Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 38


__ADS_3

Yansen masuk kekamar dengan diam-diam. Takut jika Moana masih marah, pria ini jadi merasa bersalah karena telah membuatnya marah. Seharusnya dia tak menyinggung perasaan Moana, tapi mau sengaja atau pun tidak Yansen selalu melakukan itu.


Di lihatnya Moana sudah berbaring di kasur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"apa kamu sudah tidur?" Tanya Yansen untuk memastikan apa Moana sudah tidur atau hanya pura-pura tidur saja.


Tubuhnya membelakangi hingga Yansen tak bisa melihat apa mata Moana terpejam atau tidak.


Tak mendengar jawaban ia pun berjalan mendekat kasur. Mendudukkan tubuhnya di kasur dengan sangat pelan.


Moana membuka matanya, ia belum benar-benar tertidur. Saat merasakan ada pergerakan di atas kasur tentu saja dia dapat merasakannya. Hanya saja, Moana malas untuk berbalik atau sekedar menjawab pertanyaan Yansen.


"Sebenarnya...kamu sangat cantik memakai baju itu. Hanya saja..." Yansen menghela nafas. Sebelum melanjutkan ucapannya ia merangkak naik keatas, menidurkan tubuhnya tepat di samping Moana.


Jantung Moana berdebar hebat. Dapat ia rasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Tubuhnya menjadi panas dingin kala punggungnya merasakan hangat. Rupanya Yansen memeluknya dari belakang.


Pria itu mencium belakang kepala Moana.


"Aku akan berusaha mencintaimu, Moana." Bisiknya lalu matanya terpejam. Yansen tertidur dengan sangat cepat.


Sementara Moana sendiri tak bisa lagi memejamkan matanya. Dadanya terus bergemuruh, ada rasa senang luar biasa di dalam sana. Yansen telah membuka hatinya, tentu saja itu hal yang sangat luar biasa baginya. Usahanya tak sia-sia, akhirnya pria ini bisa menerima dirinya.


Setetes bening membasahi pipinya. Airmata kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Dengan begini pernikahannya terselamatkan. Ia akan tetap menjadi menantu di sini, melahirkan lalu menjadi seorang dan istri. Hanya membayangkannya saja membuat Moana sangat bahagia.


Setelah di rasa Yansen terlelap dalam tidurnya. Moana pun bangun, menyingkirkan tangan Yansen yang melingkar di perutnya dengan hati-hati takut pria itu terbangun.


Moana merasa tenggorokannya kering, dia butuh minum. Dengan cepat keluar dari kamarnya.


"Loh...ibu, kapan pulang?" Moana sedikit terkejut mendapati Rada yang sedang berdiri di depan kompor.


Wanita itu tengah membuat nasi goreng.


"Baru saja, kalian sudah tidur padahal belum terlalu larut." Tukasnya, mengangkat nasi gorengnya lalu berjalan menuju meja makan.


Moana mengikutinya, duduk di depan Rada.


"Ibu dari mana saja?" Tanya Moana.


Rada menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Ibu habis keluar bersama mertua juga ipar ibu." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca, mengingat kebaikan mereka tadi membuatnya jadi terharu.


Moana yang melihat Rada meneteskan air mata langsung berdiri dan mengusap bahunya. Ia pikir Rada pasti telah menjalani hal yang sulit tadi hingga sekarang bisa menangis seperti ini.


"kenapa ibu keluar dengan mereka. Aku minta maaf jika lancang, tapi aku tahu ibu tidak di terima baik oleh mereka."


Rada tersenyum, mengelus punggung tangan Moana yang tersampir di bahunya. Menarik tangan itu pelan, menuntun Moana untuk duduk di sampingnya. Rada memutar kursinya hingga mereka duduk berhadapan.


"Moana, mereka semua menerima ibu dengan sangat baik." Tuturnya.


"maksud ibu?"


"Mereka semua mulai menerima ibu. makanya ibu menangis karena terlalu bahagia."


Moana meraih kedua tangan Rada, mengecup punggung tangannya sebentar. Hal itu tentu membuat hati Rada semakin menghangat. Moana sungguh menantu yang paling di idamkan setiap para ibu. Sikapnya tak seperti seorang menantu, dia lebih persis seperti seorang anak.


"aku ikut bahagia mendengarnya."

__ADS_1


Rada pun segera melanjutkan makannya dan Moana kembali kekamar. Ia rasa hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya.


...*****************...


Pagi pun tiba, di meja makan sudah tersedia banyak sekali hidangan. Ada udang asam manis, ikan gurame goreng dan sayur asem. Semua Moana yang siapkan.


Bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan semuanya. Sudah lama ia tak menyiapkan sarapan karena masa ngidamnya dan sekarang masa itu sudah mulai berkurang.


Moana tak lagi merasa mual saat mencium bumbu masakan atau aroma minyak goreng. Justru sekarang nafsu makannya malah semakin bertambah. Selalu merasa lapar dan ingin sekali makan makanan yang enak.


"Waaahhh...kak Moana menyiapkan ini semua?" Tanya Jane.


Gadis itu sudah siap dengan seragam sekolahnya. Cuti beberapa hari membuatnya merindukan suasana sekolah jadi hari ini ia akan mulai beraktivitas seperti biasa lagi.


Jane sudah bisa menerima kenyataan yang ada. Gadis itu hanya akan berdoa sekarang agar ayahnya cepat kembali kerumah.


"Ayo duduk dan makanlah." Moana menuangkan air ke gelas. "tapi minum dulu agar tenggorokan tak kering."


"oke kak."


Yansen menuruni tangga dengan cepat saat mencium bau masakan yang begitu menggugah selera. Sudah lama ia tak merasakan hal ini.


"ibu..." Yansen menghentikan langkahnya begitu melihat Moana dan Jane yang ada di dapur.


Ia pikir Rada yang sedang memasak di dapur. Karena bau masakannya sama.


Moana melihat Yansen. Menelan ludahnya, bayangan tadi malam teringat kembali. Membuatnya jadi malu dan salah tingkah.


"ooh...Pak, mau sarapan?" Tanyanya dengan suara sedikit gugup.


Yansen yang merasakan itu mengerutkan keningnya.


"ada apa denganmu?" Tanyanya santai lalu duduk.


Kening Yansen semakin berkerut saat merasa jika Moana bertingkah sedikit aneh bahkan selalu menghindari tatapannya.


"ada apa denganmu? apa wajahku aneh sehingga tak ingin melihatnya?" Ketus Yansen kesal.


Moana berdecih dalam hati. Padahal dia seperti itu karena dirinya juga, seandainya malam itu Yansen tak bersikap manis maka hal ini pun tak akan terjadi. Dirinya menjadi canggung juga malu jika bertatapan langsung sekarang.


Jane yang sudah menyelesaikan makannya menepuk bahu Yansen.


"kakak jangan galak-galak, awas saja." Serunya lalu pergi dari dapur.


Yansen menghela nafas. Benar apa yang dikatakan Jane, pria itu pun melunak. Menarik tangan Moana pelan.


"duduklah, kamu juga perlu makan." Ujarnya dengan suara melembut.


Tentu hal itu membuat Moana langsung mengangkat wajahnya, menatap Yansen.


Keduanya tanpa sadar saling memandang. Yansen baru menyadari jika wajah Moana begitu cantik. Kulitnya bersih dan bibinya... Yansen menelan ludahnya. Dadanya bergemuruh hebat kala pandangan matanya terjatuh tepat di bibir Moana.


"Pak, ada apa?"


Yansen semakin menelan ludahnya saat Moana bertanya. Gerakan bibir itu seolah di perlambat hingga terlihat semakin menggoda.


Pria itu menjadi gugup seketika. Tangannya bergetar dan seluruh tubuhnya serasa di sengat aliran listrik saat tangan Moana menyentuh lengannya.


"Pak Yansen..." Moana cemas karena Yansen diam saja dengan keringat mengalir di pelipisnya.

__ADS_1


"Ahh...sudah siang, aku bisa terlambat." Akhirnya Yansen bisa mengendalikan diri dan terbebas dari jerat bibir Moana.


Merasa dirinya akan gila jika terus berdekatan seperti ini, Yansen pun memutuskan untuk menyudahi makannya yang hanya baru beberapa suap itu.


Buru-buru pergi meninggalkan Moana yang memandangnya penuh kebingungan.


"aneh sekali." Gumam Moana tak mengerti.


...*************...


Karan tersenyum lebar saat melihat rekan kerja Yansen menandatangani kontrak perjanjian kerjanya. Mereka menanamkan saham yang cukup banyak pada perusahaan yang saat ini tengah di pegang oleh Yansen.


"jadi...mana Pak Yansen? aku ingin bertemu dengannya." Ujar pria itu, di sampingnya ada seorang gadis berambut pirang yang mengenakan pakaian serba mini.


Karan pastikan itu adalah sekretarisnya, yang menurutnya sangat menggelikan karena penampilannya lebih ke kampungan.


"Pak Yansen sedang dalam perjalanan. Mohon tunggu sebentar." Ucap Karan dengan sopan.


Ia lihat jam yang melingkar di lengannya. Sudah jam 8 lewat beberapa menit, itu artinya Yansen akan tiba sebentar lagi.


Ceklek...


Pintu terbuka, Yansen masuk dengan sangat berwibawa. Wajahnya yang amat dingin juga tatapan matanya yang selalu tajam selalu membuat para rekan bisnisnya segan terhadapnya. Tapi sepertinya tidak dengan pria satu ini, dia berdiri dengan cepat lalu mengulurkan tangannya.


"pagi Pak Yansen." Sapanya dengan senyum secerah mentari pagi.


Yansen pun membalas uluran tangan itu.


"pagi juga Pak Drean."


Keduanya berjabat tangan cukup lama dengan mata saling memandang tajam. Karan rasa ada yang tak beres di antara keduanya.


"ah...selamat pagi Pak Yansen. Aku Sabila, sekretaris Pak Drean." Gadis itu berjalan berlenggak-lenggok mendekati Yansen.


Yansen langsung melepaskan jabatan tangan Drean. Sedikit merasa kurang nyaman dengan kehadiran Sabila.


"Sabila yang akan membantuku dan mohon Pak Yansen pun begitu. Setiap ada keperluan atau kepentingan apapun hubungi saja Sabila." Ujar Drean membuat Yansen mengeryit.


Gadis macam apa yang ada di hadapannya ini. Penampilannya sungguh membuat geli. Bahkan Karan sudah bergidik ngeri membayangkan akan setiap hari bertemu dengannya. Nasib sial tapi keberuntungan bagi perusahaan, karena Drean penanam saham paling besar.


"Kalau begitu kami permisi." Drean pun pamit karena masih ada keperluan yang lain.


Sabila berjalan mengikutinya, ia mengerlingkan matanya kearah Yansen dengan genit. Karah sampai ingin muntah di buatnya, melihat Yansen yang berekspresi biasanya membuatnya menggelengkan kepala. Bagaimana bisa bos nya itu bersikap biasa saja padahal ulat berbulu tebal menggodanya.


"Sabila jangan berlebihan."


"Ayolah Drean, Yansen itu harus di goda agar tak terlalu kaku."


Drean terkekeh geli. Sebenarnya Sabila bukan sekretaris aslinya, gadis ini adik sepupunya yang memaksanya untuk ikut andil dalam kerjasama bisnis. Karena ingin sekali menjerat Yansen kedalam pelukannya.


"Pak, aku rasa Pak Drean itu mengenal Pak Yansen. Tadi saja dia bertanya apa Bapak masih melakukan olahraga basket."


Yansen menghela nafas. Ingat sekali saat masa-masa sekolah dulu. Dia begitu hebat dalam bermain basket, selalu mengikuti kejuaraan yang di adakan di sekolah. Dan Drean lah teman se team yang selalu di anggap penghalang.


Permainannya buruk tapi selalu ingin ikut di setiap pertandingan. Yansen menantangnya, jika berhasil melakukan dunk berturut-turut maka ia akan diterima tapi jika tidak maka harus keluar dari team.


Tentu hal itu sangat berat bagi Drean. Meski begitu Drean menyanggupi. Sampai akhirnya Drean gagal dan keluar dari team. Sejak saat itu mereka tak lagi bersama, Drean seolah menganggap Yansen sebagai rival.


Hingga sampai sekarang pun mereka tetap seperti itu. Drean melakukan kerja sama dengan perusahaan Yansen pun hanya untuk menunjukan kalau dirinya lebih hebat dari pria itu.

__ADS_1


Lalu bagaimana jika Yansen tahu kalau pria yang telah menolong Moana waktu itu adalah Drean. Dan bagaimana jika Drean tahu bahwa gadis kecil yang telah mencuri perhatiannya adalah istri dari rivalnya.


...**************...


__ADS_2