
Siang menjelang, suasana dalam rumah masih sepi. Rada terus mengurung dirinya di dalam kamar, pintunya ia kunci. Tak membiarkan siapapun masuk termasuk Jane, putrinya sendiri. Rada hanya ingin sendiri saja, butuh ketenangan untuk menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
Tok...Tok...
"Ibu, ini sudah hampir jam 11. apa itu tak tak lapar? dari pagi tadi belum makan apapun."
Terdengar suara ketukan lalu teriakan Moana dari luar. Menantunya pasti tengah khawatir saat ini, Rada tahu dengan jelas. Tapi, tetap saja dia tak mau keluar atau membiarkannya masuk.
"Tidak Moana. Nanti saja." Hanya jawaban itu yang ia lontarkan.
Moana menghela nafas panjang. Melirik Jane yang berdiri di sampingnya, gadis itu terdiam dengan nampan berisi makanan dan minum di tangannya.
"Apa ibu mau membuat Jane bersedih?" Ujar Moana lagi. "Jane terus menangis dan tak makan karena mencemaskan ibu, ayolah Bu."
Rada pun segera membuka pintu mendengar itu. Ia menatap Rada yang menundukkan kepalanya, tubuh gadis kecil itu bergetar menandakan jika saat tengah menangis. Hati Rada mencelos melihatnya. Kenapa dia begitu egois sampai tak memikirkan perasaan putrinya sendiri.
Dengan cepat Moana mengambil alih nampan itu lalu menerobos masuk kedalam kamar. Membiarkan Rada dan Jane saling berpelukan sebentar.
"Ibu...Makanlah." Seru Moana lagi.
Rada melepaskan pelukannya dari Jane. Menarik gadis itu masuk bersamanya. Kini keduanya tengah duduk di tepi ranjang dengan posisi berhadapan.
Moana tersenyum, menyerahkan nampan itu kepada Rada. Lalu segera meninggalkan keduanya untuk menemui Yansen sekarang. Pria itu juga sedari pagi tak banyak bicara, hanya diam di dalam kamar saja.
"Pak Yansen, kamu mau pergi?" Moana baru akan masuk tapi Yansen sudah keluar lebih dulu.
Pria itu sudah rapi, memakai baju kerjanya dan sepertinya akan segera berangkat. Tak menjawab pertanyaan Moana, Yansen berjalan begitu saja melewatinya.
"tunggu..." Moana menahan langkah Yansen, mencekal pergelangan tangannya. "Bapak belum makan apapun, jadi..."
"lepaskan." Desisnya dingin, tatapan matanya amat tajam menatap Moana.
Dengan perlahan Moana melepaskan pegangannya. Gadis itu mundur beberapa langkah saat Yansen berjalan mendekat.
"urus dirimu sendiri jangan ikut campur masalah ku."
Setelahnya Yansen pergi meninggalkan Moana yang kini tengah menangis di buatnya. Selalu begitu, Yansen tak pernah memikirkan perasaannya. Moana menyentuh perutnya, bergejolak seperti ada yang ingin keluar. Berlari cepat masuk kedalam kamar dan mengunci diri didalamnya.
Setiap merasa sedih atau terluka oleh perbuatan Yansen, maka bayi dalam kandungannya seolah merasakannya. Perutnya akan terasa di aduk dan itu membuat Moana tak nyaman.
Yansen berhenti tepat di ujung tangga, melihat keatas apa Moana mengejarnya atau tidak. Tak melihat siapapun di sana hatinya mencelos ada rasa kecewa. Entah apa yang dia rasakan,tapi kenapa berharap Moana akan menahannya untuk pergi.
"Heuh..." Hanya dengusan keras yang terdengar.
__ADS_1
Yansen pun melanjutkan langkahnya. Ia akan menemui Gutomo sekarang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ayahnya begitu menentang hubungannya dengan Alea bahkan sampai berupaya melenyapkan gadis itu.
...***************...
Gutomo mendesah pelan melihat foto yang di kirimkan anak buahnya. Seorang gadis telah terbujur kaku di sebuah gudang tak terpakai yang berada di tengah hutan. Matanya bergulir perlahan lalu terpejam.
Meski pun begitu kejam dan ingin sekali Alea lenyap tapi tak di pungkiri olehnya luka dalam hatinya semakin membesar. Gutomo mengingat kembali masa-masa kelamnya.
Dulu, hubungannya dengan Rada sangat dingin sekali. Mereka menikah karena sebuah kecelakaan. Gutomo mabuk karena kekasihnya telah berselingkuh dengan teman dekatnya sendiri. Hingga tanpa sadar dia pun menarik seorang gadis yang berada di jalan. Menyeretnya kesebuah hotel dan melakukan tindak asusila terhadapnya.
Rada menangis dan di usir orangtuanya waktu ketahuan telah kehilangan kesuciannya. Gutomo pun tanpa pikir panjang langsung menikahinya meski keluarganya menentang itu semua. Bagi mereka, Rada tak pantas untuk masuk kedalam keluarga besar mereka. Setiap waktu selalu mendapatkan hinaan juga ejekan dari ibu dan adik Gutomo.
Sehingga Gutomo pun memutuskan untuk membawa Rada tinggal jauh dari keluarganya. Sampai beberapa bulan kemudian Rada pun melahirkan Yansen. Tapi Gutomo sama sekali tak menunjukkan rasa cintanya. Pria itu amat dingin memperlakukan Rada.
Sampai akhirnya, seiring berjalannya waktu. Gutomo perlahan merasakan getaran-getaran aneh di dadanya. Rasa cinta itu tumbuh. Tapi dengan sekuat mungkin Gutomo menyangkal itu. Setiap hari pulang dalam keadaan mabuk dan untuk kedua kalinya Gutomo pun melec*hkan Rada yang notabene merupakan istrinya.
Gutomo kacau waktu itu. Ia pergi dari rumah selama seminggu. Yansen baru berusia 2 tahun, tak mengerti apapun tapi di tahu jika ayahnya tak peduli terhadapnya.
Selama seminggu ia habiskan di luar rumah bersama seorang wanita. Mereka melakukan hal yang tak seharusnya di lakukan. Hingga beberapa bulan kemudian, setelah hubungan Gutomo dan Rada sedikit membaik. Seorang wanita datang ke kantornya mengatakan ia akan segera melahirkan.
Tentu hal itu membuat Gutomo gusar. Dengan cepat dia membawanya kerumah sakit, lalu pikiran buruk itu pun muncul. Setelah sang wanita melahirkan dia memerintahkan seseorang untuk melenyapkan nyawanya lalu memberikan bayi tak berdosa itu kepada seorang pria asing.
Gutomo memberikan banyak uang padanya agar tutup mulut. Tentu hal itu langsung di setujui. Meski begitu setiap bulannya Gutomo selalu memantau perkembangan sang bayi, makanya dia tahu jika bayi itu telah tumbuh besar dan seperti apa kesehariannya.
Tak pernah dia duga jika Alea dan Yansen akan bertemu.
Lamunannya buyar saat mendengar suara pintu terbuka. Gutomo membuka matanya, rupanya Yansen sudah tiba. Putranya tak banyak basa-basi, langsung masuk dan duduk di hadapannya.
"Dimana Alea?"
Tak menjawab justru Gutomo meletakkan ponselnya di atas meja. Yansen pun melihatnya dan betapa terkejutnya pria itu.
"apa ini?" Yansen langsung mengambil ponsel itu. "apa yang telah kamu lakukan kepada Alea?" Marahnya.
Yansen menarik kerah baju Gutomo kuat.
"Aku akan katakan semuanya. Duduklah dengan tenang." Ucap Gutomo, menepis tangan Yansen lalu merapikan kerah bajunya yang berantakan bahkan dasinya pun hampir terlepas.
Yansen kembali duduk tapi amarahnya belum reda. Ia kepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi.
Gutomo pun mengatakan semuanya. Kebenaran yang tak seharusnya dia bocorkan sampai mati sekalipun. Tapi semua sudah menjadi rumit sekarang, selain memberi tahu Yansen tak ada lagi cara lain.
Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya terasa begitu menyakitkan baginya begitu juga untuk Yansen. Bahkan Yansen sudah tak bisa berpikir dengan baik.
__ADS_1
Kenyataan yang baru didengarnya teramat sulit untuk di terima. Jika saja Gutomo tak memberikan bukti tentang kelahiran Alea maka Yansen pasti akan menyangkal setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya itu.
Tangan Yansen bergetar mengambil selembar foto yang di berikan Gutomo. Jelas sekali di sana, ada foto seorang wanita tengah berbaring atas ranjang pesakitan dan di sampingnya Gutomo berdiri sambil menggendong bayi yang di pastikan itu adalah Alea sewaktu kecil.
"apa ini? apa yang sebenarnya terjadi?" Pekik Yansen marah.
Brak...
Ia pukul meja kuat-kuat hingga tangannya memerah. Matanya menatap Gutomo penuh kemarahan.
"Yansen, ayah minta maaf."
"b*jingan."
Bugh...
Yansen benar-benar tak bisa mengendalikan diri lagi. Ia pukul Gutomo tepat di wajahnya sehingga pria itu tersungkur dari kursinya. Gutomo sengaja, tak menghindar ataupun melawan. Baginya pukulan Yansen tak seberapa di bandingkan rasa sakit yang telah dia torehkan terhadap keluarganya.
"K*parat. kenapa kamu begitu keji? kamu mengkhianati ibu dan juga..." Yansen hendak memukul kembali tapi ia urungkan.
Hatinya sangat sakit mengetahui kenyataan pahit ini. Bagaimana bisa ini terjadi, selama ini dia telah berhubungan dengan putri dari ayahnya sendiri yang artinya adiknya juga.
"aaaaahhhhh...." Yansen berteriak sekeras-kerasnya meluapkan segala emosinya.
Gutomo terdiam lalu menepuk bahu Yansen pelan.
"Lakukan saja jika ingin memukul ayah." Ujarnya yang justru membuat Yansen semakin tak karuan.
Pria itu berdiri lalu pergi begitu saja. Meski marah dan ingin sekali menghajar Gutomo,tapi Yansen masih bisa mengendalikannya. Bagaimana juga Gutomo adalah ayahnya dan saat ini mereka tengah berada di kantor. Tak baik jika sampai para karyawan tahu masalahnya.
Yansen benar-benar hancur. Berjalan dengan perasaan tak menentu meninggalkan kantor Gutomo. Masuk kedalam mobilnya lalu segera pergi.
Sementara itu, di rumah.
Moana menyentuh dadanya, kenapa tiba-tiba berdebar dan merasa tak enak hati. Seolah akan terjadi sesuatu. Padahal baru saja merasa lebih baik sehabis menangis dan sekarang perasaan aneh itu muncul membuat Moana jadi cemas.
Takut akan terjadi hal yang tak di inginkan. Ia pun segera keluar dari kamar untuk melihat keadaan Rada dan Jane. Menghela nafas lega ketika mendapati keduanya kini tengah menonton TV.
"ibu, sudah lebih baik?" Tanyanya.
Rada tersenyum lalu mengangguk.
"kemarilah, duduk bersama kami."
__ADS_1
Rada menepuk tempat kosong di sampingnya agar Moana bergabung. Melihat Rada yang tak lagi sedih dan Jane sudah tertawa kembali sedikit membuat Moana lega. Tapi tetap saja rasa tak enak hati itu belum hilang. Membuat Moana jadi memikirkan Yansen, takut terjadi hal yang tak inginkan terhadap pria itu.
...****************...