabar kepada Yansen. Tapi, entah Tuhan sengaja atau hanya ingin mempermainkannya. Mereka bertemu kembali dan menumbuhkan rasa cintanya juga keegoisannya. Alea berharap selalu berada di sampingnya.
__ADS_1
Bertekad melawan siapapun yang mencoba memisahkannya, termasuk Rada. Dan lagi, niatnya harus di goyahkan oleh apa yang telah di lakukan Yansen sendiri.
Hingga akhirnya sekarang Alea benar-benar putus asa. Ia tak ingin lagi hidup, percuma hidup jika hanya untuk menanggung penderitaan.
"Meski sampai akhir hayatku kalian tak tahu di mana, tapi ayah...ibu..." Alea memejamkan matanya. "aku tidak akan membenci kalian."
Alea mencabut selang infus di tangannya dengan paksa, mengakibatkan luka dan darah segar keluar begitu saja. Rasa sakit akibat itu sama sekali tak dia hiraukan.
Dengan terseok Alea berjalan menuju jendela. Ia menarik nafas dalam-dalam melihat ke bawah. Kamarnya berada di lantai atas, hal yang menguntungkan pikirnya.
Perlahan dia membuka jendela itu, kaki kanannya terangkat hendak naik.
Ceklek...
Pintu terbuka. Alea menghentikan gerakannya. Ia berbalik untuk melihat siapa yang masuk.
"Alea, apa yang akan kamu lakukan?" Yansen berlari dengan cepat lalu menarik tubuh kecil itu ke pelukannya.
"Yansen... kamu kembali?"
"bodoh, apa yang ingin kamu lakukan di jendela?" Bentak Yansen. Takut sekali Alea akan melakukan hal yang tak masuk akal.
Alea terdiam. Matanya menatap Yansen penuh keputusasaan. Gadis itu menangis keras kemudian begitu tangan lembut Yansen mengelus kepalanya.
"Yansen, aku tak mau hidup lagi. kamu pun akan menikah dengan orang lain. bagaimana aku nanti, lebih baik aku akhiri semuanya sebelum..."
"bodoh." Yansen semakin erat memeluknya. "aku salah, karena terlalu putus asa di tinggalkan olehmu terjadilah hal seperti itu. aku hancur karena tak bisa menemukanmu. Gadis itu akan aku nikahi tapi..." Yansen menangkup wajah Alea. "hanya sampai dia benar-benar hamil atau tidak. aku akan menceraikannya kembali lalu kita akan hidup bahagia." Janjinya.
Alea menelan ludahnya. Apa dia boleh berharap lagi untuk mendapatkan kebahagiaan.
"kamu yakin?"
Yansen mengangguk penuh keyakinan. Hanya Alea yang ingin dia nikahi. Moana hanyalah kesalahan baginya, maka ia akan membereskan masalahnya terlebih dahulu lalu kemudian akan melakukan segalanya tanpa sepengetahuan Rada ataupun yang lain.
Hanya menunggu, apa Moana benar-benar hamil karena apa yang telah di lakukannya. Jika tidak, maka dalam waktu dekat pun akan ada perceraian. Tapi jika Moana sampai mengandung bayinya, maka Yansen akan bersabar hingga bayi itu lahir. Setelahnya dia akan menceraikan Moana dan mengambil hak asuh atas anaknya. Hanya itu yang ada di pikirannya. Tak peduli dengan Moana ataupun orang lain. Hanya Alea dan Alea lah yang terpenting.
...****************...
__ADS_1