Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 31


__ADS_3

Bugh...


Tanpa aba-aba Yansen langsung memukul Daren tepat di wajahnya. Pria berkulit gelap itu sampai terjungkal dari kursi. Moana pun berjengit kaget, berdiri dan langsung menghampiri Yansen. Menahan pria itu agar tidak memukul Daren kembali.


"Hentikan, apa yang Bapak lakukan?"


Yansen menepis tangan Moana. Pria itu menatap tajam dengan rahang terkatup rapat.


"Masuk kamar." Titahnya sembari menyeret Moana.


Daren berdiri. Menyentuh pipinya yang berdenyut dan terasa sangat perih. Pukulan Yansen sangat keras sekali hingga menyebabkan memar.


"Pak, aku..."


"masuk kamar dan tunggu aku di dalam." Desis Yansen.


Moana melirik Daren. Mendapatkan anggukan darinya membuat Moana langsung berjalan menaiki anak tangga. Yansen menatap Daren dengan marah.


"Kamu tahu batasannya bukan? dia istri seseorang."


"ya, tapi aku tahu. kalian menikah hanya karena sebuah keterpaksaan. Moana tak bahagia."


"siapa bilang? aku memenuhi semua kebutuhannya."


Daren tertawa remeh memandang Yansen dengan pandangan mengejek. Sama sekali tak takut dengannya. Daren tak peduli jika Yansen kembali memukulnya.


"Tapi tidak dengan cinta. kamu pikir Moana gadis yang hanya butuh uang saja? kamu hanya menginginkan bayinya saja, jika Moana tahu itu aku pastikan kamu akan menyesal tuan. Moana akan pergi dari hidup mu selamanya." Ucap Daren dengan percaya diri.


Tak tahu saja jika Moana dan Yansen memang sudah sepakat jika bayi itu lahir maka mereka akan berpisah. Moana jelas tahu Yansen hanya menginginkan anaknya saja. Daren tak tahu jika saat ini Moana telah menetapkan isi hatinya.


"jangan ikut campur masalah rumah tangga oranglain. urus saja dirimu sendiri."


"heuh..." Daren berdecih. "Moana hanya akan menjadi milikku, camkan itu."


Setelah berkata demikian sedikit nada ancaman itu Daren pun pergi. Pria itu pergi dengan hati yang panas karena kesal.


Moana duduk di tepi kasur. Sebenarnya dia ingin kembali kebawah, takut jika Yansen dan Daren akan terlibat perkelahian. Meski Daren selalu sabar dan tak pernah sekalipun terlihat marah tapi tetap saja Moana khawatir pria itu tak bisa menahan emosinya sekarang. Bagaimana jika Yansen terluka, batinnya.


"kenapa aku jadi mencemaskannya." Gumam Moana.


Ceklek...


Pintu terbuka. Yansen masuk dengan wajah yang dingin dan tatapan mata tajam. Pria itu berjalan kearah Moana.


"Pak, apa Daren..."


"kamu lebih peduli dengan pria lain di banding suami mu?" Sela Yansen. Matanya tak lepas memandang Moana.


Moana menelan ludahnya, bukan yang dia maksudkan. Hanya ingin bertanya apa Daren sudah pulang atau belum, itu saja. Tak ada maksud lainnya.


"Selama ini kamu mengatakan tentang masalah kita pada orang luar? bagaimana pria itu tahu jika kita menikah karena dirimu hamil? katakan?"


Mata Moana sampai terpejam mendapat bentakan dari Yansen. Jujur saja Moana tak menceritakan apapun kepada Daren, bahkan jika bisa ia ingin menyimpan rahasia itu rapat-rapat.

__ADS_1


"Katakan Moana?" Yansen mencengkram kedua lengan Moana, membuatnya meringis menahan sakit.


"sakit, lepaskan dulu." Pinta Moana.


"katakan, apa yang sudah kamu beritahu pada pria itu?" Nada suara ra Yansen sedikit menurun satu oktaf. Pria itu pun duduk di samping Moana.


Tangannya menutup wajahnya. Yansen terlihat sangat frustasi. Moana yang melihat itu pun mengelus punggungnya, hal yang cukup membuat pria itu sedikit merasakan lebih tenang.


"Waktu itu ibu tak sengaja mengatakannya." Lirih Moana. "tapi, jangan marah pada ibu. ku mohon." Pintanya kemudian saat Yansen mengangkat wajahnya dan menatap wajah Moana.


Yansen mendesah pelan. Kenapa dia jadi begitu peduli dengan hubungannya saat ini, seolah takut Moana akan pergi dan berpaling pada pria lain.


"mm... Pak, boleh aku bertanya?" Tanya Moana takut-takut.


"mm...tanyakan."


Moana ragu tapi ia sangat penasaran.


"Apa yang terjadi pada Alea, gadis yang waktu itu. dia kekasih Bapak kan? tapi kenapa ibu dan ayah terlihat tak menyukainya."


"Jangan terlalu banyak ingin tahu. semua orang memiliki rahasia."


Hanya dengan mendengar jawaban seperti itu membuat Moana mengerti. Yansen tak ingin memberitahunya.


Keduanya pun terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Yansen termenung dengan gejolak hatinya yang panas. Setelah tahu siapa Alea yang sebenarnya kenapa Yansen malah merasa lega, berpikir bahwa dengan begitu ia tak harus meninggalkan Moana dan bisa tetap bersamanya hingga nanti anak yang ada dalam perut Moana tumbuh dewasa.


...****************...


Jane menyentuh jemari Gutomo yang memegang jeruji besi.


"ayah...apa yang telah ayah lakukan?" Tanyanya dengan suara bergetar.


Gutomo tersenyum kecil. Tangannya terjulur keluar lalu mengelus kepala Jane.


"Jane, ayah terlalu banyak berbuat dosa pada kalian juga seseorang. kamu pulanglah bersama ibu, jangan pedulikan ayah."


Jane menggelengkan kepalanya kuat. Gadis kecil ini tak tahu apa yang telah di lakukan ayahnya karena memang baru tiba di kantor polisi setelah Gutomo mengakui segala kejahatannya.


"tidak, polisi itu pasti salah tangkap. aku akan membebaskan ayah." Jeritnya.


Rada pun langsung memeluknya dengan erat. Jane terlalu kecil untuk menghadapi segala masalah yang terlalu rumit ini. Gutomo mengisyaratkan Rada untuk membawa Jane keluar. Ia tak bisa melihat putrinya seperti ini.


Sementara itu, Karan sedang mengurus jenazah Alea. Pria itu pun segera menghubungi Yansen setelah semuanya telah selesai. Jenazah gadis cantik itu telah di kremasi dan di masukkan kedalam peti berwarna putih. Sebentar lagi akan di bawa ke pemakaman oleh pihak rumah sakit.


"Baik Pak. Aku akan tunggu." Ujarnya lalu menyimpan ponselnya kembali.


Karan menghela nafas panjang, tak menyangka jika gadis yang selalu bersikap angkuh dan menjengkelkan itu harus mati dengan cara yang tak lazim. Bahkan dokter yang melakukan otopsi pun terkejut ketika melihat luka di tubuhnya. Banyak sekali luka bekas pukulan benda tumpul.


Tak bisa di bayangkan bagaimana kejinya orang-orang itu menyiksa Alea hingga menghembuskan nafas terakhirnya.


Gutomo terperosot ke bawah, kepalanya di benturkan ke dinding saat bayangan Alea yang meminta tolong berputar di kepalanya. Ia menangis histeris mengingat itu semua. Dirinya telah melenyapkan putrinya sendiri, hingga jiwanya terguncang.


Beberapa polisi langsung masuk kedalam, mencoba menenangkan Gutomo yang tengah melukai dirinya sendiri dengan cara membenturkan kepalanya ke dinding.

__ADS_1


Jane semakin menangis keras di pelukan Rada. Ia tak bisa melihat semuanya hingga akhirnya tak sadarkan diri. Rada hanya bisa menangis pilu, mengigit bibirnya kuat-kuat. Kenapa semua bisa seperti ini. Kenapa Tuhan menghukumnya dengan cara seperti ini.


...*************...


"Kamu mau ikut?" Tanya Moana.


Yansen sudah mandi dan kini sudah memakai bajunya.


"kemana?"


"jangan banyak tanya. hanya perlu menjawab iya atau tidak."


Selalu begitu. Yansen tak suka mendapatkan pertanyaan jika dalam mood yang buruk. Moana pun mengangguk pelan, segera membersihkan tubuhnya dan bergegas menyusul Yansen yang sudah menunggu di luar.


Moana melirik kearah kamar Rada dan Jane. Hatinya mendadak cemas, dari semalam mereka belum kembali. Gutomo pun tak kunjung pulang, ingin sekali mencari tahu ada apa sebenarnya dengan mereka. Tapi, kepada siapa di bertanya. Yansen tak mungkin mau memberitahu meksipun tahu sesuatu.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil. Moana menutup mulutnya rapat walau sebenarnya ingin bertanya mau di bawa kemana. Matanya bergulir kala mobil Yansen memasuki area pemakaman.


"Kenapa kesini?" Tanya Moana pada akhirnya.


Yansen hanya meliriknya sekilas lalu keluar dari mobil. Moana pun segera mengikutinya, ia semakin heran ketika melihat sudah ada Karan dan Johan di sana. Di tambah lagi mobil ambulans pun terparkir di dekat mereka.


Pikiran buruk berseliweran di kepalanya. Matanya bergulir mencoba mencari keberadaan Rada dan Jane, ia pikir mungkin keduanya ada di sini juga. Tapi, sepertinya dugaannya salah.


"Silahkan. Pak Yansen sudah berada jauh di depan." Teguran Johan mengagetkan Moana.


Ia lihat Yansen sudah berjalan kedepan bersama Karan. Menuju sebuah makam yang tanahnya masih merah. Moana yakin pasti baru beberapa menit makam itu di buat.


"Siapa yang meninggal?" Tanyanya pelan.


Johan menghentikan langkahnya.


"Nona Alea." Jawabnya.


Moana hampir saja pingsan mendengarnya, untung Johan dengan sigap menahan tubuh kecil Moana hingga tak terjatuh.


"ba.. bagaimana bisa?" Tanyanya tak percaya.


"itu..."


"Kembali ke dalam mobil saja. tunggu aku di sana." Sela Yansen.


Johan yang hendak menjelaskan pun langsung mengatupkan bibirnya. Rupanya Yansen kembali kebelakang karena cemas dengan Moana. Pasti gadis itu akan terkejut melihat siapa yang ada di dalam tanah merah itu.


Tanpa banyak bicara, Yansen menuntun Moana. Membantunya masuk kedalam mobil. Moana menatap wajah Yansen. Tak ada raut sedih atau ekspresi lainnya. Yansen begitu tenang seolah tak terjadi sesuatu. Menumbuhkan rasa penasarannya.


"Tunggu saja." Ucap Yansen.


Moana mengangguk. Memperhatikan semuanya dari dalam mobil.


...***************...


#Maaf, jika ada yang bingung kenapa jasadnya di kremasi. karena di sini Alea bukan muslim.

__ADS_1


__ADS_2